Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Harus Ke Dokter


Suami Satu Malam Bagian 23


Oleh Sept


Rate 18 +


[Mengapa jadi seperti ini? Apa ini, mengapa aku diam saja?]


Mulutnya terus mengelak, pikirannya juga berontak. Tapi, tubuhnya terlalu jauh terbawa arus. Larut bersama buain Radika yang seperti pawang baginya.


Bruuuukkkk


Elvira mendorong dadaa bidang kotak-kotak tersebut setelah merasakan kebas pada bibirnya. Dan Radika hanya tersenyum tipis, kemudian mengusap kepala Elvira dengan lembut.


"Bersiaplah, hitungan hari ... semua akan lebih dari ini!" tatap Radika dengan mata penuh ancaman yang mengintimidasi.


"Hanya Papa yang bilang setuju! Siapa yang mau menikah dengan Mas Dika?"


"Cih!" Radika menatap remeh, sudah diciium berkali-kali masih saja begitu. Ia jadi kesal sendiri.


"Apa perlu tidur dulu baru?"


Buru-buru Elvira bangkit dan pergi meninggalkan ruang kerja papanya. Lama-lama takut beneran bila di dekat mahluk nekat seperti Radika itu.


***


Di ruang tamu, semua duduk dengan tenang. Tidak ada lagi sesi baku hantam seperti sebelumnya. Kalandra juga sudah tidak mengeluarkan sungutnya, karena ia sedang memangku Kimora.


Sedangkan mama Lina, ia terus saja mengamati Radika yang kebetulan duduk tepat di depannya. Mereka hanya dibatasi oleh meja kaca yang lebar. Sementara itu, tuan Pram kini mulai membuka percakapan yang serius.


"Vir ... semua kembali padamu. Kalau kamu menolak sekarang, Papa akan larang pria ini untuk kamu."


Elvira mau mengangguk, dan dia langsung dapat tatapan tajam dari Radika.


"Vira menerimanya, Om!" potong Radika.


"Saya sedang bicara dengan putri saya!" cetus tuan Pram masih geram.


Melihat Radika dimarahi sang papa, Kalandra tersenyum senang.


"Vir ... dia kakak dari mantan suamimu!! Pikir-pikir lagi!" sela mama Lina yang masih kurang sreg.


"Saya beda dengan Rayyan, Tante. Tolong jangan samakan." Radika mencoba membela diri. Tidak mau disamakan dengan Rayyan adiknya yang tidak setia tersebut.


"Kalian sama saja! Yang satu brengsekkk, yang satu penipu!" cibir Andra yang ikut kepancing. Padahal sejak tadi Irene sudah memegangi lengannya, agar tahan sedikit saja.


"Sudah! Jangan ribut. Vira! Sekarang terserah kamu, Papa benar-benar sudah pusing menghadapi kalian. Sekarang terserah mau bagaimana."


Radika melirik Elvira yang terlihat bingung, pria itu kemudian mendekat sedikit, membisikan sesuatu ke telinganya. Seketika pipi Elvira langsung panas seperti terbakar.


"Iya .... I-iya, Pa!" jawab Elvira gugup.


"Hey! Apa yang kamu lakukan? Pa! Dia pasti ngancam Mbak Vira!" protes Kalandra saat tadi mengamati Radika yang membisikan sesuatu pada kakaknya. Sehingga Elvira bilang iya dan itu artinya bersedia.


"Vira! Papa nggak mau jawaban terpaksa!" ujar tuan Pram kemudian.


Elvira menggeleng, "Nggak, Pa. Nggak ...!"


"Jadi?" tanya tuan Pram.


"Tiga hari lagi, Om. Saya akan siapkan semuanya. Mungkin sekarang Elvira masih canggung." Lagi-lagi Radika yang lantang bersuara. Bicara seenak jidatnya sendiri.


"Tiga hari?" gumam Elvira panik, ia menatap pada mama Lina, tatapan minta diselamatkan.


"Terlalu cepat!" komentar mama Lina. Wanita itu sepertinya paham dengan ekpresi sang putri.


"Maaf, Tante. Saya tidak mau Elvira menikah saat sudah hamil. Itu akan menjadi beban juga buatnya di hadapan semua orang."


Satu keluarga dibuat terperangah lagi oleh ucapan satu pria.


Rahang Kalandra sudah menyatu sejak tadi, mengeras dengan wajah yang siap tempur. Sementara tuan Pram, ia memejamkan matanya sejenak. Menghela napas panjang dan menatap putrinya.


"Sudah ... baiklah!"


Elvira sampai tidak bisa berkata-kata, seolah ia sedang butuh uluran tangan minta tolong, dengan mudah sang papa melepas tangan.


"Paaa!" hanya mulutnya yang terbuka, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Lidahnya keluh, kakinya pun lemas. Tiga hari lagi, ia akan masuk dalam lingkaran keluarga Dirgantara lagi.


***


Pulang dari rumah orang tua Elvira, langkah Radika seringan kapas. Ia tidak peduli dengan awan panas yang ia tinggalkan di kediaman itu. Ketegangan masih berlangsung ketika ia pergi dari rumah orang tua Elvira.


