Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Permainan Baru Dimulai


Suami Satu Malam 74


Oleh Sept


Rate 18 +


[Mengapa jadi begini? Awas kau Ray! Sepertinya kamu memang minta dihajar!]


Batin Jean meronta, ingin mengaruk wajah Rayyan seketika itu juga. Tapi tidak mungkin karena di sana ada mata sang papa yang sejak tadi melotot ke arah mereka berdua.


"Rayyan balik dulu, Om. Besok Ray ke sini sama orang tua Rayyan."


Pria itu menatap jam tangan miliknya. Kemudian kembali berkata.


"Maaf, Om. Karena masih ada meeting yang tadi saya tinggal karena Jean menelpon dan merajuk. Ray sempatkan datang meski Ray sibuk. Sekali lagi maaf, Om. Dan tolong jangan jodohkan Jeandana lagi. Dia sudah cinta mati sama saya!" ucap Rayyan dengan mengerling ke arah Jeandana.


[RAYYANNN DIRGANTARAAA!]


Jean semakin mengumpat dalam hati, tangannya sudah mencengkram bantal sofa di sebelahnya. Seperti ia ingin jadikan wajah Rayyan bagai samsak yang ia pukul hingga ia merasa puas.


Bisa-bisanya ia bilang cinta mati pada Rayyan. Melirik saja dia ogah! Baginya Rayyan hanya duda kesepian yang tidak punya kerjaan.


[Ishhh]


Jean hanya bisa menahan gondok dan rasa kesal yang tertahan dalam tenggorokan.


***


KLEK


Suara Rayyan menutup pintu.


Bukkkk


Jean yang sempat mengantar ke depan tanpa suara karena shock dan marah, kini balik lagi ke dalam dan langsung duduk di atas sofa maroon di ruang tamu tersebut.


"Kalau dia serius, besok datang dengan orang tuanya. Terpaksa Papa lepas kamu."


Jean langsung menoleh, dilihatnya sang papa keluar dari kamar sambil membawa sebuah kotak kecil.


"Papa jangan langsung terima, selidiki dulu keluarganya. Papa mau anak Papa gagal dalam rumah tangga. Dia sudah pernah gagal, Pa."


Giliran Jean yang ketar-ketir, dia takut bila benar-benar harus satu atap dengan Rayyan. Mana pernah ia bayangkan hidup seatap dengan pria yang sejak kesan pertama membuatnya sebal.


"Tanpa kamu suruh, Papa sudah selidiki. Dia pria baik-baik. Lima tahun menjadi duda dan tidak pernah terkena scandal. Keluarganya pun terpandang. Papa sering melihat wajah keluarga mereka dalam beberapa sampul majalah bisnis."


"Papa mematai-matai Ray?"


Jean menatap sang papa penuh selidik.


"Terima saja, dari pada mengharap pada hati yang tidak mungkin kamu miliki. Papa tidak pernah mengajarimu mengambil milik orang lain! Pantang bagi Papa!"


"Papa mematai-matai Jeandana selama ini?"


Jean marah, sepertinya sang papa tahu. Ia sangat paham arah pembicaraan keduanya.


"Kamu putri Papa, Jean! Sudah sepatutnya Papa harus tahu apa pun tentang putri Papa!"


Jean sebenarnya malu, ketahuan sang papa selama ini menyukai pria bersuami. Untuk menutupi rasa malunya, Jean meluapkan dengan rasa marah dan langsung masuk kamar.


Tok tok tok


"Jean! Buka pintunya!"


"Jean mau sendiri, Pa!" jawab Jean di balik pintu.


"Tidak apa-apa! Papa tidak melarang kamu jatuh cinta. Tapi ...!"


"Jean tahu, Pa! Jean paham!"


KLEK


Jean membuka pintu.


"Jean mohon! Kita tidak usah membahas keluarga mereka lagi! Jean akan terima! Silahkan Papa jodohin Jean dengan pria manapun, tapi jangan bahas mereka lagi! Hati Jean masih sakit, Pa."


Pak Perwira pun memeluk putrinya.


"Tidak apa-apa, Kita memang tidak bisa mengatur pada siapa hati kita jatuh cinta. Papa tidak marah, karena Papa tahu ... perasaan itu tulus. Bahkan kamu tidak pernah berbiat untuk merusaknya. Sekarang istirahatlah, Papa akan hubungi keluarga Wisnu lagi. Lebih baik kamu menjauh dari keluarga itu, dari pada tersiksa seperti ini!"


***


Siang harinya


"Kenapa kamu bilang mendadak, baru semalam bilang paginya minta lamarin anak orang. Keterlaluan kamu, Ray! Mama kan harus siapkan ini itu!"


Mama Sarah marah-marah, karena Rayyan ini apa-apa kok tidak dirunding terlebih dahulu. Main ajak saja ke rumah anak gadis orang. Sedangkan sang papa. Ia lebih santai, minta dilamarkan ya Ayo... loss. Asal ananknya laku, sold out!


Setelah semua siap, tidak semua sih, hanya mama Sarah, tuan Wira dan Rayyan. Karena keluarga Radika sedang ke rumah orang tua Elvira pagi-pagi sekali.


***


Kediaman pak Perwira


Rayyan kecewa, sampai di sana yang dicari sudah pergi beberapa saat yang lalu.


"Mereka ke mana, Bik?"


"Ke Bandara, Tuan."


Bibi memperhatikan orang-orang yang ada di belakang Rayyan. Terlihat rapi, seperti mau kondangan.


"Ya sudah, Bi. Terima kasih!"


"Ayo, Ma!" ajak Rayyan sambil berbalik menuju mobil.


"Loh ... bukannya sudah janjian kamu, Ray?"


Mama Sarah curiga.


"Nanti Ray jelaskan, Ma."


Rayyan fokus pada kemudi, ia nyalakan mesin dan ....


WUSHHHH


Mobil melaju kencang, menembus debu jalanan.


Tut Tut Tut


Sambil fokus mengemudi, Rayyan membetulkan earphones wireless. Ia sibuk menghubungi Jeandana. Enak saja, sudah memulai lalu pergi begitu saja.


[Angkat, Jean!]


Tut Tut Tut


"Iya!" jawab Jean setelah panggilan beberapa kali.


"Tetap di sana. Awas kalau kau naik!" ujar Rayyan mengandung ancaman.


"Maaf, Ray!"


Tut Tut Tut


Panggilan terputus


"Sialll!" Rayyan menambah laju kecepatan kendaraannya.


WUSHHHH


***


Bandara International CKG


"Ray! Rayyy!" teriak mama Sarah melihat putranya langsung lari masuk ke dalam Bandara.


[Kau sudah gila Ray! Kenapa kau mencarinya sampai ke sini? Kau sudah Gila]


Rayyan berlarian, matanya sudah memindai, menyusuri tiap sudut, mencari sosok Jean di antara ratusan calon penumpang ....


[Kau hanya orang asing, permainan belum dimulai. Tapi kau berani mengakhiri ... Jean! Awas kau!]


Rayyan langsung merebut tas koper yang sedang ditarik oleh seorang wanita berpostur tinggi tegap, terlihat cantik dari belakang dan dia tidak asing dengan aromanya.


Bersambung