
Suami Satu Malam Bagian 37
Oleh Sept
Rate 18 +
"Tidak apa-apa! Mungkin masuk angin."
Radika kemudian keluar kamar mandi dan langsung merebahkan diri di atas ranjang. Sementara itu, Elvira langsung mencari kotak P3K. Sambil membawa segelas air, ia memberikan obat sachet pada suaminya.
"Minum ini dulu, Mas!"
Radika membetulkan posisi duduknya, ia kemudian menerima uluran obat dari Elvira.
"Maksih!" ucapnya singkat.
Elvira kemudian meraih remote AC. Ia mematikan alat pendingin ruangan itu, agar Radika merasa lebih nyaman.
"Mas Dika tiduran saja. Oh ya, makanannya aku bawa ke sini ya?"
"Nggak! Tidak usah! Perut Mas seperti diaduk-aduk. Nanti saja." Radika menolak keras.
"Kan belum makan?"
"Beneran, tidak usah. Perut Mas benar-benar kurang nyaman sekarang."
"Oh, ya sudah. Emm ... ini aku ada minyak. Olesin ke perut, siapa tahu lebih nyaman." Elvira kembali mengulurkan sesuatu pada suaminya. Namun, kali ini Radika tidak mau menerima.
"Vir! Buang jauh-jauh itu dariku! Mas tidak suka aromanya!"
"Lah? Ini kan malah menyegarkan ... Aroma therapy!" jawab Elvira polos.
Huekkkk ...
Seketika Radika turun dari ranjang, pria itu bergegas kembali ke kamar mandi.
[Kenapa masuk anginnya parah begitu?]
[Perasaan nggak pernah telat makan]
[Tapi ... kalau dipikir-pikir, sudah lama kalau tidur pasti nggak pakai baju, sih]
[Ish, salah sendiri. Makanya masuk angin parah]
Sambil bergelut dengan pikirannya, Elvira menyusul suaminya itu.
"Apa kita ke rumah sakit, Mas?"
Radika mengusap wajahnya setelah membasuh dengan air yang mengalir dari kran. Wajah pucatnya terlihat lebih segar setelah tersentuh oleh beningnya air.
"Mana ada rumah sakit di sini?"
Elvira langsung terdiam. Benar apa kata suaminya itu. Di pulau terpencil tersebut memang tidak ada rumah sakit. Tidak ada klinik, puskesmas ataupun tempat prakter dokter pribadi. Susah juga hidup individual seperti ini. Namanya juga mahluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sebatang kara seperti ini.
"Terus bagaimana?"
"Nggak usah khawatir, nanti aku hubungi orangku. Ya udah ... kepala Mas pusing berat ini. Mas mau istirahat saja."
Elvira pun merapikan tempat tidurnya, kemudian meminta Radika untuk rebahan di atas sana.
"Tidur sini, Mas."
Radika mengangguk. Pria itu tidak banyak bicara seperti biasanya. Habis menelpon seseorang, kemudian malah melamun. Serang Elvira, ia ke dapur sebentar. Ingin membuat sesuatu yang terasa aman untuk suaminya.
Ketika jalan ke dapur, ia menatap jam dinding. Kemudian bola matanya tidak sengaja melihat calenders yang ada di atas meja. Dilihatnya sudah 4 minggu 5 hari ia sudah berada di pulau itu. Lama juga ternyata, makanya ia sudah kangen Kimora.
[Eh ... sebulan lebih ya? Kok aku belum M?]
[Tunggu, kapan aku terakhir M?]
[Kami menikah tanggal 28 akhir bulan. Dan terakhir M kan beberapa hari sebelum menikah ... Astaga! Aku telat seminggu]
Elvira membolak-balik calenders. Wanita itu seolah tidak percaya. Namun, belum yakin. Sebab ia juga tidak berpengalaman. Dan lagi ia merasa tidak mengalani gejala kehamilan. Akhirnya ia langsung ingat Irene. Adik iparnya itu jauh lebih tahu banyak dari pada dirinya.
Setelah menyiapkan sesuatu yang hangat untuk Radika. Elvira masuk kamar. Dilihatnya sang suami sudah tidur.
"Cepet bener?" gumamnya lirih.
Elvira kemudian mengambil ponsel yang semula ia cas. Setelah itu ia mengirim pesan pada Irene.
[Ren]
Elvira menunggu pesan itu terbaca baru mengatakan hal yang ingin ia tanyakan.
Ting
Sebuah pesan masuk.
[Ya ampun, Mbak Vira ... sehat? Kapan pulang? Kami semua miss you banget]
Sudut bibirnya terangkat, ada semburat senyum yang muncul ketika ia membaca pesan dari Irene.
[Alhamdulillah, baik. Mbak Vira. Bagaimana Kimora? Mbak kangen banget sama Mora]
Ting
[Sudah bisa jalan, Mbak. Meski sering jatuh. Hehehe ... Gimana Mbak Vira? Ada kabar bahagia nggak? Betah banget honeymoon ... Apa nggak kapalan?]
