
Suami Satu Malam Bagian 36
Oleh Sept
Rate 18 +
Beberapa minggu kemudian, kediaman Wiratmaja yang biasanya tenang, pagi ini nampak gaduh. Rayyan datang membuat sang papa naik darah.
PLAKKK
Sebuah tamparan langsung melayang di wajah tampan Rayyan. Ia harus merasakan telapak panas sang papa akibat ulahnya sendiri yang gampang sekali kawin cerai dan itu sangat memalukan bagi keluarga besar mereka. Belom lagi media yang membesar-besarkan kabar tersebut.
"Mau bikin malu Papa, kamu? Harusnya pikir dulu sebelum bertindak! Kamu sudah mencoreng muka Papa!" cetus tuan Wira dengan garang.
Papa Wira langsung melempar akta cerai milik Rayyan. Ia sangat terkejut ketika Rayyan sudah menceraikan Eriska. Rupanya pria tersebut menceraikan istrinya tanpa sepengetahuan keluarga. Namun, sangat mudah bagi tuan Wira mengetahui apa yang terjadi pada sang putra.
Lewat sekretarisnya, seisi rumah langsung tahu. Meski terlambat, karena keburu media duluan yang seolah tahu segalanya. Hingga tuan Wira gusar, karena ada beberapa wartawan yang mengejar-ngejar mereka. Ini semua karena Rayyan bukan orang biasa, keluarga Dirgantara cukup terpandang. Hal kecil pun akan jadi scandal tanpa mereka sadari.
"Papa nggak tahu masalahnya!" Rayyan mendongak, menatap papanya. Ia mencoba membela diri, tapi keburu mama Sarah langsung menariknya untuk segera duduk.
"Sudah! Dengarkan saja papamu bila bicara!" bisik mama Sarah yang tidak mau terjadi perang di rumahnya.
"Mama juga! Mama harus tahu! Dia tidak hanya tidur dengan satu pria!" cecar Rayyan yang merasa tidak mau disalahkan.
"Kurang ajarrrr!!!"
BRUAKKK
"Paaa!" Mama Sarah panik saat melihat suaminya mau menghajar Rayyan.
"Pria macam apa kamu, Rayyan!" maki tuan Wiratmaja yang sudah tidak bisa kontrol emosi.
Tuan Wira dengan geram mencengkram kera baju Rayyan. Melihat tingkat putranya itu, ia jadi emosional.
"Paaa!" Mama Sarah berdiri langsung di tengah-tengah keduanya.
"Biar Papa beri pelajaran pada anak ini! Mama tidak usah membelanya! Dia sudah terlalu banyak mencoreng muka Papa di depan semua rekan bisnis Papa! Kamu pikir Tuan Kazoe akan diam saja ketika kau buang putrinya? Pikir lagi!!! Jangan nafsuu yang kamu gedein!" cecar tuan Wira yang amarahnya sudah membuncah.
"Ish! Papa dengar dulu! Jangan dengar dari pihak sebelah!"
Tidak mau terus disudutkan, Rayyan meraih ponsel dalam saku jasnya. Pria itu kemudian membuka folder sampah. Setelah itu memperlihatkan file yang akan membuat malu bagi siapa saja yang menontonnya. Perlahan tuan Wira terduduk lemas, ia memijit keningnya yang langsung pusing.
"Mama lihat sendiri!" Ganti mama Sarah yang bergidik.
"Astaga!" Mama Sarah memegangi jantungnya yang hampir copot karena sangat terkejut.
"Itu Eriska?"
Rayyan mengangguk.
"Jadi! Ini adalah alasan kenapa Rayyan menceraikan wanita itu." Rayyan duduk kembali. Kali ini suasana sedikit kondusif.
"Lalu bagaimana dengan bayimu?" tanya mama Sarah penasaran. Ia baru ingat, bahwa Eriska sedang mengandung.
"Bukan anak Rayyan!" ucap Rayyan dingin.
