
Suami Satu Malam Bagian 45
Oleh Sept
Rate 18 +
Elvira memutar tubuhnya dengan sekali gerakan, baginya sangat mudah lepas dari jeratan sosok yang tidak asing tersebut. Hanya saja, pria mabuk itu sepertinya sudah kehilangan kendali. Saat Elvira menatapnya dengan sorot tajam dan sangat marah, Rayyan malah langsung menyerangnya.
Pria gila itu dengan cepat merampas bibir Elvira dengan cara brutall. Rayyan dengan paksa menciium wanita itu tanpa ijin. Membuat Elvira terbelalak dan langsung menampar pipi Rayyan, mantan suaminya tersebut.
PLAKKK
"Kamu sudah gila, Ray!" sentak Elvira dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka, mendapat perlakuan kurang ajar dari pria yang kini menjadi iparnya itu.
Suasana hening untuk sesaat, Rayyan masih tertunduk karena tamparan Elvira. Satu tamparan saja sepertinya membuatnya langsung tersadar dari aksi gilanya.
[Aku rasa, aku memang sudah gila]
"Maaf," ucap Rayyan kemudian.
"Aku nggak percaya kamu bisa lakuin hal sekeji ini! Aku ini istri kakakmu!" maki Elvira dengan penuh penekanan. Tangannya mengepal di balik piring yang ia pegang. Menahan emosi yang tidak bisa ia tahan lagi. Sepertinya kalau tidak takut Radika tahu, Elvira akan meremukkan tulang-tulang pria tersebut.
"Aku sudah katakan maaf!" ucap Rayyan lirih.
"Maaf katamu? Kamu sudah melewati batas!" ujar Elvira marah.
"Oke! Aku salah! Harusnya aku tidak melepasmu!"
"Cukup! Dan lagi aku sedang hamil, jangan macan-macam. Bila tidak ..."
"Bila tidak ... apa?" potong Rayyan. "Dan ... Mudah sekali kamu berpaling? Aku tahu ... kamu dulu menyukaiku. Bukankah begitu? Cepat sekali kamu menyerahkan tubuhmu pada kakaku. Apa kamu sangat putus asa waktu itu?" sindir Rayyan. Ia mau memancing perasaan Elvira yang dulu. Sengaja ia ingin melukai Elvira lewat kata-kata. Karena entah mengapa ia tidak terima Elvira kini jadi iparnya. Dan kini malah hamil. Tanpa sadar, hatinya semakin terusik.
"Aku rasa kamu memang sudah tidak waras. Dan aku menyesal pernah menyukai pria sepertimu!" cetus Elvira.
Rayyan tersenyum getir, apa ia harus menelan ludahnya sendiri? Siallll! Sepertinya ia gagal move on. Alih-alih membuat Elvira terpancing, malah ia yang kini dibuat Gegana (Gelisah, Galau, dan Merana) oleh perasaannya sendiri.
"Baiklah! Oke ... sepertinya aku memang sudah tidak waras. Jadi ... hati-hatilah! Aku peringatan, sebab kamu tidak bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh pria kurang waras ini!" ucap Rayyan dengan nada ancaman yang terselubung.
"Coba saja! Aku terlalu lunak selama ini. Jika berani sekali lagi menyentuhku ... aku tidak segan-segan menghajarmu. Hanya karena kamu adik Mas Dika, bukan berarti aku takut!"
"Sepertinya setelah penusukan itu, kamu tidak takut apapun," ucap Rayyan dengan tatapan nanar. Mungkin ia masih mengiba, berharap Elvira mau membuka hati untuknya.
Elvira menggeleng, "Luka itu bisa sembuh dengan cepat, tapi tidak dengan apa yang kamu lakukan malam itu!" ujar wanita tersebut dengan sinis.
[Mengapa dia masih sangat marah? Apa ini artinya Vira masih menyimpan rasa untukku?]
[Apa Mas Dika tidak bisa menghapus luka yang aku gores pada hatinya?]
[Apa masih ada namaku dalam hatimu, Elvira Sahira?]
Rayyan perlahan melangkah, tangannya terangkat, sepertinya ingin menyentuh wajah Elvira. Namun, wanita itu membuang muka.
