Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Tanggung


Suami Satu Malam 107


Oleh Sept


Rate 18 +


Skip


[Ya ampun, ini di tempat kerja ... ASTAGA!]


"Sayang, nanti ada yang datang!" ucap Elvira sembari tangannya mendorong tubuh bidang tersebut.


Radika terlalu mendesaknya. Membuat Elvira terkunci dan tidak bisa bergerak dengan bebas.


Sedangkan Radika, sudah kepalang tanggung. Sudah terlanjur di ujung. Ia pun tidak mendengar seruan istrinya itu. Matanya sudah gelap, tertutup dan terhalang oleh rasa ingin yang kuat.


"Kayaknya boleh juga, kita kan tidak pernah melakukan hal ini di kantor!" bisik Radika sembari mengigit gemas daun telinga Elvira.


"Ini hari pertama kerja aku, Masss!" protes Elvira.


"Pending bentar, nggak lama kok."


Elvira pun menghela napas panjang, wanita itu sudah tidak berkutik apalagi ketika Radika langsung membopong tubuhnya. Pria itu membawa Elvira dan meletakkan sang istri di atas sofa di dalam ruangan tersebut.


Tidak ada ranjang, sofa pun jadi. Mungkin itu istilah yang cocok untuk Radika.


[Salah sendiri ... ngapain tadi pegang-pegang!]


Radika menatap wajah Elvira yang sudah terbaring dengan penuh kecemasan.


"Kenapa denganmu, Vir ... kok gelisah begitu?" tanya Radika yang kini sudah melepaskan semua pakaian.


"Nanti ada yang datang!" ketus Elvira.


"Jangan khawatir, yang berani datang langsung besok aku suruh serahkan surat pengunduran diri!"


"Ish!"


"Aduhhh!" Radika mengadu saat Elvira mencubit kecil pinggangnya.


"Belom genap sehari kerja, Mas membuatku mau memecat banyak orang?" gerutu Elvira.


"Habisnya .. dan siapa itu ... Haris? Jangan sampai dia memberikan bucket bunga lagi. Jika tidak, aku pastikan dia dipecat tanpa pesangon dan apapun. Aku ingatkan ... jangan makan sama pria lain lagi!"


"Ya ampun, aku kan nggak makan berdua saja. Ada yang lain juga ... dan lagi. Untuk apa mengirim orang untuk mematai-mataiku?"


[Richard!!! Kau kurang cerdas. Kenapa bisa ketahuan? Semakin tua sepertinya keahliannya semakin hilang]


Radika mendesis, karena sepertinya ia ketahuan.


"Itu ... aku hanya ingin memastikan kamu aman."


"Ish, tarik dia lagi. Semua karyawan hotel mengatakan aku sedang dikuntitt oleh seseorang. Ketika mereka memberikan potret orang tersebut, aku langsung bisa menebak. Ayolah ... aku ini tipe setia. Mana mungkin tertarik pada pria di luar sana? Aku ke sini karena bosan di rumah. Anak-anak sudah sibuk sampai sore. Dan aku hanya berdiam diri di rumah seorang diri, aku kadang jenuh," tutur Elvira panjang lebar. Sambil tangannya menyentuh bagian kotak-kotak milik pria tersebut.


"Bosan? Ya sudah ... meskipun aku bukan pria penghiburr, hari ini dan besok dan besoknya lagi ... aku akan menghiburmu!"


Elvira langsung terkekeh


"Ini bukan menghibur, tapi kamu sedang mengerjai aku, Mas!"


"Benarkah? Kita lihat nanti ... kamu akan terhibur atau tidak dengan ini?"


[ASTAGA]


Elvira langsung mengeliat karena suaminya sudah langsung main serang.


"Geli, sayang!"


"Katanya tadi bosan, sekarang geli? Nanti apa lagi?"


"Ishhh ... ya ampun. Ini di kantor sayang."


"Tanggung kalau check in, sayang!"


Cup cup cup


Radika mulai memberikan stempel di leher jenjang Elvira. Membuat wanita itu semakin mengeliat seperti seekor cacing yang kepanasan.


"EH!!!!"


Elvira semakin terkejut, tak kalah merasakan sesuatu yang keras menyentuh perutnya.


[Ya ampun, kenapa gampang sekali dia ON?]


"Tanggung jawab ya, Sayang. Kamu tadi kan yang mancing-mancing."


