
Suami Satu Malam 65
Oleh Sept
Rate 18 +
Beberapa hari ini mendung menghiasi langit di bumi. Namun, tidak dengan dermaga Perak. Alam seolah ikut bekerja sama malam itu. Langit yang biasanya mendung karena memang masuk musim pengajuan, kini cerah.
Rembulan mengantung indah, berjejer dengan jutaan bintang-bintang. Ditemani deburan ombak air laut yang menyembur, menyentuh dan menyeret milyaran buih.
Sedangkan tidak jauh dari sana, malam yang dingin dan sunyi itu, nampak seorang sniperrr bersiap di atas sebuah gedung tua di ujung dermaga. Senjataa yang ia gunakan, bisa membidik sasaran meski jaraknya cukup jauh.
Radika sendiri kini sedang menyiapkan diri di dalam sebuah kapal kecil di pinggir dermaga. Sebuah rompi anti peluruu dan juga jacket anti api sudah ia kenakan.
Malam ini, ia bersiap memancing Marco keluar dari lubangnya. Sebab, Radika ingin segera hidup bebas tanpa merasa nyawanya sedang diincar.
Tidak jauh dari sana, Tim Delta sudah bersiap dengan ransel kecil yang berisi bahan peledakk. Siap menghancurkan siapa saja dengan radius yang cukup jauh.
Meski berbahaya, mereka sangat butuh ini. Karena Marco itu sulit sekalian untuk ditaklukan. Dia seperti seekor kucing yang memiliki sembilan nyawa. Seperti belut yang susah dipegang, licin dan pandai berlari seperti seekor cita.
"Kau sudah yakin ingin melakukan sendiri?" tanya Rama setelah melihat Radika sudah siap. Radika hanya mengangguk tegas.
Mereka semua awalnya kurang suka dengan ide Radika. Namun, Radika juga tidak mau. Mengumpannya nyawa orang lain demi bertukar nasib dengannya.
Biarlah, ia sendiri yang akan memancing monster itu keluar. Ia sudah pasrah, bila memang harus kembali hanya nama. Toh, sebenarnya dia sudah membuat wasiat. Jika ia mati, ia meminta Rayyan menjadi wali untuk anak-anaknya. Bohong jika akan memotong-motong milik Rayyan.
Lewat pengacara, bahkan ia sudah menulis wasiat. Namun, di depan Elvira, ia tidak akan mengatakan hal itu. Bisa-bisa ia langsung kena KA ME HA ME oleh istrinya itu. Bisa-bisa ia dihajar tanpa ampun. Berani sekali melakukan hal demikian.
Radika pun tahu, sebenarnya apa yang Elvira katakan hanya omong kosong. Sebab, selama lima tahun ini, Elvira sama sekalian tidak terlibat dengan lawan jenis manapun. Lebih memilih menutup diri. Adapun Rayyan, pria itu hanya sibuk bermain-main dengan anak-anak. Jarang berinteraksi dengan Elvira.
Wanita itu menyibukkan diri dalam pekerjaan, agar bisa melupakan kesedihan karena menjanda akibat ditinggal mati. Meski terlihat marah, garang, dan dendam, hati Radika sebenarnya sudah lama berdamai dengan adiknya itu. Bahkan, malam ini sebelum ke dermaga, ia menghubungi Rayyan.
Meminta pada pria itu datang ke Villa. Mungkin jaga-jaga, bila ia benar-benar pulang hanya tinggal nama. Siapa yang tahu? Nasib seseorang memang sulit ditebak, bukan.
***
Pukul tiga
[Target sudah terlihat]
Pesan berantai pun tersambung.
Deru helicopter membuat suara bising di sekitar dermaga. Seseorang turun dan langsung memastikan tempat itu aman, selanjutnya pria bermantel kulit tupai juga ikut turun. Topi besar yang ia kenakan, membuat wajahnya tidak terekspose.
Beberapa saat kemudian, tiga helicopter menyusul. Rupanya, Marco tidak datang dengan tangan kosong. Ia juga membawa banyak kaki tangan.
***
Marco yang sudah jalan duluan, ia langsung masuk sebuah van. Di dalam sana, orang-orangnya juga sedang mencari keberadaan Radika. Hingga di dalam layar, memperlihatkan sebuah titik merah yang semakin dekat.
"Arah jam sembilan!" seru pria yang sejak tadi duduk di depan peralatan canggih tersebut.
Marco hanya tersenyum tipis, kemudian terus saja mengamati dari dalam van. Ia tahu, kalau ia sedang dipancing keluar. Ia bukan orang bodohhh yang dengan mudah dipancing keluar.
Dalam mobil van itu, ia melepaskan mantel, topi, jaket serta atribut yang semua ia kenakan. Semua itu kini dipakai oleh anak buahnya. Marco palsu berjalan keluar, posture yang sama, membuat orang lain pasti terkecoh.
Dengan gaya berjalan yang sama, Marco KW datang ke arah jam sembilan. Wajahnya tertutup oleh topi, hingga para sniperrr sedikit ragu, apa benar itu Marco yang asli. Mengapa mudah sekali ia keluar tanpa pengawalan yang ketat?
[TARGET GAGAL!]
Seketika Tim Alfa yang dipimpim Richard langsung menuju lokasi. Di mana Radika menunggu mangsa.
[Ada bahan peledakk dalam mantel, jauhkan target dari sasaran]
Jeandana langsung melepas earphones miliknya, waktunya tidak banyak. Ia tahu, Radika akan diledakkan beberapa saat lagi. Dengan kencang wanita itu berlari menuju posisi Radika.
Radika melihat seseorang mirip Marco mendekat. Anak tetapi, ia juga melihat sosok lain yang berlari cepat menuju ke arahnya. Sosok itu tiba-tiba merangsek dirinya. Hingga terguling-guling dan ....
BYURRR
DUARRRR ....
Sebuah ledakan besar terjadi di TKP, hanya menyisahkan asap tebal dan serpihan daging .... Bersambung
Tidak lupa iklan dulu. Hehehhe
Fb Sept September
IG Sept_September2020
Lope lope ... hihihih