Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
CANTIK


Suami Satu Malam 108


Oleh Sept


Rate 18 +


"Sehat, Mas?" tanya Kalandra hanya sekedar untuk basa-basi. Aslinya ia ingin langsung pergi dari ruangan itu. Atmosphere di sana sudah tidak menyehatkan, hanya bikin sesek.


"Nah ... kamu bisa lihat sendiri? Masmu ini sehat bugar kan?" Ditanya malah balik nanya, membuat Andra yang dari tadi bad mood tambah memasang muka muram.


"Iya sih, seger bener!" sindir Kalandra yang tidak habis pikir dengan keduanya. Sempat-sempatnya bermain di kantor.


"Ya sudah, aku pergi dulu. Masih ada pertemuan lagi dengan klien."


Elvira melirik tajam pada suaminya.


[Padahal masih ada pertemuan lagi, tapi sempat-sempatnya mengerjai aku. Ya ampun Mas Dika. Makin umur kamu makin menjurus. Salah makan apa?]


"Aku pergi dulu ya," pamit Radika sambil mengusap lembut kepala istrinya.


"Hati-hati."


Radika mengangguk, sebelum pergi ia menepuk pundak Kalandra yang menatap sebal padanya.


KLEK


Saat pintu tertutup, Kalandra langsung mengintimidasi kakaknya.


"Sempat-sempatnya kalian ini, ish!"


"Idih ... sempet apaan?" Elvira meraih berkas dengan acak. Ia mengalihkan perhatian sang adik.


"Ingat, Zio mau SMA. Masa kasih adik sama mereka?"


"Apa sih kamu, Ndra. Ngaco!" jawab Elvira sambil menahan senyum. Dan Andra hanya bisa geleng kepala.


"Ish!"


"Udah deh. Jangan ngajak ribut. Oh ya, gimana kabar mama sama papa?"


"Alhamdulillah, mereka sehat. Cuma kemarin habis check up. Gula darah papa tinggi, kolestrol juga."


Elvira menghela napas dalam-dalam. Sedih bila mengingat kesehatan orang tuanya yang mulai menurun. Ini karena faktor usia. Jadi mereka hanya bisa mendoakan dan menjaga pola makan keduanya.


"Nanti malam aku mau ke rumah, bilang sama Irene. Tidak usah siapin apa-apa."


"Nginep?"


"Iya."


Kalandra langsung menatap remeh. Ia ingat kejadian beberapa saat lalu.


"Sama anak-anak juga, kan?"


"Iyalah ... Mana boleh nginep sendirian sama abangmu itu. Ih ..."


Kalandra terkekeh.


"Sudah tua tambah possessive aja itu Mas Dika. Ngapain dia ke sini kalau masih ada kerjaan?"


"Mau apa lagi!" jawab Elvira enteng.


Kalandra langsung diam. Sepertinya ia salah bertanya. Karena jawabannya pasti membuatnya bete.


"Ya udah ya, Mbak. Ini aku juga masih ada kerjaan. Andra pergi dulu."


"Gak mau lihat-lihat kantor baru Mbak?"


"Apanya yang dilihat ... tuh banyak tisu berserak?"


Elvira langsung memasukkan tisu bekas ke dalam wadahnya. Sempat kocar-kacir hingga tidak terbuang pada tempatnya.


"Untung aku yang dateng? Kalau manager hotel ini bagaimana? Aku tadi sempat kenalan. Masih muda juga ... awas, nanti Mas Dika cemburu."


"Awas apa! Lihat tuh bunga! Gara-gara bucket itu, aku habis oleh papanya anak-anak."


Kalandra makin geleng-geleng.


"Ya udah, aku tadi cuma mau lihat bentar. Andra balik dulu, ya."


Elvira mengangguk. Ia mengantar Kalandra sampai ke lobby. Setelah Andra pergi, Elvira berniat masuk lagi ke ruangan. Namun, tidak sengaja berpapasan dengan beberapa Tim management hotel. Alhasil, mereka pun bernincang bersama.


Saat Elvira mulai menekuni dunia barunya. Ada manusia bucin nan possessive yang sedang galak-galaknya.


***


"Pakai ini aja, Jean!"


Malam-malam Rayyan sudah mode galak. Ngomel-ngomel tidak jelas. Bagaimana tidak marah, saat akan menghadiri sebuah pesta pernikahan rekan bisnisnya. Bisa-bisanya Jean mau pakai high heels.


