Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Wanita Rata Tapi Cantik


Suami Satu Malam 79


Oleh Sept


Rate 18 +


Sambil memegangi pinggangnya, persis seperti nenek-nenek yang kena encok. Rayyan mencoba berdiri. Ia kemudian menatap sosok yang membuatnya terjungkal tadi.


"Kenapa kau di sini?" tanya Rayyan dengan muka dongkol.


[Wanita ini! Memeng tidak ada lembut-lembutnya. Dan kenapa aku ada di sini bersamanya?]


"Mabuk ... mabuk aja! Tidak usah menyusahkan orang!" ketus Jeandana. Wanita itu kemudian berdiri. Jean menatap sebal pria tersebut.


Flashbacks On


Sudah setengah jam Jean di dalam kamar, menunggu pria itu. Lama-lama dia merasa bosan dan jenuh juga. Apalagi sejak tadi ia terus saja menguap.


[Apa aku tinggalkan saja? Toh dia seorang duda ... lain cerita kalau dia seorang anak gadis. Jadi pasti dia aman-aman saja. Lebih baik aku tinggalkan dan tidak usah khawatir]


Setelah ditimbang-timbang, akhirnya Jean memutuskan untuk pergi saja. Namun, baru berjingkat, eh Rayyan terbatuk-batuk. Pria itu kemudian muntah banyak sekali. Jean hanya bisa menahan napas dengan kesal.


Malam itu juga, Jean mengepel lantai. Karena tidak tahan dengan baunya. Terbiasa hidup bersih dan higenis, Jean pun membuat semua kembali bersih. Tapi, ia akhirnya kelelahan. Niatnya ingin istirahat bentar. Tidak taunya malah ketiduran.


Ia juga heran kenapa ada di atas ranjang? Meski pakaian masih komplit, ia masih heran. Perasaan ia duduk di sofa kecil dekat ranjang.


Flashbacks END


"Dan satu lagi? Perasaan aku semalam ketiduran di atas sofa. Kenapa bangun sudah ada di ranjang? Kamu mau mesumm ya?" tuduh Jean sambil menunjuk wajah Rayyan degan tangannya. Jean juga memeriksa pakaiannya. Aman, kacamata dan segitiga bermuda masih pada tempatnya.


"Astaga! Rata begitu mana aku tertarik!" timpal Rayyan tak kalah dongkol.


[Apa dia bilang? Sialann! Dia bilang rata? huufffh! Awas kau Raiiii!]


Jean semakin mengumpat dalam hati. Dadanyaa naik turun, napasnya memburu. Jantungnya meletup-letup, bukan karena falling in love, tapi kesal dengan satu pria yang super menyeballkan tersebut.


"Hati-hati kamu, Ray! Aku rasa tendangan barusan masih kurang."


Rayyan terkekeh, pria itu kemudian mendekat.


[Astaga! Kenapa di semakin maju? Apa dia tidak takut denganku?] Jean semakin ketar-ketir.


"Jean! Jangan suka main kekerasan. Sekali lagi kau berani memukul, akan kamu tanggung akibatnya!" ancam Rayyan.


Bagaimana pun juga, Rayyan itu pria sejati. Paling tidak ia juga bisa pukul-memukul. Meski tidak sehebat Jeandana. Jadi, ia tidak akan diam lagi, kalau Jean main mukul lagi.


"Menyingkir dariku!" Jean mendorong tubuh Rayyan saat pria itu begitu dekat dengannya.


"Ish! Jangan GR ... dan lagi aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan rata!" cibir Rayyan kemudian tersenyum geli. Barang kali pria tersebut ingat sesuatu yang membuatnya ditendang beberapa saat lalu.


Muka Jean kontan jadi merah padam. Tangannya mengepal, ia melotot pada Rayyan. Tapi, pria itu tidak peduli. Dengan santai malah pergi ke kamar mandi.


Sembari melangkah, bibirnya terus menggembang. Rayyan kembali terbayang-bayang kejadian semalam.


Flashbacks Versi Rayyan


Rayyan yang sudah tidur lagi dan sudah dibersihkan dari segala muntahan. Mendadak terbangun. Pria itu menatap langit-langit kamar hotel.


"Kenapa aku di sini?" gumamnya sambil memegangi kepalanya yang pusing.


Rayyan kemudian menoleh, dilihatnya Jean tertidur di atas sofa.


[Kenapa dia ada di sini? Perasaan aku bersama Kris semalam]


Di tengah pusing yang melanda, Rayyan kemudian menelpon Kris. Tapi, nomor Kris malah tidak aktive. Pria itu kemudian menghela napas panjang.


Kasian melihat Jean tidur di sofa, Rayyan pun mengangkat tubuh Jeandana.


