Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Merajuk


Suami Satu Malam 68


Oleh Sept


Rate 18 +


Hari yang suram, hari di mana dijalani dengan bayang-bayang kematian, teror, ketakutan akan nyawa yang bisa lepas kapan saja, kini sudah sirna. Semua ketakutan itu menghilang secara perlahan. Ganti dengan harapan baru, lembaran baru setelah lenyapnya Draco Marcosius dari dunia. Setidaknya, Radika tidak lagi khawatir akan nyawanya beserta keluarga dalam ancaman.


Mereka kini bisa menjalani hidup normal kembali, tanpa bayang-bayang terror yang mengerogoti hidupnya selama ini. Namun, sejak tadi Radika kelihatan khawatir. Istrinya kok belum juga siuman.


"Vir ...!" Ia panggil lagi nama istrinya dengan lirih. Tidak lupa, jari-jarinya menyentuh kulit pipi Elvira yang nampak berbeda.


[Apa kau tidak makan selama ini? Mengapa tubuhmu kehilangan banyak lemaknya? Aku tahu ... ini bukan karena DIET. Aku pikir kamu akan kuat, ternyata ... hem. Bangunlah! Aku tidak akan menghukummu!]


Radika meremass-remass jari-jari Elvira yang runcing dan dingin. Sembari menunggu, kekasihnya itu membuka mata.


"Ayo bangun ... aku sudah datang, bahkan aku tidak akan pernah pergi lagi."


Radika mulai gelisah, apalagi dilihatnya Elvira sama sekali tidak merespon.


[Apa kau sangat marah padaku, Vira?]


Radika yang semua percaya diri bahwa Elvira akan senang ketika melihatnya hidup, kini mulai khawatir. Pria itu kemudian keluar dari ruangan tersebut.


KLEK


Rayyan dan Jeandana yang sejak tadi masih menunggu di luar ikut bangkit berdiri. Mereka bingung, karena Radika langsung berlari. Penasaran, Rayyan memeriksa sendiri ke dalam ruangan.


"Ada apa dengannya?" tanya Rayyan dalam hatinya sendiri.


Dilihatnya Elvira yang masih dalam posisi yang sama. Wanita itu masih terbaring di atas ranjang rumah sakit. Namun, saat Rayyan mau pergi. Elvira membuka mata.


"Ray!"


Rayyan seketika menoleh, "Kau sudah bangun?"


"Apa aku sudah mati? Aku mendengar suaranya."


Elvira malah tiba-tiba menangis. Dan Rayyan heran. Kan memang sejak tadi Radika menemani wanita itu dalam ruangan.


Tap tap tap


Dari dalam terdengar suara orang berlarian.


KLEK


Radika muncul bersama dokter. Lebih tepatnya ia menarik paksa seorang dokter agar membuat istrinya bangun. Namun, Radika kaget, saat masuk Elvira sudah siuman.


Dokter itu pun menghempaskan tangannya, cara Radika sangat bar-bar. Pasien itu memang sedang pingsan, dan butuh waktu untuk kembali mendapat kesadarannya lagi. Namun, dengan seenaknya keluarga pasien itu menerobos masuk ruang dokter. Padahal tadi ia sedang bicara dengan keluarga pasien yang lain. Radika main srobot, menculik dokter tersebut dan membawanya ke ruang Elvira.


"Mas! Bukan dokter ini yang menangani Vira. Dokter lain ..." ucap Rayyan saat melihat Radika membawa dokter masuk ruang itu dengan paksa.


"Sama saja! Dia dokter juga!" ketus Radika. Namun, matanya fokus menatap Elvira yang justru membuang muka.


[Ada apa dengannya? Aku masih suaminya, kan? Kenapa tidak menyambut kedatanganku? Setidaknya tersenyum dan meminta aku mendekat agar mau memeluknya ... kenapa dia memalingkan muka?]


Dahi Radika mengkerut, menatap istrinya yang justru enggan melihat dirinya. Padahal harusnya Elvira senang bukan, karena dia masih hidup.


"Maaf, Dok. Kakak saya salah paham. Nanti, setelah ini saya akan hubungi dokter Marissa. Dia yang menangani pasien ini."


Rayyan kemudian menundukkan wajahnya sedikit, mau minta maaf atas tindakan sang kakak yang sesuka hatinya itu. Dokter umum tersebut pun mengangguk, kemudian menepuk pundak Radika dua kali.


