Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
SAMSONG


Suami Satu Malam 64


Oleh Sept


Rate 18 +


Pertemuan para bos besar itu digelar secara tertutup, para pengawal masing-masing menunggu di depan ruangan. Semua siap siaga, menjaga dari luar. Sebab, tidak mungkin semua bodyguard masuk ke dalam.


Ruangan itu sendiri dilengkapi dengan banyak fasilitas, selain kedap suara juga banyak teknologi canggih di dalam sana. Mereka semua mau membantu Radika, karena pernah berhubungan bisnis dan ada juga yang kebetulan kenalan Kalandra, adik laki-laki Elvira. Dan alasan lain juga ikut menjadi bahan pertimbangan.


Marco dan para orang-orang di belakangnya, sudah membuat keresahan di kalangan pembisnis besar. Pria itu banyak melakukan cara ilegal untuk mendapat untung besar. Belum lagi serangkaian teror dan hilangnya beberapa tokoh besar, nyawa manusia seolah-olah tidak ada artinya di mata mereka. Mereka lama-lama mendewakan diri mereka. Mengutamakan kepentingan kelompok dibanding segalanya.


Hingga terjadi gesekan dan kesalahpahaman antara Marco dan Radika. Sempat menjadi rekan, kini mereka malah saling menyerang. Lebih tepatnya, Radika mencoba menghindar. Sebab, ia tahu. Di belakang Marco, banyak tangan-tangan yang seperti Dewa. Siap mencabut nyawa siapa saja yang mereka inginkan.


Rama, Naga dan Rendra, mereka sama-sama akan membantu masalah yang sedang dihadapi oleh suami Elvira tersebut. Karena beberapa diantara mereka juga sempat berbenturan dengan Marco. Terutama Rama, ya pria itu sudah lama ingin memberi pelajaran pada mantan rivalnya dulu.


Kelompok Marco yang sudah lama terdengar gaungnya dan sangat meresahkan akhir-akhir ini. Kelompok besar itu, yang diketuai oleh Drako Marcosius sudah bertahun-tahun melakukan kejahatan terorganisir, seperti layaknya mafia Rusia, Cina dan juga Jepang.


Mulanya organisai rahasia ini tidak begitu meresahkan. Namun, semakin lama setelah sayapnya melebar sampai daratan America. Organisasi yang kini dikepalai oleh Marco tersebut, mulai menyerang dan main hakim sendiri. Tentunya, membunuhh dan menganiaya secara perlahan-lahan para targetnya.


"Kita pancing dia agar keluar di dermaga Perak!" saran Rama yang sudah dituakan di ruangan tersebut.


"Ini lebih mudah, siapkan banyak kapal kecil dengan bahan peledakk di dalamnnya," ucap Rendra sembari mengamati kartografi digital di atas meja yang bercaya di setiap sudutnya.


"Tapi tetap jangan gegabah. Marco memiliki banyak mata hampir di setiap dermaga untuk memantau setiap transaksinya. Ia memiliki orang-orang lama yang pastinya setia." Ganti Naga yang mengerutkan dahi. Sebab, ia tahu musuh mereka bukan orang sembarangan.


"Aku akan pancing dia sendiri agar cepat keluar!" ucap Radika dengan tenang.


"Jangan, kecoh saja dengan sosok yang sepertimu. Jangan langsung ke luar. Aku tidak bisa jamin, istrimu tidak jadi janda!" tukas Rama. Terdengar seperti lelucon. Namun, telinga Radika langsung gatal.


Rendra sempat tersenyum tipis, kemudian menimpali ucapan Rama.


"Benar! Itu sama saja kamu cari mati jalur cepat. Dia punya sniperrr terbaik, terakhir yang aku dengar. Lewat tangan dewanya, dia sudah melenyapkan salah satu penerus perusahaan raksasa, kau tahu pimpinan SAMSONG?"


"Ya, aku lihat juga. Hanya saja media sudah dibeli dan diatur oleh orang-orang yang berkuasa itu. Hingga tidak ada lagi yang memberitakannya," pungkas Radika.


"Jadi ... rencana ini harus disusun matang-matang. Jangan sampai, salah satu diantara kita menjadi korban." Sinaga kemudian memutar laptopnya. Ia menunjukkan pada orang-orang yang duduk mengitari meja tersebut.


"Ini rencanaku, bagaimana dengan kalian?" tanya Naga sembari memutar video simulasi penjebakan Marco, pria berbahaya yang kini sedang mengincar kepala Radika.


"Kita panggil beberapa perwakilan tim khusus, sepertinya mereka juga harus dilibatkan sekarang," saran Rama.


Radika lalu mengangguk, dan menatap pintu. Dilihatnya penjaga pintu, saat Radika mengangguk pada penjaga, pintu ruangan perlahan masuk.


Begitu masuk ruangan, mereka pun menghadap perlengkapan masing-masing yang sudah tersedia. Satu satu sudah memiliki tugas masing-masing. Semua terlihat begitu cepat mengopersikan alat-alat mereka.


Selain jago bela diri, mereka juga memiliki banyak skill. Tidak hanya terfokus pada satu bidang tertentu. Para kaki tangan pilihan yang sudah sangat terlatih.


Pukul satu dini hari.


Elvira masih di kamar bersama anak-anak. Si kembar sudah tidur, sedangkan Elvira, wanita itu tetap terjaga. Sama sekali tidak bisa memejamkan mata meski sudah ia paksa.


Sampai pintu kamarnya terbuka, ia langsung berjingkat turun dari ranjang dan menghampiri Radika.


"Belum tidur?" tanya Radika yang sengaja mau pamit pada Elvira.


"Bagaimana bisa aku tidur dalam situasi seperti ini?"


CUP


Radika menempelkan bibirnya cukup lama pada kening Elvira. Seperti berat sekali untuk melepas Elvira malam ini.


"Mas nggak akan pergi lagi, kan?" Elvira menarik wajahnya. Kakinya melangkah mundur. Ia merasakan firasat buruk.


"Kami akan beropersi malam ini. Marco sudah terlihat di sekitar dermaga Perak."


Tubuh Elvira langsung terasa lemas. Ia kemudian kembali mendekat, memukuli tubuh bidang tersebut.


"Mas harus kembali hidup-hidup! Kalau tidak ... aku akan benar-benar menikah dengan Rayyan!" ancam Elvira dengan putus asa. Ia mengucap kata ancaman itu sambil terisak.


Radika lantas mendekapnya dengan erat sembari berbisik, "Coba saja kalau berani. Aku pastikan jika itu terjadi. Orangku akan memotong burung Rayyan tanpa sisa!"


Elvira yang semula marah, kini malah tersenyum getir. Bibirnya menggembang, mengulas senyum tipis. Rupanya sang suami sudah merencanakan sesuatu yang sadis untuk Rayyan. Berani Rayyan jadi suaminya, langsung potong bebek angsa masak di kuali.


Hahahha


Bersambung



Yang belum baca kisah Anindira dan Mas Agam, yukkk ... merapat. Gadis 18 tahun dengan pria dewasa 40 tahun .... meluncur ya ke "Rahim bayaran"


Ada Batari Dan Mas Akio juga loh ... Hehehe


TERIMA KASIH