
Suami Satu Malam 53
Oleh Sept
Rate 18 +
"Mengapa begini? Membuatku seperti orang bodohhh! Menangisi kematianmu! Kamu pria paling kejam yang pernah ku kenal!"
Elvira memukul dadaa bidang itu berulang kali, hingga Radika tidak bisa memeluknya erat. Wanita itu terus memukul bertubi-tubi, sampai ia puas, dan pukulan itu melemah.
"Jawab aku! Jangan diam saja!" ujar Elvira sembari terisak. Ia lalu menundukkan wajahnya, sebuah wajah yang sudah dipenuhi air mata.
[Maafkan aku! Maafkan aku, Vira ... aku tidak ingin mengusikmu. Aku hanya ingin melihatmu hidup normal tanpa ada yang mengincarmu ... Maafkan aku, mungkin sekarang langkahku akan membuat kalian ikut celaka]
[Maafkan atas keegoisanku]
Radika langsung menyentuh dagu Elvira, istri yang sudah bertahun-tahun tidak ia jamah. Istri yang hanya bisa ia amati dari jauh, dari tempatnya bersembunyi selama ini.
"Maafkan aku!" ucap Radika lirih. Kemudian ia menurunkan wajahnya. Membuat wajah keduanya semakin dekat.
Elvira masih terisak, mulutnya mungkin memaki, tapi jauh di dasar hatinya ada rasa haru, rasa bahagia karena akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan belahan jiwanya tersebut.
Vira merasa mendapat kesempatan kedua, melihat Radika lagi baginya bukan lagi sebuah mimpi. Ia bahkan bisa merasa dan menyentuh wajah tersebut.
Dipegangnya pipi Radika, rupanya tidak hanya dirinya yang berderai air mata. Ternyata suaminya itu juga ikut menangis bersamanya.
"Terima kasih ... terima kasih karena masih hidup," tangis Elvira pecah.
Melihat istrinya terisak, Radika pun tidak mampu lagi menahan emosinya, laki-laki itu langsung saja menutup mulut wanita tersebut. Menciiumnya dengan penuh kerinduan, dan akhirnya panah itu pun melesat, bersama hujaman bibir yang terus membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Sedangkan hendak, ia tersenyum getir ketika melihat dari teropong yang ia arahkan ke halaman rumah itu.
"Sialll!" desisnya sambil tersenyum kecut.
***
Di dalam kediaman Elvira
Begitu masuk rumah itu, Radika sudah disuguhi fotonya sendiri yang terpasang di dinding putih di ruang tamu. Sebuah foto dengan ukuran besar, ya foto pernikahan keduanya. Rupanya, Elvira tidak membuang kenangan mereka. Radika pikir, semua tentangnya akan hilang. Ia keliru, karena Elvira sama sekali tidak berubah.
"Mereka pasti senang melihatmu!" ucap Elvira ketika suaminya berdiri di atas rak, pria itu sedang memegang pigura berbetuk hati, di mana ada potret si kembar yang masih bayi.
"Maafkan aku, maafkan aku karena kalian harus menderita." Pria itu mengusap wajah Zia Zio yang ada di pigura. Tergambar jelas penyesalan dalam wajah tampannya itu.
Elvira menggeleng, ia tidak mau permintaan maaf dari suaminya itu. Ia hanya ingin hukuman yang setimpal, Radika harus tetap bersama mereka sampai tua. Tidak peduli apapun lagi, suaminya tidak boleh pergi lagi.
"Ayo ke kamar mereka!" ajak Elvira sembari mengusap pipi. Ia ingin memperlihatkan wajah anak-anaknya pada Radika.
"Aku harus pergi secepatnya."
Seketika ekpresi Elvira langsung berubah.
"Pergi lagi? Mas anggap aku apa?" tanya Elvira dengan emosi yang mulai meluap.
"Tapi ini demi keselamatan kalian!"
Elvira mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pergilah!!!! Pergilah dan jangan muncul lagi! Aku pastikan akan kembali pada Rayyan!" ancam Elvira.
Radika langsung melotot, ia sama sekali tidak suka dengan perkataan Elvira. Meski ia yakin itu hanya ancaman. Hanya saja, itu tidak lucu.
Setttt
"Aku baik dengannya karena dia baik dengan anak-anakku!! Awas kau macan-macam!" Radika langsung saja membopong tubuh Elvira.
Wanita itu pun bingung, mengapa sepertinya Radika tahu kesehariannya? Apa selama ini dia dimata-matai? Apa selama ini Radika mengamati dari jauh? Tiba-tiba dadanyaa terasa sesak, wanita itu tidak bisa membendungnya lagi.
Berkali-kali ia memukuli Radika. Namun, seperti semen lima rodah. Pria itu masih kokoh, tidak tumbang meski Elvira terus menyerang.
