Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Air Dan Api


Suami Satu Malam 46


Oleh Sept


Rate 18 +


Hati Radika terlanjur memanas, bayang-bayang wajah Rayyan kembali muncul memenuhi pelupuk mata. Seolah-olah adiknya itu sedang meledek. Terlalu emosional, Radika semakin menambah kecepatan laju kendaraan yang ia kemudikan, hingga akhirnya kejadian buruk menimpa mereka di tengah-tengah jalan besar di pusat kota tidak bisa terhindarkan.


BRUAKKK


Bagian depan mobil yang dikendarai oleh pria pencemburu itu mengenai sesuatu. Terhantam cukup keras, hingga tangannya reflect menahan perut Elvira.


Masih dalam rasa keterkejutan, tiba-tiba pintu mobil mereka diketuk cukup keras dari luar. Seorang pria, yang sepertinya seorang sopir dari mobil yang mereka tabrak datang.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya pria berseragam hitam-hitam tersebut, lengkap dengan earphones yang terpasang di telingannya.


"It's okay!" jawab Radika. Namun, matanya masih tertuju pada sosok wanita yang shock di sampingnya.


Jantung Elvira hampir copot, matanya masih menatap kosong ke depan. Ia dapat melihat bagian depan mobil mereka mengeluarkan asap.


Masih untuk mereka tidak dimaki oleh orang yang mereka tabrak, sang sopir justru turun duluan dan menanyakan keadaan mobil di belakangnya. Memeriksa, apa ada luka serius?


"Sepertinya Tuan harus ke rumah sakit," seru sopir pribadi tersebut ketika melihat dahi Radika yang terluka.


Elvira baru tersadar, ia kemudian menatap wajah suaminya. Entah mengenai apa tadi, karena kejadian sangat cepat, wanita itu tidak bisa mengingatnya.


"Mas!" pekik Elvira. Tangannya hendak menyentuh dahi suaminya. Tapi, Radika mundur, pria itu menarik wajahnya.


"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa."


"Mari, ikut dengan mobil kami. Mobil kalian seperti ringsek di bagian depan. Sangat beresiko jika digunakan. Kami akan antar kalian ke rumah sakit," saran sopir pribadi tersebut.


"Tidak! Terima kasih. Dan maaf untuk accident ini. Saya akan ganti rugi."


Radika masih saja bersikap dingin, padahal darah semakin lama, semakin banyak menetes dari dahinya, tetesan itu jatuh sampai ke pipi. Hal itu membuat Elvira langsung melepas seatbelt miliknya.


"Ayo ke rumah sakit! Jean ... tolong kamu urus mobil ini. Kami akan ke rumah sakit sekarang!" titah Elvira tegas dan tidak mau dibantah.


Jeandana langsung mengangguk mengerti ketika mendengar perintah istri bos. Sedangkan Radika, pria itu masih betah memasang wajah yang mengeras.


"Aku bilang tidak usah!"


Tapi kata-kata Radika sudah tidak berlaku, karena Elvira sudah keluar dari mobil. Istrinya itu berjalan memutari mobil, dan langsung menarik tangan Radika.


"Mari, Nona!" seru sopir berbaju hitam tersebut.


Di dalam mobil, seorang pria sejak tadi menunggu. Sosok itu kini terlihat sedang menelpon seseorang sambil menunggu sang sopir memeriksa penabrak mobil mereka. Pria itu menghubungi keluarganya dahulu. Ia yakin, mobilnya tidak terlalu ringsek parah. Itu karena mobil miliknya setara dengan kekuatan tank. Mobil khusus yang ia pesan dari koleganya di Rusia.


"Kok belum sampai?" tanya wanita di seberang telpon.


"Ada accident kecil."


"Mas nggak apa-apa?"


"Tidak, jangan khawatir. Ya sudah, tidurlah lagi. Sudah sangat larut."


"Benarkah tidak apa-apa?" Moza mengeryitkan dahi.


Padahal ia sudah menunggu sejak tadi, Naga baru saja tiba dari perjalanan bisnis. Dan harusnya sudah sampai rumah. Tapi, karena kecelakaan kecil, membuat pria itu belum bisa pulang menemui anak istrinya.


"Sudah ya, cepat tidurlah. Sepertinya kami harus mengantar mereka ke rumah sakit," ucap Sinaga ketika melihat sang sopir datang bersama Radika dan istrinya.


"Tunggu ... beneran kamu nggak apa-apa, Mas?" desak Moza curiga.


Cekrek


Naga langsung selfi, pria itu kemudian mengirim gambar terkini agar istrinya tenang dan percaya.


"Oh! Ya sudah. Hati-hati, kami menunggu di rumah."


"Hemm!"


Tut Tut Tut


Naga melipat ponsel model kekinian tersebut, menyimpannya dalam saku jas. Kemudian turun dari mobil. Pria itu lantas mempersilahkan Radika dan Elvira duduk di kursi belakang, sedangkan dirinya pindah ke kursi depan.


"Terima kasih!" ucap Elvira tulus saat mereka mau mengantar suaminya ke rumah sakit. Sementara itu, Radika masih saja menunjukan wajah dingin.