"Astaga kebo banget! Diangkut ke ranjang saja tidak bangun!" gumam Rayyan.


Rayyan tidak tahu, Jean habis kerja bakti. Harus mengepel lantai hasil muntahan pria tersebut. Hingga Jean kelelahan dan tertidur sampai lelap.


Flashbacks versi Rayyan END


Selesai membasuh wajahnya, Rayyan mencari Jean. Lah, lagi-lagi wanita itu hilang tanpa pamit. Sudah mirip jailangkung ... datang bersama pulang sendiri-sendiri. Rayyan pun tersenyum getir, kemudian bersiap meninggalkan kamar hotel tersebut.


***


Kediaman keluarga Perwira


"Tidur di mana kamu semalam, Jean?"


Baru masuk rumah, Jean langsung di introgasi.


[Untung semalam udah suruh Richard bohong!]


Masih berdebar-debar. Namun, Jean berusaha memasang muka biasa saja. Agar sang papa tidak gampang curiga.


"Bukannya kamu sudah tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan itu?"


"Hanya membersihkan berkas-bekas Jean, Pa. Udah Pa, ya. Jean mau mandi dulu."


Pak Perwira menatap penuh rasa curiga. Namun, tidak mencegah putrinya untuk kabur.


Jean buru-buru ke kamarnya, sebelum pertanyaan sang papa melebar ke mana-mana.


***


Hari demi hari berlalu, selama beberapa hari ini baik Jean maupun Rayyan sama sekali tidak ada yang mau saling menghubungi. Rayyan sendiri memang sedang sibuk-sibuknya dengan urusan kantor. Ada mega proyek yang sedang ia tangani.


Sedangkan Jeandana, ia juga sedang menikmati masa-masa bebasnya. Wanita itu menghubungi beberapa temannya yang masih bisa dihubungi. Satu persatu ia ajak ketemuan. Jalan bareng, nonton, atau sekedar bincang santau, temu kangen.


Jean benar-benar ada di masa-masa paling gabut. Tiga hari menuju Hari-H, ia isi dengan kegiatan yang tidak penting. Mungkin ia ingin menghibur diri, atau mencoba melupakan pernikahan yang sudah di depan mata. Sudah masuk jebakan Rayyan, mau mundur nanti malah membuat keluarganya malu.


Akhirnya, Jean pasrah pada takdir. Akan dibawa ke mana nasib hatinya, Jean sudah tidak peduli lagi. Toh, hatinya sekarang sudah hampa. Jean sudah menutup pintu hatinya setelah Radika benar-benar keluar dan tidak boleh ia pikiran lagi.


***


D-Day


Dia selalu memakai pakaian rapi, mungkin setahun sekali baru merasakan memakai sebuah gaun.


Ruang pengantin


Jean sejak tadi protes pada MUA, hingga sang MUA memasang muka sebal sambil memoncongkan bibir.


"Saya mau make-up in pengantin, Mbak! Bukan make-up mau ke kantor!" cibir make up artis yang kini memoles wajah Jeandana.


"Tapi jangan tebel-tebel. Dan ... alis saya nggak usah dicukur! Udah rapi!" protes Jeandana lagi.


"Ini nggak simetris, Mbak. Udah ... Mbak anteng ya ... saya nggak konsen, nih. Nanti Tuan Rayyan marah sama saya!" protes makeup artist balik.


"Ish!" Jean mendesis kesal.


Ia paling tidak suka didandani. Apalagi ini sudah sejam lebih. Benar-benar buang-buang waktu bagi wanita seperti Jeandana putri semata wayang Pak Perwira tersebut.


Satu jam kemudian


"Perfecto!"


Perias itu tersenyum menatap hasil coretan tangannya.


Dengan malas, Jean melirik ke cermin.


[Cantik juga sih!]


Dalam hati, Jeandana tersenyum malu.


KLEK


Keduanya menoleh saat ada yang membuka pintu. Buru-buru perias memasang tiara di rambut Jeandana, disusul dengan viel membuat tampilan sang pengantin menjadi spectacular.


"Bagaimana, Tuan? Cantik bukan calon istrinya?" goda sang makeup artist.


"CANTIK!" jawab Rayyan spontan.


Pipi Jeandana semakin merah saja. Bersambung.


***


Sekilas info


Kemarin yang tembakan bener, cus DM Sept di Instagram ya, atau inbox lewat fb, atau langsung chat lewat noveltoon.


Yang aku screenshot, mohon hubungi Sept ya ...




Mak sasya, Mak ifti, Mak Wienyani Mak Suhaedah ... Cuss DM Sept ya. Makasih....


Fb Sept September


Ig Sept_September2020