
Suami Satu Malam 67
Oleh Sept
Rate 18 +
Elvira masih terbaring, dengan selang infus yang menempel pada punggung tangannya. Wanita itu hampir saja bertemu dengan malaikat pencabut nyawa bila Rayyan tidak bergegas menyelamatkan dan membawanya naik ke daratan.
Wanita itu benar-benar sudah bosan hidup, hingga gelap mata, putus asa dan memilih pergi meninggalkan dunia ini. Tidak lagi memikirkan si kembar, Zio dan Zia buah cinta mereka berdua. Beban hidupnya sudah terlalu berat, hingga Elvira merasa tidak sanggup lagi menjalani hari-hari tanpa Radika. Apalagi ia sedang hamil, perasaan Elvira gampang sekali naik turun layaknya rollercoaster.
Sekarang, ia harus menerima hukuman atas kesalahan yang ia lakukan. Berani sekali mau mati, meninggalkan anak yang masih kecil-kecil dan seorang suami.
"Vir ..."
Kelopak mata Elvira bergerak-gerak, tidurnya terlihat resah dan gelisah. Radika yang sejak tadi mengamati dengan saksama, perlahan mengusap pipi wanitanya itu. Diusapnya dengan lembut, dan terasa dingin. Pucat, kulitnya terlihat seperti vampire. Hampir tengelam membuat wajahnya semakin putih.
[Mengapa kau bodohhh sekali? Bagaimana jika kau benar-benar pergi? Lalu bagaimana denganku? Aku bertahan sampai sekarang karena kalian. Lalu bagaimana jika kau pergi? Aku rasa ... aku pun tidak akan sanggup!]
Radika kemudian mengengam tangan istrinya tersebut, diraihnya tangan yang lemas itu dengan lembut. Sesekali mengecupnyaa. Ada rasa rindu yang tak bisa ia katakan.
Tanpa sadar, ia malah berakhir dengan melamun. Bayangan kejadian dua bulan yang lalu kembali muncul dalam kepalanya.
Flashbacks ON
"Kau tak apa?" tanya Radika yang sudah keluar dari air laut yang keruh karena effect ledakan beberapa saat lalu.
"Tuan tidak apa-apa?" Jean ingin bangun, tapi lengannya terluka. Darah segar menetes hingga tembus bajunya yang sobek. Sepertinya terkena karang yang Ada di bawah sana.
Tap tap tap
Tim Zeta tiba, mereka adalah orang-orang Rama. Dengan cepat mereka mengamankan Radika dan juga Jendana. Radika tidak terluka parah, beda dengan bodyguardnya yang cantik itu. Baju Jendana sudah dipenuhi noda darah.
"Bawa mereka ke tempat aman!" seru ketua tim Zeta.
Tidak butuh waktu lama, Radika dan Jean diangkut oleh van hitam yang berbeda. Mereka berdua dijauhkan dari lokasi TKP. Dan operasi ini pun gagal. Sebab Marco berhasil bergi dengan helicopter yang ternyata sudah siap sebelumnya.
Markas Besar
Jeandana tidak dibawa ke rumah sakit, tapi dibawa ke sebuah gedung khusus, ia dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan. Jangan tanya fasilitas yang ada di dalam sana. Semua komplit layaknya ruang operasi di sebuah rumah sakit pada umumnya. Saat itu juga, setelah sampai Jeandana langsung mendapat banyak jahitan.
Sedangkan Radika, ia hanya mengalani luka ringan. Kini ia menunggu di depan ruangan bersama Richard dan beberapa penjaga lainnya. Saat orang yang menangani Jean keluar, Radika langsung masuk. Pria itu lalu menarik kursi dan duduk di depan ranjang menghadap Jeandana.
"Aku tidak akan mengucapkan terima kasih padamu, Jean!" ucap Radika dingin.
Jeandana memalingkan wajah, mendadak matanya terasa perih.
"Ini bukan cinta! Bukan! Kau hanya terobsesi padaku!" tambah Radika.
Tangis Jeandana pun pecah. Ia tidak mampu menyembunyikan lagi rasa itu dari pemiliknya.
"Kau pasti tahu, kau wanita cerdas. Sampai kapan pun hanya Elvira. Jadi aku mohon! Hentikan perasaanmu!"
Jeandana semakin merasa sesak, oh ... inikah rasanya patah hati. Benar-benar yang tidak bisa disambung kembali? Jean ditolak sebelum menyatakan perasaanya. Poor Jeandana, bodyguard cantik yang nasib cintanya begitu tragis.
Beberapa saat kemudian
"Kau dengar, Jean?"
"Baik, Tuan!" ucap Jean dengan tegas. Ia mengangkat wajahnya lagi dengan percaya diri.
Jean hanya butuh waktu sebentar untuk menangis. Meski tidak bisa langsung sembuh, setidaknya ia lega. Radika sudah tahu perasannya selama ini. Menyimpan cinta dalam diam sendirian, rupanya cukup menyesakkan. Setelah Radika tahu, beban di pundak Jeandana seolah hilang.
