Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
AKAD


Suami Satu Malam 80


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ananda Rayyan Dirgantara bin Wiratmaja Dirgantara. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama : Jeandana Mahayu Djangkaru dengan mas kawinnya berupa uang sebesar satu juta Dinar, Tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Jeandana Mahayu Djangkaru binti Perwira Adiguna dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."


"SAH"


"SAH"


"SAH!!!"


Terdengar kata sah menggema memenuhi ballroom El Hotel. Ya, pernikahan keduanya ternyata diadakan di hotel milik Elvira. Hotel yang sama di mana Radika mengikat janji sucinya pada wanita yang sudah memberinya si kembar.


Baik Jean maupun Rayyan, keduanya nampak canggung. Padahal mau difoto seperti layaknya pasangan pengantin baru lainnya. Ciuumm kening, ataupun ciumm tangan, atau pamer buku nikah. Namun, keduanya malah seperti boneka. Kaku, dan sama-sama tidak ada yang punya initiative. Bener-bener persis kanebo yang sudah kering berhari-hari.


"Sayang, ciumm kening istrimu!" bisik mama Sarah. Mama Sarah gemas, lama menduda putranya jadi kaku.


[Apa-apaan sih, Mama]


Rayyan terlihat enggan. Tapi, Mama Sarah tidak habis akal. Dengan sengaja ia sedikit mendorong lengan Rayyan agar lebih dekat ke arah Jeandana.


[Ish ... Mamaaa]


Rayyan hampir saja menyentuh tubuh Jeandana, Mama Sarah giat banget biar keduanya semakin dekat.


"Ini foto pernikahan loh, bukan foto ijazah!" bisik mama Sarah dengan jahil.


Dengan senyum terpaksa, akhirnya moncong Rayyan pun mendarat di dahi Jeandana Mahayu Djangkaru. Istri sah yang baru saja ia nikahi di depan banyak orang. Istri ketiga yang semoga menjadi terakhir untuk selamanya, itu harapkan mama Sarah.


Sedangkan Rayyan dan Jeandana, keduanya malah tidak tahu, akan dibawa ke mana kapal mereka berlayar. Apa tetap parkir di dermaga, atau malah menunggu hanyut terbawa ombak karena tidak ada dasar cinta yang kuat di dalamnnya. Entahlah ... Rumah tangga Rayyan dan Jeandana masih abu-abu.


"Selamat, Jean!"


Radika tersenyum pada mantan bodyguard istrinya tersebut. Dari pada bodyguard Elvira, Jean malah lebih cocok disebut perisai Radika selama ini. Berkali-kali wanita itu menyelamatkan dirinya.


Dan kini, sebagai ucapan terima kasih. Radika memberikan sebuah map coklat pada Jeandana.


"Hadiah kecil dari kami." Radika merangkul bahu istrinya.


"Selamat, Jean!" Elvira pun memeluk Jeandana dengan hangat. Dalam hati ia berterima kasih, karena Jean selama ini sudah menjaga keluarga mereka.


"Terima kasih," Jean mencoba tetap tersenyum. Meski ia tidak tahu, harus senang atau sedih.


"Selamat, Ray!" ganti Radika memeluk adiknya. Ia ucapkan kata selamat itu dengan tulus.


Rayyan pun mengucapkan terima kasih pada abangnya tersebut, hubungan mereka kini sudah mencair. Tidak panas seperti tahun-tahun sebelumnya.


Pandangan Rayyan kini beralih pada sosok kecil yang sangat tampan dengan tuxedo hitam. Ia kemudian meraih tubuh Zio yang sejak tadi menatapnya.


"Anak Papi kenapa wajahnya masam begitu?" bisik Rayyan. Sembari mengusap rambut klimis Zio. Anak itu benar-benar miniature papanya. 11 12 dengan Radika.


"Papi sudah nggak tinggal sama Oma lagi? Papi gak bisa main lagi sama Zio?"


Rayyan langsung tersenyum lebar.


"Kan Zio bisa main ke rumah Papi dan Mami ... iya kan, Mi?"


Rayyan menatap istri barunya. Kontan saja Jeandana kaget. Menutupi rasa keterkejutan yang ia rasakan, Jean mencoba tersenyum sambil mengangguk. Istri baru Rayyan itu kemudian mengusap pipi Zio.


"Zio bebas main sama papi."


