Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Memukau


Suami Satu Malam 114


Oleh Sept


Rate 18 +


Rebulan sudah menggantung indah di atas langit yang gelap. Malam ini, Rayyan akan pergi bersama Kris dan beberapa orang-orangnya.


"Jagain Azzam ya, bilang sama papa. Aku ada pertemuan bisnis. Dan mungkin menginap bila urusan belom selesai."


Rayyan merengkuh pinggang Jeandana, rasanya berat meninggalkan istrinya yang sedang hamil muda tersebut. Masih ingin dekat-dekat, bermanja-manja dan menikmati moment manis bersama.


"Udah ... tuh Kris menunggu sejak tadi."


Cup


"Baik-baik di rumah!" ucap Rayyan.


Jean kemudian mengangguk, ia terlihat patuh. Rayyan jadi mulai curiga.


"Awas kalau keluar rumah!"


"Ish .. Kan papa! Bagaimana bisa aku pergi-pergi seenaknya?"


Rayyan menghela napas panjang. Jean dan Pak Perwira, keduanya kan sama-sama tidak bisa dipercaya.


"Ya sudah ... daaa!"


"Hati-hati!"


***


Begitu terdengar deru mobil yang semakin menjauh, Jean langsung masuk ke dalam.


"Pa ... titip Azzam!"


"Kamu yakin?" Pak Perwira menatap penuh selidik.


"Papa jangan khawatir, Jean tidak sendiri. Richard rekan Jean dulu sedang menunggu tidak jauh dari sini."


"Papa khawatir, kamu sedang hamil."


"Nggak apa-apa, Pa! Jean bisa tidak tidur semalam membiarkan suami Jean mendatangi bahaya."


"Coba suruh saja itu .. si Radika. Dia kan pasti bisa menghandle semua ini."


"Mas Dika lagi ke LN, Pa. Kata Richard. Sepertinya mereka sedang menghabiskan liburan musim dingin di sana."


"Tapi ini terlalu bahaya."


"Pa ... Jean tidak bisa diam saja. Sekarang hanya ada Jean, papa tahu Kan? Rayyan itu sangat payah!"


Pak Perwira berdecak, ia menatap putrinya dengan remeh.


"Payah tapi bisa membuatmu hamil berkali-kali!" celetuk Pak Perwira dengan nada mengejek.


Jean seketika langsung menelan ludah. Wanita itu kemudian mengambil mantel hitam dan memeluk papanya.


"Jean pergi dulu, Pa."


Pak Perwira tidak bisa mencegah putrinya lagi. Ia tahu Jean sifatnya seperti apa. Semakin dilarang ia akan semakin melawan. Dan lagi, Pak Perwira tahu betul kelebihan putrinya itu. Ia yakin, Jean bisa melindungi suaminya.


"Biar Jemmy ikut kalian."


Jean mengangguk, ia tidak menolak syarat sang papa. Yaitu membawa orang kepercayaan sang papa.


***


Di dalam sebuah mobil Van yang dirancang khusus, Jean langsung masuk. Ia duduk di kursi tengah bersama Richard. Richard sendiri sedang memangku laptop yang tersambung ke ponsel Rayyan.


"Mereka ke mana?" tanya Jean sambil menatap layar tersebut.


Richard kemudian memperlihatkan lokasi yang muncul di dalam layar kotak itu. Pria yang betah menyendiri tersebut kemudian menoleh, menatap wajah Jean yang sedang serius membututi suaminya lewat pelacak.


"Aku dengar kau hamil? Tidakkah lebih baik kau di rumah? Akan aku bantu bereskan masalah ini."


"Tidak, Rich. Aku baik-baik saja, malah rindu saat beberapa tahun silam. Anggap saja ini salah satu dari ngidam."


Richard memijit pelipisnya, mana ada ngidam membututi sang suami cari penjahat?


"Kau tidak takut sesuatu yang buruk akan membuatmu bahaya, dan juga itu ... janin yang kau kandung."


