
Suami Satu Malam 83
Oleh Sept
Rate 18 +
Tidak cocok untuk yang belum menikah. Attention please... SKIP
Jean kembali dirundung gelisah, baru kali ini ia harus menyerah di depan seorang pria. Bukan karena kalah kuat, tapi karena Rayyan terlalu berpengalaman, membuat seorang Jean jadi mabukk kepayang. Mati kutu dan tidak bisa menyerang lawan.
Bagaimana tidak? Setelah mengambil mahkota miliknya, kini Rayyan kembali bermanuver. Pria itu mendesak tubuhnya, membuang selimut tebal yang semula menjadi perisai bagi Jean. Dengan tangan kosong, Rayyan kembali melumpuhkan wanita tangguhnya itu.
Klik
Tangan Rayyan mencoba menyalakan kran shower. Ia ingin sensasi yang berbeda, bila tadi mereka beradu di atas ranjang. Ia ingin sesuatu yang lain sekarang.
Rayyan membiarkan tubuh keduanya dialiri oleh air dari atas tubuh mereka. Bukannya menjadi dingin, tubuh mereka masih saja terasa panas. Ada gejolak jiwa yang tidak bisa padam meski air membasahinya.
Masih di bawah derasnya air yang mirip hujan, bibir keduanya terus bertautan. Rayyan tidak membiarkan Jean lepas. Ia menyerang Jean hingga wanita itu menyerahkan semuanya padanya.
[Anggap aku sudah menggila karenamu, Jean!]
Rayyan melepas tautan mereka, pria itu memberi jeda, agar Jean bisa mengambil oksigen sejenak. Ditatapnya mata terang itu dengan intense, sedikit merah sih karena terkena air. Dadaa Jean juga naik turun, terlihat jelas dan kentara.
"Tunggu di sini sebentar!" bisik Rayyan lirih di telinga Jeandana.
Jean mengangguk pelan, sembari menelan ludah.
[Kenapa aku diam saja? ASTAGA! Sejak kapan aku menjadi penurut begini? Ray! Apa yang sudah kau lakukan?]
Jean menggeleng keras kepalanya, ia merasa sudah diguna-guna oleh pria perkasa tersebut.
KLEK
Begitu pintu terbuka, Jean mengeryitkan dahi. Apa lagi rencana Rayyan? Mengapa membawa kursi ke salam kamar mandi? Astaga!
Dengan santainya Rayyan berjalan sambil mengangkat satu kursi, sejak tadi ia masuk dan keluar melupakan handuknya, membuat Rayyan jadi gondal-gandul ngalor-ngidul. LOL!
"Jean!" panggil Rayyan yang sudah duduk di atas kursi.
Jean mengerutu. Namun, kakinya tetap melangkah mendekati suaminya. Dan begitu sudah dekat, Rayyan langsung meraih tubuh Jeandana.
Pria tersebut langsung menarik Jean, kemudian membuat Jean duduk di atas pangkuannya.
[Duda mesumnn! Ish ... pria mesumm ini sekarang adalah suamiku?]
Jean mendesis karena merasakan sesuatu yang menganjal saat ia duduk di atas pangkuan Rayyan.
Dasar Rayyan yang sangat totalitas tanpa batas, ia tidak mau menyia-nyiakan siang pengantin mereka. Biar malam pengantin sudah lewat, biar malam pertama tidak bisa melakukan apa-apa, Rayyan ingin menebusnya sekarang.
"Sssttt!!!"
Rayyan berhasil mengerjai Jean kembali, baru pakai jari-jarinya, Jean sudah kembali meremang. Wanitanya itu sudah mengeliat dengan beberapa kali trik sentuhan yang memabukkan.
"Rayy ... enough!" desis Jeandana yang merasa tubuhnya lemas karena buaian Rayyan yang benar-benar sudah membuatnya mengila.
"Aku bahkan baru akan mulai!" bisik Rayyan menggoda.
Pria itu kemudian memutar tubuh Jean hingga kini keduanya saling menatap. Kedua mata mereka pun bertemu, dan saling menyiratkan hasrathh yang mulai mengebu.
"Lakukan, Jean!" bisik Rayyan kemudian memberikan stempel di leher jenjang Jeandana. Tanggannya pun aktive kembali, memainkan benda-benda seperti squishy.
Tidak tahan lagi diperlakukan seperti itu, Jean pun berjalan sesuai nalurinya. Wanita itu kini yang memopa suaminya. Ya, Jean yang pegang kemudi. Ia yang memimpin sekarang.
Wanita itu naik turun sambil mencengkram rambut Rayyan, selain karena rasa perih ia lakukan juga karena sebal para pria tersebut. Ya, Jean sebal karena Rayyan sudah mengerjai dirinya hingga ia ikut mengila bersama pria tersebut.
Semakin lama, Jean semakin mempercepat gerakannya. Hingga Rayyan minta ampun dan memeluk tubuhnya erat.
"Jeeeaan!" Rayyan mendesis memanggil nama istrinya. Ia mencengkram kuat pinggang Jeandana.
Sepertinya Rayyan sudah mencapai puncak, hingga semua ototnya menegang dan memeluk Jean begitu kuat, detik berikutnya ...
Jean merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang mengganjal yang ia duduki tadi kini terasa lembek. Ya, senjata itu sudah kehabisan amunisi. Tanpa sadar bibir Jean menggembang, ia sedang menertawakan terong kukus yang kehilangan pesonanya tersebut. Bersambung