Lidah Jean hampir kesleo menyebut kata papi, astaga!


Zio pun tersenyum manis, wajahnya yang masam kini kembali ceria. Sedangkan Zia, anak itu lebih fokus pada permen coklat yang ia pegang. Tadi om Richard yang berikan itu padanya.


Sepertinya Richard salah satu tamu undangan yang terlihat kurang bahagia. Apa dia menyimpan rasa selama ini terhadap Jean? Entahlah. Yang jelas, wajahnya lebih cocok datang ke acara pemakaman dari pada sebuah acara pernikahan.


***


Tidak terasa, semua acara sudah terlewati semuanya. Kini, waktunya pengantin baru untuk beristirahat. Semua anggota keluarga pun juga sudah pulang, menyisahkan Jean dan Rayyan yang masih di sana.


Presidential suits


Di kamar paling mewah di EL Hotel, kini terlihat dua mahluk yang baru saja tadi pagi melangsungkan pernikahan. Sama-sama bersikap dingin, tidak ada hangat-hangatnya layaknya pengantin baru kebanyakan.


Jean malah bengong melihat kelopak mawar yang ditebar di atas kain sprai warna putih polos tanpa motive tersebut. Sejak tadi, ia membersihkan wajahnya dari riasan tebal, sembari sesekali melirik ke arah ranjang. Lama-lama Jean merasa ngeri juga. Entah mengapa, feelingnya merasakan sesuatu yang buruk.


Satu kamar dengan Rayyan di kamar pengantin seperti ini, lebih bahaya dari pada berkunjung ke sarang penyamun. Bulu Jeandana satu persatu mulai berdiri. Apalagi saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Sebisa mungkin ia tidak mau menatap Rayyan, meskipun sosok itu terlanjur terlihat lewat pantulan cermin di depannya.


"Mandilah, Jean!" ucap Rayyan santai. Pria itu kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari yang melelahkan, Rayyan pun mencoba menutup mata.


Tanpa menjawab, Jean langsung buru-buru ke kamar mandi. Jiwa satrianya mendadak terombang-ambing malam ini.


[Jean! Bersikap biasalah! Dia hanya Rayyan! Duda kesepian ... ASTAGA! Duda itu sekarang suamiku?]


Jean lemas, ia kemudian membiarkan air menguyur tubuhnya. Mencoba menghilangkan pikiran-pikiran konyol yang mendadak muncul memenuhi isi kepalanya.


KLEK


"Syukurlah dia sudah tidur," gumam Jean yang merasa aman dari bahaya malam pertama. Iyalah Rayyan tertidur, Jean di dalam kamar mandi seperti seorang pertapa. Lama sekali ia di dalam sana.


Dengan hati-hati Jean mengambil satu bantal di dekat kepala Rayyan. Wanita itu hendak memilih tidur di atas sofa. Sangat bahaya, dan mengundang bencana bila mereka tidur di atas ranjang yang sama.


Meskipun jago bela diri, Jean tetap harus waspada. Bagaimana pun juga, Rayyan tetaplah seorang pria. Dan pria itu kini berstatus suaminya. Lebih bahaya dari pada seorang penjahat.


"Mau ke mana, tidur saja di sini bersamaku. Jangan khawatir ... tidak akan ada yang terjadi!" ucap Rayyan dengan mata tertutup.


Kontan saja Jeandana terkejut, ia pikir Rayyan sudah tidur.


"Aku suka tidur di sofa!" balas Jean spontan. Masih dengan wajah terkejut.


"Jangan membuatku jadi pria brengsekkk, membiarkan seorang wanita tidur di sofa sedangkan aku sendiri di tempat yang nyaman. Sudah ... ke mari. Apa jangan-jangan kau takut padaku, Jean?"


Jean langsung tertawa aneh, "Aku? Takut denganmu? Hahaha ... jangan ngaco!"


Padahal hatinya sudah ketar-ketir. Takut Rayyan macan-macam.


"Baguslah! Cepat tidur!"


Jean merambat mendekati ranjang yang terasa horor itu. Jean yang pemberani itu sepertinya perlahan jadi loyo bila di hadapkan dengan kondisi yang mencanggungkan seperti ini.


***


Satu jam kemudian, Rayyan masih memejamkan mata. Namun, pria itu sebenarnya juga tidak bisa tidur. Sama dengan Jeandana.