"Singkirkan tanganmu!" sebuah suara membuat keduanya terhenyak.
Keduanya menoleh, menatap sosok pria yang tiba-tiba hadir tidak jauh dari mereka. Elvira menelan ludah, sedangkan Rayyan, pria itu menghela napas dalam-dalam.
"Aku bisa jelaskan!"
BUGH
BUGH
BUGH
Radika menendang Rayyan sampai membentur meja. Pria itu tidak mau mendengar apapun.
"Mas!" pekik Elvira saat melihat suaminya gelap mata. Pria itu menghajar adiknya sendiri habis-habisan. Entah Radika mendengar sampai sejauh mana. Yang jelas, pria itu nampak sangat marah sekali terhadap Rayyan.
Elvira pun mencoba memegangi lengan suaminya. Namun, Radika menepisnya kasar.
"Brengsekkk kau!!!"
Bruakkkk
Kali ini Rayyan benar-benar sudah tak berbetuk. Hidungnya mengeluarkan darah, ditambah lagi sudut bibirnya yang robek. Radika seperti ketua geng yang menghajar anak buahnya yang ketahuan berhianat.
"Stop Mas Dika!" teriak Elvira. Hingga Jendana yang baru tidur langsung terbangun.
Melihat kehadiran Jean, Elvira langsung ganti menarik wanita itu.
"Pisahkan merekan, Jean! Bila tidak Rayyan akan mati!" ujar Elvira panik.
Seketika Jean memisahkan keduanya, hampir saja ia kena tendang Radika. Karena ia jago bela diri, Jean pun bisa menghindar.
"Berani kau, Jean!!!" Radika melotot tajam pada anak buahnya itu.
"Maaf, Tuan!"
Tidak ingin ada pembunuhann malam itu, Jean terpaksa memegangi tubuh tuannya. Kalau bukan perinta Elvira, ia juga tidak berani menyentuh tubuh pria tersebut.
Sementara itu, Elvira mencoba membangunkan Rayyan yang babak belur. Ia tidak mau Rayyan mati di tangan suaminya. Elvira menolong Rayyan karena kasihan, tapi Radika langsung mengepalkan tangan. Ia murka saat melihat Elvira menyentuh adiknya tersebut. Radika marah karena Elvira menolong Rayyan, persis seperti mimpinya dulu.
***
Setelah Elvira pergi mengantar Rayyan untuk menjauh dari Radika, demi menghindari amuk dan murka pria tersebut. Radika langsung bergegas ke kamar. Pria itu dengan gusar mengemasi semua barang. Malam ini juga mereka harus pergi dari rumah itu.
Mama Sarah dan suaminya sangat panik, mereka tidak menyangka ada tragedy berdarah di rumah malam ini. Setelah menelpon dokter, mama Sarah memegangi Radika. Dika yang marah, menarik koper dengan geram.
"Dika, ini pasti salah paham. Jangan pergi seperti ini!"
Radika sama sekali tidak menatap wajah sang mama. Ataupun Elvira. Ia langsung masuk dan duduk di kursi depan. Ia mengemudi mobilnya sendiri. Sedangkan sopir pribadinya masih tidur di kamar tamu.
Tidak butuh waktu lama, Elvira muncul bersama Jendana. Dua wanita itu langsung mendapat sorot tajam dari Radika. Sepertinya Radika tidak memaafkan kedua wanita tersebut.
KLEK
Elvira membuka pintu depan. Dan Radika sama sekali tidak menatapnya. Setelah ia menutup pintu, dan Jendana duduk di jok belakang, Radika langsung menyalakan mesin. Seperti kerasukan arwah pembalap, tengah malam pria itu melajukan mobil di atas kecepatan rata-rata.
Radika dengan rasa kecewa di hatinya melesat di atas aspal hitam. Tidak peduli pada nyawa yang ia bawa. Matanya tajam menatap kosong pada jalan di depannya.
Dan Bruakkkk
Bersambung
Nek nyetir ojo karo emosi yo... Verry Bahaya!
Yuk, di vote ... hehehhe ... matur suwun.
Selamat malam, selamat istirahat.
*Cemburu membuat logika tak jalan. Pandai menjadi bodohhh ....