Ting
Kali ini Elvira tidak hanya tersenyum, ia tidak bisa menyembunyikan tawanya. Sambil terus bibirnya menggembang karena ulah Irene, jarinya pun sibuk mengetik balasan untuk iparnya itu.
[Mbak telat seminggu! Tapi belum cek. Lagian Mbak sama sekali tidak mengalani gejala seperti orang hamil lainnya]
Ting
[Ya ampun ... ya ampun ... Beneran? Mbak Vira hamillll itu!]
Ting
Elvira mengerutkan dahi, ia kemudian melirik tubuh tegap yang kini sedang berbaring karena mual-mual yang mendera.
[Benarkah? Kamu tahu nggak? Mas Dika mual-mual terus. Dan dia protes saat ada aroma sedikit kuat]
Ting
[Hahahaha]
Lagi-lagi dahi Elvira berkerut, ia merasa aneh karena Irene malah mengirim banyak emot tertawa lepas.
[Kok ketawa?]
Ting
[Selamat ya, Mbak. Itu rejeki Mbak Vira. Udah gak papa, biar Mas Dika mewakili apa yang harusnya Mbak Vira rasakan. Hahaha ... Pasti sebelumnya bucin abis itu Mas Radika]
Ting
Ting
[Sip, Mbak]
***
Beberapa jam kemudian
Radika sudah duduk di depan TV. Ia sedang melihat acara cartoon karena merasa bosan. Sejak tadi hanya berbaring saja.
"Mas, coba makan ini."
Elvira datang sambil membawa semangkuk bubur.
"Aku nggak suka aromanya." Pria itu menolak dengan melambaikan tangan.
"Sedikit saja."
Meski Elvira sudah memaksa, Radika tetap tidak mau. Ia menutup mulutnya rapat. Malah mengambil mangkuk itu kemudian menaruh jauh di sudut meja.
Bukkk
Ia malah merebahkan kepalanya di pangkuan Elvira.
"Jangan paksa makan, perutku lagi tidak enak."
"Hemm!"
"Aku mau tidur lagi, lemes banget."
"Hemm ... ke dokter ya?"
"Ish! Masuk angin biasa. Mungkin terlalu lama kena angin pantai. Udah, rebahan nanti juga ilang sendiri anginnya!"
"Tetep saja harus ke dokter."
"Nggak usah!"
"Emm ... Mas!"
"Iya," jawab Radika yang sudah menutup matanya.
"Vira telat!"
Radika terkekeh, "Telat makan?" candanya.
"Ya sudah, makan sana!" tambahnya sambil berusaha bangun.
"Bukan! Tapi, Vira belum datang bulan untuk bulan ini," ucap Elvira malu-malu kucing.
Seketika Radika langsung jrenggg!!!
Pria yang tadi nampak lesu dan malas-malasan berubah jadi begitu bersemangat.
"Serious?"
Vira mengangguk malu.
"Ya ampun!"
Pria itu bergegas turun dan meraih ponselnya.
"Cepat ke sini segera!" titahnya di telpon.
"Telpon siapa, Mas?" tanya Elvira saat melihat suaminya habis telpon malah langsung buru-buru ganti baju. Di depannya pula tanpa malu.
"Kita ke dokter, sekarang!" ucapnya tegas.
"Sekarang?"
"Cepat ganti baju! Eh ... jangan buru-buru. Pelan-pelan saja!"
Elvira hanya garuk-garuk kepala, padahal nggak ketombean.
***
Tidak menunggu waktu lama, setengah jam kemudian deru mesin helicopter sudah terdengar berisik.
"Ayo, sayang! Helnya sudah datang."
Dengan perhatian, Radika merangkul bahu istrinya. Pria itu menuntun Elvira masuk helicopter bersamanya.
WUSHHHH
Helicopter itu perlahan naik, meninggalkan pulau pribadi milik Radika, yang mungkin sebentar lagi akan menjadi milik Elvira. Sepanjang perjalanan, Radika begitu protective. Ia memegang dan mengengam tangan Elvira. Sesekali melirik perut Elvira yang masih sangat rata.
Sadar bila mata Radika terus saja tertuju padanya, Elvira sampai menegur.
"Mas, kalau Vira nanti nggak hamil, jangan kecewa, ya?" ucap Vira yang khawatir.
"Iya, jangan khawatir! Kita bisa nambah lagi!"
"Hah?"
Radika tersenyum jahil.
***
Beberapa saat kemudian
Rosemary's Hospital
Elvira sedang berada di dalam sebuah ruangan, ia takut saat melihat hasil test pack yang tadi diberikan oleh suster. Sambil menyipitkan mata, wanita itu mengintip.
Tok tok tok
"Vir! Lama sekali? Bagaimana hasilnya?"
Elvira yang masih di dalam, langsung keluar.
KLEK
Ia memasang muka paling sedih.
"Maaf, Mas."
Bersambung
Belom lembaran Vir! Ngapain lu minta maaf? Hehehhehe