
Suami Satu Malam 102
Oleh Sept
Rate 18 +
"Azzam!" pekik Rayyan dengan mata membulat sempurna. Pria itu shock melihat anak 7 tahun itu bermandikan lumpur.
Dengan tak kenal rasa takut pada sang papi, Azzam malah berlari masuk ke dalam, tentunya sambil teriak memanggil maminya.
"Mi ... Mamiii!"
"Astaga, Azzam ... kenapa bajunya kotor penuh lumpur begitu?" Jeandana geleng-geleng kepala melihat lantai penuh jejak berlumpur milik putra sewayang mereka.
"Kalian ini ada apa sih? Sore-sore pada ribut?" Pak Perwira muncul dari balik pintu. Sudah dua tahun ini Pak Perwira ikut tinggal dengan Jean serta Rayyan.
Kondisi fisik yang mulai melemah, membuat Jean memaksa papanya itu ikut tinggal bersama mereka. Sang papa juga kini sudah pensiun. Jean ingin merawat papanya, karena tidak mungkin ia wara-wiri ke rumah sang papa.
"Eh ... cucu Kakek, ayo sana mandi. Gak apa-apa ... berani kotor itu baik." Kakek Perwira malah tersenyum bangga pada cucunya. Hal itu membuat Rayyan menghela napas panjang.
Kalau ikut didikan militer secara pak Perwira, bisa-bisa Azzam nanti pergi ke Lebanon. Aduh, Rayyan mau putranya meneruskan bisnisnya. Bukan malah jadi abdi negara. Apalagi seperti mami dan kakeknya, bisa-bisa Rayyan spot jantung.
Pria itu kan begitu sayang pada Azzam, anak laki-laki yang ia gadang-gadang akan menjadi bintang di keluarganya. Tapi bukan jadi jendral perang, rasanya Rayyan tidak rela putranya bermain-main dengan nyawa.
"Bi .. Bi ... tolong bersihin ini, ya," pinta Jean pada Bibi yang langsung datang saat dipanggil.
"Baik, Nyonya."
"Makasih, Bik."
Jean pun menemani Azzam, sambil tersenyum. Karena melirik wajah suaminya yang begitu masam.
***
Malam harinya, Jean sedang membujuk sang suami. Akhir pekan besok ada summer camp dan Azzam mau ikut camp itu. Tapi suaminya itu tidak mengijinkan Azzam pergi.
"Ayolah ... Azzam itu sudah besar."
"Besar apa? Dia masih tujuh tahun, Jean!" protes Rayyan kesal.
"Lagian aku sama papa bakal ikut ke camp itu kok. Meski tidak tidur satu tenda. Aku kan ada di sana, jadi jangan khawatir."
"Nggak! Nggak Ada! Nggak ada acara camping segala. Nanti ... kalau 17 tahun gak apa-apa."
"Kan banyak temen sekolahnya. Lagian juga cuma dua malam." Jean mencoba menawar siapa tahu usahanya berhasil.
"Tetap nggak bisa, mana tanggal itu besok aku terbang ke Thailand buat teken kontrak. Pokoknya gak boleh. Awas kalau kamu nekat."
Jean langsung masam, bibirnya mengerucut.
[Oke ... aku akan menurut, nanti kalau dia pergi. Baru kami berangkat diam-diam]
Jean tersenyum dalam hati. Ia punya seribu cara untuk mengelabui Rayyan selama ini. Di luar terlihat menurut, tapi Jean memiliki sisi lain yang masih ia samarkan.
"Iya ... iya, ya sudah. Ayo tidur kalau begitu." Jean kemudian menarik selimut. Tapi, Rayyan menarik selimutnya.
"Jangan tidur dulu!" cegah Rayyan.
"Aku ngantuk!" Jean menarik selimut dengan paksa.
[Astaga, apa dia marah karena tidak aku ijinkan pergi ke summer camp? Ish ... awas kalau kau nekat, Jean!]
Bukannya takut, Rayyan yang sudah dapat predikat pawang bodyguard cantik tersebut, dengan gesit menyusup dalam selimut. Hingga membuat Jean tertawa kegelian. Benar-benar mantan duda yang sangat berpengalaman dan kompeten dalam bidang perterongan. Sekali sentuh, Jean langsung luluh.
***
Akhirnya hari yang ditunggu Jean dan Azzam datang juga.
Pagi-pagi sekali Jean mengemasi pakaian suaminya. Rencananya Rayyan akan ke Thailand kemudian ke Macau sekalian. Ada beberapa proyek yang harus ia cek sendiri. Sekalian juga ada jamuan penting dengan klien di sana. Rencana awal ingin mengajak Jean dan Azzam, hanya saja putranya itu tidak mau. Alhasil ia berangkat sendiri bersama sekretaris setianya, Kris.
"Hati-hati, Pi!" Azzam menciium punggung tangan papinya.
"Jaga Mami, ya?" pinta Rayyan sambil mengusap lembut kepala Azzam.
"Siapppp, Pi!" Azzam bersikap seolah menaruh hormat pada atasan. Ia hormat layaknya waktu upacara bendera hari senin di sekolah.
"Sayang, titip Azzam. Awas jangan bawa dia ke summer camp!" bisik Rayyan.
"Iya!" Jean tersenyum penuh arti.
"Ya sudah, Papi berangkat ya Azzam. Pa ... Rayyan berangkat ke Bandara dulu."
Rayyan pun pamit pada semuanya. Dan begitu mobil Rayyan menghilang dari pandangan, Jean, Pak Perwira dan Azzam buru-buru menarik koper masing-masing.
"Horeeee!" seru Azzam dengan wajah sumringah.
"Tapi jangan bilang papi, ya?" pinta Jean sambil jongkok dan memakaikan sweater pada tubuh Azzam.
Anak laki-laki itu mengangguk, lalu masuk mobil van. Mereka pun siap meluncur ke daerah puncak. Di mana semua rombongan juga sedang menuju ke sana.
***
The Forest Park
Azzam begitu antusias melihat banyak kuda yang baru turun dari sebuah truck.
"Miii! Azzam mau itu!" Azzam menunjuk salah satu kuda warna hitam.
"Kita ke camp dulu, nanti naik kudanya gampang."
"Asikkkk!"
Sesuai janji, setelah terdaftar dalam summer camp di the Forest Park, Jean membawa Azzam berkuda. Sedangkan pak Perwira, pria itu malah memancing di danau bersama kenalannya. Ternyata, pengelolah camp tersebut adalah teman lama pak Perwira.
***
Di kandang kuda, seseorang telah memeriksa kuda-kuda yang masih dalam kandang.
"Wan! Ini kuda kadang nomor sembila satu mana?"
Irwan yang bertugas mengawasi semua kuda pun menjawab dengan santai.
"Dikirim ke camp, Pak."
"Apa kamu bilang?" Orang tersebut nampak panik. Pria itu kemudian menghubungi pengelolah camp.
Di dalam hutan, Jean memacu kudanya sangat cepat bersama dengan Azzam yang terlihat senang melihat sang ibu memacu kuda. Mereka semakin masuk ke dalam hutan. Begitu hebat, melesat bagai pembalap. Keduanya tidak tahu, ada bahaya yang mengancam. Bersambung.