
Suami Satu Malam 100
Oleh Sept
Rate 18 +
Beberapa bulan kemudian
Sudah seminggu ini Rayyan absent, ia memilih kerja di rumah saja. Itu semua karena usia kehamilan Jeandana yang sudah memasuki bulan akhir kehamilan. Ya, kandungan Jean sudah masuk bulan ke sembilan, trimester akhir.
"Biar aku yang beresin, kamu duduk saja!" ujar Rayyan penuh perhatian.
Rayyan bangkit dari duduknya, ia meninggalkan laptop yang masih menyala. Membiarkan lembaran map dan berkas bertumpuk di atas meja kerjanya.
"Aku bisa sendiri kok!" Jean baru menurunkan sebelah kakinya dari atas sofa. Namun, pria itu buru-buru mengembalikan kaki Jean untuk kembali diluruskan di atas sofa warna coklat pastel tersebut.
"Duduk saja, ya!"
Rayyan kemudinya maggambil Tupperwareee yang semula ada di pangkuan istrinya itu. Jean habis makan kripik telur asin. Rejeki jabang bayi, sopir pribadi mereka dapat kiriman banyak makanan dari Brebes.
Padahal Jean tidak suka telur asin, tapi kalau dibuat kripik, kok lidahnya tergoda juga. Saat melihat benda itu di atas meja makan, Jean pun langsung menguasai. Satu toples ia habiskan beberapa hari.
Ini adalah toples kedua. Tapi, makannya tidak sendiri kok. Sesekali Rayyan bersandar duduk nonton TV sambil minta disuapin. Manja sekali! Mereka ini seperti ABG kadarluarsa. Tidak tahu umur.
Dua manusia itu baru menikmati masa-masa pacaran yang manis saat usia mereka tidak lagi muda. Usia boleh dewasa, tapi level bucin mereka bisa diadu oleh pasangan kekasih yang berseragam abu-abu. Jean dan Rayyan jelas juaranya. Juara bucin tingkat DKI.
***
Matahari sudah terbenam, seperti biasa, setiap malam Jean akan meluruskan kakinya. Baik di sofa atau di ranjang. Ini adalah kebiasaan mereka akhir-akhir ini. Seorang CEO Dirgantara Group, sudah alih profesi menjadi tukang urut.
"Jangan naik-naik ... Udah sampai lutut saja!" Jean melirik, dilihatnya tangan Rayyan yang mulai creative.
"Ini sepertinya juga minta diurut, sayang. Udah ... jangan protes!"
"Udah udah udah ... geli!"
Rayyan tersenyum kemudian dengan gemas mengusap perut Jeandana yang sudah sangat besar. Ya, mungkin hitungan hari Jean akan melahirkan bayi mereka.
"Tidur yuk!" ajak Rayyan dengan mengerling.
Jean melihat jam dingin. Jarum kecil masih menunjukkan angka 8. Terlalu awal jika mereka tidur. Nanti yang ada malah kebangun tengah malam dan tidak bisa tidur lagi.
"Masih jam delapan!"
Hoamm ...
Rayyan pura-pura menguap, dasar pria licik. Ada aja akal bulusnya.
"Oh ... sudah mengantuk? Ya sudah ... ayo ke kamar!"
Rayyan langsung bersorak dalam hati.
Begitu masuk kamar, Rayyan langsung mematikan lampu kamar. Menggantikan dengan lampu tidur yang remang-remang, lebih syahdu.
Bukk
Ia lempar tubuhnya sendiri ke tengah-tengah, kemudian merentangkan kedua tangan.
"Sini, rebahan di sini!" Rayyan menepuk sisi di sampingnya.
"Sebentar, aku mau ke kamar mandi dulu."
Sudah masuk bulan-bulan akhir, sebentar-sebentar Jean ingin ke kamar kecil. Mungkin karena perutnya yang sudah semakin besar, membuat kandung kemihnya sedikit terdesak dan tidak bisa menampung banyak urine. Alhasil, bentar-bentar pipisss!
Ketika Jeandana ke kamar kecil, Rayyan lantas menyiapkan bantal dan guling, ia rapikan sedemikian rupa agar Jean nanti tidur dengan nyaman.
Tap tap tap
Jean semakin mendekat, Rayyan kemudian membuka laci. Ada seikat bunga mawar untuk istrinya tersebut. Namun, saat ia akan berikan pada Jean, bucket bunga itu tidak sengaja terjatuh.
"Ray ...!" panggil Jean lirih.
Rayyan yang sedang menunggut bucket bunga tersebut pun mendongak. Ditatapnya dari bawah pakaian Jean sudah basah.
"Jean, kamu kenapa?"
"Sepertinya ketubannya merembes," jawab Jean yang juga bingung. Sepertinya waktu persalinan kian dekat.
"T-tu-tunggu!" Rayyan mendadak gagap.
Ia berjalan mencari kunci mobil. Tapi kok tidak ketemu di mana-mana. Rayyan malah menjatuhkan banyak barang di atas meja.
"Ray ... tenang Ray ... Jangan gugup!"
"Iya, sayang. Aku nggak gugup!" Padahal wajah Rayyan sudah panik.
Setttt
Akhirnya kunci mobil ketemu. "Bisa jalan?" tanya Rayyan cemas. Bukannya apa-apa, hamil sembilan bulan Jean semakin gendut. Mungkin agak susah membopong tubuh Jean sekarang.
"Bisa, aku masih bisa jalan!" terang Jean meyakinkan.
"Aduh bagaimana ini ..?"
"Jangan panik, aku nggak apa-apa."
Yang mau melahirkan Jeandana, tapi yang perutnya mulas malah Rayyan.
"Jean perutku jadi gak enak begini? Sebentar aku panggil pak Wiji!"
Rayyan bergegas keluar kamar, mencari sopir pribadinya.
"Pak ... Pak ... Ma ... Mama!"
Seorang pria datang mendekat dengan terburu-buru.
"Iya, Tuan."
Begitu juga mama Sarah keluar dari kamarnya.
"Ada apa kok ribut-ribut?"
"Jean, Ma ... Jean mau melahirkan."
"Apa ...?" Mama Sarah ikut panik.
"Pak! Siaapkan mobil!" tambah mama. Mama Sarah langsung meminta sopir di rumah itu menyiapkan mobil.
"Ini kuncinya Pak Wiji!" Rayyan memberikan kunci mobilnya.
***
Rumah Sakit Harapan Bunda
Ruang persalinan, karena tidak memiliki masalah dan keluhan apapun, Jean pun ingin melahirkan secara normal. Apalagi dokter juga tidak mencegah. Jean memang mampu bila persalinan dilakukan secara normal bukannya Caesar.
"Tahan, Jean ... tahan sayang." Rayyan berdiri di samping Jeandana. Ia mengengam tangan istrinya tersebut.
Tapi apa yang terjadi?
Jean melepaskan genggaman tangan pria itu. Ia malah meraih kepala Rayyan dan menjambak rambut pria tersebut.
Bersambung