
Suami Satu Malam 55
Oleh Sept
Rate 18 +
Malam semakin larut, yakin sudah dikibulin oleh sang atasan. Jeandana yang menunggu di dalam mobil lantas mengirimkan pesan singkat pada bosnya tersebut. Tanpa basa-basi, bodyguard cantik itu langsung to the point.
[Tuan, saya akan bawa mobil Tuan kembali ke hotel. Jika ada yang mendesak. Hubungi saya!]
Ting
Ponsel Radika menyala, ada notif masuk. Namun, ia sama sekali tidak peduli. Paling juga dari Jendana. Ia yakin pesan tersebut dari Jean sebelum ia memeriksa terlebih dahulu. Sebab, selang beberapa saat, terdengar deru mobil di halaman depan. Biarlah, malam ini Radika mau buka puasa sampai lemas.
***
Pukul lima pagi, Radika terbangun. Pria itu menatap Elvira yang masih tertidur di sisinya. Lengan istrinya itu bahkan masih di atas perut. Mungkin takut ditinggalkan lagi. Elvira tidur sambil memeluk tubuhnya.
Haus, membuat Radika memutuskan untuk keluar kamar. Dengan hati-hati pria tersebut menuruni ranjang. Berjalan dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Memakai lagi bajunya satu persatu. Setelah itu ia keluar kamar.
Keluar dari kamar tamu, matanya tidak sengaja melihat foto-foto di dinding, ia senang karena Elvira tidak pernah membuang foto-tofonya. Elvira tidak membuang kenangan mereka. Merasa dicintai, mendadak bibirnya menggembang. Pria itu tersenyum sembari melangkah ke dapur.
"Masak apa, Bi?" tanya Radika saat melihat seorang wanita paruh baya sedang beradu di dapur. Bi Surti adalah ART yang sudah tiga tahun ini bekerja pada Elvira. Jelas Radika hafal dan sangat tahu, sebab selama ini dia memiliki anak buah yang selalu melapor apapun tentang Elvira padanya. Meski jauh, ia selalu memantau.
"Omelette, Tuuu ... an?" Bi Surti bingung. Perasaan tuan Rayyan tidak menginap. Kenapa pagi buta pria itu ada di rumah bosnya.
Ia pun menoleh, betapa terkejutnya perempuan 40 tahun itu. Matanya membuka sempurna, ia pikir ia sudah melihat hantu. Tidak pernah bertemu, tapi yang ia tahu wajah itu sama persis seperti yang terpasang di dinding rumah tersebut. Bi Surti yakin, pria itu adalah hantu.
"Astaghfirullahaladzim! Ya Allah ... Astaghfirullah ... Nyo-nyo ... Nyonyaaaa!" Lutut bi Surti terasa gemetar. Wanita itu dengan takut jalan menyamping dan kabur.
Begitu bi Surti pergi, Radika menghela napas. Ia juga menggeleng kepala, heran. Ada apa dengan pembantu itu? Seperti melihat hantu saja. Radika lantas membuka kulkas, kemudian minum dari botol langsung.
Tap tap tap
Bukkk
Bukkk
Bukkk
Radika yang masih minum, merasakan sakit pada punggungnya. Ia kesakitan karena ada yang memukuli punggungnya dengan sapu ijuk.
"Pergi kamu SETANN!! Kembali ke alam kubur, jangan ganggu penghuni rumah ini!" seru bi Surti sambil komat-kamit.
BYURRR
Radika mendapat semburan air tepat dari mulut ART tersebut. Setelah membaca ayat suci, bi Surti kembali melakukan hal itu lagi.
"Hentikan!" sentak Radika kesal.
[Gusti! Setannya marah! Ya Allah ... matanya merah. Gustiiii ... ayat suci tidak mempan]
[Dipukul sapu pun tidak mempan, astaga! Daun kelor. Harusnya pakai daun kelor]
Bi Surti mundur karena takut, Radika terlihat marah saat menatapnya. Tidak mau dimakan setan hidup-hidup, wanita itu kembali kabur. Ia langsung masuk kamar anak-anak.
Ternyata kedua anak kembar itu masih tertidur. Bi Surti pun mengunci kamar. Tidak mau hantu ayah si kembar meneror mereka. Sambil mulutnya tetap komat-kamit melafalkan lantunan ayat suci. Biar setannya terbakar, pikir wanita tersebut.
[Nyonya! Nyonya bagaimana?]
Khawatir dengan Elvira, bi Surti memutuskan keluar kamar. Dilihatnya dapur sudah kosong. Sambil memegang tasbih, ia mencari-cari garam di dapur. Bukan untuk masak, tapi untuk mengusir arwah gentayangan.
Dengan mengendap, ia memeriksa kamar utama.
[Astaghfirullahaladzim]
Kakinya langsung lemas, jendela kamar terbuka lebar, tirai meliuk-liuk karena angin. Menambah suasana horor di kamar itu.
