Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
SECRET


Suami Satu Malam Bagian 22


Oleh Sept


Rate 18 +


Setelah tendangan terakhir, Radika langsung tumbang.


"Andraaa!"


Elvira lantas menyibak apa saja yang ada di depannya, wanita itu langsung menghampiri Radika yang sudah oleng akibat pernyatannya sendiri.


"Ish!" Elvira mendesis kesal. Ia membangunkan Radika dengan jengkel. Dan sambil berbisik tentunya.


"Makanya hati-hati kalau mas Dika bicara, jangan asal! Dalam rumah ini punya sabuk hitam semua, kecuali mama. Jadi jangan macan-macam!" ancam Elvira dengan lirikannya yang menghujam.


"Bagus! Kamu memang tipeku! Perempuan tangguh!" bisik Radika sambil senyum mengejek.


Mendengar bisikan Radika, Elvira sudah angkat tangan. Sepertinya sosok tersebut tidak bisa diberi tahu baik-baik dan tidak juga dengan kekerasan fisik. Mungkin butuh ilmu kebatinan tingkat tinggi untuk sekedar bicara dengan Radika.


Tap tap tap


"Ini, Mbak kotak P3K!" Irene muncul memberikan kotak putih dengan tempelan logo plush warna merah.


Mungkin Irene merasa bersalah, karena Radika babak belur akibat ulah suaminya. Jujur, Irene berdiri di pihak Radika. Ia punya feeling kalau Radika benarkah tulus pada kakak iparnya itu.


"Makasi, Ren!" ucap Elvira.


"Ngapain diobati di sini? Kamu bisa ke rumah sakit! Dan tinggalkan rumah ini!" cetus Kalandra yang masih jengkel dengan keluarga Dirgantara.


"Cukup, Ndra! Sejak kapan kita diajari mukul orang berlebihan!" protest Elvira.


"Mbak!!!!" lagi-lagi Kalandra tidak terima.


"Sudah ... sudah! Dika ... Vira! Ikut ke ruangan Papa!" potong tuan Pram.


Elvira dan Radika saling menatap, keduanya akhirnya ikut ke ruang kerja bersama tuan Pram.


Di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan lemari dengan ratusan buku tebal, tuan pram duduk di depan putrinya yang juga duduk bersebelahan dengan Radika.


"Apa tujuanmu mendekati Elvira?" tanya tuan Pram to the point.


"Saya menyukai anak, Om!"


Bruakkk


Tuan Pram malah mengebrak meja dengan emosi.


"Katakan sekali lagi, apa tujuan kamu sebenarnya? Mengapa kamu pura-pura bodoh selama ini? Kamu pikir saya mudah percaya dengan orang sepertimu? Terlalu banyak rahasia yang kamu tutupi!" serang tuan Pram tanpa basa-basi.


"Vira! Tolong keluar sebentar. Mas mau bicara empat mata sama papamu!" Radika menatap Elvira dengan wajah serius.


"Loh?" Elvira nampak bingung. Namun, dilihatnya sang papa malah mengangguk. Sepertinya dua laki-laki itu ingin bicara empat mata tanpa ada dirinya.


"Mana bisa! Ini tentang Vira! Kenapa Vira nggak boleh tahu? Rahasia apa yang akan kalian bicarakan?" Vira protes.


"Sebentar, tolonglah!" nada suaranya memelan, ini seperti bukan gaya Radika.


"Tidak! Nggak mau! Kalau mau membahas masalah Vira! Vira juga harus tahu ... dan ini, Vira kembalikan!" Elvira mencoba melepas cincin di jari manisnya. Kemudian memberikannya pada Radika yang duduk di sebelahnya.


"Huufft ... oke! Pakai lagi, dan kamu bisa mendengarnya." Radika menghela napas panjang. Kemudian wajahnya mulai serius.


"Maafkan saya, Om. Maaf jika saya harus egois. Karena saya tidak bisa menunggu entah sampai kapan."


Elvira dan papanya nampak serius mendengar ucapan Radika. Keduanya bahkan mungkin sampai lupa untuk berkedip.


"Tragedi kecelakaan beberapa tahun yang lalu, yang menimpa keluarganya saya. Itu bukan murni kecelakaan. Seseorang sedang mengincar nyawa saya."


"Astagaaa! Lelucon apa lagi ini!" potong Elvira. Ia langsung bangkit, berdiri dan hendak beranjak pergi.


"Tunggu!"


Radika reflek meraih tangan Elvira, mencegah wanita itu pergi sebelum mendengar ceritanya. Elvira baru mendengar sepotong, pasti ia menyangka ia hanya membual.


"Duduk, Vira!" titah tuan Pram kemudian.


Akhirnya Elvira kembali duduk, dan Radika tetap berdiri. Pria itu menatap tuan Pram kemudian membuka bajunya.


"Ya Tuhan! Mas Dika! Kamu sudah Gila!!!!" pekik Elvira sambil menutup mata dengan tangan.


Sedangkan tuan Pram, dahinya mengerut. Ia menatap Radika yang perlahan memutar tubuhnya.


Terlalu banyak bekas jahitan di belakang punggung Radika. Sementara itu, karena suasana begitu tenang, Elvira memberanikan diri mengintip. Matanya terbelalak ketika menatap tubuh Radika juga. Apalagi ditambah bekas memar baru yang diberikan adiknya beberapa saat lalu.


"Ini Kenapa ... ini?" Elvira sampai tidak bisa berkata-kata.


