Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Cari Mati


Suami Satu Malam 70


Oleh Sept


Rate 18 +


Perhatian Rayyan teralih ketika ponselnya bergetar. Ia sudah lupa dengan rasa sakit dan nyeri yang didapat dari Jean.


"Hallo, Ma?"


Ray langsung menjawab telpon sang mama. Mama Sarah pasti sudah menunggu mereka seharian ini. Padahal, ia bilang mungkin tidak akan menginap dan langsung pulang bersama Elvira. Namun, karena ada acara percobaan bundir, maka segalanya tidak sesuai dengan rencana.


"Kalian di mana? Zia merajuk mencari mamanya!"


"Iya ... besok ya, Ma. Malam ini kami tidak bisa pulang."


"Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Nggak, Ma. Mobil Ray mogok!" Rayyan mencari alasan. Bila ia cerita Elvira mau mengakhiri hidup, bisa-bisa sang mama kena serangan jantung.


"Oh, ya sudah. Nanti biar Mama bujuk lagi Zia."


"Iya, Ma. Kasih es krim atau coklat saja, coba bujuk Zia, dia paling suka itu. Terus apa Zio tidak rewel juga, Ma?"


Rupanya Rayyan juga khawatir dengan keponakan kesayangannya itu. Keponakan yang sudah seperti anak sendiri.


"Nggak, Zio lebih cooperative. Dia pinter, main robot sama nonton cartoon, udah anteng banget tuh dia. Tadi juga sempat ke kamar kamu juga, Rey. Ambil Gundam."


"Apa, Ma?"


"Iya, yang kamu bilang limited edition itu," terang mama Sarah sambil menahan senyum. Sebenarnya tadi Zio yang paling rewel karena tanya mamanya terus. Mama Sarah sengaja, suruh Zio ke kamar Papi. Banyak mainan banyak di dalam sana.


Menjadi duda kesepian, Rayyan memang jadi suka membuang waktu untuk mengkoleksi mainan mahal dari pada koleksi pacar. Dan ketika mendengar penjelasan sang mama barusan, Rayyan langsung mendesis.


"Gundam Ray masih aman kan, Ma?"


"Oh ... itu ....!"


"Ish!" Rayyan sudah curiga. Pasti tangan atau kaki koleksi gundamnya itu sudah cidera.


"Ya sudah, hati-hati di sana. Jagain Elvira."


"Ya, Ma."


Tut Tut Tut


Telpon mereka pun terputus. Rayyan kemudian memasukkan ponselnya dalam saku. Ia tersentak, kaget karena sejak tadi Jeandana memperhatikan dirinya. Rayyan pikir wanita sok jagoan itu sudah pergi setelah menendang miliknya.


"Kau masih di sini?" Rayyan menatap dengan curiga. Ia mengamati Jendana sampai wanita itu merasa risih dan jengah.


"Ini memang tugasku!" jawab Jean ketus lalu membuang muka.


[Astaga! Lihat! Kasar sekali wanita ini? Perempuan sama sekali tidak ada lembut-lembutnya. Aku penasaran, siapa nanti yang akan mau dengannya?]


"Tidak usah menatapku!" protes Jeandana. Padahal ia tidak melihat langsung, tapi wanita itu sangat sensitive. Ia tahu kalau sedang diperhatikan.


"Jangan terlalu percaya diri! Dan siapa yang melihatmu!" ketus Rayyan balik.


Jeandana mendesis kesal, wanita itu lalu meyingkur Rayyan. Rasanya malas berhadapan dengan sosok pria yang menyeballkan itu.


***


Pagi hari


Matahari bersinar cerah, secerah hati Radika dan Elvira. Beberapa saat yang lalu, Rayyan sudah membereskan segala administrasi. Radika dan Elvira tinggal terima beres.


Kini semua bersiap mau pulang ke Jakarta lagi, naik mobil yang sama. Rayyan yang menyetir, dan di sampingnya duduk Jeandana. Sejak tadi wajah Jeandana dingin seperti biasa, tanpa ekpresi.


Sedangkan Radika, dia duduk di jok belakang. Tangannya tidak lepas dari Elvira. Membelai kepalanya lembut. Mengusap rambut Elvira yang lama tidak ia sentuh.


Dan sejak tadi, Rayyan tersenyum tipis. Mengintip lewat kaca di depannya. Ia merasa seperti obat nyamuk. Radika dan Elvira, membuat duda tersebut tersenyum getir.


"Kita langsung ke rumah mama ya, Mas? Anak-anak ada di sana."


"Hemm!" jawab Radika.


Rayyan pun mengangguk dan menambah kecepatan.


***


Kediaman keluarga Wiratmaja


Mama Sarah hampir kena serangan jantung saat melihat siapa yang datang. Wanita itu memukuli tubuh Radika bertubi-tubi. Namun, Elvira langsung menghalangi.


