
Suami Satu Malam 61
Oleh Sept
Rate 18 +
"Silahkan diminum, Mas Dika!" Irene meletakkan beberapa gelas di atas meja. Sejak tadi ia mengamati Radika dari atas sampai bawah. Ia sepertinya tidak percaya dengan apa yang dilihat.
"Makasi, Ren."
Radika yang memang haus, langsung mengambil segelas orange juices buatan adik iparnya tersebut.
"Mora ... Sudah besar sekali," komentar Radika saat melihat Kimora sejak tadi menatapnya.
"Iya, sudah TK B," jawab Irene sembari mengelus rambut Kimora.
"Padahal dulu masih kecil sekali."
"Kan Mas Dika pergi lama sekali! Untung Vira nunggu gak sampai jamuran," potong Elvira yang gemas. Dan Radika hanya bisa tersenyum datar.
***
Menjelang sore hari, si kembar Zio dan Zia sudah terbangun. Sudah mandi sore, keduanya sedang asik bermain di kamar Kimora.
Sedangkan di ruang tamu, sudah ada Kalandra yang masih memakai baju kerjanya. Belum ganti karena sedang mengintrogasi kakak iparnya. Dan ada juga Tuan Pram dan mama Lina yang hampir kena serangan jantung.
Kedua orang tua Elvira shock, tapi sangat bersyukur. Karena ayah si kembar masih hidup. Lain sekali dengan respon Kalandra. Pria itu kini menatap tajam kakak iparnya.
"Sembunyi di mana selama ini? Hebat ya? Pura-pura mati! Puas nyakitin Mbak Vira?" sindir Kalandra yang baru pulang kerja. Belum lepas sepatu, belom cuci kaki juga. Pria itu langsung saja ngomel-ngomel. Mungkin ketempelan setan di jalan. Makanya, kalau dari luar sebaiknya cuci kaki dulu. Ambil wudhu, biar kepala adem.
Blukkkk
Elvira menonyor lengan adiknya cukup keras. Hingga mengeluarkan suara.
[Jangan jahat-jahat sama Radika, nanti pria itu hilang lagi. Mau mbak cari ke mana lagi?]
Elvira melotot tajam.
"Ish ... Mbak mudah banget menerima Mas Dika! Dia sudah ninggalin Mbak tanpa alasan yang jelas!" ujar Kalandra kesal.
Elvira membuang napas dengan berat, kemudian duduk menatap Radika. Eh, tangannya malah menyentuh kerah baju Radika. Perlahan turun, melepas semua kancing baju Radika satu persatu.
"Sayang! Jangan aneh-aneh, kamu mau Mas telanjanggg di depan mereka?" bisik Radika panik ketika Elvira terus saja membuka kancing bajunya.
Srakkkkk
Elvira lantas menyibak pakaian Radika, memperlihatkan semua bekas luka pada keluarganya.
"Dia menghilang bukan karena tanpa sebab. Seperti Vira yang bisa maafin Mas Dika, kalian juga harus sama. Karena bagaimana pun, Radika tetap suami Vira."
Settt
Tanpa melihat reaksi keluarganya, Elvira kembali memasang baju Radika. Ia memasang kancing demi kancing sembari merasa perih di mata.
"Siapa juga yang mau di posisi, Mbak? Punya suami harus pura-pura mati. Siapa yang mau? Lihat suami pulang dengan banyak luka di tubuhnya. Mbak juga nggak mau, punya suami yang memiliki musuh di mana-mana. Mbak juga mau hidup layaknya orang biasa. Tapi bagaimana lagi? Kalau itu bukan Mas Dika ... rasanya Mbak gak bisa!"
Elvira diam sebentar, menyusut hidung dan mengsuap bulir bening yang sudah berhasil menyeberangi pipi.
Melihat istrinya tersedu, Radika langsung merengkuh pinggang Elvira. Mendekapnya, sembari berbisik. "Maafin, Mas ... Mas tidak akan pergi lagi dari kalian."
Keduanya berpelukan, dan anggota keluarga lain hanya memperhatikan. Mama Lina ikut menangis, mengapa nasib anak kesayangannya itu jadi berliku dan sangat rumit?
Sedangkan tuan Pram, nampak berpikir, sejak tadi ia memegangi keningnya. Dan Kalandra, setelah melihat semua bukti nyata di tubuh Radika, ia pun jadi ikut berpikir. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Mengapa orang-orang ingin membunuhmuu?" tanya Andra saat mereka berdua sudah sedikit tenang dan dapat menguasai emosi masing-masing.
"Ceritanya panjang."
Elvira melirik suaminya, ia juga masih penasaran. Meski sudah dijelaskan. Tetap saja merasa janggal.