Naga hanya mengangguk ketika sudah duduk di sebelah kemudi. Sepanjang perjalanan, semua diam. Tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.


Ketika sampai rumah sakit, barulah Naga menyapa.


Sambil dipasang perban, Radika melirik sedikit. Sejak tadi ia fokus pada rasa amarahnya. Hingga tidak memperhatikan siapa yang ia tabrak dan siapa pula yang mengantar mereka ke rumah sakit.


Dia adalah pewaris dan pemilik Sanrio Group, suami dari Moza. Seorang pengusaha sukses yang namanya tidak asing lagi di telinga. Wajahnya sering muncul dalam majalah bisnis. Karena merupakan sosok pengusaha yang bukan kaleng-kaleng.


"Maaf bila salah orang, tapi saya rasa beberapa tahun yang lalu ... cukup lama, tapi saya ingat betul. Kita pernah bertemu di Macau, satu hotel juga, anda datang bersama Tuan Marco?"


"Sepertinya begitu," jawab Radika dingin.


Naga mengeryitkan dahi lagi, sepertinya sosok di depannya itu sama sekali tidak ramah.


"Sudah, Tuan," ucap suster dan Radika langsung berdiri.


"Terima kasih, nanti kerusakan mobil kalian akan saya ganti!" ujar Radika sambil menarik lengan Elvira. Mereka meninggalkan Naga yang bengong.


"Terima kasih banyak!" ucap Elvira sambil menoleh. Karena Radika tidak membiarkan ia mengucap terima kasih pada pria tersebut dengan benar.


[Ada manusia sedingin es seperti itu]


[Semoga hati wanita itu tidak beku]


[Astaga! Mengapa aku malah membahas orang?]


"Mari, Tuan!"


Naga langsung tersdar dari lamunan, pria itu kemudian mengikuti sang sopir untuk pulang.


(Siapa Sinaga dan Moza? Yang pernah baca "Istri Gelap Presdir" pasti paham)


***


Di dalam sebuah taksi, Radika masih mengunci rapat mulutnya. Hingga mereka tiba di mansion, Radika langsung masuk ke dalam kamar tanpa bertegur sapa.


Mungkin lelah hati, lelah badan, dan lelah pikiran, tidak butuh lama pria itu tertidur. Mungkin juga efek obat yang ia minum beberapa saat lalu.


Sedangkan Elvira, melihat suaminya yang tertidur sambil marah padanya, ia hanya mampu menatap wajah pria yang sudah terlelap tersebut. Mengusap wajahnya lembut.


[Sampai kapan kamu akan marah begini?]


[Mas bahkan tidak mau bicara pada kami, padahal aku lihat Mas tadi begitu panik. Tangan Mas Radika spontan melindungi anak kita. Astaga! Betapa cemburuan sekali kamu, Mas!]


Karena juga merasa capek sekali, akhirnya Elvira pun tertidur.


Cuit ... Cicitcuit ... Cuit ... Cuit


Kelopak mata Radika bergerak-gerak, cuitan burung di atas pohon dekat jendela kamarnya, membuat pria itu perlahan membuka mata. Lengannya terasa keram, kemudian ia melihat ke samping. Dilihatnya Elvira menjadikan lengannya sebagai bantal.


Ya, istrinya itu tidur di sisinya sepanjang malam.


[Kalau begini, bagaimana aku bisa lama-lama marah padamu? Kamu curang! Aku kalah, kamu menang!]


Radika menarik pinggang Elvira, entah sudah bangun apa pura-pura tidur. Yang pasti wanita itu memeluk balik Radika dengan erat. Membuat ujung bibir pria itu tertarik ke atas. Menahan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.


"Jangan marah ... dadakuu sesak kalau Mas marah," ucap Elvira lirih.


Radika tertegun, rupanya istrinya sudah bangun.


"Aku hanya tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain, meski itu adikku. Kau tahu Vira? Hatiku jauh lebih sakit ketika kamu sengaja menyentuhnya di depanku!" ucap Radika dengan terus terang.


"Mas keterlaluan! Kalau dia sampai mati, bagaimana dengan nasib anak kita?"


Entah mengapa, jawaban Elvira membuat Radika semakin mendekap istrinya. Terasa lembut dan hangat.


"Maafkan aku ... Maafkan Mas. Rasa cemburu membuatku tidak bisa berpikir jernih. Yang ada dalam kepala, hanya ingin menghajarnya sampai habis."


"Ish! Pikirkan anak kita ...! Meski semarah apapun, jangan pernah lupa ... Ada dua janin kecil dalam perut ini. Milikmu ... cuma milikmu!"


"Mas tahu, untung Mas yang buka segel!"


Melihat suaminya yang sudah kembali seperti sedia kala, Elvira langsung menjaga jarak. Ia pun menarik diri, tapi terlambat. Harimau pemarah itu sudah mau menerkam.


Bersambung


Setiap masalah bisa dibicarakan baik-baik, bila dia sedang menjadi api, berusahalah menjadi air. Meski dari tanah, kita sebenarnya elastis. Bisa menjadi apa saja untuk pasangan kita. Jangan menjadi api, ketika dia sedang membara. Bila tidak, kalian akan sama-sama terbakar. Kemudian menjadi abu. (Sept Gaduh)


Lol