Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Cemburu Buta


Suami Satu Malam 97


Oleh Sept


Rate 18 +


"Riss ..."


Rayyan terkejut karena bertemu dengan mantan istrinya tersebut. Apalagi kondisi Eriska sangat berbeda. Wanita itu lebih kurus dan sepertinya dalam keadaan tertekan. Rayyan hampir saja tidak mengenalinya.


[Kenapa dia ada di rumah sakit? Siapa yang sakit?]


Belum sempat bertanya, Eriska langsung meminta maaf karena hampir menabrak, wanita itu pun mempercepat langkah kakinya. Ia kelihatan sangat buru-buru sekali.


[Ada apa dengannya?]


Rayyan tak sadar, sejak tadi Jeandana melirik tajam lewat ekor matanya.


"Ngelihatnya biasa aja!" celetuk Jean. Wanita itu sepertinya kesal.


Jean tahu betul siapa sosok yang hampir menabrak dirinya tadi. Perempuan itu adalah mantan istri suaminya. Jengkel, Jean memilih berjalan mendahului Rayyan.


"Jean!!! Ish ... Jean!"


Rayyan mendesis, ia pun bergegas menyusul Jeandana yang berjalan dengan cepat tersebut.


"Tunggu!" Rayyan meraih lengan istrinya. Namun, Jean langsung menepisnya.


"Nggak usah pegang-pegang!" sentak Jean yang kala itu tiba-tiba hatinya terasa panas. Mendadak ia jadi sebal menatap suaminya.


"Jean! Kamu kenapa? Jangan bilang kamu marah karena cemburu pada Eriska."


"Aku??? Cemburu? Hello!" Jean langsung melipat tangan di dadaa. Dengan memasang muka jealous. Tapi, ia bersikeras tidak cemburu.


"Astaga ... anak Papi ... jangan mikir macan-macam, Ya ... bilang sama Mami ...!" Rayyan sedikit membungkuk, diusapnyaa perut Jeandana yang sudah seperti badut tersebut.


"Aku nggak suka ya kamu lihat-lihat cewe lain! Aku hamil!"


"Iya .... aku tahu kamu hamil. Kan yang buat kamu hamil ... aku. Dan lagi sayangkuuu, aku nggak lirik-lirik cewek lain. Kan kita ketemunya nggak sengaja?" Rayyan mencoba membela diri.


"Tetep saja! Kamu pikir aku gak melihat bagaimana kamu terkesima melihatnya?"


"Astaga!"


"Kenapa? Apa dia tambah cantik? Langsing? Oke aku sekarang genduttt, jadi kamu mulai lirik-lirik wanita lain!!! Fine! Nanti kamu tidur di ruang tamu!" cerocos Jeandana tanpa jeda.


"Ngapain aku di ruang tamu? Nanti kalau kamu nggak bisa tidur bagaimana? Nanti yang mijitin kaki kamu siapa? Nanti yang elus-elus punggung kamu siapa? Nanti yang ... emmm!" Rayyan tiba-tiba tersenyum malu.


Astaga, hal itu malah membuat Jeandana semakin dongkol dibuatnya. Dengan sebal, Jean menghentak kaki karena kesal sekali pada suaminya itu. Melihat Rayyan, rasanya langsung gedek. Bawaannya ingin marah-marah saja.


"Udah dong ... katanya mau lihat baby Naomi. Nanti babynya sawan kalau tantenya marah-marah begini."


Sebal, jean langsung saja kembali meninggalkan Rayyan. Ia memilih ke kamar Elvira seorang diri. Meninggalkan Rayyan jauh di belakang.


[Kalau cemburu gini, makin manis]


Rayyan berjalan pelan, sambil menikmati kecemburuan Jena yang membuat senyumnya merekah.


***


KLEK


"Jean!" sapa mama Sarah ketika melihat Jean membuka pintu.


"Sendiri? Rayyan mana?" tambah mama Sarah, ia penasaran kok Jean datang seorang diri.


"Iya ... mana Rayyan? Kalau hamil jangan pergi-pergi sendirian!" ujar Radika.


"Ada kok," jawab Jean canggung, ia kemudian menoleh ke belakang. Dilihatnya Rayyan sudah menyusul masuk ke dalam.


"Nunggu aku ya?" tanya Rayyan GR.


Jean hanya bisa menahan napas kesal, keduanya pun berakting seolah sedang tidak bertengkar.


***


Sudah beberapa jam berlalu, Jean pun pamit pulang. Jika tadi di dalam ruang Elvira mereka terlihat kompak, begitu keluar kamar, Jean kembali dingin.


Ia berjalan mendahului Rayyan, dan masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan pun dia tidak mau bicara. Sampai Rayyan bicara sendiri.


"Mau makan di luar?"


Jean hanya diam. Malah fokus menatap keluar jendela mobil yang dibuka.


"Tutup dong ... anginnya kenceng."


Jean melirik. Rayyan langsung diam.


"Oke ... terserah, sayangkuuu mau apa. Papi nurut."


Jean masih manyun, ia ngambek pada suaminya gara-gara mereka tadi tidak sengaja ketemu mantan istri Rayyan. Ditambah lagi ponsel Rayyan berdering.


Rayyan melihat sekilas, kemudian memasukkan ponselnya dalam saku baju.


"Kenapa gak dijawab?" Jean curiga.


"Oh ... nanti aja!" Rayyan sudah mulai gelisah.


[Ngapain kamu telpon? Mari aku]


"Coba hapenya sini ... pinjem!" pinta Jean yang memiliki insting sangat tajam.


"Eh, sayang. Kita mampir ke supermarket ya, di depan sana. Aku mau cari sesuatu." Rayyan mencoba mengalihkan perhatian.


"Coba sini Hapenya!" Jean sudah memasang muka garang.


Sambil memejamkan mata dan mendesis kesal,. Rayyan menyerahkan ponselnya.


"RAIII!"


Chittttt


[Sepertinya malam ini aku tidur di luar]



Jangan lupa follow Instagraam Sept ya hehhehe


Sept_September2020


Makasih noveltoon ... cangkirnya cantik. Hehehe