Wanita itu sejak tadi hanya menatap langit-langit kamar, Jeandana tiba-tiba mengalani insomnia dadakan. Diliriknya Rayyan yang dikira sudah tidur.


[Ayolah, Jean ... tidurlah!]


Jean memerintah matanya untuk terpejam. Namun, semakin disuruh malah semakin terjaga. Rasa kantuk sama sekali enggan menghampiri, membuatnya resah malam ini.


"Apa yang kau pikirkan? Tidurlah!"


Lagi-lagi Jeandana dibuat panik saat mengetahui Rayyan belum tidur. Jean merasa terancam bila pria itu belum tidur. Ia merasa dipaksa masuk dalam sebuah kandang dengan macan di dalamnnya.


"Aku kira kau sudah tidur," ucap Jean kemudian.


[Siapa yang tanya?]


Jean melirik sinis. Wanita itu kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ternyata, ia harus waspada pada sosok Rayyan. Jangan lenggah, atau nanti ia bisa habis oleh mantan duda tersebut.


Pukul satu dini hari


Akhirnya Jean bisa tidur juga, setelah berjuang keras menghitung domba dalam kepalanya.


Lalu bagaimana dengan Rayyan, pria itu malah sudah tidak ada di atas ranjang. Rayyan sedang di balkon, menikmati malam panjangnya bersama kepulan asap. Sejak tadi ia mencoba tidur, tapi tidak bisa.


Terbiasa tidur satu ranjang seorang diri, ia kini merasa terusik, kurang nyaman dan mulai gelisah saat ada seorang wanita terlelap di sampingnya.


Mereka mungkin sudah menikah, tapi bukan karena dasar cinta. Jadi, Rayyan sedikit enggan bila ingin menyentuh istrinya itu. Bisa-bisa ia habis babak belur di tangan Jeandana.


Hingga habis lima batang, barulah Rayyan masuk lagi ke dalam kamar. Maunya sih tidak tergoda. Tapi, matanya malah melirik Jean yang sudah terlelap. Bentuk tubuhnya terlihat jelas meski tertutup selimut. Ia amati paras Jean yang terlihat sangat lelap, mungkin karena lelah sekali hari ini.


[Cantik ... tapi sayang teralu galak]


Tanpa sadar bibirnya menggembang.


[Astaga! Apa yang kau pikirkan Rayyan?]


Rayyan pun pergi ke kamar, mambasuh wajahnya. Mengusir pikiran-pikiran kotor yang tiba-tiba menyerang. Bagaimana pun juga, ia kan pria normal. Satu kamar dengan lawan jenis, sepertinya mengundang marabahaya.


Keluar dari kamar mandi, dilihatnya Jean masih tidur. Ia pun memutuskan tidur saja. Lama-lama rasa kantuk pun menghampirinya.


Pukul tiga


Jean merasa aneh, ia merasa sesak dan ruang geraknya terbatas. Perlahan ia membuka mata, lalu mendongak.


[Kenapa dia memelukku? Ish ...]


Jean mencoba melepaskan diri. Saat ia akan bersiap melakukan tendangan, tiba-tiba Rayyan berbisik.


"Aku tidak bisa tidur, obatku tidak aku bawa. Hanya begini ... aku tidak akan macan-macam."


Kata-kata Rayyan membuat Jean tertegun. Sebenarnya enak juga sih, hangat. Hanya saja, ini keadaan yang sangat membuatnya canggung.


[Apa aku pura-pura tidur saja?]


DEG ... DEG ... DEG


[Astaga, kenapa jantungnya berdegup kencang?]


Bila semula Rayyan yang kesulitan tidur, kini malah menular pada Jean. Sepasang pengantin baru itu malah sama-sama terjaga di malam pengantin mereka.


Pukul lima pagi


Jean bangun dengan mata panda, semalaman Rayyan membuatnya susah tidur. Pakai acara tidak bawa obat tidur, membuat suaminya itu terjaga sepanjang malam. Dan itu membuatnya was-was.


Pagi ini, Rayyan sudah pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Sedangkan dirinya? Ia menatap nanar pada kain sprai yang masih polos seperti kemarin.


[Pernikahan model apa ini? Malam pertama seprai masih Aman!]


Tiba-tiba ia mengusap wajahnya, menepuk kedua pipinya.