"Ceritakan, mungkin kami bisa membantu!" desak Andra.
***
Malam harinya, kedua pria itu duduk di teras kediaman keluarga Pramana. Kalandra dan Radika terlibat pembicaraan yang serius. Keduanya terlihat sedang mencari solusi untuk masalah Radika.
"Aku memiliki banyak jaringan, sebaiknya Mbak Elvira pindah dari kediaman yang sekarang. Sangat beresiko."
"Aku juga berpikir demikian," tukas Radika.
"Tapi, kita tidak bisa menganggap enteng. Sebab mereka pernah menyerang diam-diam ke mansion."
"Jangan khawatir, kami akan membantu. Bersama-sama akan lebih baik!"
"Terima kasih!"
"Kebahagian si kembar itu yang utama!"
Sepertinya, bertambahnya tahun membuat Kalandra makin dewasa. Pria itu tidak mengebu-ngebu seperti sebelumnya. Kini sedikit tenang dan bijaksan.
***
Di tempat lain.
Di sebuah markas besar, terletak di ruang bawah tanah. Padahal di atas tanah itu ada bangunan yang sama sekali tidak mencolok. Sebuah kantor agen property. Tapi itu hanya kamuflase. Karena tempat itu adalah tempat rahasia milik Radika Dirgantara.
Jeandana sedang duduk di atas kursi, dan sebuah mata mengamati Jean dengan galak.
"Ayolah Jean! Professional! Jangan libatkan masalah pribadi!"
Richard mendesis, mereka berdua adalah orang kepercayaan Radika. Keduanya sama-sama tahu baik dan busuknyaa masing-masing. Rupanya Richard juga tahu, bila selama ini Jean diam-diam suka pada bos mereka.
"Jangan pernah perlihatkan perasaanmu! Bila tidak bisa, ini bisa mengenai kepalamu!" Richard melirik ke atas meja, ia sedang memberi peringatan pada Jendana.
"Brengsekkk!" Jendana kesal. Wanita itu kemudian keluar dari ruang tersembunyi tersebut.
Jeandana masuk ke salah satu bilik, lalu membuka sebuah tas warna coklat tua, wanita itu kemudian ganti costume. Jean yang biasanya terlihat sangat rapi, terkesan dines dan tidak pernah berpakain santai selama ini. Kini menjelma jadi wanita elegant dengan dress di atas lutut. Menawan dan terkesan glamour karena ditunjang tas merek GUSSI yang mahal dan terbatas tersebut.
***
RED BOX HOUSE
Jendana duduk di depan bartender, matanya terlihat kosong menatap segelas wineee yang masih utuh.
Drettt Drett
Jean melirik layar ponselnya, dilihatnya pesan dari Richard.
[Apa yang kau lakukan di situ?]
Jean langsung menoleh, ia melotot saat pria itu langsung duduk di dekatnya.
"Aku menasehatimu sebagai rekan kerja, kenapa kau tambah marah?"
"Plisssss! Kali ini jangan ikut campur!"
"Astaga! Jean! Ingat misi awal kita!"
"Cukup Ric!"
Richard membuang napas panjang. Kemudian memesan minuman juga.
"Lihat pakaianmu? Kau hanya memancing para buaya!"
"Apa pedulimu! Ini di luar jam kerja. Aku cuti hari ini. Jadi anggap kita tidak kenal!" ketus Jendana.
Richard terkekeh.
Keduanya pun akhirnya minum sampai puas, lebih tempat hanya Richard yang telerr. Sedangkan Jendana ia masih sadar. Sebab ia sangat tolerant dengan minuman. Dia benar-benar wanita tangguh.
Setelah pulang mengantar Richard ke markas, Jendana yang sedang patah hati tersebut memilih jalan-jalan tengah malam. Mobilnya berhenti tepat di tengah-tengah jembatan.
Jean berdiri di atas jembatan sambil melihat ke bawah. Dilihatnya air yang mengalir dengan deras. Sepertinya, bila ia terjun, pasti cepat mati.
Tidak jauh dari sana, terlihat seorang pria yang juga memarkir mobilnya di belakang mobil yang semula Jendana bawa.
"Kenapa mobil Vira di sini?" pria itu kemudian turun dan memastikan.
[Elvira kurasa tidak setinggi itu?]
[Lalu mengapa dia membawa mobil Vira?]
BYURRR
Pria itu langsung terbelalak. Bersambung.
Buat mereka yang sedang patah hati, cinta datang dan pergi. Hilang satu, muncul cinta baru ... hanya karena patah hati bukan berarti kamu harus mati.
Fb : Sept September
IG : Sept_September2020
Mengandung Iklan wkwkwk