"Kamu pikir dulu! Mama tidak mau kamu gagal lagi!" ucap mama Lina.


"Dengar itu kata Mama! Jangan lihat tampang saja!" sindir Kalandra.


"Kamu masih bisa mundur kalau mau!" nasehat tuan Pram.


"Vir ... kalau takut dengannya. Bilang pada kami. Mama bisa kirim kamu lebih jauh dari yang ke marin," ide mama Lina.


"Kirim mana lagi? Dia bukan pria bodohhh seperti yang sebelumnya, Ma!" sela Kalandra.


"Sudah! Elvira tidak akan ke mana-mana. Dia akan tetap di sini." Keputusan tuan Pram tidak bisa di ganggu gugat.


Elvira pun masuk kamar, begitu masuk, ia langsung menguncinya.


Bukkkk


Ia melempar tubuhnya sendiri tepat di atas ranjang, merentangkan kedua tangan. Memejamkan matanya rapat-rapat. Rasanya lelah sekali, ia mau istirahat saja.


***


Jika Elvira butuh waktu untuk istirahat, lain halnya dengan Radika. Pria itu kini sudah berdiri di depan pagar rumahnya.


"Maaf, cari siapa?" tanya satpam baru yang bekerja di rumahnya.


"Buka pintu pagarnya!"


"Maaf, anda siapa? Dan mau bertemu siapa?"


"Ish!" Radika mendesis kesal. Ia kemudian meraih ponsel dan langsung menelpon mamanya.


"Hallo, Ma ... ini Dika. Tolong suruh security baru untuk buka pagarnya!"


"Eh ... Dika .... Radika ... Anak Mama ... tunggu .... tunggu, Sayang!"


Tap tap tap


Mama Sarah buru-buru melepas apron miliknya, ia tadi sedikit merapikan bunga yang ia ambil dari taman samping rumah.


"Dika ... Ya Tuhan ... Pakkk!!! Bukakk Pakkk!! Itu anak saya!!!!" teriak mama Sarah pada security yang berjaga.


Jrettttt


Mata mama Sarah berbinar ketika menatap sebuah mobil mulai memasuki halaman rumahnya. Apalagi saat seorang pria membuka pintu untuk putranya.


"D-Dika?" Mama Sarah mengerutkan dahi, ketika sosok tegap itu berjalan dengan penuh kharisma ke arahnya.


"Kamu kembali, Dika?" batin mama Sarah. Ia tidak mampu bertanya lagi, karena ketika Radika sudah begitu dekat dan memeluknya, mama Sarah malah hanya sibuk menangis.


"Nakal ... anak nakal!" Mama Sarah memukuli tubuh putranya.


"Aduh! Sakit, Ma. Jangan!"


Mama Sarah reflek melepas pelukan, ia kemudian ingin memeriksa tubuh putranya. Dengan paksa ia menyibak pakaian Radika.


"Astaga! Apa ini? Siapa yang berani memukul anak Mama? Siapa yang jahat begini ... Mama harus lapor polisi! Ayo Kita ke kantor polisi!"


"Ma ...!" Radika kembali memeluk mamanya.


"Katakan, kali ini siapa lagi yang mencelakaimu, Dika ... mengapa, mengapa harus kamu?" Mama Sarah tidak terima anaknya terus saja jadi sasaran.


"Ini bukan apa-apa, Ma. Dika pantas mendapat ini. Karena Dika juga mendapat ganti yang lebih... ini bukan apa-apa."


"Bicara apa kamu, Dika ... ganti apa. Kamu diam dipukul karena apa? Demi apa?" Mama Sarah terlihat emosional.


"Jangan marah-marah, Ma. Ini semua salah Dika. Demi wanita yang nanti akan hidup bersama Radika, Ma. Dika mau menikah."


"Ha?"


Mama Sarah baru menyadari, sikap putranya yang kembali normal sama seperti dulu.


"Dika ... apa yang terjadi padamu? Apa ini?"


"Kita masuk dulu, Ma."


Keduanya pun memasuki bagunan rumah yang luas dan megah tersebut.


***


"Elvira? Jangan ngarang, Dika! Mana sudi mereka dengan keluarga kita lagi?" Mama Sarah melotot tidak percaya.


"Tiga hari lagi kami menikah, Ma. Om, tante sudah setuju."


"Kamu nggak ngigau, kan?"


Radika tersenyum getir mendapati sang mama yang mengiranya sedang membual.


"Besok kita ke sana, lamar resmi, Ma."


"Dika! Jangan omong kosong, apa kepalamu terbentur lagi?" tanya mama Sarah tidak percaya.


Radika hanya bisa menghela napas panjang dan memasang wajah masam.


"Dika sudah pesan gedung, dan semuanya. Mama tidak usah siapakan apa-apa. Cukup temani Dika."


"Astaga, Dika. Sepertinya kita harus ke dokter. Ada yang tidak beres dengan syarafmu."


Hahahahah


Bersambung.


Mak, anakmu waras Makkk


... nggak gendenggg kok. Hahahaha