
Suami Satu Malam 85
Oleh Sept
Rate 18 +
"Setelah ini kita mau ngapain?"
Jean melirik, pertanyaan Rayyan tidak bisa ia jawab. Karena ia belum memikirkan habis makan mereka mau apa. Dan lagi tubuh Jeandana terasa pegal-pegal, Rayyan sudah membuatnya kelelahan. Sekarang, ingin rasanya rebahan saja di dalam kamar. Namun, kamar mereka saat ini seperti sarang penyamun. Jean enggan masuk ke dalam sana lagi untuk saat ini. Takut dikerjai Tuan penyamun lagi. Si mantan duda yang sudah berkali-kali menjarah tubuhnya.
"Aku di sini saja, mau cari udara segar," jawab Jean setelah menemukan jawaban yang dirasa pas.
"Yakin? Nggak balik ke kamar?" pancing Rayyan.
Jean otomatis menggeleng, "Mau telpon papa, dulu."
Seketika Rayyan menyerah, kalau berkaitan dengan mertuanya itu Rayyan tidak bisa menganggu Jean lagi.
***
Satu jam sudah berlalu, makan sudah, menghubungi sang papa juga sudah. Kini Jean kembali bingung, mereka mau ngapain lagi. Apalagi sejak tadi ia melihat Rayyan terus menguap. Suaminya itu pasti kurang tidur. Iyalah ... kurang tidur, pria itu berusaha keras sekali dari semalam menahan diri hingga tidak kuasa lagi. Sampai lembur pagi hingga siang. Benar-benar cocok mendapat gelar pengantin kesiangan.
"Balik ke kamar, yuk!" ajak Rayyan kemudian.
[Mati aku!]
Jean yang sejak tadi mengulir layar ponselnya, mulai merasa gelagat yang tidak enak. Matanya fokus pada ponsel, tapi hati dan pikiran Jean sudah traveling sampai gunung Himalaya.
"Ngantuk banget!" tambah Rayyan.
"Oh ... ya." Jean mengambil tas kecil yang tadi ia letakkan di kursi yang ada di sebelahnya. Kemudian berdiri, menyusul Rayyan yang sudah beranjak duluan.
Mereka berdua naik ke lantai atas bersama-sama. Sampai di dalam lift, hanya ada mereka berdua. Suasana pun terasa kembali canggung. Mereka ini memang sudah menikah, sudah berhubungan juga beberapa kali dalam sehari ini. Tapi, gayanya masih malu-malu gengsi. Mungkin karena pernikahan mereka yang mendadak.
Belum ada kata cinta seperti I LOVE YOU, mereka hanya melakukan semua itu berdasar naluriah. Berhubungan karena kebutuhan, bukan karena ikatan emosional yang berdasar cinta dan sayang.
Meski tidak bisa dipungkiri, jiwa keduanya sebenarnya sudah terikat. Semenjak Rayyan sudah berani menyentuh tubuh Jeandana. Rasa ingin memiliki sudah ada. Namun, belum disadari oleh mereka berdua.
KLEK
Tidak terasa mereka sudah berada di depan pintu kamar hotel lagi. Rayyan membuka pintu lebar-lebar. Lady first!
Ia mempersilahkan Jean masuk duluan, bukannya senang karena sudah diperlakukan bak seorang ratu. Jean malah bergidik ngeri. Kebaikan Rayyan sangat menggundang bencana.
Bencana untuk Jeandana, karena pasti ada udang di balik bakwan. Terlihat dari tatapan suaminya itu. Jean ini memiliki mata setajam elang. Lewat ekor matanya saja ia bisa merasakan, bagaimana cara Rayyan menatap dirinya.
[Sepertinya aku harus pura-pura mengantuk saja]
[Apa pura-pura sakit?]
[Tapi mana dia percaya? Dia kan licik!]
Jean memikirkan banyak rencana untuk mengelabuhi suaminya itu.
"Jean ... aku tidur dulu ya, capek banget. Nanti kalau mau apa, bangunin saja!" kata Rayyan.
Jean bengong, kok rencananya dipakai Rayyan. Tapi untunglah, setidaknya ia selamat untuk saat ini. Dilihatnya Rayyan bersiap merebahkan tubuhnya di atas ranjang mereka. Tidak lama, terdengar dengkuran halus dari pria yang kini menjadi suaminya itu.
[ASTAGA! Cepat sekali dia tidurnya?]
[Apa dia kelelahan?]
Tanpa sadar sudut bibirnya menggembang, Jean tersenyum geli.
Sesaat kemudian, ia menggeleng keras.
[Jean! Ada apa dengan kepalamu!]
Jean mengutuk sendiri isi kepalanya, sepertinya sudah mulai konslet karena virus Rayyan.
***
Sore hari
Langit nampak indah, warna jingga mendominasi, terlihat dari balkon kamar hotel Jendana dan Rayyan. Jean sedang asik berselancar di dunia maya, sedangkan Rayyan, pria itu masih terlelap. Sepertinya ia sedang men-charge energy kembali, sampai full untuk digunakan nanti malam.
