Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Bukan Siti Nurbaya


Suami Satu Malam 72


Oleh Sept


Rate 18 +


Mata Rayyan hampir mau melompat dari wadahnya, dan Jean semakin menelan kaki pria tersebut karena sepertinya Rayyan tidak cooperative. Dilihat Rayyan yang tidak mau kerja sama, maka Jean langsung saja memencet sepatu pria itu.


"Aduhhhh!" Rayyan memekik, hingga Pak Perwira menyatukan alis.


"Jean!" panggil Pak Perwira yang curiga putrinya sedang menganiaya pria second tersebut.


Pak Perwira hafal betul sifat putrinya tersebut. Ia selalu nenindas mahluk lemah, apalagi pria. Entah berapa kali saat Jeandana masih sekolah, ia harus bertemu guru karena aksi heroik Jean terhadap kawan laki-lakinya.


Tumbuh tanpa sentuhan seorang wanita, membuat Jeandana tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Tidak ada manis-manisnya. Sang mama sudah meninggal ketika Jean masih kecil. Hanya dengan sang papa ia tinggal.


Itu pun hanya sampai sekolah menengah atas. Setelah itu, ia sudah tinggal di asrama. Memilih jauh dengan sang papa. Meninggalkan bayang-bayang sang papa karena Jean ingin menjalani dunianya sendiri. Melakukan apa yang ia mau, melakukan sesuatu yang memacu adrenaline.


"Sudah ya, Pa! Biar Mas Rayyan pulang. Sudah malam!" Jean menarik paksa lengan pria tersebut.


"Permisi, Om!" Rayyan pamit dengan tidak enak. Sambil sedikit melirik ujung sepatunya yang tadi diinjak Jeandana.


[Dasar!]


Rayyan langsung menepis tangannya ketika mereka sudah di luar rumah.


"Tetap seperti ini! Pasti papa lihat lewat CCTV," bisik Jean sembari menarik lengan Rayyan lagi.


"Jeannn! Itu urusanmu!" cetus Rayyan yang kesal karena jempolnya terasa sakit akibat injakan Jeandana tadi.


"Siapa suruh kau ikut campur dan membututiku! Sudah! Ikuti saja intruksi dariku. Begitu masuk mobil, pergilah! Kau pikir aku suka memegang lenganmu?" cibir Jean tapi dengan muka manis. Ia tahu, ia sedang diamati. Ada banyak camera yang mengarah padanya saat ini.


[Astaga wanita ini, mulutnya tajam. Tapi dia memasang senyum di wajahnya. Dasar ular berkepala dua]


Rayyan terus saja memaki dalam hati, sebab jika ia lakukan terang-terangan, entah bagian tubuh mana lagi yang akan jadi korban Jean selanjutnya.


Jean pun melakukan sesuai rencana. Ia bersandiwara, memasang muka paling manis hingga Rayyan benar-benar pergi.


KLEK


"Astaga!" pekik Jean, ia kaget bukan main saat membuka pintu sang papa sudah menunggu.


"Papa tanya satu hal lagi! Ini pertanyaan Papa pertama dan terakhir. Apa kamu yakin dengannya?" Pak Perwira menatap Jean penuh selidik.


Dahi Jeandana mengkerut. Kalau bilang tidak, nanti pasti dijodohkan. Kalau bilang iya, nanti malah buntutnya panjang. Ia pun mengsuap wajahnya pelan.


"Pa! Jean bukan anak kecil. Jean sudah dewasa! Jadi Papa tidak usah repot-repot mikirin pendamping Jean."


"Oh, Papa rasa kamu belum yakin dengan duda tersebut. Oke! Besok Papa atur jadwal pertemuan dengan anak teman Papa!"


Jean langsung melotot.


"Pa!"


Pak Perwira langsung memanggil ajudannya.


"Kunci semua pintu!" titah Pak Perwira.


"Paaa!" Jean yang tidak pernah merajuk, kini mengeluarkan sisi kewanitaanyaa.


