
Suami Satu Malam 75
Oleh Sept
Rate 18 +
"Ray!" Jeandana terkejut. Wanita itu kaget lantaran Rayyan muncul tiba-tiba di Bandara. Keduanya masih di tempat, sedangkan banyak orang yang lalu lalang melewati mereka.
Sementara itu, tatapan Rayyan masih penuh dendam, apalagi dilihatnya wajah Jean yang sangat biasa itu. Tidak mau menjelaskan apa yang terjadi hanya diam saja.
Settt
Ajudan Pak Perwira mengambil alih koper yang semula dipegang Rayyan. Kemudian, muncul Pak Perwira sambil membawa tickets.
Pria itu menghampiri keduanya, kemudian menatap dari jauh, seorang Ibu-ibu dan bapak-bapak yang menuju ke arah yang sama.
"Rayyan! Ini yang terakhir kamu main-main dengan pernikahan! Apa-apaan ini, kamu buat Mama lari-larian di Bandara?"
Bukkk ...
Mama Sarah memukul lengan putranya karena kesal. Bukan anak kecil, mengapa mereka kucing-kucingan.
"Sabar, Ma! Dilihat orang!" seru tuan Wira yang merasa tidak enak menjadi pusat perhatian.
"Biar, Pa! Mama kesel sama Rayyan!" ketus Mama Sarah.
Mama Sarah kemudian melirik sosok wanita yang sebelumnya ditatap terus oleh putranya.
[Loh ... ini kan Jean? Asisten Radika, kan?]
Mama Sarah baru sadar siapa calon mantu yang kejar-kejaran dengan mereka.
"Jean? Kamu menjalin hubungan selama ini sama Rayyan selama ini?" tanya Mama Sarah penuh selidik.
Jean bingung, harus bagaimana. Wanita itu kemudian menatap wajah papanya.
"Ehem ... ehem! Perkenalkan, saya Perwira, ayah Jeandana."
Pak Perwira pasang badan, ia melangkah sedikit kemudian memperkenalkan diri.
Ajudan Pak Perwira malah sibuk melihat jam, kemudian berbisik pada sang atasan.
"Tuan, apa kita tidak ketingalan pesawat?" bisik sang ajudan.
Pak Perwira hanya menggeleng pada sang ajudan. Sepertinya mereka gagal terbang hari ini, mungkin tidak enak karena rupanya Rayyan serius. Pria itu datang bersama orang tuanya langsung ke Bandara. Pak Perwira kemudian mengajak semuanya ke ruangan khusus yang ada di ruang tunggu yang ada di dalam Bandara.
Suasana cukup tegang, apalagi sejak tadi tatapan Rayyan kurang bersahabat. Pria itu masih memendam kesal, karena ulah Jeandana.
***
"Jadi, kapan tanggalnya?" tanya mama Sarah membuka pembicaraan.
Pak Perwira melirik Jean, putrinya itu sejak tadi terlihat tegang. Padahal, Jean adalah sosok penuh percaya diri selama ini. Kenapa sakarang seperti sedang tertekan?
"Semua terserah mereka," jawab pak Perwira kemudian.
"Lebih cepat, lebih baik. Rayyan juga bukan anak muda lagi. Bukan saatnya main-main, jadi sebaiknya segera saja," saran tuan Wiratmaja yang sudah bosan melihat putranya menduda.
Pak Perwira manggut-manggut, lalu menyentuh pundah Jeandana yang duduk di sebelahnya.
"Bagaimana, Jean?"
Dukkk ...
Semua menatap meja, Rayyan mengeluarkan sebuah kotak cincin, entah pas atau nggak ukurannya. Dia hanya asal membeli saja. Bukannya diberikan dengan cara romantis seperti orang-orang, Rayyan hanya meletakkan benda itu di atas meja.
Kemudian menatap Jean dengan wajah serius.
"Kamu terima apa tidak, Jean?"
"Lakukan dengan benar, Ray!" bisik mama Sarah.
[Ish!]
Rayyan mendesis dalam hati. Kemudian mengambil kotak itu kembali. Pria itu lalu bangkit, berdiri tepat di depan Jeandana yang sedang duduk.