"Bagus! Aku anggap ini tidak pernah terjadi. Kau pengawal setia kami. Tetaplah jadi Jean yang berpegang teguh pada sumpah!"
"Baik, Tuan!" jawab Jean dengan bibir bergetar. Rupanya ia memang butuh waktu. Merelakan itu tidak semudah membalik tangan. Apalagi merelakan cinta terpendam begitu lamanya. Sudah terlanjur mengakar, Jean butuh waktu hingga rasa itu pergi dengan sendirinya.
***
La Pas Meksiko
Tidak mau Elvira ikut terseret, Radika memutus semua contact dengan keluarganya. Mereka benar-benar harus fokus memburu Marco. Bila tidak, mungkin kesempatan terakhir mereka akan lewat.
Rama pun sudah menghubungi para mafia kawakan yang dulu sempat berhubungan baik dengannya. Mereka semua menjalin komunikasi dan saling bertukar informasi. Hingga hari ke 10, akhirnya mereka semua berhasil menyergap markas Marco dan para kroninya.
Sayang, Marco berhasil lolos. Pria itu berhasil lari menggunakan moge. Tidak mau kembali gagal, dan suatu hari Marco balik menyerang, Radika pun mengejar dengan motor sport. Keduanya seperti setan jalanan, bak Valentinoo Rossiii, mereka saling kejar-kejaran. Hingga sampai di sebuah tikungan, tiba-tiba Marco berhenti.
Pria itu meninggalkan motor gedenya dan lari ke hutan. Marco semakin merasa tersudut, apalagi saat mendengar sirene mobil patroli polisi. Pria itu lari semakin ke dalam, dan sembunyi di balik bebatuan.
Dari jauh, telinganya menangkap suara orang yang semakin mendekat. Saat suara itu benar-benar sudah dekat, pria itu langsung mengarahkan senjata yang semula ia simpan di balik punggung.
DUOOR ....
DUOOR ....
DUOOR ....
Tiga tembakan berhasil bersarang pada jantung, kepala dan kaki Marco. Radika menoleh, dilihatnya dari jauh, itu adalah Tim Zeta. Anak buah Rama berhasil membuat Draco Marcosius tidak berkutik dan tersungkur di dalam dahan-dahan kering.
Tap tap tap
Radika ingin memastikan, ia pun mendekat. Hendak mengambil senjataa api yang masih dipegang pria tersebut. Namun, detik berikutnya ...
DUOOR ...
"Siallll" umpat Radika sambil memegangi perutnya. Marco berhasil menembakk suami Elvira tersebut.
Brukkkkk
Radika tumbang.
DUOOR ... DUOOR ... DUOOR ....
Dengan mata berkaca-kaca, Jeandana menembakii tubuh Marco dengan membabii buta.
***
Di sebuah rumah sakit di salah satu kota di negara Meksiko.
Radika sudah ditangani oleh tenaga medis. Di depan ruangan VIP, puluhan penjaga sedang mengamankan pria tersebut. Radika benar-benar mendapat perlindungan setelah Marco dinyatakan tewas. Pasti organisasi yang diketuai oleh Marco akan menuntut balas.
Tidak ingin kecolongan, Rama, Naga dan juga Rendra masih terus mengawal sampai Radika bisa pulang ke negaranya. Bahkan, Jeandana sempat dikejar-kejar karena menjadi tersangka utama matinya Marco. Berkat jaringan yang ia bangun lama di beberapa negara, Rama mendapat bantuan dari kelompok organisasi lain. Hingga ia bisa membawa Radika dan yang lainnya keluar dari negara itu.
Tidak bisa langsung kembali ke Indonesia, mereka beberapa minggu menetap di Itali, di sana, Radika bertemu dengan para pimpinan gangster. Ia difasilitasi oleh Rama dan juga yang lainnya.
Radika menjelaskan apa yang terjadi beberapa tahun terakhir. Segala bukti pembunuhann dan penyerangan yang dilakukan oleh Marco ia kuak dalam meja bundar yang dipenuhi pimpinan geng mafia besar tersebut.
Apa mereka diam saja? Tidak! Radika langsung menjadi sandra oleh salah satu kelompok yang tidak terima atas kematian Marco. Pertemuan itu akhirnya berakhir dengan pertumpahan darah. Tidak ada yang memang, tidak ada yang kalah. Karena sama-sama memiliki sandra.
Hingga beberapa minggu kemudian, mereka melakukan pertukaran sendera. Dan semalam, Radika baru bisa lepas dan baru bisa pulang kembali ke Indonesia.
Flashbacks END
Bersambung
Makasih Mas Rama and the Geng. Heheheh ...
Makasi terong belok, kamu emang the best kalau masalah sadis mengsadis! Hihihi...
Rama adalah tokoh Sept yang paling menantang loh readers wkwkkwkw .... bikin ketar-ketir. Hahahha
Mas Rama ada di novel ini loh gaess
"Suamiku Pria Tulen"