"Aku nggak suka ini." Jean mendorong sepatu flat yang diletakkan di kakinya oleh Rayyan.


Rayyan berkacak pinggang, ditatapnya sepatu dengan hak tinggi warna merah dengan hiasan glitter emas. Cantik sih, tapi sangat bahaya dikenakan saat istrinya itu sedang hamil.


"Ini cantik banget, Pi!"



Jean tidak tahu, kenapa begitu suka dengan benda itu. Mungkin Jean hamil anak perempuan, karena ia jadi sangat suka pernak-pernik manis berbau wanita.


"Nggak ada .. tidak bisa!"


"Bajuku juga udah matching sama sepatunya!" rengek Jean.


Rayyan sampai berkerut. Sejak kapan Jean istrinya itu jadi sangat feminim? Biasanya juga tidak peduli sama hal-hal seperti ini. Seperti masa bodohhh.


"Kita gak usah pergi kalau kamu aneh-aneh. Ingat, accident di summer camp? Aku gak akan lenggah lagi. Biar kamu bilang aku galak. Asal anak kita nggak kenapa-kenapa."


Jean langsung masam. Sedangkan Rayyan, ia berjalan menuju lemari sepatu. Matanya tertuju pada warna sepatu yang sama. Cukup cantik, cocok juga dipakai keluar.


"Ayo sini ... berikan kakimu!" Rayyan berjongkok, kemudian berlutut. Ia pasang sepatu merah pada istri kesayangannya itu. Sudah mirip Cinderella masa kini. Dan perlahan Jean mengulurkan sebelah kakinya.



"Coba pakai berjalan? Ini jauh lebih nyaman dari yang itu!" tatapan Rayyan menunjuk pada high heels yang sebelumnya Jean sukai.


"Apa ini bagus aku pakai?"


"Bagus! Bagus banget ... warnanya sama kan sama gaunmu?"


"Tapi, aku merasa cantik kalau pakai yang itu!" Jean jatuh cinta pada heels merah tersebut. Matanya seolah sudah tersihir.


"Kamu cantik ... pakai itu apa tidak kamu selalu paling cantik. Apalagi kalau gak pakai apapun .... tambah cantik!"


BUGH


"Aduhhhh!"


Rayyan meringis, pukulan Jean barusan cukup membuatnya merasa nyeri untuk sesaat.


"Sakit sayang!" Rayyan langsung memeluk istrinya gemas.


"Makanya kalau bicara direm, nanti kalau Azzam dengar bagaimana?"


"Iya ... iya ... jangan galak-galak. Nanti cantiknya ilang."


Jean langsung menyikut suaminya. Namun, gerak reflect Rayyan sudah cukup bagus. Membuatnya bisa menghindar sebelum Jean kembali main fisik.


"Aduh ... anak Papi sepertinya galak abis ini!" goda Rayyan.


Jean pun hanya tersenyum, kemudian meminta Rayyan untuk menyiapkan kendaraan. Nanti keburu malam.


***


D'LUNA HOTEL


Rayyan memegangi lengan Jean yang melingkar di lengannya. Keduanya memasuki ballroom yang cukup megah. Hiasan bunga-bunga, lampu kelap-kelip, dan banyak decorasi yang nampak begitu cantik.


"Pestanya cukup besar, ya?" bisik Jean sambil terus melangkah bersama Rayyan.


Matanya memindai seluruh ruangan, banyak tamu penting di sana.


"Salah satu pengusaha batu bara yang sukses, Jean!" ucap Rayyan sambil berbisik pula.


"Oh ... pantes."


Keduanya lalu menemui tuan rumah, disambut dengan hangat. Berbincang seperti pada umumnya.


"Terima kasih sudah datang Pak Ray dan Nyonya Rayyan."


Jean tersenyum sambil mengangguk. Begitu juga dengan Rayyan.


"Tunggu sebentar, saya kenalkan dengan istri saya."


Rayyan mengeryitkan dahi, setahu Rayyan istri rekan bisnisnya ini meninggal tahun lalu. Bahkan ia juga menghadiri acara pemakaman.


[Apa dia menikah lagi?]


"Perkenalkan, ini istri saya."


Sosok bergaun hitam nan seksiiiiee itu pun sama terkejutnya dengan Rayyan dan Jeandana. Bersambung.


Siapa istrinya?


Heheheh



Ig : Sept_September2020