Tuan Wira langsung bermuka masam ketika mendengar pernyataan putranya itu.
"Dan kalian juga harus tahu satu fakta lagi. Siapa yang sudah mengirim video ini." Ekpresi Rayyan terlihat penuh dendam dan marah.
Tuan Wira pun saling menatap dengan istrinya.
"Memangnya siapa?" tanya mama Sarah. lama-lama dia juga penasaran.
Rayyan mendesis, ia berdecak sambil melipat tangan.
"Anak Mama! Anak kesayangan Mama!" ketus Rayyan yang memang kurang suka dengan kakak kandungnya itu.
"Bicara apa kamu! Apa hubungannya dengan Radika? Bahkan Dika saja belum pulang!" Mama Sarah tidak terima bila Radika dibawa-bawa.
"Tanya sama Kris! Bila Mama tidak percaya sama Ray!"
Tuan Wira semakin keras memijit kepalanya, kenapa masalahnya tidak habis-habis. Selalu Rayyan dan Radika! Keduanya membuat ia sakit kepala. Bisa-bisa ia mati sebelum mengendong cucu.
"Tidak! Tidak mungkin Radika ikut campur dengan masalahmu!" Mama Sarah tetap membela anak pertamanya.
"Terserah, terserah jika Mama tidak percaya!" cetus Rayyan kesal. Pria itu kemudian langsung naik ke lantai atas. Meninggalkan orang tuanya yang mendadak sakit kepala sebelah.
"Lihat itu anakkmu!" keluh tuan Wira.
"Dia juga anak Papa!" cetus mama Sarah tidak mau kalah.
Tuan Wiratmaja langsung menghela napas panjang, lalu ia kembali berucap.
"Telpon Radika! Suruh dia pulang!"
"Papa saja yang telpon, kenapa nyuruh Mama?"
Mendengar sang istri yang terus saja membalik ucapannya. Tuan Wira lama-lama kesal sendiri. Dengan muka ditekuk, ia akhirnya menghubungi Radika sendiri. Berkali-kali tuan Wira menelpon, tapi tidak tersambung. Alhasil, ia hanya bisa mengirim teks pesan singkat untuk putranya itu.
[Segera pulang! Ada banyak hal yang ingin Papa katakan!]
Hanya centang satu, pesan tuan Wira belom terkirim dan belum terbaca oleh Radika.
***
Di sebuah tempat, dikelilingi air laut dan deburan ombak yang menerpa tebing yang curam. Terlihat seseorang sedang duduk di sebuah ruangan. Radika sedang menatap laptop, ia menatap lurus pada layar di depannya. Sejak tadi ia hanya mencari berita tentang Dirgantara dan hal-hal menyangkut keluarga mereka.
Lama-lama matanya lelah juga, ia pun memutuskan mematikan benda di depannya itu. Melipatnya, kemudian keluar mencari Elvira.
"Vir ... Vira!"
Lelah mencari, ia akhirnya menelpon. Dilihatnya ponsel yang sejak tadi belum ia periksa. Begituan ada notification dari sang papa, ia langsung mendesis kesal.
[Aku bahkan belum puas!]
Tidak mau sang papa mencari keberadaan dirinya dan malah mengusik bulan madu mereka. Akhirnya Radika mengirim pesan suara.
"Minggu depan, Pa! Minggu depan kami pulang!" suara Radika yang berhasil ia rekam dan dikirim ke nomor tuan Wira.
Setelah mengirim pesan suara, kini ia menghubungi nomor Elvira.
Tut Tut Tut
Sudah tujuh kali ia menelpon, tapi tidak tersambung. Jengkel, ia lantas memindai sekeliling. Dilihatnya dari jauh, Elvira sedang duduk termenung di atas ayunan dari tali besar dengan papan kayu.
"Ish!!!"
Tap tap tap
Ia berjalan cepat menuju bibir pantai di mana Elvira berada.
"Aku cariin!" keluhnya sebal.