[ASTAGA! Jangan memikirkan yang bukan-bukan, Jean!]


KLEK


Tiba-tiba wangi shampoo menyerbak, menyeruak di dalam kamar hotel presidential suite tersebut.


Jean melirik, oh ... suaminya muncul dengan rambut yang masih basah. Ganteng sih, seksiiii ... apalagi hanya dibalut handuk putih di pinggangnya. Seketika, Jean langsung mengumpat dalam hati, ia mencoba tidak tergoda.


"Mandilah! Habis ini kita cari sarapan, aku lapar."


Dengan santai, Rayyan berjalan menuju koper. Semalam belum sempat dibongkar. Karena terlalu lelah.


Canggung, Jean langsung saja melewati suaminya. Namun, saat sudah di kamar mandi, ia lupa membawa pakaian ganti. Gara-gara melihat Rayyan yang hanya pakai handuk, konsentari Jean buyar. Jean pun memakai handuk kimono warna putih, wanita itu lalu keluar berniat mengambil baju gantinya.


"Kenapa tidak ganti baju di kamar mandi?" Jean yang terkejut dengan pemandangan tidak biasa, segera menutup matanya.


Dengan santai, Rayyan melanjutkan memakai pakaiannya lagi.


"Kamar mandinya sudah kamu pakai."


[Ya ampun! Dia sudah menodai mataku!]


"Sudah Jean! Buka matamu!" titah Rayyan yang kini mengancingkan kemeja panjangnya sambil tersenyum. Dasar Jean, berapa usianya? Seperti anak gadis saja.


Dengan sebal, Jean mengambil bajunya. Wanita itu kemudian kembali ke kamar mandi. Berkali-kali ia menggeleng keras kepalanya. Mengusir pikiran-pikiran aneh yang tiba-tiba menyerang dari segala arah. Gara-gara Rayyan, matanya kini ternoda.


Karena mandi dengan perasaan sebal, membuat Jean kurang hati-hati. Jean yang kala itu sedang keramas, tergelincir oleh busanya sendiri.


"Ish!!"


Ia meringis, pinggangnya sakit karena membentur sesuatu. Jean mencoba bangun, tapi kok sakit.


"Astaga! Nyeri banget!"


Setelah susah payah, akhirnya Jean keluar dari kamar mandi. Jean berjalan sambil memegangi pinggangnya.


"Jean! Kau kenapa?"


Jean menggeleng. "Tidak apa-apa."


"Lalu kenapa jalanmu seperti itu?"


"Kepleset!" jawab Jean singkat. "Oh ya, aku nggak ikut ke bawah. Tolong pesankan sarapan di sini saja buatku," tambah Jean.


"Tidak biasanya kau ceroboh, Jean! Coba aku periksa." Rayyan jadi kepo.


"Tidak usah!" Jean langsung bersikap siaga. Ia kemudian berdiri, hendak berbaring saja di atas ranjang.


"Ya sudah, tetap di sini. Aku akan keluar bentar."


Jean hanya mengangguk pelan.


Beberapa saat kemudian, Rayyan datang kembali dengan sebuah paper bag kecil. Rupanya pria itu datang membawa salep.


"Mana yang sakit?"


"Biar aku saja!" Jean mengulurkan tangan, meminta salep itu dari tangan Rayyan. Tapi, Rayyan tidak memberikannya. Pria itu malah langsung duduk dan menyibak sedikit pakaian Jean. Membuat mata Jean langsung melotot.


"Sejak kapan kau jadi seceroboh ini?" tanya Rayyan.


"Sejak menikah denganmu," jawab Jean dalam hati.


Rayyan mengoles salep itu ke permukaan pinggang Jean. Pelan-pelan agar Jean tidak protes, Karena langsung lebam. Mungkin karena kulitnya yang mulus, jadi bekas benturan tadi begitu kentara.


Awalnya sih niatnya baik, emang mau mengolesi salep saja. Tapi, lama-lama niat itu berubah arah. Jika semalam mampu ia tepis, mungkin tidak dengan pagi ini.


Jean merasakan gelagat aneh, tangan Rayyan sudah tidak pada di area yang tepat. Pria itu bukan lagi mengosok pinggangnya yang memar.


"Ray! Singkirkan tanganmu atau ...!"


Jean seketika membisu tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Bersambung.


Jangan lupa vote ya heehee