Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Aku Cemburu


Suami Satu Malam 86


Oleh Sept


Rate 18 +


"Ray! Aku lapar!" ucap Jean yang sudah terbaring lemas dengan lengan Rayyan sebagai bantalnya.


"Aku pesankan lagi, ya? Makanan itu pasti sudah dingin," bujuk Rayyan yang merasa tidak enak. Makan malam mereka mundur satu jam karena Rayyan mau makan menu yang lain dulu. Makan yang membuatnya mandi keringat tengah malam.


Dimainkannya rambut Jean yang terkulai dan agak berantakan.


"Nggak, itu aja. Nggak usah pesen lagi!"


Jean lalu beranjak, ada rasa perih saat turun ranjang.


[Kenapa selalu diakhiri rasa perih?]


Jean meringis, menikmati sensasi rasa sakit nan perih setelah pergulatan barusan. Seolah mengerti, Rayyan langsung saja membopong tubuh istrinya. Mengantarnya ke kamar mandi sebelum melanjutkan makan mereka.


"Jangan minta aneh-aneh lagi!" suara Jean lirih saat Rayyan membopongnya ke kamar mandi. Jean mungkin trauma, bila Rayyan mau mereplay kegiatan mereka di kamar mandi beberapa waktu lalu.


"Ishhh ... aku tidak sekejam itu!"


Setelah mengantar Jean, Rayyan kemudian menutup pintunya. Menunggu Jean di luar. Saat Jean sibuk membersihkan diri. Pria itu kembali menghubungi pihak layanan hotel.


Rayyan memesan beberapa minuman, sussuu hangat dan jus, serta makanan lainnya. Karena makanan yang tadi pasti sudah sangat dingin.


Setelah itu, dengan cekatan ia merapikan kain sprai yang carut marut karena ulahnya. Meletakkan bantal dan guling pada tempatnya. Mengatur semuanya menjadi semula.


Kamar yang tadi sempat gelap gulita pun sudah terang benderang. Sembari tersenyum tipis, ia menatap food trolley mereka, candlelight dinner yang gagal. Tapi diganti dengan hal lain, sebuah kepuasan yang tidak bisa digambarkan.


KLEK


Jean keluar kamar mandi, berjalan dengan pelan-pelan karena masih merasakan perih.


[Sudah rapi? Apa dia yang merapikan sendiri?]


"Sudah?" tanya Rayyan.


Jean mengangguk. Pria itu kemudian ganti yang membersihkan diri.


Saat Rayyan mandi, pintu kamar mereka kembali diketuk.


[Siapa itu?]


Jean yang mengeringkan rambutnya, pun keluar mengintip siapa yang datang.


[Makanan lagi?]


"Terima kasih!" seru Jean kemudian menutup pintu kamarnya.


KLEK


Bersamaan dengan perginya orang tersebut, Rayyan juga sudah selesai mandi.


"Kamu yang pesan, Ray?"


"Hemm!" jawab Rayyan sambil mengeringkan rambutnya yang juga basah. Malam-malam keduanya malah keramas.


"Kan aku bilang nggak usah," protes Jeandana.


"Duduklah, habiskan. Aku pesankan makanan yang sehat. Pasti kamu suka."


Jean lalu melirik meja itu. Memang sih, kalau ini dia menyukainya. Jean lantas meminum jus dan langsung makan makanan yang Rayyan pesan untuknya. Akhirnya pria itu memberikan kesempatan baginya untuk mengunyah sesuatu.


Beberapa saat kemudian


Akhirnya ia kenyang oleh makanan yang sesungguhnya, bukan kenyang terong kukus terus. Sehari semalam, Jean kenyang menu yang sama.


Selesai makan, keduanya bersandar di sofa, menikmati camilan sambil nonton film.


"Apa bagusnya film ini?" protes Rayyan saat melihat para prajurit mencoba menjalankan misi pennyelamatkan satu prajurit di medan perang. Sebuah misi yang cukup menantang. Butuh perjuangan besar serta keberanian. Dan juga strategy yang mumpuni.


