Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Bed Rest


Suami Satu Malam 94


Oleh Sept


Rate 18 +


[Kenapa dia tidak merasa mual? Kata dokter itu akan memakan waktu yang cukup lama. Gejala kehamilan seperti mual muntah akan ia rasakan sampai berminggu-minggu, tapi ... ini baru beberapa hari. Tapi, Jean sama sekali tidak menunjukkan gejala itu barusan. Sudahlah ... ini malah aku yang diuntungkan. Untuk apa aku memikirkan hal ini? Yang penting aku sudah tidak merasa pusing lagi]


Sambil sibuk dengan pikirannya sendiri, tangannya mempererat dekapannya pada pinggang Jean. Ya, Rayyan sedang rebahan sambil memeluk Jean yang sudah pulas karena KO.


Baru beberapa saat lalu mereka melakukan hubungan yang membuat Rayyan langsung hilang rasa pusingnya. Ternyata migraine yang dirasa Rayyan akhir-akhir ini, karena tidak ada tempat untuk penyaluran gejolak jiwanya yang mengelora.


Satu kali permainan, Rayyan sudah kembali rileks. Wajahnya sumringah. Sejak tadi ia menciiumi punggung Jean yang sudah terlelap karena lelah.


Wangi ibu hamil sangat berbeda, Rayyan seolah tidak mau lepas. Sayang, Jean dari kemarin tidak mau disentuh. Padahal Kan hamil begini di mata Rayyan, Jean semakin membahenolll.


Lihat pinggangnya yang mulai mekar, pipinya cubby yang mengemaskan. Hingga ia selalu ingin mengigitnya. Belum lagi bibirnya yang ranum itu, Rayyan merasa Jean sedang menggoda dirinya. Meskipun wanita itu hanya duduk saja.


Aduh, Rayyan jadi senyum-senyum sendiri saat membayangkan betapa mempesonanya kini Jeandana Mahayu Djangkaru.


"Luv you sayang!" bisik Rayyan tepat di telinga sang istri yang tidur dengan manja dalam pelukannya.


Rayyan seneng banget, bisa tidur sambil memeluk guling yang bisa kentut. Gemas, ingin sekali mengigit telinga, hidung, dan bibir yang manis tersebut.


***


Pukul empat, Jean terbangun. Tiba-tiba perutnya merasa tidak nyaman. Pelan-pelan ia membuka dekapan lengan Rayyan yang memeluk pinggangnya. Dengan hati-hati, ia turun dari ranjang. Di dalam kamar mandi, ia mengeluarkan isi dalam perutnya.


"Kenapa kembali mual begini?"


Jean menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Bayangan wajahnya terasa pecah jadi dua, Jean merasa matanya berkunang-kunang. Detik berikutnya ....


KROMPYANGGGG


Gelas tempat kumur yang ada di tepi wastafel jatuh tersengol siku Jeandana. Wanita itu perlahan ambruk dan pingsan.


Rayyan jelas langsung terbangun, pria itu kaget dan langsung lari ke sumber suara.


"JEANNN!"


Rayyan panik, dengan khawatir ia bopong tubuh Jean. Ia angkat tubuh Jean yang lemas ke atas ranjang.


"Jean! Sayang! Bangun, Jean!"


Panik, Rayyan mengambil ponsel. Pria itu menghubungi ambulance.


***


Beberapa menit kemudian


WIU WIU WIU ....


Suara mobil ambulance yang membawa Jeandana dan juga Rayyan meninggalkan kediaman menuju rumah sakit.


"Jean ... tahan sayang. Kamu harus kuat!"


Rayyan terus saja menggengam tangan istrinya. Ia tidak mau kehilangan wanita tersebut.


.....


Rumah Sakit Ibu dan Anak Harapan Bunda


Rayyan mondar-mandir, ia berjalan seperti layaknya setrikaan. Sejak tadi ia menoleh pintu UGD yang tak kunjung terbuka.


[Tuhan ... lindungi mereka Tuhan. Aku mohon ... jangan terjadi hal buruk pada mereka]


Mulut Rayyan terus komat-kamit, berkali-kali berdoa untuk istri dan janin yang ada dalam kandungan Jeandana.


***


Pukul sembilan pagi di salah satu ruang VIP, Jean sedang terbaring sambil mengamati wajah keluarganya satu persatu.


