Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Mertua Dan Menantu


Suami Satu Malam 102


Oleh Sept


Rate 18 +


Mentari bersinar hangat menyentuh kulit lembut baby Azzam yang sedang dijemur sang mami di halaman rumah. Di sebelahnya ada Rayyan yang sibuk memakai payung. Bukan untuk dirinya sih, tapi untuk baby Azzam.


"Pi! Jauhin payungnnya ... ini Azzam nggak kenak matahari sama sekali!" Jean gemas pada suaminya. Azzam mau dijemur, tapi malah dipayungin. Cie ... sekarang manggilnya ganti papi!


"Kasian, sayang ... kepanasan nanti si Azzam!" protes Rayyan. Takut kulit lembut Azzam terbakar sinar matahari pagi yang hangat tersebut. Papi lebayyyyyyy.


Rayyan kini menjadi super over protective. Tidak suka melihat babynya dijemur di bawah matahari terlalu lama, padahal juga baru lima menit. Dan padahal juga nggak panas-panas banget. Dasar Rayyan saja yang kelewat khawatir pada buah hatinya itu. Anak pertama, Rayyan terlihat begitu sangat menjaga putra pertamanya itu. Bahkan kalau sampai ada serangga, akan ia kejar sampai mati.


"Ray! Kamu itu jangan ganggu Jean saja!"


Pak Perwira datang mendekat, ia belum pulang. Rencananya mau menginap sampai seminggu katanya.


"Azzam kepanasan, Pa!" jawab Rayyan ngeles.


"Papa juga pernah punya anak. Lihat itu Jean! Kuat kan dia sekarang? Itu karena Papa yang mendidiknya dengan cara Papa. Dan lagi, matahari tidak akan membahayakan cucu kesayangan Papa ini, sana ... taruh payungnnya ke sana."


Rayyan membuang payung dengan berat, "Anankku ... jangan seperti kakek dan mami, ya. Mereka terlalu keras!" batin Rayyan.


"Jadi kamu tidak usah khawatir, biar Azzam besok tumbuh jadi laki-laki kuat. Harus dimuali dari kecil. Bagaimana Jean? Papa kok mau dia nanti jadi laki-laki yang hebat dengan banyak bintang-bintang di seragamnya!" ujar Pak Perwira yang ingin cucunya ikut jejak mereka. Dididik secara militer.


Rayyan langsung menekuk wajah.


[Enak saja! Nggak bisa. Bisa bahaya anakku kalian ajak main senjata dari balita]


[Jean! Katakan tidak Jean!]


Rayyan terus mengerutu. Tapi Jean lebih santai menangapi keinginan sang papa.


"Jadi apa saja boleh, Pa. Iya kan, Pi?" Jean melirik suaminya. Dilihatnya wajah Rayyan yang memang terlihat masam.


Rayyan langsung semangat kembali, sepertinya Jean kali ini memiliki jalan yang sama dengannya.


"Apa saja boleh, Pa. Asal jangan terjun ke militer." Rayyan bicara dengan percaya diri.


Dan dibalas dengan tatapan tak enak dari sang mertua. Sedangkan Jean, ia tidak bisa menahan senyumnya. Suami dan papanya memang selalu memiliki pendapat yang silang. Tidak pernah selaras dan sejalan.


***


Sudah seminggu berlalu, waktunya Pak Perwira pulang ke rumahnya. Dan Rayyan sangat senang, kalau ada mertuanya itu ia sering dibuat kesal. Ada aja yang membuatnya harus menahan napas karena tidak pernah sama dengan pilihan sang mertua.


"Rayyan antar ya, Pa?" Rayyan basa-basi. Padahal sudah ada ajudan sang papa yang siap siaga.


"Tidak usah, sudah kamu masuk. Terima kasih dan maaf kalau Papa merepotkan kalian!" Pak Perwira menepuk pundak Rayyan.


"Jangan bilang gitu, kalau Papa kangen Azzam, Papa nginep lagi aja. Iya kan, Pi ... apa Papa ikut tinggal di sini?"


[Aduh]


Rayyan tepok jidat kalau Jean menawarai sang papa tinggal bersama. Bisa-bisa rumah bakal berubah menjadi medan perang bagi dua pria yang mencintai wanita yang sama tersebut.


"Iya kan, Pi .... nggak apa-apa tinggal sama Kita?" Jean memasang muka imut.


[ASTAGA wanita ini? Sejak kapan jadi manis begini?]


Jean makin lama makin mirip wanita, begitu juga dengan baju-bajunya. Jean sekarang hobby belanja online baju-baju yang sangat manis.


Rayyan sih maunya diajak ke boutique. Tapi wanita itu menolak. Lebih suka beli dress dan sejenisnya lewat online dari pada diajak jalan-jalan. Dia bilang malas keluar.


Tuh, sekarang lagi pakai dress bunga-bunga selutut. Ya ampun ... manis banget. Membuat Rayyan pingin gigit. Sayang, harus sabar karena rupanya 40 hari itu lama sekali.


Apalagi Jean itu semangat memberikan ASI exclusive. Jadi bisa dibayangkan, wadah ASI Jean semakin membuat kepala Rayyan traveling.


"Pi ... Papiiii!" sentak Jean yang melihat suaminya malah melamun.


"EH ... Iya, Papa tinggal di sini malah Rayyan seneng. Biar rame rumahnya!" ucap Rayyan bohong.


"Terima kasih tawaran kalian, Papa lebih nyaman di rumah Papa sendiri. Kalian masuk saja, Ray ... titip mereka."


"Siap Ndral!"


Bukkkkkk


Pak Perwira menepuk pundak Rayyan dengan keras. Mereka bertiga pun terkekeh.


"Dah ... Pa!" Jean melambai-lambai tangan saat mobil sang papa meninggalkan kediaman mereka.


Setelah Pak Perwira pergi, mereka masuk sama-sama.


"Sini, sayang. Biar aku gendong Azzam. Kamu makan dulu."


"Kok nyuruh makan terus. Aku sudah naik banyak ini!"


"Nggak apa-apa, tambas seksiiiiee kok!" goda Rayyan jahil.


Jean langsung melirik, dan Rayyan langsung saja mengecupp pipinya Jean yang kini tidak ada bedanya dengan bakpo isi kacang hijau.


"Ish ... ada Bibi tuh, nggak malu?" Mereka masuk rumah dan di sana ada Bibi yang sedang membereskan meja.


"Biiiikkk ... jangan ngintip ya!" teriak Rayyan dengan sengaja.


Bibi asisten di rumah itu jadi canggung sendiri, kerja di rumah Rayyan hanya membuat usus mereka kaku. Harus selalu menahan pemandangan bucin keduanya.


Oek ... Oek ..


Eh Azzam nangis, sepertinya haus.


Jean pun masuk kamar, "Ngapain ikut? Aku mau kasih ASI!" desis Jean yang melihat Rayyan menyusul di belakang.


"Kasih aja! Aku gak minta. Cuma lihat!"


BUGH ...


Bantal langsung melayang. Hahhaha


Bersambung


Siapa suaminya seperti Rayyan? Wkwkwk