"Jangan, Ma. Ada bekas tembak!"


Spontan, kaki mama sarah lemas. Ia beringsut dan menangis sejadi-jadinya. Radika pun mendekat, ia peluk mamanya itu. Wanita yang sudah ia buat menangis setelah Elvira.


Sedangkan sang papa, Tuan Wira terlihat melepas kacamata. Kemudian mengusap sudut matanya. Pria yang tidak lagi muda itu lalu memeluk putranya dengan haru.


Lain lagi dengan si kembar. Mereka hanya melihat dari jauh. Enggan mendekati sang papa.


Lain lagi dengan Zio. Anak itu langsung menyambut kedatangan Rayyan. Langsung nangkring dalam gendongan pria itu. Mengalungkan lengannya, seolah sangat sayang pada papinya tersebut.


Radika tersenyum getir, ditambah Elvira yang membisikan sesuatu padanya.


"Itu salah Mas!"


Tidak berkutik, Radika hanya bisa menghela napas panjang.


Malam harinya


Radika berbicara pada Jeandana di teras. Sepertinya ia meminta wanita itu untuk kembali.


"Jean ... pulanglah!"


Jeandana berusaha untuk menampilkan senyumnya. Malah hatinya sedikit sakit. Mengapa sepertinya malam ini ia dibuang?


"Hemm ... Baik, Tuan!"


"Terima kasih, besok aku hubungi."


Jean mengangguk.


"Baik, Tuan."


"Mau diantar sopir?"


"Tidak, saya naik taksi saja, Tuan," tolak Jean halus.


Tap tap tap


Dari dalam, Rayyan muncul sambil membawa kunci mobil.


"Jangan khawatir, Mas. Biar aku antar!" ucap Rayyan tanpa diminta.


"Tidak! Terima kasih. Saya permisi, Tuan!"


Jeandana buru-buru pergi. Rasanya tidak mau lagi satu mobil dengan duda kesepian tersebut. Ia merasa ada gelagat mencurigakan dari Rayyan sejak kemarin.


Namanya juga Rayyan, ia langsung saja menarik lengan wanita tersebut. Untung saja tidak dipiting, karena Jeandana tidak enak di depan Radika.


***


"Mana rumahmu?" tanya Rayyan penasaran.


Mereka sudah mengendara satu jam. Namun, tidak kunjung sampai juga.


"Turunkan aku di halte depan sana."


Rayyan tersenyum getir. Pria itu kemudian terkekeh. Jean benar-benar sudah mengerjai dirinya. Pantas tidak sampai, wong mereka muter-muter saja di sana.


"Akan aku antar, anggap saja ucapan terima kasih karena sudah menjaga keluarga kakakku selama ini."


"Terima kasihmu sudah aku terima, jadi tolong berhenti di sana!" Jean masih memaksa untuk turun di halte.


Tidak lagi bisa memaksa kehendaknya, akhirnya mobil itu pun berhenti juga di sebuah halte. Jean langsung turun, dan langsung menghentikan sebuah taksi. Bukannya naik bus seperti yang lain.


Dari jauh, karena penasaran. Rayyan mengikuti taksi tersebut. Hingga taksi yang Rayyan Ikuti berhenti di depan sebuah rumah tiga lantai dengan pagar besi yang menjulang tinggi.


Jean masuk, dan ia sadar sudah diikuti. Dengan kesal ia menutup pintu pagar. Kemudian langsung masuk rumah.


"Jean!" Tuan Perwira kaget, malam-malam ada tamu. Dan itu putrinya sendiri yang lama tidak pulang.


Sudah bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Sekali bertemu Jean malah memeluknya sambil terisak.


"Jean! Apa yang terjadi?"


Jean tidak menjawab, malah terus menangis. Mungkin ia benar-benar lelah. Dan butuh bahu untuk bersandar.


Tap tap tap


Seorang pria datang menghampiri pak Perwira. Pria berpenampilan rapi dan terlihat tegas itu mengatakan sesuatu.


"Pak Perwira! Ada mobil mencurigakan di sekitar rumah. Seorang laki-laki terlihat terus saja mengamati rumah ini!" ucap ajudan Pak Perwira.


"Bawa dia masuk!" ujar Tuan Perwira. Sepertinya ia tahu, apa yang membuat putrinya terseduh.


Sedangkan Jeandana, ia langsung melepaskan pelukannya.


"Tidak usah, Pa! Jangan biarkan dia masuk!"


Pak Perwira makin penasaran, "Cepat seret dia!"


Jeandana hanya bisa menghela napas panjang.


[Pria bodohh! Kenapa ke sini! Kau benar-benar menggali kuburmu sendiri!]


Bersambung