"Eh!" Elvira menoleh. Kemudian tersenyum tipis.
"Katanya bikin makanan, kok malah di sini?"
"Udah kok. Tadi aku panggil Mas Dika. Tapi tetap asik di ruangan itu. Bosan ... Vira ingin mencari udara segar."
"Bosan?" gumam Radika lirih. "Kamu mau pulang?" tanya Dika kemudian.
"Hemm ... berminggu-minggu cuma lihat laut, Vira juga kangen Kimora."
"Oh ... ! Minggu depan ya. Kita pulang minggu depan."
"Benarkah?" mata Elvira langsung berbinar-binar.
"Iya."
Wajah Elvira yang semula sendu karena rindu rumah, kini terlihat jauh lebih ceria. Deburan ombak yang tadi nampak biasa, kini berubah menjadi jauh lebih indah.
"Sini aku ayun!" Radika meraih tali besar yang semula dipegang oleh Elvira. Keduanya bermain ayunan seperti anak kecil. Hingga ganti giliran Elvira ingin mengayun suaminya.
"Coba Mas Dika!"
"Nggak! Mas nggak suka!"
"Ayolah!"
"No! Mas bukan anak kecil!"
"Ish!" dengan paksa, Elvira menarik tangan suaminya. Ia memaksa Radika untuk duduk di ayunan yang semula ia duduki.
"Pegangan! Biar Vira ayun kenceng!"
"Ish!"
Setttt .... settt ..... setttttt
Keduanya kembali terkekeh, baik Elvira dan Radika sama-sama tertawa dengan lepas.
"Cukup! Cukup! Kepala Mas pusing!" Dengan kedua kaki, Radika mencoba mengerem. Namun, Elvira sudah mulai jahil. Dengan iseng ia kembali menarik ayunan. Hingga tubuh suaminya ke sana ke mari. Makin lama tarikan Elvira semakin kencang, membuat pria itu benar-benar merasa pusing.
"Stop, Sayang!"
Merasa kasihan dan puas mengerjai sang suami, akhirnya Elvira menghentikan aksinya. Sepertinya Vira sengaja, karena selama ini setiap waktu ia yang selalu dikerjai oleh suaminya itu. Kini gantian, ia balas dendam secara terselubung. Melihat Radika yang pucat, ia jadi tidak enak juga. Dengan perhatian ia mendekati Radika.
"Mas nggak apa-apa, kan? Ih ... pucet banget!" Vira mengusap wajah suaminya.
"Vir! Kamu pakai parfum apa? Baunya gak enak banget. Terlalu strong!" Protest Radika saat keduanya berdekatan.
"Siapa yang pakai parfum? Ini kan aroma pewangi."
"Masa?"
"Iya? Ini kan pewangi biasanya ... Milti!" ucap Elvira. Ia menatap aneh pada suaminya.
"Mungkin karena kamu ayun kenceng banget tadi. Perut Mas jadi nggak enak begini."
"Gitu aja masa mual. Vira aja nggak apa-apa tuh!"
"Ishhh!" Radika mendesis kesal.
"Mungkin anginnya kenceng, makanya Mas Dika masuk angin. Ya udah ... Ayo masuk ke dalam aja!" Ajak Elvira sambil meraih lengan suaminya.
Tapi, pria itu malah menepis tangan Elvira. Radika berlari kencang ke sama rumah.
[Astaga! Ada apa dengannya?]
Khawatir, Elvira lantas menyusul suaminya itu. Dilihatnya sang suami masuk kamar mandi. Dan terdengar suara kran yang menyala. Karena pintu tidak terkunci, ia pun langsung masuk.
"Mas! Mas Dika nggak apa-apa, kan?"
Dilihatnya Radika mual-mual di depan wastafel.
"Mas Dika baik-baik saja, kan?" Elvira kembali bertanya. Sembari tangannya memijit tengkuk leher Radika.
Bersambung
Mas Radika kenapa woi?