
Suami Satu Malam 54
Oleh Sept
Rate 18 +
Aku doain, yang gak skip ketika usia KTP di bawah umur, bintilan! Jangan ngintip! Yang sudah menikah dan sudah ada gandengan, yuk merapatkan diri ... semoga dapat ilmu yang unfaedah dari Sept. Hehehe. Ngikik.
***
Ketika Zio dan Zia sedang tidur terlelap di kamar mereka. Ada kamar lain, tepatnya di kamar tamu yang ranjangnya mulai bergoyang. Bukan gempa, bukan! Hanya ada pertemuan dua hati yang sedang melepas rindu dan tak bisa lagi dibendung.
Di atas ranjang yang sedang bergoyang itu, Radika menatap paras Elvira lekat-lekat. Kemudian kembali menurunkan wajahnya, menciiumi inci demi inci. Hingga tidak ada area yang tersisa. Semua full akan stempel bibir pria yang sedang perkasa-perkasanya itu.
Mungkin terlalu lama saling mendamba, hingga pertemuan mereka malam ini membangkitkan sesuatu yang mengebu. Bergejolak dan minta disalurkan.
Radika pun bangkit sejenak, pria itu dengan lancar melepas apa yang masih tersisa pada tubuhnya. Membiarkan Elvira malu dan wajahnya menjadi panas dingin karena harus melihat burung kaka tua secara live lagi. Lima tahun, rasanya sudah cukup lama Elvira tidak melihat benda itu.
Dengan gagah berani, burung kaka tua mau unjuk gigi. Belum juga disentuh oleh Elvira, dia sudah berdiri tegak dengan lantang. Seolah menantang pasangan duelnya.
Elvira sampai ngeri, lama guanya angker karena tidak pernah dijenguk oleh sang pemilik. Begitu pemiliknya datang, kok jantungnya berdegup tidak karuan. Astaga! Keinget malam pertama jadinya. Tanpa ia sadari, wajahnya jadi telihat gelisah. Sorot mata Radika membuatnya malu. Ingin rasanya ia bersembunyi di balik selimut saja.
"Nggak!" Elvira menutup kakinya rapat.
Dahi Radika mengkerut, "Nggak? Dia menolakku?" batin Radika.
Wanita itu kemudian beringsut, menghindar dari kungkungan sang suami. Ia tidak mau melakukan hal itu, bila Radika pergi lagi. Menghilang entah berapa tahun lagi baru muncul. Rasanya yang kemarin saja sudah mau gila, ia tidak mau lagi. Cukup ia menderita selama ini.
Tanpa sadar ia malah menitihkan air mata, tidak mau ditatap oleh Radika, ia pun membuang muka. Tapi, tangan Radika langsung mengusap sudut matanya.
"Apa kamu takut aku pergi lagi?" tanya Radika sendu. Ia menebak alasan penolakan istrinya itu. Sebab ia paham, Elvira masih sangat menginginkan dirinya. Telihat dari sorot mata Elvira yang penuh harap. Seakan meminta Radika tetap di sisinya.
Elvira menjawab dengan mengalungkan lenganya ke leher Radika.
"Bawa aku bersamamu!" ucapnya serak, ia malah terisak.
"Maaf, Vira!"
Mendengar kata maaf, Elvira langsung melepaskan pelukannya. Buru-buru ia turun. Mendorong tubuh Radika. Elvira marah karena merasa Radika sama sekali tidak peduli pada perasannya.
Pria yang sudah tidak mengenakan apapun itu pun mengejar istrinya yang sudah memegang knop pintu. Gondal-gandul (ngakak).
"Oke! Mas akan stay di sini bersama kalian!" teriak Radika untuk menghalangi istrinya kabur dari kamar itu.
Elvira menggeleng, tidak percaya. Pria itu kemudian menghela napas dalam-dalam. Lalu melangkah menuju pintu, begitu dekat, ia menyentuh kedua pundak Elvira.
"Pegang kata-kataku! Mungkin ini terdengar egoist. Tapi sepertinya ini adalah maumu. Jangan terkejut, jika nanti salah satu diantara kita akan menghilang, atau bahkan tinggal nama."
BUGH
Elvira memukul bagian bidang seperti roti sobek tersebut. Terlalu banyak alasan, bertele-tele. Elvira sangat benci itu.
"Jika berniat pergi! Tidak usah kembali!" maki Elvira marah bercampur kecewa.
Tapi, tiba-tiba Elvira yang tadi tidak memperhatikan tubuh suaminya, kini matanya fokus pada sayatan di bawah perut.
Dilihatnya lagi dengan jelas. Bukan hanya itu, lengan, tangan dan ia pun memutar tubuh suaminya yang masih gandul-gandul tersebut. Matanya terbelalak, ini tidak pernah ada sebelumnya. Mengapa suaminya penuh dengan bekas luka yang besar?
"Siapa yang melakukannya, Mas? Siapa?" teriak Elvira histeris. Mengapa suaminya penuh luka pada tubuhnya? Mengapa lima tahun hilang ia malah disuguhi pemandangan yang menyayat hatinya itu saat keduanya bertemu.