[Kau pasti tertawa setelah aku melakukan ini? Awas kamu Jean! Kamu harus membayar semua ini berkali-kali lipat]
Jean terbelalak, sedangkan yang lain, menatap haru. Rayyan dengan manis berjongkok di depan Jeandana.
[Sialannnn, apa yang kau lakukan, RAYYANNN?]
Jean mengeratkan gigi-giginya. Ia sangat malu melihat aksi sok romantis yang dilakukan oleh Rayyan padanya.
"Will you marry me?"
Mama Sarah tersenyum, tiba-tiba matanya terasa perih. Sedangkan tuan Wira, ia merasa lega. Sepertinya sang putra benar-benar sudah laku.
Beda dengan pak Perwira, sejak tadi ia menaruh curiga pada keduanya. Tatapan keduanya, gesture tubuh Jean dan Rayyan, tidak mengambarkan bahwa mereka saling menginginkan. Malah Pak Perwira merasa keduanya sedang menyembunyikan sesuatu. Jiwa penyidik pak Perwira rupanya kembali bekerja.
[Kalau nggak aku terima, sudah pasti namaku jelek di mata semuanya. Mereka akan berpikir yang tidak-tidak. Keluarga Dirgantara dan Papa. Astaga RAYYANNN! Kau benar-benar minta dihajar!]
Melihat Jean hanya bengong, Rayyan langsung saja menarik tangan wanita itu. Dengan paksa ia memasukkan cincin ke jari manis Jeandana.
"Terima kasih, sudah mau menerima!"
Tanpa merasa bersalah, dengan tersenyum tipis, Rayyan kembali duduk di tempatnya. Sedangkan Jeandana, dia menatap cincin di jari manisnya seperti menatap borgol.
Jean benar-benar merasa sudah ditangkap Rayyan hidup-hidup kali ini. Di depan para orang tua, mana bisa ia memberi pelajaran pada duda kesepian tersebut?
"Selamat, Sayang!" Mama Sarah bangkit dan memeluk Jeandana dengan hangat. Cukup lama mama Sarah memeluk tubuh Jean. Hingga membuat mata Jean mendadak terasa perih.
Pelukan hangat mama Sarah, membuat hati Jean merasa nyaman. Tidak memiliki sosok ibu, membuat Jean tersentuh akan sikap hangat calon mertuanya itu.
[Apa lebih baik aku diam saja? Ray! Boleh ibumu untukku?]
Jean mengusap sudut matanya yang basah, dan pak Perwira memperhatikan hal itu. Ia paham betul, Jean selama ini merindukan sosok ibu.
[Sepertinya dugaanku salah ... baiklah Jean. Papa ikhlas melepasmu. Papa rela kamu bersama pria seperti Rayyan]
Pak Perwira kini memeluk Rayyan, mengucapkan kata selamat dan menepuk punggung Rayyan cukup keras hingga menimbulkan bunyi. Sedangkan Rayyan, pria itu hanya bisa mendesis. Apalagi ketika pak Perwira merapatkan pelukan. Memeluknya dengan keras. Pelukan ala-ala militer.
[Dia tidak sedang memberikan selamat, dia hanya ingin memukul dengan samar]
Rayyan mengerutu, tapi setelah pak Perwira melepaskan pelukan, ia akhirnya bisa bernapas lega.
***
Beberapa saat kemudian
Setelah makan bersama sebentar, mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Jean dan pak Perwira tidak jadi melanjutkan penerbangan mereka.
Sedangkan Rayyan, entah mengapa, sejak tadi pas ia menyetir sampai ke rumah, ia nampak jadi lebih bersemangat. Seperti akan mendapat mainan baru. Sepertinya ia tidak akan sibuk lagi bermain dengan gundamnya ...
Ada mainan baru ... Jeandana. Seorang wanita berhati batu, sosok yang selama ini dingin dan sadis padanya. Tiba-tiba pria itu tersenyum jahat.
*Heiii .... Rayyan, apa yang kamu pikirkan? Hihihih
Bersambung
Jangan lupa, kita datang ke resepsi on-line J & R ya .... hehheh haluuu