
Suami Satu Malam Bagian 44
Oleh Sept
Rate 18 +
Ketika menuruni tangga, Rayyan memasang telinganya. Terdengar suara tak asing di ruang tamu. Dan itu adalah suara sang kakak. Penasaran, ia menguping. Pria itu sempat terkejut ketika Radika mengatakan sudah isi. Otaknya yang cerdas, membuat Rayyan langsung berpikir. Apakah Elvira tengah hamil?
Ia melanjutkan langkah, meski hatinya menyimpan keterkejutan. Rayyan memasang wajah biasa, meski hatinya mulai tidak tenang. Harusnya ia cuek. Namun, entah mengapa seperti ada yang mengusik ketenangan batinnya tersebut.
"Ray!" panggil mama Sarah saat melihat Rayyan menuruni tangga.
Sedangkan Elvira, ia biasa saja. Toh dalam hatinya sudah tidak ada Rayyan. Radika sudah memrbuhi seluruh ruang dalam hati wanita tersebut, sampai luber dan tumpah-tumpah. Karena begitu banyak rasa cinta yang suaminya berikan padanya akhir-akhir ini.
Lain lagi dengan Radika, ia sudah memasang wajah dingin. Sambil melirik Jeandana. Seolah mengisyaratkan pada bodyguard tersebut, untuk menjaga Vira dari pria yang baru datang tersebut.
"Baru tiba?" sapa Rayyan basa-basi. Bagaimana pun juga mereka kan adik kakak. Rasanya tidak enak bila tidak menegur saudaranya itu.
Radika lantas mengangguk, kembali bicara pada sang mama.
"Ma, Elvira biar istirahat bentar ya. Kami masuk ke dalam dulu." Radika meraih tangan Elvira.
"Iya, sana ... Mama mau siapin makanan juga. Oh ya, awal kehamilan pasti perutmu nggak nyaman Kan, Vir ... mau Mama buatin apa?" tanya mama Sarah yang terlihat senang. Sejak tadi ia melihat perut Elvira. Ketika Radika bilang Elvira lagi isi, mata mama sarah langsung berbinar-binar.
"Tidak usah repot-repot, Ma. Elvira sama sekali tidak merasakan gejala seperti itu." Elvira tersenyum tipis saat bicara pada mama mertuanya. Mama mertua sebanyak dua kali, karena pernah putus gara-gara pernikahan dengan Rayyan beberapa bulan lalu yang gagal dan kandas dalam hitungan hari.
"Benarkah? Bagus itu," timpal mama Sarah lega.
"Tapi Mas Dika, Ma! Mas Radika yang ngidam," Elvira tersenyum senang.
"Masa? Kok sama seperti hamil Radika dulu?" tanya mama Sarah tidak percaya.
"Jadi Papa juga yang mual-mual dan muntah?" Elvira mengerutkan dahi.
Mama Sarah menjawab dengan senyum penuh kepuasan. Sedangkan Radika hanya bisa bengong. Oh rupanya turun temurun.
"Itu sampai berapa bulan, Ma?" sela Radika yang sejak tadi menyimak keduanya mengobrol.
"Hanya trimester pertama, nikmati saja, Dik!"
"Hanya? Berapa hari itu, Ma?" Radika menajamkan alis matanya, ia menunggu jawaban pasti dari sang mama.
"Satu sampai dua bukan!" jawab mama Sarah terkekeh.
Mereka bertiga pun tertawa bersama, sedangkan Rayyan, ia sepertinya mau menghilang dari ruangan itu. Merasa tidak nyaman dan ingin pergi.
"Ma! Rayyan pergi dulu!" ucap Rayyan. Dan membuat semua menatap dirinya. Rayyan makin merasa risih.
"Mau ke mana? Makan dulu. Kita jarang ngumpul, hari ini kamu kan libur?" tanya mama Sarah penuh selidik.
"Ada urusan mendadak, Ma ... Mas, Ray pergi dulu."