"Tidak, ada kamu. Kamu tidak mungkin membiarkan aku dalam bahaya, kan?" Jean berusaha tersenyum.


Jlebbbb


Seperti ada paku karatan yang menusuk hati Richard. Beginikah sakitnya mencintai istri orang? Terluka, sakit tidak berdarah namun harus ia tahan.


"Oke! Kita berangkat!" seru Richard dengan hati yang masih terasa sesak.


Bandara International S.H


Jean berjalan bersama Richard, dah Jemmy di belakang. Mereka sedang memburu waktu. Tidak ingin ketingalan jejak Rayyan.


Sedangkan Rayyan, pria itu sudah duduk di dalam burung besi bersama Kris yang setia menemani.


***


Beberapa jam kemudian


Shanghai


Jean sudah menemukan jejak suaminya. Ia dan timnnya besiap menuju hotel di mana Rayyan beristirahat.


Rayyan tidak tahu, istrinya juga menginap di hotel yang sama dengannya.


"Dia sepertinya langsung tidur, mungkin mereka akan bergerak besok pagi. Sebaiknya kamu tidur, Jean!" seru Richard yang satu ruangan dengan Jeandana. Namun, di sana juga ada Jemmy. Orang yang ditugaskan oleh Pak Perwira untuk melindungi putrinya.


"Aku belum ngantuk!" ucap Jean sambil mengosok senjattanyaa satu persatu. Wanita itu rupanya membawa tiga macam dengan jenis dan fungsi yang berbeda pula.


Di ceknya satu demi satu, hingga Richard hanya bisa menggeleng kepala. Jean sama sekali tidak berubah. Wanita itu masih sangat mencintai alat yang mematikan tersebut.


***


Pukul 5 pagi


"Jean! Jean!" Richard menepuk pundak wanita tersebut dengan pelan. Mau membangunkan tapi sepertinya malah menina bobokkan. Ia kasihan karena Jean mungkin baru tidur beberapa menit.


Ehem ... ehemm...


Jemmy berdehem, membuat Jean langsung bersikap siaga. Hampir saja ia menodongkan sesuatu tepat ke kepala Richard karena spontan.


"Ish!"


"Maaf!" Jean langsung menurunkan benda yang sejak semalam tidur dalam genggamannya.


"Bersiaplah. Sepertinya mereka akan keluar," ujar Richard.


"Jam berapa ini?" Jean langsung duduk.


"Astaga ... mau apa dia sepagi ini?" sambung Jean sambil meraih mantel hitam dan memakai boot.


***


Mereka bertiga langsung bergegas mengikuti Rayyan yang sudah meluncur terlebih dahulu meninggalkan hotel.


Shanghai WTX Club


Jean buru-buru berganti pakaian di dalam sebuah mobil Van hitam, ia tidak mau mencolok jika pakai baju yang sekarang ini.


"Kalian tutup mata!" titah Jean sambil melepas pakain.


Jean lantas membuka paper bag, diambilnya peralatan menyamar. Sebuah gaun merah cabai dengan belahan dadaaaa rendah. Ditatapnya alas kaki warna merah darah. Ia yakin, Rayyan pasti akan melahap dia hidup-hidup jika tahu ia pakai high heels lagi.


Tidak lupa, ia juga selipkan senjataa tepat di balik pahaanya. Serta sebuah pisauu lipat kecil, ia masukkan diantara gunung kembar.


Terakhir, ia mengambil sebuah topeng hitam yang manis, berhias Swarovski.


Perfect!


"Ayo masuk!" seru Jean. Dan membuat dua pria yang semula duduk di kursi depan langsung menelan ludah.


"Sialll!" pekik Richard dalam hati.


Bersambung...


Yukkk ... jangan ketingalan detik-detik episode terakhir dari SSM ya ....


"Suami Satu Malam"


Terima kasih support kalian semua ... membaca komentar kalian, kadang harus rela dibilang Gila oleh orang di sekitar ... karena komentar kalian kadang begitu absurd-nya. Membuat senam bibir dan rahang sakit! Xixiixi....


Semoga terhibur ....