"Nyonya!" ucap bi Surti lirih saat melihat ranjang tak berpenghuni.
***
Kamar tamu.
"Dari mana, Mas?" Habis mandi?" tanya Elvira sambil mengosok mata. Begitu mendengar suara pintu terbuka, ia tahu itu pasti radika. Karena aroma parfum yang khas pria tersebut. Elvira sudah sangat hafal sekali.
[Mandi apanya? Ulah asistenmu ini]
"Keterlaluan sekali bi Surti!" cetus Radika kesal. Wajahnya kusut karena semburan bi Surti.
Elvira langsung membetulkan posisi, ia duduk sambil bersandar pada ranjang.
"Mas juga tahu nama asisten Vira?"
"Guru-guru Zia dan Zio pun aku tahu semua!" jawab Radika sombong.
"Benarkah?" Elvira mengetes. Tapi, jujur ia percaya ucapan suaminya itu. Bukan perkara sulit bagi pria bernama Radika Dirgantara tersebut melakukan hal-hal seperti ini.
"Tunggu ya, Mas mandi dulu. ART mu seperti dukun. Masa dia menyemburku!"
"Hah?"
Elvira langsung terkekeh.
"Benarkah?"
"Dia pasti mengira Mas hantu! Hahahah!"
Elvira kembali terkekeh. Hingga suaranya terdengar samar-samar di luar sana, bi Surti yang mendengar auto merinding.
"Ya Allah ... ada suara kuntilanakkkkk juga!" Takut bi Surti memilih sembunyi di kamar anak-anak.
KLEK
Zia dan Zio masih tidur juga, dan bibi tidak berani keluar kamar. Ia pun memilih duduk di sofa kecil di dekat lemari dan belum berani keluar.
Beberapa saat kemudian
Elvira sudah cantik, ia juga sudah membersihkan diri, wajahnya pun nampak berseri-seri. Setelah sekian lama akhirnya ia dipuaskan juga di atas ranjang oleh seorang pria, suaminya sendiri. Hampir non stop, karena Radika mau lagi dan lagi. Benar-benar nikmat dunia yang tidak bisa digambarkan oleh kata-kata.
"Mas mau kopi?" tanya Vira saat akan keluar kamar.
Radika mengangguk. Pria itu kini sibuk dengan ponselnya, sepertinya sedang melobby orang.
"Jangan keluar dulu ya, nanti mereka semua akan shock. Biar aku jelaskan pelan-pelan."
Pria itu kembali mengangguk, dan mengerti. Ia masih kesal atas semburan bi Surti. Radika kan orangnya pendendam akut.
KLEK
KLEK
[Kenapa pintunya dikunci dari dalam?]
Tok tok tok
"Bi! Buka pintunya!"
Bi Surti langsung bangkit, ia kemudian membuka kunci kamar setelah mendengar suara Elvira.
"ALHAMDULILLAH," seru bi Surti. Wanita itu kemudian menatap ke sekeliling. Hendak mencari arwah penasaran ayah si kembar.
"Bibi cari apa, sih?" Elvira mulai iseng dan sengaja menjahili asistennya tersebut.
"Nggak, Nya!" Wanita itu masih terlihat gelisah.
"Anak-anak belum bangun?"
"Belum, Nya."
"Ya sudah, Bibi siapin makan buat anak-anak. Biar aku bangunin mereka."
"Baik, Nya."
Selepas Bibi pergi, Elvira mengecupp pipi anak-anaknya. Sambil berbisik lembut.
"Sayang, Papa pulang!"
Zia yang langsung membuka mata, sedangkan Zio masih asik tidur.
"Papi ke sini, Ma?" tanya Zia antusias. Padahal baru bangun tidur, tapi sangat bersemangat jika membahas Rayyan. Om yang seperti papinya sendiri.
"No ... Bukan. Papa Zia ... Papa Dika!" ucap Elvira tersenyum.
"Tapi kan Papa di surga, Ma?"
Kini Elvira bingung untuk menjelaskan pertanyaan putrinya itu.
"Nggak, Papa nggak di surga. Papa di sini, di rumah ini. Zia mau ketemu Papa?"
"MAUUU!" jawab Zia semangat. Membuat Zio jadi terbangun.
"Zio, sayang," panggil Elvira sambil mengusap lembut rambut putranya.
"Papa pulang,'" tambahnya sembari membantu Zio bangun.
"Papa?"
Elvira mengangguk.
"Mama bohong, nanti jadi pinokioo. Kata oma, di surga tidak ada pesawat, papa gak bisa pulang," celetuk Zio.
"Kata siapa?" balas Radika yang muncul dari balik pintu. Bersambung.
Selamat istirahat....
Yuk, kenalan sama otor gabut!
Fb : Sept September
Ig : Sept_September2020