Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Tunggu Aku


Suami Satu Malam 113


Oleh Sept


Rate 18 +


Jean terlihat canggung saat Rayyan menggandeng tangannya keluar kamar hotel. Entah mengapa, pipinya terasa panas. Ia tersipu malu, siang-siang keluar dari hotel setelah gulat beberapa waktu yang lalu.


Tanpa sengaja, bibirnya menggembang. Lucu sekali membayangkan apa yang terjadi. Mereka punya rumah, hanya karena ulah iseng Rayyan, harus sewa hotel yang hanya dipakai dua jam saja. Astaga ...


Jean sampai berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan meninggalkan Rayyan di saat-saat tanggung seperti semalam. Kalau tidak, ia akan merasa malu sendiri. Hukuman Rayyan membuat tubuhnya tambah panas dingin.


"Jangan pulang, ya? Ke kantor langsung saja. Nggak ada acara, kan?" tanya Rayyan sembari membuka pintu mobil untuk Jean, istri kesayangannya itu.


"Ngapain di sana? Aku pulang aja ... mau rebahan juga. Capek."


"Rebahan di ruanganku kan bisa. Nanti aku pijitin sekalian."


Jean langsung menatapnya dengan horor. Dan Rayyan jadi gemas. Ia cubit hidung Jean yang kembang-kempis tersebut.


"Aku masih kangen sama kalian, baby juga kan?" Rayyan mengusap perut Jeandana.


"Lagian percuma juga aku kerja, nanti bakal gak fokus ... mikirin yang itu terus!" tambah pria tersebut.


Jean makin heran, suaminya jadi seperti itu. Dulu tidak parah-parah banget. Semakin tua semakin menjadi saja.


"Kenapa gak sekalian ikut pulang saja?" celetuk Jean.


"Nanti jam tiga ada pertemuan dengan kolega bentar. Maunya sih aku suruh Kris yang handle. Tapi kalau yang ini nggak bisa."


"Tuh ... sibuk. Aku pulang saja, ya."


"Nggak, paling nanti ketemua dua puluh menit udah beres, selesai. Ikut aja ke kantor ... gak tahu ini. Pengen dekat-dekat terus sama Mami!"


Rayyan mulai mengeluarkan semua jurus gombal yang ia dalami selama ini.


Sementara itu, Jean hanya menatap aneh. Ia rasa suaminya salah minum obat. Tumben sekali kerja minta ditemani. Karena memang tidak ada acara, akhirnya ia pun ikut.


***


Dirgantara Group


"Selamat siang, Nyonya ... apa kabar?" sapa Kris yang saat itu sudah menunggu di depan ruangan Rayyan.


"Baik, apa kabar juga, Kris?" Jean mencoba menyapa balik dengan senyum ramahnya.


Setelah basa-basi, akhirnya Kris bicara empat mata dengan Rayyan. Sedangkan Jean, wanita itu menunggu sambil pura-pura baca majalah. Padahal ia sedang menguping. Ibu hamil itu begitu penasaran pada isi pembicaraan Rayyan dan sekretarisnya itu.


"Pesankan tiketnya sekarang, nanti malam kita cek ke sana langsung."


Kris mengangguk


"Baik, Tuan. Saya permisi."


Setelah selesai bicara, Kris pamit pada Jeandana.


Saat Kris pergi, Jean langsung meletakkan majalah yang semula ia baca, atau hanya ia pegang karena pura-pura saja. Wanita itu begitu kepo, tidak mau menunggu lama, Jean langsung duduk di depan suaminya.


"Apa yang terjadi? Tadi Kris bilang apa? Tickets apa? Kalian mau ke mana?"


Rayyan tersenyum tipis saat dicecar banyak pertanyaan oleh istrinya. Kalau begini, mengingatkan dia akan sosok Jean beberapa tahun silam.


"Jangan main sembunyi-sembunyi. Aku nggak suka, katakan terus terang sekarang! Apa yang terjadi? Kenapa harus kamu langsung yang terjun? Kris saja kan bisa?" protes Jean.


Rayyan menghela napas panjang


"Ada masalah kecil."


"Tidak mungkin kecil kalau sampai kamunya ikut turun tangan!" Jean masih protes karena Rayyan belum cerita yang mendetail.


"Ada audit, sayang."


Dahi Jeandana langsung mengkerut.


"Lalu? Apa kamu selama ini main-main? Biar nggak bayar pajak ke negara?" tuduh Jean spontan.


"Nggak lah! Sepertinya ada yang memalsukan tanda tangan papa. Makanya ini mau aku usut langsung. Kasian papa juga."


Jean masih mencoba berpikir.


"Ini mengenai papa?"


Rayyan mengangguk.


"Mama Sarah pasti panik jika tahu hal ini," tambah Jean.


"Lalu seburuk apa persoalan ini?" Jean masih penasaran karena ia belum tahu dengan gamblang.


Rayyan menghela napas panjang.


"Kalau papa terbukti melakukan tindakan melangar hukum, mungkin ...." Rayyan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Mana pernah ia membayangkan masa tua sang papa harus ada di jeruji besi. Sebagai anak, ia akan berusaha itu tidak akan terjadi.


"Aku kabari papaku, papa kenal banyak orang-orang yang mungkin bisa membantu."


"Tidak usah, kami sudah punya pengacara terbaik. Lagian aku yakin, papa tidak mungkin melakukan hal seperti ini."


"Lalu kamu mau pergi ke mana?"


"Aku harus mengejar orang itu, Jean. Dia kunci dari kasus ini. Aku tidak mau di kabur terlalu jauh juga. Sebelum semua barang bukti dilenyapkan, kami harus menemukannya dulu."


"Aku ikut!"


Rayyan menggeleng keras.


"Aku mau ikut, Raiii!"


"Kamu hamil, Jean!"


"Tapi ...!"


"Tunggu di rumah, temani Azzam dan jaga anak kita!" Rayyan berjongkok, diusapnya perut Jean.


"Jangan biarkan Mami ke mana-mana ya, sayang!" bisik Rayyan lalu berdiri dan memeluk Jeandana.


"Tunggu aku!"


Bersambung.


Yakin Jean hanya bisa menunggu? Jiwa-jiwa penjaga Jean yang sudah mengakar kuat, apakah bisa ditepis oleh rasa penasaran yang terlanjur mencuat? Apalagi dia sedang hamil, rasa kepo Jeandana makin kuat.