Radika menghela napas dalam-dalam. Dan meneruskan ceritanya lagi.


Setelah kecelakaan, saya ditemukan di sebuah tempat. Dengan luka yang seperti ini. Orang tua saya pikir saya tidak akan bertahan dan akan mati. Tapi apa yang terjadi? Saat saya sadar di ruang operasi yang kesekian kalinya, seorang pria berpakain dokter datang dengan tatapan aneh. Pria itu mencoba menyuntikan sesuatu ke tubuh saya. Sakit! Luar biasa sakit, ketika obat itu mulai merasuk, tubuh saya mulai bereaksi. Seperti stroke ringan, mungkin mereka mencoba membunuh saya sekali lagi."


Elvira menoleh pada papanya, ia bingung. Mau percaya saja atau bagaimana. Namun, berbadan dengan putrinya. Tuan Pram memejamkan mata kemudian berbicara dengan wajah serius.


"Lalu kamu mau saya menyerahkan putri saya padamu? Yang jelas-jelas masih diincar oleh pembunuhh?" sindir tuan Pram.


"Tolong percaya pada saya, Om. Saya akan melindungi Elvira dengan nyawa saya."


"Cih!"


"Sampai kapanpun, Saya tidak mau putri saya celaka!"


"Om tidak perlu khawatir! Saya akan kembali menyamar agar Vira tetap aman di sisi saya."


"Dika ... Dika ...!! Cari wanita lain saja! Sia-sia usahamu ke sini!"


"Tapi saya hanya mencintai putri, Om."


"Nyawa putri saya lebih penting!" cetus tuan Pram marah.


"Tidak bersama saya pun, Vira bisa celaka! Penusukan itu! Itu sengaja!"


Mata tuan Pram langsung melotot, begitu juga Elvira.


"Apa maksudmu?"


"Vira ... target berikutnya Elvira."


"Apa hubungannya dengan putri saya?" salak tuan Pram mengebu.


"Dia melihatnya ... dia saksi mata."


Elvira tidak mengerti apa yang dibicarakan Radika. Karena melihat kebingungan pada diri Elvira. Radika kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia memutar rekaman CCTV yang sudah lama dan gambar tidak jelas. Di sana terlihat Elvira sedang melintasi jalan raya sepi dengan naik motor. Sepertinya ia habis pulang lea sore hari.


Dalam CCTV, terlihat sebuah mobil tiba-tiba kehilangan kendali, dan hampir menabrak motor Elvira. Setelah meluncur dengan tidak stabil, mendadak sebuah mobil warna hitam melesat dan menghantam. Hitungan menit, mobil itu meledak.


DUARRRR


Elvira menepis ponsel yang tadi ia lihat, ia kemudian teringat kejadian yang sudah terjadi sangat lama itu. Elvira tidak menyangka, penumpang dalam mobil itu adalah Radika.


"Mas Dika ngarang, kan?"


"Ish!" Radika mendesis kesal.


"Lalu kenapa anak saya tidak pernah dimintai keterangan oleh polisi?" tanya tuan Pram heran.


"Pa ... setelah kejadian itu, Kita pindah rumah kan." Elvira mengingatkan.


Tuan Pram hanya memijit keningnya. Kok masalahnya jadi serius seperti ini.


"Pokoknya tidak bisa, Om tidak memberikan ijin kalian menikah. Apapun alasannya." Tuan Pram kembali kekeh bahwa tidak ada restu untuk keduanya.


"Bagaimana kalau nanti Vira hamil? Saya tidak mau anak saya diakui pria lain!"


Bukkkkkk


Elvira memukul lengan Radika, dan pria itu berakting mengadu kesakitan.


"Vir! Sakit!" keluhnya.


"Makanya, hati-hati dalam berbicara." Elvira masih galak. Tidak peduli pada pria itu meski pura-pura kesakitan. Padahal tubuh Radika memang sakit semua.


"Ish! ... Bagaimana Om, tolong restui kami. Saya tidak akan pergi sebelum mendapat ijin untuk menikah dengan Vira. Bahkan gedung sudah saya siapkan."


"Astagaaa! Siapa yang mau menikah dengan mas Dika?"


"Lalu kenapa kemarin-kemarin kamu merespon saat aku ciium berkali-kali?"


Dua orang itu malah ribut-ribut di depan orang tua. Dan Tuan Pram tambah pusing


"Itu ... itu pemaksaan!" ketus Elvira.


"Ayolah Vir ... kamu juga menikmatinya, kan?"


"Sialannnn!" batin Elvira. Ia melirik sang papa dengan sangat tidak enak hati.


"Sudah! Sudah! ... terserah kalian! Putuskan Tanggalnya!"


Tap tap tap


Bruakkkk


Tuan Pram membanting pintu dengan kesal. Sedangkan Radika, ia tersenyum penuh kemenangan.


"Pa ... papa!"


Setttttt


"Mau kabur ke mana?" Radika langsung meraih tubuh wanita tersebut.


"Ini ruang kerja Papa! Jangan aneh-aneh. Ada CCTV di sana!" gertak Elvira.


"Benarkah? Malah bagus!" Radika menyeringai, ia malah bersemangat. Setidaknya ia tidak usah bersusah paya membuat dokumentasi sebagai bukti kedekatan hubungan mereka.


CUP


[Astaga ... entah ini ciumann kami yang keberapa ... penonton ... hitung ya. Hahahah] Bersambung