Srakkkkk
Baru bangun, Rayyan langsung menyibak selimut. Perasaan ia tadi tidur tak pakai selimut.
[Apa Jean yang melakukannya?]
Baru dipakain selimut, Rayyan sudah GR.
"Jean!"
Jean langsung berbalik, dilihatnya Rayyan sudah bangun.
"Sudah bangun?"
"Kamu gak tidur?"
"Aku sudah lupa kapan terakhir kali tidur siang!" jawab Jean diplomatis.
Rayyan lalu tersenyum tipis, ia rasa Jean selama ini mungkin hanya tidur beberapa jam saja. Ia yakin itu.
"Apa tidak menggantuk?"
Jean kembali menggeleng pelan.
"Oh ...!"
Rayyan ikut mengangguk, ia manggut-manggut kemudian melirik ke balkon. Langit nampak indah sore ini. Sepertinya ia punya ide.
***
Malam Hari
Malam ini mereka tidak keluar kamar, Rayyan bilang ia akan memesan makan malam. Jadi Jean tidak usah keluar. Wanita itu langsung curiga. Kali ini apa lagi rencana suaminya itu.
Beberapa saat kemudian
Seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
"Aku saja!" Rayyan yang semula duduk sambil nonton TV, langsung berjingkat ketika mendengar ketukan pintu. Ia yakin, itu layanan kamar yang tadi sudah ia pesan.
Jean hanya melirik, kemudian kembali fokus pada smartphone miliknya.
KLEK
"Terima kasih!"
Rayyan merogoh saku, memberikan beberapa lembar uang warna merah muda sebagai tip dan kembali menutup pintunya. Pria itu kemudian mendorong food trolley, dan memanggil Jean.
"Jean!"
Jean pun meletakkan ponselnya, siap untuk makan malam. Dan saat Rayyan membuka penutup meja yang baru datang itu, Jean mengeryitkan dahi.
[Dia mau makan malam romantis? ASTAGA!]
Rayyan membuka laci di dalam food trolley tersebut. Memasang lilin pada tempat yang sudah disediakan. Dengan telaten pria itu menyalakan lilin demi lilin. Sembari melirik Jean dan tersenyum aneh. Kemudian tangannya meraih remote. Seketika kamar jadi gelap.
Jean spontan terkekeh, ia kira makan malam romantis hanya ada di film-film. Kini, itu terjadi padanya. Ini seperti lelucon. Jean yang tidak pernah mendapat sesuatu yang romantis dari seseorang, merasa ini sangat aneh dan berlebihan. Mantan duda di depannya kini, benar-benar berpengalaman. Perlu diwaspadai!
[Hai! Sudah berapa hati yang kau buat mati kutu?]
Di tengah kegelapan, hanya berteman cahaya temaram. Jean menatap sinis. Ia yakin, kalau Rayyan pasti mantan play boy kelas kakap.
"Kau suka ini?"
Jean mendongak sambil menjawab, "Aku malah takut, nanti salah ambil makan!" jawab Jean asal.
"Benarkah? Aku rasa semua wanita suka makan malam romantis."
"Semua, kecuali aku!"
"Oh ... lalu kau suka apa?" Pandangan Rayyan sama sekali tidak beralih dari Jeandana. Membuat Jean tambah salah tingkah.
Melihat Jean hanya diam. Rayyan kemudian mengajaknya bersulang.
"Lalu bagaimana dengan ini? Apa kau juga tidak menyukainya?"
Jean menciium aroma wineee di tangannya, kemudian mengangkat bahu.
"Aku kurang suka minum, Ray!"
"Benarkah? Perfect!!" ucap Rayyan spontanitas.
Alis Jean mengerut. Rayyan justru tersenyum tipis. Pria itu kemudian menengak minuman miliknya, setelah habis, ia kemudian beranjak dan menghampiri Jean.
[Sudah! Makan dengan tenang! Kenapa berdiri segala ... jangan mendekat]
Jean terus mengerutu dalam hati.
"Jangan minum!" Rayyan mengambil gelas dalam tangan Jean. Meletakkan di atas meja. Kemudian membungkukan badan, hingga condong ke arah Jeandana.
[Udah deh! Jangan aneh-aneh, biarkan aku makan dulu!]
Jean negedumel dalam hati, firasatnya sudah tidak enak saat Rayyan mulai merapat.
Cup
[Astaga RAYYANNN! Aku bahkan belum mengigit makananku!]
Tapi bagaimana lagi, ketika Rayyan sudah mulai menciiumnya, Jean langsung kehilangan arah.
"Kita tunda makannya!" bisik Rayyan sambil membopong tubuh Jeandana. Bersambung.
Mantan Duda kesepian sedang berjuang mencetak generasi masa depan kualitas super dengan modal terong kukus. Wkwkwkwk