Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Hadiah


Suami Satu Malam 103


Oleh Sept


Rate 18 +


Hubungan suami dan istri yang kuat dibangun di atas kejujuran, kepercayaan, dan rasa hormat.


Jean terlihat mulai egoist, ia masih melakukan sesuatu atas dasar inginnya sendiri. Dia tidak peduli pada hati yang selalu mengkhwatirkan dirinya dan buah cinta mereka.


Jeandana mungkin lupa, bahwasanya kadang kita tidak bisa mengontrol apa yang akan terjadi di depan kita. Dan jika hal buruk sudah terjadi, tinggal menyisahkan sebuah penyesalan.


***


"Ya Tuhan ... ada apa dengan kuda ini?"


Jean berniat menghentikan kuda tersebut, akan tetapi kuda semakin kencang. Hewan itu semakin cepat berlari. Menginjak dahan-dahan kering yang ada di bawahannya.


Ketika Azzam mulai menangis karena takut, Jean pun memeluk tubuh putranya.


"Pegangan Mami, Zam!"


"Azzam takut, Mi." Anak itu ketakutan karena kudanya menjadi sangat liar dan sepertinya sudah mengila.


"Ada Mami, Azzam jangan takut." Sambil memegang tangan satu memegangi tali, tangan satunya lagi memegangi Azzam agar tidak jatuh dan terperosok. Sebab di sebelah kiri mereka ada jurang yang cukup curam.


Jean berpikir keras, kalau ia menjatuhkan diri, dia mungkin tidak apa-apa. Namun, Jean khawatir pada Azzam.


Tapi, ia harus mengambil keputusan sebelum kuda itu semakin lari ke dalam. Di saat panik mendera keduanya, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan cukup keras.


Untuk sesaat kuda yang meliar itu memelankan larinya. Namun, detik berikutnya ia kembali berlarian dengan kencang.


"Mamiii ... Azzam takut!" Azzam kembali histeris.


DORRRR ...


Lagi-lagi terdengar suara tembakan, tidak jauh di belakang mereka ada banyak pria berkuda lainnya yang mengejar kuda yang dibawa oleh Jean dan Azzam. Salah satu dari mereka adalah Kakek Perwira.


Pria itu yang kemarin mengeluhkan encoj, seketika sehat bugar saat mendapati laporan dari petugas camp bahwa anak dan cucunya dalam situasi bahaya.


Seketika juga, Pak Perwira mengambil senjataa yang selalu ia bawa ke mana-mana. Pria itu bergegas ikut tim pencarian, mereka berpencar masuk ke dalam hutan mencari keberadaan Jean dan juga Azzam.


"Mereka di sana!" seru salah satu dari tim pencarian yang juga menunggangi seekor kuda hitam yang kuat.


Pak Perwira langsung memacu kuda coklat yang ditungganginya. Mereka semua menyusul sumber suara.


"Jeann!" teriak Pak Perwira.


Laki-laki itu sudah siap membidik. Namun, dihalangi oleh salah satu di antara mereka.


"Biar kami yang lakukan, Pak!" pinta pria yang sudah siap dengan bius yang diarahkan ke badan kuda.


Ini lebih aman dari pada benda yang dipegang oleh Pak Perwira. Detik berikutnya, setelah berhasil membidik dari kejauhan, dan tepat mengenai badan si kuda. Perlahan kuda itu melemah, begitu si kuda yang meliar berhenti berlari dan sepertinya akan jatuh, Jean langsung mengangkat dan memeluk Azzam. Ia langsung melompat turun.


Mereka berguling-guling di atas ilalang, Jean yang tidak ingin anaknya terluka, ia memeluk erat tubuh Azzam. Membiarkan kulitnya sendiri yang terluka, terkena goresan ranting, bebatuan yang mungkin ada di bawah sana.


"AZZAM!"


"JEAN!"


Pak Perwira berlari, semua orang juga turun dari kuda masing-masing. Mereka hendak memeriksa keadaan ibu dan anak tersebut.


"Kalian tidak apa-apa?" Pak Perwira langsung menggendong cucunya. Ia periksa seluruh tubuh Azzam. Sampai ia lupa pada Jean.


"JEAN!" panggil Pak Perwira saat melihat putrinya malah pingsan.


***


The Forest Park


Masih di Summer Camp, Jean juga sudah ditangani oleh tenaga medis yang memang selalu ada di sana.


Begitu dokter itu pergi, kini Jean nampak melamun. Tatapannya kosong. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita tersebut. Yang jelas tangannya terus saja memegangi perutnya.


KLEK


"Mamiiiii!"


Azzam datang langsung memeluk tubuh Jean yang masih berbaring tersebut.


"Azzam tidak apa-apa?" tanya Jean khawatir pada buah hatinya.


Azzam menggeleng keras, tangan munggilnya malah memegangi pipi Jean yang terluka. Seperti tergores sesuatu.


"Mami sakit?"


"Nggak ... ini gak sakit!" Jean mencoba tersenyum.


"Ini sakit?" Ganti Azzam menyentuh lengan Jean yang diperban.


Jean lupa atau bahkan tidak tahu, apa yang menyebabkan kulit lengannya robek.


"Ini gak sakit, Azzam sini ... bobo sama Mami!"


Tidak jauh dari sana, Pak Perwira menghela napas dalam-dalam. Kali ini dia merasa tidak enak pada menantunya. Bila nanti Rayyan tahu, entah apa yang akan ia katakan.


"Pa ... Papa gak telpon papinya Azzam, kan?"


Pak Perwira menggeleng.


"Jangan hubungi Rayyan, Pa!"


Pak Perwira mengangguk pelan.


"Mulai sekarang, Papa pastikan kalian tidak akan pernah lagi berkuda."


Jean menundukkan wajahnya, sembari tangannya yang tak sakit memeluk tubuh Azzam.


***


Setelah kejadian itu, Jean tidak langsung pulang. Mereka memutuskan pulang besok harinya saja. Karena hari mulai petang.


Malam ini, Jean tidur di dalam camp khusus. Sedangkan Azzam minta tidur dengan sang Kakek. Karena ranjang Jean terlalu kecil. Azzam yang terbiasa tidur sendiri dengan ranjang besar, tidak bisa memejamkan mata kalau tidur di ranjang Jean yang kecil itu.


Sudah pukul sepuluh malam, Jean juga sudah terlelap. Mungkin karena habis minum obat dan pereda nyeri. Kini ia tidur dengan lelap, hingga tidak menyadari seseorang memeluk tubuhnya yang masih terbaring tersebut.


Entah itu feeling yang kuat atau apalah. Yang jelas tiba-tiba kelopak matanya bergerak-gerat. Saat tak lama seorang pria naik ke ranjang dan memeluk tubuhnya.


"Kamu datang? Aku sudah bisa menduganya. Jangan marah ya ... entahlah ... aku hanya ingin sesuatu yang menantang. Kamu tahu kah? Ini selalu terjadi saat aku hamil Azzam dulu ... Aku tidak mau minta maaf, karena ini juga hasil perbuatanmu ... jangan salahkan aku jika aku ngidam yang aneh-aneh. Ini kan anakkmu ... aku benar, kamu salah. Oke?" bisik Jean lirih.


Pelukan Rayyan semakin erat, bibirnya terukir senyum di balik tubuh Jeandana. Bagaimana mau marah? Jean baru saja memberikan hadiah yang sangat besar.


Bersambung