"Ray! Biar Jean tinggal dulu bersama Mama. Nanti, kalau sudah melahirkan ... boleh balik ke rumah kalian. Mama tidak mau, kalau kamu pas kerja, hal seperti ini terulang lagi. Ini Jean fisiknya mulai drop. Harus bed rest. Ingat dokter tadi bilang apa!" Mama Sarah melirik tajam pada putranya. Ia kesal, karena Jean dibuat kelelahan hingga harus masuk rumah sakit. Mama pikir, Rayyan menghajar Jean habis-habisan tiap malam.


"Lagian kau ini Raiii ... bersabarlah sedikit!" celetuk Radika.


Elvira langsung mencubit pinggang suaminya. Sok sekali suaminya itu, padahal istrinya juga sedang hamil, tapi Dika selalu minta jatah. Kadang malah dua ronde. Dasar, suami-suami yang menjurus!


Rayyan hanya bisa mendesis dan memegangi tengkuk lehernya. Benar-benar suasana yang tidak enak.


"Cepat sembuh ya, Jean!" Elvira mendekat, sama-sama hamil namun Jeandana kondisi tubuhnya sedikit lemah. Jean yang kuat dan tangguh, saat ngidam seperti ini, harus keluar masuk rumah sakit. Vira jadi ingat, hal yang sama juga pernah dialami oleh istri komedian ternama di Indonesia. Istrinya pemilik Geprek yang fenomenal itu.


"Makasih, Mbak."


Jean mencoba senyum, meski lidahnya terasa pahit. Ia juga heran, kenapa tubuhnya jadi lemah begini?


KLEK


Saat semua sedang berbicang, eh Pak Perwira datang.


"Jean! Apa yang terjadi?" Pak Perwira jelas panik. Sejak menikah kok Jean sering keluar masuk rumah sakit. Ini putrinya pasti tidak bahagia.


Pria yang tidak lagi muda tapi masih gagah itu pun langsung melotot tajam ke arah Rayyan. Seolah Rayyan adalah tersangka utama dari semua ini.


"Papa mau bicara denganmu!" ujar Pak Perwira.


"Paaa!" panggil Jeandana dengan suara serak. Ia seolah tahu, sang papa akan memberikan pelajaran pada suaminya. Entah apapun itu, ia merasa hal buruk akan menimpa Rayyan.


"Sebentar, Papa mau bicara dengan suamimu!"


"Pa ... !"


Pak Perwira menghela napas panjang. Ia pun akhirnya duduk sambil memijit kaki putrinya.


***


Malam hari


"Papa pulang saja, biar Ray yang jagain Jean."


"Nggak usah!" jawab Pak Perwira galak.


Rayyan hanya bisa garuk-garuk kepala. Dan ketika malam semakin larut, dilihatnya Pak Perwira sudah tertidur di ranjang yang ada di sudut ruangan.


Ia sendiri sudah naik ke atas ranjang rumah sakit bersama Jeandana.


"Masih mual?"


Jean menggeleng.


"Maaf, Jean ... kamu sakit gara-gara aku." Rayyan merasa bersalah.


"Jangan begitu ... kamu hanya membuat aku tambah sedih."


"Sayang ... jangan bikin Mami sakit lagi ya?" bisik Rayyan sambil memeluk Jean dari belakang. Mereka berdua mengobrol hingga tertidur di atas ranjang pasien.


Pagi hari


Pak Perwira dibikin geleng-geleng melihat kelakuan menantunya tersebut. Namun, sesaat kemudian sudut bibirnya terangkat.


[Papa rasa kamu menikah dengan pria yang tepat, Jean]


Sementara itu, Rayyan merasa tubuhnya mendadak kaku, Rayyan pun mengeliat. Tapi, ia buru-buru berjingkat ketika melihat pak Perwira, dokter dan suster menatap dirinya yang tidur di atas ranjang pasien.


Dengan canggung Rayyan buru-buru ingin turun. Namun, tangan Jean malah menariknya. Hingga ia kembali terjatuh dan rebahan di sisi Jean yang masih setengah mengantuk tersebut.


"Sayang ... sudah pagi," ucap Rayyan setengah berbisik.


"Hem."


"Sayang ... lepasin ... Ada papa sama dokter."


[Apa?]


Bersambung


Cuss... baca juga novel Sept yang lain ya.. sudah tamat kok.


Yang mau kenalan sama Sept cuss IG Dan FB ya hehhee


Ig Sept_September2020


Fb Sept September


TERIMA KASIH


Terlopeeee