Tapi, Pak Perwira tidak mau tahu. Ia adalah sosok tegas yang tidak akan menelan ludahnya kembali. Sekali ia bilang A maka akan tetap A, tidak mungkin jadi X atau Z.


***


Pagi hari, kediaman Wiratmaja.


Elvira membuka mata ketika sinar matahari menerpa kulitnya yang lembut. Ia juga terbangun karena seseorang mengusap wajahnya.


"Sudah bangun?"


Elvira mengerjap, ketika Radika terus saja memandangnya.


"Selamat pagi, Sayang!"


Cup


Dikecupnyaa perut Elvira, masih datar sih. Tapi Radika tidak bosan-bosannya mengusap perut istrinya itu. Gemas, sesekali menempelkan telinganya.


"Mas gak akan dengar apa-apa. Masih sebesar biji rambutan!" ucap Elvira sambil terkekeh.


Radika tersenyum, kasihan pria itu. Tidak pernah merasakan moment jadi ayah siaga. Dan pagi ini, begini saja ia sudah sangat bahagia sekali. Kebahagian yang sangat sederhana. Bisa bangun dengan perasaan damai, tanpa takut seseorang dengan tiba-tiba mengarahkan senjataa tepat di kepalanya.


Drettt Drett


"Siapa ini pagi-pagi menganggu?" desis Radika yang sedang asik dengan Elvira.


"Tuan," ucap Jean tidak enak di telpon. Tapi bagaimana lagi. Ia tidak tahu nomor telpon Rayyan. Terpaksa ia telpon Radika. Lagian, sang papa keterlaluan. Ia sengaja tidak boleh keluar rumah hari ini. Pak Perwira sepertinya serius akan mempertemukan dirinya dengan anak temannya tersebut. Jean benar-benar jadi sitii Nurbaya abad 21.


"Eh, Jean! Ada apa? Aku rasa tidak ada tugas hari ini. Kau bahkan bebas cuti."


"Maaf, Tuan. Bisa kirimkan saya nomor Tuan Rayyan?"


"Ray? Ada apa dengan dia?" Radika memincingkan mata.


"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan!" jawab Jean bohong.


"Oh, oke. Saya kirimkan!"


"Terima kasih!"


Tut Tut Tut


"Siapa, Mas?" tanya Elvira sambil mengosok mata.


"Jean!"


"Jean?"


"Iya."


"Ada apa denga Jean?"


"Minta nomor Rayyan."


Alis Elvira mengerut, untuk apa Jean minta nomor Rayyan, aneh.


***


Kediaman keluarga Perwira


Setelah mendapat nomor Rayyan, Jean langsung mengirim pesan singkat pada pria tersebut.


[Bantu aku, ini Jean]


Ting


[Aku sibuk]


Balas Rayyan cuek.


Ting


[Baiklah! Akan kuminta kakakmu yang ke sini]


Ting


[JEAN!]


Jean jelas tersenyum, pasti ancaman yang ia berikan berhasil.


[Jangan lupa, bawa cincin apa saja! Imitasi juga boleh! Nanti akan aku bayar]


Ting


Membaca pesan dari Jean, Rayyan hanya bisa mengusap wajahnya dan mengumpat kesal. Sepertinya ia sedang diperas dan diperalat.


***


Di kediaman keluarga Perwira


Seorang pria berseragam dengan bintang di bajunya, duduk dengan gagah. Duduk saja sudah terlihat tampan dan gagah, apalagi kalau berdiri!


Wisnu duduk dengan percaya diri, ia terlihat tegas dan berwibawa. Sedangkan Jeandana, hatinya dongkol bukan main. Sang papa benar-benar sudah menjebaknya. Hari ini juga, ia dipertemukan dengan pria pilihan papanya tersebut.


Ting Tung


Suara bell pintu terdengar sangat merdu di ruang dengar Jeandana, seperti suara burung nuri. Ini adalah yang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Pasti Rayyan yang datang, Jean jadi bersemangat. Mana mau ia dijodohkan. Dia Jean, bukan Siti.


Bersambung