Tanpa menatap Elvira, Radika memutuskan meninggalkan rumah itu. Satu oksigen dengan mereka, membuat Rayyan sesak. Lebih baik ia pergi.
"Ya sudah, hati-hati!"
"Iya, Ma."
Setelah Rayyan pergi, Elvira merasa tidak enak. Ia merasa pria itu sedang menghindari dirinya.
"Ya udah, Ma. Kami ke atas dulu."
Radika yang sempat melepas tangan Elvira, kini meraihnya kembali. Kemudian menatap Jean.
Kemudian Radika melihat ke arah mama sarah.
"Ma, minta sama bibi untuk memberikan ruang istirahat buat asisten Radika."
Tidak mau sang mama menganggap dirinya lebay, ia menyembunyikan jati diri Jeandana. Dengan mengatakan pada semua bahwa Jean adalah asisten pribadinya.
"Iya, nanti Mama panggikkan Bibi. Kalian istirahat saja."
"Iya, Ma."
***
Sore harinya, mama Sarah sedang duduk santai bersama suaminya. Tuan Wira bangga dan senang saat Radika menunjukkan hasil USG milik istrinya.
"Selamat, Dik!"? Jaga kandungan istrimu baik-baik. Masih awal kehamilan, janinnya sangat rentan. Harus ektra menjaga istrimu itu!" nasehat tuan Wira pada sang putra.
"Pasti, Pa! Dika pasti jaga mereka."
Keluarga itu berincang hingga hari menjelang senja. Bicara banyak hal, mengenai hidup dan juga bisnis.
Hingga malam tiba, waktunya makan malam. Rayyan belum pulang, dan rencananya, habis makan malam Radika akan mengajak istrinya pulang. Tapi, saat akan makan, Radika dilanda mual-mual kembali.
Hingga hanya ada papa dan mama yang duduk di meja makan. Sedangkan Radika dan Elvira, mereka di dalam kamar Radika, Elvira sedang mengosok perut suaminya.
"Sedikit saja, Mas kan tidak suka aromanya!"
[Ish cerewet betul]
"Jangan banyak-banyak, Vira!" protes Radika yang merasakan mual lagi.
[Astaga! Cuma tiga tetes!]
Huekk
Radika lari lagi ke kamar mandi, cukup lama ia di dalam sana. Hingga saat ia kembali malah mendapati Elvira yang sudah tidur. Karena lelah, ia pun ikut berbaring di samping tubuh istrinya.
Tengah malam
Elvira terbangun karena rasa lapar, ia lupa tadi malam melewatkan jam makan. Ini karena ia sibuk dengan Radika yang perutnya kembali mual.
Karena perutnya terus berbunyi, ia pun hendak ke dapur cari makanan. Dengan pelan-pelan ia turun dari ranjang agar tidak membangunkan Radika.
KLEK
Dengan pelan pula ia membuka pintu dan menutupnya. Elvira pergi ke dapur, membuka kulkas. Bibirnya tersenyum melihat banyak kue di sana. Ada coklat juga, tiba-tiba ia menjadi berbunga-bunga. Sepertinya semua akan muat bila ia makan.
Vira pun mengambil sendok dan piring untuk makan kue. Pertama mencicipi, terlihat sekali ia menikmati sensasi rasa manis yang membuat moodnya jadi happy.
Nyummy
Habis satu piring, Elvira bangun dari tempat duduknya. Ia kemudian mau mengambil lagi kue. Dibukanya pintu kulkas, ia mengambil sepotong lagi. Sambil berjalan ke meja, ia mencicipi krim manis tersebut. Dan tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
[Perasaan Mas Dika bau minyak urut! ASTAGA!"
Elvira mau menepis, dan menggunakan sikunya untuk menyingkirkan sosok di balik tubuhnya. Namun, pria itu malah semakin erat memeluknya.
[Dia mabuk]
Bersambung
Bojo, mana mas bojo! Ada garangan. Hahaha