Radika membuka dengan asal salah satu kamar, dan itu adalah kamar tamu.
Brukkk
Ia letakkan tubuh Elvira tepat di tengah-tengah ranjang.
"Mas mengamati kami selama ini?" tanya Elvira yang sedikit lumer. Ia merasa Radika sudah menjaganya dari jauh selama beberapa tahun ini.
"Jangan dekat-dekat Rayyan!" jawab Radika. Ditanya apa, jawab apa, membuat sang istri menatapnya kecewa.
"Katakan! Apa mas Dika selama ini mengamati kami?" tuntut Elvira, ia ingin mendengar langsung dari mulut suaminya itu. Bahwa selama ini Radika bersama mereka.
Radika pun mengeluarkan ponselnya, ia menunjukkan galery pada ponsel pintarnya itu. Bahkan, waktu anak-anak di mall dan cafe pun ada di dalam HP tersebut. Padahal itu ada kejadian tadi siang.
"Jika kamu ada di sana, pasti kalian seperti keluarga bahagia!" sindir Radika. Pria itu bahkan kini sudah ada di atas tubuh Elvira. Mengungkung wanitanya itu, seolah mengatakan bahwa Elvira hanya miliknya.
"Itu ... itu karena mereka tidak punya sosok ayah! Bukan salahku bila mereka dekat dengan Rayyan!" Elvira membuang muka. Ia tidak sanggup mendapat sorot mata yang sangat tajam itu.
"Tetap saja aku tidak suka!"
Elvira yang semula membuang muka langsung menatap suaminya balik.
"Kalau tidak suka, jangan pergi!"
"Maaf, Vira. Ini keselamatanmu."
Radika jadi ingat, ia tidak boleh lama-lama di sana. Pria itu pun langsung menarik diri, ia bangkit dan turun dari ranjang. Radika sepertinya buru-buru mau pergi. Apalagi Jeandana sudah pasti menunggu di luar sana.
"Kembali! Jika tidak ... aku tidak akan bisa menjamin lagi ... mungkin akan kucari pria lain!"
Deg
"Hati-hati dengan ucapanmu, Vira!!!" ujar Radika marah.
"Pergilah ... silahkan. Jangan salahkan aku bila nanti Mas mendapat poto-potoku tidur bersama pria lain!" ancam Elvira. Ia hanya ingin menahan suaminya agar tidak pergi lagi
Dan sepertinya kali ini ancaman Elvira berhasil. Sebab Radika langsung naik ke ranjang kembali.
"Lakukan bila kamu berani!"
"Eh!"
Elvira memekik, ia kaget melihat aksi suaminya itu. Ancaman Elvira rupanya sangat manjur. Pria itu malah langsung melepaskan pakaiannya. Melempar ke atas kursi yang ada di depan nakas.
"Akan ku patahkan mereka yang berani menyentuhmu!" ancam Radika balik sambil mengigit bibir wanitanya itu.
[Astaga! Kamu tetap sama ... pencemburu]
[Tapi aku suka! Aku menyukainya!]
Elvira membuka bibirnya, membiarkan Radika masuk tanpa harus mengigit bibirnya lagi. Mereka berdua pun saling bertautan, sesapann demi sesapann itu semakin dalam. Menjadi pelepas rindu yang sepertinya tidak bisa dibendung lagi saat ini.
Di dalam cahaya lampu yang temaram, Radika hendak mengunjungi gua miliknya. Gua horor yang tidak berpenghuni selama lima tahun terakhir. Karena status janda ditinggal mati. Padahal suami Elvira masih hidup. Sepertinya mereka butuh ke kecamatan, untuk mengurus dan pengajuan KK baru. (Hehehe LOL)
"Terima kasih, terima kasih karena selalu setia!" bisik Radika saat tautan mereka lepas.
Elvira hanya diam, ia tidak berkedip. Mungkin juga masih shock setelah ciumann panass mereka barusan. Matanya pun terus menatap sosok suami yang kini ada di atas tubuhnya. Ini konyol, suami yang dinyatakan mati, kini hidup lagi. Bahkan sudah berada di atasnya, konyol!
Ia baru tersadar dan mengeliat ketika tangan Radika sudah aktif seperti dulu. Tanpa ijin, tangan itu langsung menarik turun celana model piyama yang ia kenakan.
"Coba aku lihat, apa masih sama?"
Ucapan Radika membuat Elvira langsung memegangi celananya lagi. Padahal sudah sampai lutut. Tapi, detik berikutnya ia tidak bisa berkutik ketika tangan itu mulai mengeluarkan keahliannya. Elvira dibuat mabuk kepayang, diombang-ambing oleh lautan rasa, seperti terbang ke awan begitu Radika mulai menyentuh pusat bumi tersebut.
Apalagi saat pria itu menciiumnya ... Bersambung. Bab berikutnya skip ya wkwkwkkk