"Bagus ini," timpal Jean yang lebih suka film aksi dari pada film romantis atau horor.


"Jean! Kita pengantin baru ... mengapa melihat pembantaiann seperti ini? Nontonlah film yang sedikit ada kemanusiaan di dalamnnya."


"Ish ... lihat bener-bener, jangan lihat saat tubuh mereka terkoyak oleh bommm dan rentetan senjataa yang mengenai tubuh mereka. Ini film bagus ... mission impossible banget kan, menyelamatkan satu nyawa di kandang ranjauu."


Rayyan menghela napas panjang, ini adalah perbedaan keduanya.


Ketika Jean asik melihat layar besar di depannya, Rayyan justru fokus pada rambut Jean. Ia kemudian menyuruh Jean rebahan di pangkuannya. Terang saja Jean menolak.


"Bentar, aku lihat film dulu, mau selesai!"


Jean melirik, ia tahu dan sangat paham. Suaminya sedang bermodus ria. Kini Jean jauh lebih siaga. Habis nonton, ia mau pura-pura ngantuk. Agar lolos dari Rayyan malam ini.


Benar saja, setelah film selesai dan Rayyan sudah merasa senang. Jean malah pura-pura menguap beberapa kali.


"Ngantuk?"


Jean mengangguk lemas.


"Ya sudah! Ayo tidur!"


"Aku bisa jalan sendiri!" pekik Jean saat lagi-lagi Rayyan membopongnya ke atas ranjang.


"Aku tahu, lari juga kamu pandai."


Jean hanya tersenyum getir saat mendengar sindiran suaminya itu.


Klek


Rayyan mematikan lampu kamar, "Tidurlah, aku tidak akan mengusikmu!"


[YES!]


Jean bersorak dalam hati, ia bebas sampai pagi.


Pukul dua sini hari


[Raiiii! Kau pakai batrai apa sih?]


Kelopak matanya bergerak-gerak, merasakan sesuatu yang masuk dalam bajunya.


[Ya ampun, Rai ... ijinkan aku tidur dengan nyenyak!]


Masih dengan mata terpejam, Jean merutuki sikap suaminya tersebut. Ia yakin ini masih sangat malam. Katanya tidak akan mengusik, janji Rayyan hanya bertahan dengan hitungan jam. Kesal, Jean pun membuka matanya lebar-lebar meski masih ngantuk berat.


"Mana bisa tidur kalau di sampingku ada kamu?" jawab Rayyan jujur.


Jean ingin mengusap kasar wajah pria tersebut.


Cup


Jean langsung menghela napas dalam-dalam.


"Satu kali ya?" bisik Rayyan sambil menciiumi wajahnya.


Sementara itu, wajah Jean langsung pucat. Ia ingin meronta, ia tidak mengira Rayyan sangat terobsesi dengan tubuhnya. Jean pikir ia benar-benar sudah salah masuk kandang.


Jean belum memberikan jawaban, Rayyan sudah ready dengan senjataa andalannya. Ray seperti dikejar setoran. Membuat Jean tidak berkutik. Tidak mampu menolak, mungkin pertama perih, tapi lama-lama juga enak.


***


Esok harinya


Mereka terlihat sudah siap dengan tas koper mereka. Jean pagi tadi minta pulang, rasanya kalau lama-lama di dalam hotel, mungkin dia harus masuk rumah sakit karena lemas.


Rayyan tidak keberatan, apalagi Kris sudah menemukan rumah yang cocok. Dan Jean langsung mengangguk. Tidak banyak berkomentar.


Lobby EL Hotel


"Papiii!"


Jean langsung bisa bernapas lega, kedatangan Zio setidaknya akan membuat ia bisa istirahat sejenak.


"Apa kabar, Jean?" sapa Elvira yang sengaja mengantar Zio ingin ketemu papinya. Sedangkan Zia masih di rumah. Mereka masih di rumah mama Sarah. Karena rumah baru Radika dan Jean masih dilakukan sedikit renovasi. Dan lagi, mama Sarah memaksa mereka tinggal dulu beberapa hari.