Elvira langsung menutup kedua matanya. Biasanya mereka melakukan hal seperti ini di kamar. Dengan cahaya lampu yang temaram, syahdu dan elegant. Tapi apa ini? Siang-siang mereka berdua tidak pakai apapun, di ruang kerja di atas sofa dan cahaya terang benderang. Elvira mendadak malu.


Tapi bagaimana lagi, sentuhan demi sentuhan sang suami membuat Elvira mengejang. Rasa geli berubah, ia yang tadi merutuki sikap sang suami, malah ikut terbakar bersama-sama.


Wanita itu seolah tidak punya daya untuk melawan, lebih memilih ikut lebur bersama arus yang Radika ciptakan.


"Sayang, aku belum minum obat. Di sini juga nggak ada pengaman," bisik Elvira dengan mata sedikit merem melek. Hahaha


Radika yang sedang fokus, sama sekali tidak peduli. Hamil malah ia bersyukur, setidaknya punya alasan kuat mengunci istrinya di rumah.


"Tidak apa-apa, kita buat adik buat Naomi."


"Isshhhh!"


Desisan Elvira perlahan berubah ... wanita itu malah meringis, Radika terlalu semangat memompa. Hingga ia tersentak kaget.


[Tadi makan siang apa kamu, Mas? Kenapa kuat banget?]


Merasakan sakit campur enak, Elvira meremass rambut suaminya. Membuat Radika makin bersemangat.


Dengan penuh perasaan dan semangat juang 45, Radika kembali memompa kekasih hatinya tersebut. Ia pompa berulang-ulang, hingga Elvira tidak bisa berkata-kata. Hanya suara-suara lirih yang keluar dari bibir manis sang wanita. Yang membuat Radika semakin ingin menuntaskan pendaratan darurat saat itu juga.


"Sayang ...!" suaranya serak. Wajah Radika kini pun mulai menegang.


Ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Hitungan detik, alat pompa itu langsung mengeluarkan banyak bibit-bibit kehidupan. Akhirnya benih-benih kecebong itu langsung masuk ke tempat yang semestinya.


Dengan napas yang saling memburu, dan daddaaa yang masih naik turun, Radika akhirnya melepaskan Elvira.


Pria itu meraih botol mineral di atas meja. Meminumnya, ternyata olah raga barusan menguras tenaga.


"Minum dulu sayang," ucap Radika sambil menyodorkan meminum.


Elvira menggeleng pelan.


"Aku mau ke kamar kecil."


"Mau aku gendong?"


"Nggakkkk usah!" jawab Elvira spontan.


Radika terkekeh, ia tertawa lepas. Mana mau Elvira diantar, mungkin takut ia kerjai lagi. Ternyata ... melakukan hubungann di kantor asik juga. Sepertinya ia akan melakukan ini lagi.


Beberapa saat kemudian


Elvira sudah memakai bajunya kembali, sedangkan sang suami masih ada di kamar mandi.


Kebetulan ada tamu yang ingin bertemu, dan ternyata itu adalah Kalandra. Sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu. Andra yang mendengar sang kakak ada di hotel dari Irene. Ia pun memutuskan mampir, karena kebetulan lewat depan hotel milik kakaknya tersebut.


Tok tok tok


"Siapa?" batin Elvira.


"Masuk!" ucapnya.


Kalandra membuka pintu, di sebelahnya ada pegawai hotel.


"Andra!"


Elvira langsung menyambut dengan pelukan.


"Selamat, Mbak."


"Selamat apa? Ayo duduk."


"Ya selamat aja ... heheh. Mbak Vira cocok dengan baju itu."


"Benarkah?"


"Sudah mirip pejabat!" ledek Kalandra.


"Ish .. ada-ada aja kamu ini."


KLEK


"Ada siapa sayang?"


Tiba-tiba Radika muncul dengan rambut yang masih basah. Andra pun memperhatikan keduanya. Ia barus sadar, rambut sang kakak juga basah.


[Astaga. Kalian benar-benar! Pasangan mesumm]


Kalandra tidak bisa berkata-kata.


"Hallo, Ndra!" sapa Radika dengan satai. Ia malah dengan sengaja mengibaskan kepala. Membuatnya seolah pamer dengan rambutnya yang basah tersebut.


"Ish!" Kalandra merasa datang di waktu yang salah. Ia mengumpat kesal dalam hati. Sepertinya ia ada di tempat dan waktu yang tidak tepat.


Bersambung