"Katanya! Siapa Mas sebenarnya?" tuntut Elvira sekali lagi.
Radika terdiam, lalau memejamkan mata dalam-dalam, pria itu pun merengkuh pinggang Elvira. Mendekapnya, memeluk Elvira yang kini terseduh.
***
Dua jam kemudian
Keduanya sudah terbaring di atas ranjang, tanpa apapun. Sama-sama polos seperti bayi. Elvira memakai lengan suaminya sebagai bantal. Sedangkan Radika, pria itu mengusap kepala Elvira, sembari sesekali mengecupnyaa dengan hangat.
"Tinggalkan dunia itu, Vira ingin hidup damai, Mas!" pinta Elvira penuh harap. Sambil meringis, merasakan rasa sakit pada inti miliknya.
Beberapa saat yang lalu, Radika berhasil masuk dalam gua. Mereka sudah damai setelah Radika jujur. Pria itu mengatakan semuanya pada Elvira, dari awal sampai akhir. Semuanya ia ceritakan, hingga penyiksaan yang ia dapat akibat dendam salah alamat. Beruntung bagi Radika, para anak buahnya bisa menemukan dirinya yang akan ditengelamkan dalam samudera.
Berkat cip yang ditanam dalam tubuh pria tersebut. Anak buahnya cepat mendeteksi keberadaan Radika. Dan demi keselamatan Radika. Para anak buah menciptakan ledakan, sehingga Radika pasti dikira mati oleh pihak lawan.
Pasar gelap yang digeluti oleh Marco dan Radika mulai mengalani gesekan sengit setelah tewasnya adik Marco. Pimpinan mafia yang terkenal di negara itu, merasa Radika adalah penyebab utama tewasnya adik Marco yang paling ia jaga tersebut.
Salah paham, membuat Marco terus mengejar Radika. Baginya, dendamnya akan lunas jika Radika tewas.
"Mas! Mas dengar Vira tidak?"
"Iya!" Radika yang sempat melamun kembali memiankan anak rambut Elvira yang berserakan.
"Mari hidup normal! Bila perlu, kita sewa banyak polisi untuk menjaga rumah ini. Uang Mas banyak, kan? Cari pengawal terbaik! Pokoknya Mas nggak boleh ke luar negri lagi! Dan lagi! Andra pasti punya banyak kenalan, aku akan minta Andra untuk carikan orang yang bisa melindungi Kita!" tegas Elvira.
"Kamu tidak takut, Vira? Bukankah kamu hampir tertembak?" tanya Radika ingin tahu perasaan Elvira saat sebuah peluruu mengarah ke arahnya.
"Vira lebih takut kalau tidak bisa melihat Mas!"
Wanita tersebut lalu merapatkan tubuhnya, tidak ingin jauh-jauh dari suaminya itu. Apalagi Radika tadi sudah janji saat akan melakukan itu padanya, bahwa ia akan tinggal hingga Elvira merasa bosan.
"Apa sakit?" bisik Elvira ketika tangannya tidak sengaja menyentuh bekas jahitan di balik punggung suaminya.
"Tidak! Tidak sama sekali!" jawab Radika tegas. Sering olah raga dan ngegym, membuat pria itu kebal. Memiliki fisik yang kuat dan tahan banting. Hanya saja, ia pasti lemah jika berkaitan dengan keluarganya. Apalagi mengenai Elvira, saat mendengar cerita bahwa Elvira sempat hampir tertembak, rasanya ia langsung lemas.
"Bagaimana yang ini?" Elvira kembali meraba ke bagian yang lain.
Pria itu langsung terkekeh, baru bertemu tapi Elvira sudah giat menggodanya. Masa istrinya itu memegang mi burung daraaa. Hahahah
Mungkin gemas, Elvira dengan sengaja memainkan barang yang jelas bukan mainan itu. Membuat burung kaka tua yang semula baru tidur langsung on fire lagi.
"Jangan menggodaku, Vira!"
Elvira langsung melepaskan tangannya, tersenyum pada Radika.
"Cepat sekali berdiri?" ejek Elvira.
Radika tidak bisa menyembunyikan senyumnya, aksi nakal Elvira membuatnya kembali tertantang.
"Aduh!!" Elvira memekik.
Tanpa pemanasan lagi, tidak buang-buang waktu, Radika langsung saja mengarahkan benda keramat itu. Sontak membuat Elvira kaget. Namun, mungkin karena lama tidak disiram. Sedikit pemanasan, ciumann sesaat dan sentuhan lembut pada bagian inti, eh sudah becek. Akhirnya, Radika pun kembali mengulang aksi heroesnya. Ia dengan gencar berusaha meluncurkan benih-benih kecebong lagi, calon adik bagi si kembar.
"Tahan, Sayang!" ucap Radika serak. Wajahnya menegang. Sepertinya ada yang mau melesat. Bersambung......