"Baik ... Mbak," jawab Jean kaku. Canggung rasanya merubah panggilan pada mantan istri bos tersebut.


"Maaf, menganggu waktu kalian. Zio merengek minta ketemu Rayyan."


"Nggak apa, Vir. Aku juga sudah kangen Zio ... Zio kangen Papi, ya?"


Anak laki-laki itu langsung mengangguk dengan semangat. Rayyan pun mengusapnya lembut.


"Maa ... Zio mau ikut Papi."


Elvira menatap tidak enak pada Jean, ia merasa sudah menganggu waktu keduanya. Padahal, Jean sangat bersyukur sekali.


"Sayang, main bentar aja. Nanti pulang sama Mama lagi."


"Nggak apa-apa, Mbak ... biar ikut sama kami."


Jean seolah mendapat napas segar.


"Iya, gak apa-apa," timpal Rayyan.


"Maaf, jadi sangat merepotkan. Papanya sedang ada pertemuan pagi-pagi, dan Zio merajuk ingin ketemu papinya. Maaf, ya?" Elvira masih merasa tidak enak.


"Gak apa-apa, biar kalau mau pulang ... aku anterin."


"Makasih Ray, Jean ... Zio ... Mama pulang dulu. Zia pasti cari Mama."


Zio mengangguk, kalau sudah dalam gendongan Rayyan, anak itu sudah merasa nyaman.


***


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mereka bertiga sampai.


"Bagaimana, kamu suka rumahnya?" tanya Rayyan sambil mengendong Zio.


"Hemm ..."


Jean mengamati sekitar, benar-benar tinggal dihuni. Rumah baru mereka sudah ready untuk ditempati. Semua lengkap, furniture dan banyak peralatan sudah komplit.


"Ya sudah, kamu istirahat saja. Aku mau temenin Zio main dulu."


[YESSS]


Jean mengangguk lemas, padahal dalam hati ia bersorak. Sepertinya ia harus menyandera Zio lama. Agar ia bisa beristirahat dengan tenang.


Sore harinya


Harapan Jean tidak semulus tol, karena saat sore menjelang, Radika datang bersama putrinya. Ganti Zia yang merajuk ingin kakaknya pulang bersamanya.


Saat anak-anak sedang main dengan papinya, Radika menanti di ruang tamu. Jean canggung ketika membuat minuman untuk pria tersebut.


Belum ada asisten rumah tangga, karena baru hari ini mereka pindah. Jean pun menyiapkan sendiri minuman untuk mantan bos. Bukan sekedar bos biasa, karena hatinya pernah tertaut pada sosok ayah si kembar tersebut.


"Silahkan, Tuan ..."


Radika tersenyum tipis.


"Panggil saja Mas!"


Jean mengangguk canggung. Melihat sikap Jean yang kaku, Radika mencoba membuat Jean sedikit rileks.


"Biasa saja, Jean. Kamu sekarang sudah jadi adik aku!"


Jean mendongak, ditatapnya mata yang selalu membuat hatinya bergetar. Tidak jauh dari sana, Rayyan yang kebetulan baru keluar kamar, menyaksikan moment itu.


"Jean!" batin Rayyan memanggil.


[Kenapa kalian lebih menyukai Radika?]


***


Setelah pukul tujuh, Radika membawa pulang putra dan putrinya. Sejak Radika pergi, Rayyan sikapnya sedikit berubah. Pria itu langsung ke kamar dan tidur.


Jean pun masuk kamar, dilihatnya Rayyan yang sudah memejam mata.


[Ada apa dengannya]


Penasaran, Jean meletakkan telapak tangan di atas dahi Rayyan. Ingin memeriksa, apakah suaminya demam? Karena tiba-tiba murung sekali.


"Nggak demam!" gumam Jean. Saat akan mengangkat tangannya kembali, tiba-tiba Rayyan meneraik tangannya.


"Katakan! Apa kamu masih menyukai kakakku?"


Jean kaget, pertanyaan macan apa itu? Mereka sudah tidur bersama berkali-kali. Masih saja Rayyan menanyakan pria lain. Kesal, ia menepis tangan Rayyan.


Bersambung.