"Siapa dokter Marisa? Bukannya sama saja, kenapa dokter tidak memeriksa istri saya sebentar!" kesal Radika. Ia seolah menghalangi dokter umum yang sudah mau keluar itu. Padahal dokter tersebut kan sibuk, ia sudah ditunggu banyak pasiennya.


"Saya bisa menangani istri Bapak, tapi ada dokter lain yang lebih ahlinya!" terang pria berjas putih tersebut.


"Maaf, Dok. Kakak saya tidak tahu apa-apa. Dia baru datang. Maaf menganggu waktunya," sela Rayyan kemudian membuka pintu.


Dokter itu pun pergi, dan Radika melihat Rayyan serta Elvira bergantian. Elvira yang bahkan tidak mau melihatnya.


"Apa sebenarnya yang terjadi? Apa Elvira mengalani sakit serius?" tanya Radika sambil berjalan mendekati ranjang. Namun, ia kaget saat Elvira mulai berbicara.


"Ray! Aku mau sendiri!"


Rayyan menghela napas panjang, sepertinya kakak iparnya itu merajuk. Bukannya sayang-sayangan, dia sepertinya sangat marah pada sang kakak. Ia pun balik badan dan pergi meninggalkan ruangan.


"Aku bilang ingin sendiri!" usir Elvira saat menyadari masih ada sosok lain di dalam kamar itu.


[Jangan keterlaluan, Vir! Mana bisa kau mengusirku!]


"Rayyy! Kosongkan kamar ini!" teriak Elvira.


Rayyan yang mendengar suara Elvira bergegas masuk lagi, ia melihat Radika yang melotot tajam ke arahnya.


"Katakan padanya, aku mau sendiri!" pinta Elvira pada Rayyan.


"Jangan keterlaluan Vira!" Radika kali ini terlihat marah.


Rayyan akan mendekatinya, tapi Radika sudah mengepalkan tangan. Membuat Rayyan hanya bisa menelan ludah. Tadi dia bebas memukuli sang kakak. Tapi, kini ia pasti habis. Karena Radika pasti melawan.


"Mas, sebaiknya kita keluar dulu. Emosinya belum stabil. Sejak hamil ia memang jadi seperti itu," terang Rayyan memberikan penjelasan.


"Hamil? Siapa yang hamil?" tanya Radika spontan. Namun, wajahnya langsung berubah. Ikut pucat dan sorot matanya yang semula terlihat menyalak serta kesal, berubah nanar. Pria itu mendadak merasa lemas.


[Aku berdosa padamu, Vira ... ya Tuhan. Apa ini? Mengapa aku selalu menyiksa hatinya? Apa dia begitu putus saja bersama anak kami ... Aku salah. Aku salah!]


Radika langsung mendekati ranjang, sedangkan Rayyan. Ia pergi meninggalkan ruangan itu. Sepertinya dua orang itu butuh bicara dari hati ke hati.


"Maafin Mas, Vir."


Radika meraih tangan Elvira. Namun, Elvira menariknya dengan paksa. Ia bahkan tidak mau menatap ayah dari janin yang ia kandung.


Elvira mungkin masih merajuk, marah dan kecewa. Ia merasa nasib sedang mempernainkan hidupnya. Sebentar mati, kemudian hidup lagi. Ia benci dengan semua ini, tidak bisahkan ia hidup layaknya orang normal biasanya?


"Vir! Lihat ke sini! Tidakkah kamu ingin melihatku?" tanya Radika lirih. Selama ini yang membuat pria itu bertahan dari banyaknya luka yang ia dapat adalah Elvira. Tapi, kini Elvira malah acuh dan tidak mau bicara saat mereka berjumpa.


Bayangan Radika, Elvira akan menyambut dirinya dengan suka cita. Pelukan hangat, kecupann mesra penuh kerinduan, bukan malah seperti saat ini. Radika benar-benar diangurin.


"Aku mau sendiri!"


Radika yang kehabisan ide, hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku minta maaf, karena butuh dua bulan untuk bisa kembali, ada banyak alasan. Dan aku tidak mengada-ada, Vir."


"Mas tidak dengar? Aku mau sendiri!"


Radika menghela napas dalam-dalam, pria itu kemudian malah menurunkan badan, ia membungkuk dan memeluk erat tubuh Elvira.


"Akan kulakukan semua maumu, semua! Tapi tidak dengan yang ini. Susah payah aku kembali, bagaimana bisa kau mengusirku dengan kejam? Minta apa saja ... tapi jangan suruh aku pergi!" bisik Radika.


Bersambung



Selamat beraktifitas dimanapun kalian berada ...


Sehat selalu semuanya ya terlopeeee. Hehehe