Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Enemy


Suami Satu Malam 50


Oleh Sept


Rate 18 +


Jeandana meletakkan tubuh Elvira di atas sofa biru tua di dalam ruang rahasia. Ia terpaksa membuat Elvira pingsan demi keamanan wanita tersebut. Elvira terlalu berisik dan sulit diatur jika masih dalam keadaan sadar, dan itu sangat beresiko untuk keselamatannya.


Kini, setelah memastikan Elvira aman, Jean langsung bergegas ke sudut ruangan. Di sana ia membuka sebuah lemari besi. Ia mengeluarkan seperangkat alat khusus yang diambil dari dalam lemari tersebut. Jean pun mulai menyalakan alat-alat itu satu persatu, kemudian menyambungkannya, tak beberapa lama muncul sosok di depan layar laptop yang ia nyalakan barusan.


"J! Amankan Nona," ucap pria dengan topi hitam yang duduk di depan laptop juga. Wajahnya tidak terekspose sempurna, karena masker hitam dan topi yang ia kenakan.


Dia adalah Rogers, tim khusus IT. Pria muda yang berbakat dan sama misteriusnya dengan Radika. Beberapa tahun silam, Radika sudah merekrut pria 28 tahun itu ketikan mereka bertemu di Nizhny Novgorod. Keduanya terlibat dalam sebuah aksi pengejaran. Dipertemukan oleh nasib, R pun akhirnya menjadi orang kepercayaan Radika.


"Jean! Kau dengar aku?" tanya Roger ketika gambar mulai putus-putus. Sepertinya ada yang sengaja mengacak sinyal. Hingga komunikasi di mansion itu terganggu.


Jeandana hanya mengangguk pelan, kemudian melirik ke arah sofa sambil berbicara dalam hati.


"Hampir saja!" batin perempuan tersebut. Kalau tidak dibuat pingsan, mereka mungkin segera tertangkap.


"Jean!! Seperti perintah tuan. Tetap rahasiakan semua dari Nona." Roger yang hanya terlihat dari sorot matanya yang tajam itu, kembali mengeluarkan perintah berantai. Dan Jeandana langsung mengangguk, seolah mengerti tujuan ia ditempatkan di mansion tersebut.


Nyatanya, Jeandana bukan ditugaskan untuk melindungi Elvira saja. Ia juga punya misi khusus lain, yang tentunya harus dirahasiakan dari Elvira.


"Baik!" ujar Jeandana tegas.


"Tunggu sampai kami hubungan kembali!" ucap Roger kemudian layar menghitam sepenuhnya.


Jeandana menghela napas panjang, lalu mematikan laptop dan melipatnya kembali, ia kemudian pergi ke luar untuk memeriksa keadaan. Hanya ingin melihat dari balik pintu tepatnya, karena ia tidak mungkin jauh dari Elvira. Keselamatan Elvira adalah tanggung jawab bodyguard cantik tersebut.


Lewat lubang khusus, suasana masih mencekam. Belum terdengar suara apapun. Ingin memastikan lagi, Jeandana melihat rekaman CCTV yang tersambung pada ponsel pintar miliknya.


Di halaman belakang semua terlihat sepi, hanya saja beauceron terlihat resah. Binatang penjaga itu terus saja berjalan maju dan mengendus semak.


DUARRRR


Ini adalah beauceron ke lima yang mati di tahun ini. Hewan pelindung itu harus hancur bersama bommm yang diletakkan dalam semak. Meski berkekuatan rendah, Hal itu cukup menghancurkan dinding tinggi yang ada di sebelahnya. Terlihat juga dari rekaman, para penjaga langsung bersiap dengan senjataa mereka.


Jeandana mendesis, kemudian menghubungi Richard.


***


Srebrenica


Di sebuah gedung tua, Radika masih tidak sadarkan diri dengan tangan terikat dan terduduk di kursi. Wajahnya dipenuhi darah yang sudah mengering, pelipisnya terluka. Ujung bibirnya juga sudah robek. Sepertinya, pria itu habis disiksa secara fisik secara berlebihan.


Seperti kucing yang memiliki sembilan nyawa, setiap dalam pengejaran, Radika selalu bisa lolos. Namun, tidak sekarang. Di sini, ini adalah kota kekuasaanya. Di mana tiap sudut kota merupakan wilayahnya.


Morgan, Morgan Stanly adalah nama pria yang kini sedang menatap Radika lekat-lekat. Bos besar itu merasa dendamnya belum terbayar sebelum bisa menghancurkan Radika sampai menjadi abu. Ada rasa dendam yang kuat setelah kematian sang adik. Baginya, Radika adalah alasan satu-satunya sang adik terjun dari sebuah kapal pesiar di hari istimewanya.


*** Seperti kisah Alexa dan Austin dalam novel "Wanita Pilihan CEO 2 ***


BYURRR


Salah satu bodyguard Morgan menyiram air ke tubuh Radika yang masih pingsan tersebut. Seketika Radika membuka mata, meskipun bengkak, ia masih sempat melotot tajam penuh amarah pada Morgan.


"Bagaimana rasanya? Tunggu sebentar lagi ... Aku sudah mengirim hadia besar pada wanitamu!"


Mata Radika langsung mau meloncat keluar dari tempatmu. Ia sangat marah bila Morgan berani menyentuh istrinya.


"Berani kau sentuh istriku, akan kuhabisi kau!" salak Radika penuh amarah yang membara. Matanya memerah, selain karena luka juga karena kemarahan yang sudah membuncah.


"Ckckckck! Akan kubuat kau merasakan apa yang aku rasakan!" ancam Morgan tanpa takut.


"Atau kujual dia? Bagaimana menurutmu?" pancing Morgan.


Pria itu seperti menyiram bensin pada api yang berkobar. Jelas saja ucapan Morgan membuat Radika langsung murka.


BRUKKKK


Radika berdiri, dengan kursi yang masih terikat di tubuhnya. Seperti banteng yang mengamuk. Ia menyeruduk Morgan cukup cepat hingga Morgan belum siap, dan keduanya terjungkal membentur dinding dan rak besar di sekitarnya.


"Tembakkk dia!" titah Morgan marah. Ia langsung berdiri sedangkan Radika masih tersungkur karena terikat di kursi.


DOR


Bersambung



Yuk gabung sama Sept


Ig : Sept_September2020


Fb : Sept September


Sehat terus untuk semuanya ya.... terlopeeee!