
Suami Satu Malam Bagian 25
Oleh Sept
Rate 18 +
Di depan sebuah hotel bintang Lima.
"Mas Dika sudah gila!"
Hanya itu komentar yang keluar dari mulut Elvira. Wajahnya terlihat menahan kesal. Marah campur malu, mengapa mereka malah berakhir di depan sebuah hotel.
"Ish! Ayo cepet turun, keburu kemaleman." Radika terus menatap, ia tidak melepaskan pintu hingga Elvira mau keluar.
"Ngapain Kita ke hotel? Mas Dika mau cari mati? Belum cukup dihajar Andra sama papa?" tanya Elvira dengan tatapan tidak percaya.
Radika tersenyum mengejek, lalu bicara dengan santai sembari bernada penuh cibiran.
"Jangan percaya diri dulu! Siapa yang mengajakkmu tidur di dalam sana? Aku hanya mau mengajakkmu melihat tempat untuk pernikahan kita."
Glek
Elvira menelan ludah dengan susah, astaga ia sudah Neting, ia pikir Radika mau aneh-aneh. Tidak tahunya cuma mau lihat persiapan untuk acara pernikahan mereka. Akhirnya Elvira pun turun, tentunya dengan canggung dan malu yang sudah mengunung. Hampir saja ia punya pikiran jelek tentang Radika.
Begitu masuk, mereka langsung disambut. Dan sesaat kemudian, muncul seseorang berpakain serba rapi, ia tersenyum ramah pada keduanya. Kemudian menuntun mereka memeriksa persiapan untung pernikahan nanti.
"Bagaimana, Pak Radika? Maaf bila kurang sempurna, ini karena Pak Dika menghubungi kami dengan mendadak!" keluh wanita yang ternyata adalah WO yang dipercaya Radika untuk menyukseskan acara pernikahannya itu.
"Lumayan, bagaimana Vira? Mana yang kurang pas?" Radika melihat Elvira. Yang dilihat kelihatan tidak bersemangat.
"Apa Nona Vira sakit, Kita bisa lanjutkan nanti. Nona bisa beristirahat di kamar hotel, sekalian untuk memeriksa kamar pengantin nanti," ucap penangung jawab WO.
Radika tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan alasan melihat kamar pengantin, ia langsung membawa Elvira ke ruangan istimewa tersebut.
"Ayo pulang! Vira cuma lelah, capek ... setress!" keluh Elvira saat mereka sudah hanya berdua menuju kamar hotel.
"Tanggung, kita lihat dulu kamarnya."
"Mas Dika lihat sendiri saja, Vira mau pulang. Vira naik taksi!" Elvira langsung berbalik.
"Berani melangkah lagi, AWAS!"
Deg
Takut sih, tapi kakinya tetap saja tidak gentar. Elvira masih saja melanjutkan langkahnya. Ia bukannya takut melawan Radika, hanya ngeri saja.
Setttttt
Pria itu menarik paksa lengan Elvira, membuat wanita itu tersentak. Kaget bukan main dengan aksi Radika yang membuat spot jantung.
"Mas Dika!" protesnya yang kaget.
"Kamu nggak dengar apa kataku?"
"Kan Vira sudah bilang, mau pulang! Ngapain kita periksa kamar segala? Jangan-jangan Mas Dika mau tidurin Vira!" tuduh Elvira sambil membuang muka. Tidak berani rasanya menatap sorot mata yang jernih dan tajam itu. Kaga kuat!
"Kalau iya kenapa?" tatap Radika dengan wajah serius.
Seketika lutut Elvira langsung lemes. Ia selalu kehabisan kata-kata bila berhadapan dengan pria tersebut.
"Ish!"
Melihat wajah Elvira yang pucat, Radika menghela napas panjang.
"Aku bukan pria brengsekkk seperti Rayyan!" cetusnya kemudian.
Mendengar ucapan demi ucapan Radika, akhirnya Elvira mampu bernapas dengan lega.
"Ya sudah, ayo pulang!" Radika langsung menarik lengan wanita itu. Tidak jadi memeriksa kamar pengantin, lah Elvira parnoo dan Neting duluan.
***
Sepanjang perjalanan, baik Elvira dan Radika sama-sama diam. Keduanya sibuk dalam pikirannya masing-masing. Hanya mendengarkan audio di mobil, sembari mengamati jalanan ibu kota tengah malam. Menikmati kesunyian dan kebisuan ditemani nuansa malam kota metropolitan.
Chittttt
Tidak terasa setelah mengukur puluhan kilo jalan raya, akhirnya mereka sampai juga. Mobil mewah itu berhenti tepat di depan kediaman tuan Pramana. Radika hanya masuk sebentar, kemudian langsung kembali. Tampa bicara apapun pada Elvira. Vira sampai merasa aneh.
[Kenapa Mas Dika nampak marah?]
[Apa karena ucapanku di hotel tadi?]
[Ah sudahlah!]
***
Pagi harinya, rumah Elvira sudah ramai karena banyak kurir yang mengantar ini itu untuk persiapan pernikahan mereka. Hingga sore menjelang, sampai malam tiba, Elvira terlihat melamun.
Sepi juga hapenya tidak ada yang mengusik, di mana Radika? Sejak semalam kok tidak menghubungi atau bahkan ke rumahnya. Ish, kalau tiada baru terasa. Sepertinya Elvira tanpa sadar sudah mulai kangen.
Tidak sampai di situ, mereka sama sekali tidak saling berkomunikasi hingga hari H. Keluarga Elvira hanya dihubungi pihak WO yang mengantur acaran pernikahan mereka. Sedangkan Radika, pria itu seperti hilang ditelan bumi.
***
D-Day
Ruang make up pengantin, Elvira sudah memakai baju pengantin yang jauh lebih cantik dari pada gaun yang ia pakai untuk pertama kali. Ini adalah gaun pilihan calon suaminya. Radika, Radika yang sama sekali tidak menghubungi dirinya pasca mereka pulang dari hotel beberapa hari lalu.
[Apa Mas Dika mempermainkanku?]
[Apa ini hanya permainan baginya?]
Elvira menatap ponselnya, sambil melihat pantulan wajahnya di depan cermin besar berhias lampu-lampu kecil di depannya.
Ia mengengam benda pipih yang tidak kunjung berbunyi itu. Ia ingin Radika menelponnya. Lama-lama ia gelisah sendiri. Radika sudah berhasil membuatnya gamang dan Gegana (Gelisah, Galau, Merana) tingkat dewa.
Tidak tahan, akhirnya ia memutuskan menghubungi Radika.
Tut Tut Tut
"Hallo!"
Terdengar suara Radika yang khas dan berat.
"Brengsekkk!"
Tut Tut Tut
Elvira mematikan ponselnya, ia melemparnya ke depan. Mengenai banyak alat make up yang masih berserakan di atas meja rias. Elvira lantas mengusap wajahnya, wanita itu tidak bisa lagi menahan tangis. Ia sampai mengumpat sendiri. Mengapa harus menangis. Perasaan apa ini? Diabaikan Radika berhari-hari sampai hari-H saja hatinya sudah sangat sakit begini.
KLEK
Begitu ada yang masuk ruang make up, Elvira mengambil tisu. Buru-buru ia menyembunyikan tangis.
"Siapa yang brengsekkk?"
Bersambung