
Suami Satu Malam 78
Oleh Sept
Rate 18 +
"Mas! Mas Dika!" suara Elvira terdengar semakin kencang ketika memanggil suaminya. Ia berjalan menaiki tangga mencari Radika yang sejak tadi belum keluar kamar.
Tap tap tap
Terdengar derap langkah kaki Elvira yang semakin dekat. Wanita itu mencari suaminya setelah mendapat telpon dari agent property barusan. Semalam, setelah bergulat, mereka juga melanjutkan dengan berdiskusi. Rencananya akan pindah rumah.
Radika ingin mereka pindah ke rumah yang lebih luas. Karena ia rasa, tempat yang ditinggali si kembar saat ini masih kurang luas. Apalagi akan ada personil baru, pria itu pun ingin rumah yang lebih luas lagi. Dan juga, Radika ingin ada lapangan golf di belakang rumahnya nanti. Otomatis, mereka harus mencari lahan atau rumah yang sudah siap huni yang sesuai mau Radika.
KLEK
"Mas ...!"
"Iya, Sayang!" sahut pria yang masih terlihat gagah dan macho tersebut.
Radika yang habis bertelpon dengan Jean, kemudian bersikap biasa. Ia pura-pura berkaca, berdiri di depan meja rias sembari memegangi dagunya. Bak model iklan alat cukur jenggot dan kumis.
"Ish ... ganteng kok!" goda Elvira saat melihat suaminya bercermin sembari memegangi dagu.
"Ada apa, Vir?" tanya Radika sambil tersenyum tipis, ia kemudian duduk di tepi ranjang sembari meraih tangan Elvira. Menarik tubuh itu hingga membuat Elvira duduk di pangkuannya.
Sambil melingkarkan lengannya pada pinggang Elvira, Radika kembali bertanya.
"Ada apa?"
"Ada telpon dari agent property, tadi telpon ke nomor Mas Dika, katanya telpon Mas sibuk! Emang telpon siapa?"
DEG
Radika menelan ludah dengan kasar.
"Oh, ada ... tadi ada telpon dari perusahaan." Pria itu mencoba mencari alasan.
"Sudah mulai kerja lagi?" Elvira menyipitkan mata.
Pria itu mengangguk pelan.
"Iya, sepertinya besok sudah kembali aktive kerja di perisai. Harus rajin cari cuan ... buat si baby!" Radika mencoba tersenyum.
CUP
Radika lalu mengecupp pipi Elvira, sengaja untuk mengalihkan perhatian. Agar Elvira tidak tanya lebih jauh lagi.
"Emm... terus kapan kita lihat rumahnya?"
Bola mata Radika berputar, memikirkan jawaban yang pas. Sebab ia mau mengintrogasi Jeandana terlebih dahulu.
"Lusa ya?"
"Iya, deh. Ya udah ... Vira turun dulu, anak-anak pasti nyariin. Mas juga cepet turun."
"Iya, bentar."
Elvira pun berjingkat. Namun, dengan jahil Radika kembali merapatkan lengannya. Membuat Elvira langsung terduduk lagi.
"Ya ampun! Zia nyariin, Mas!"
Cup
Tidak tahan dengan aroma ibu hamil yang membuatnya merasakan sensasi yang lain, Radika malah memeluk Elvira lebih erat. Dikecupnyaa tengkuk sang ibu hamil itu berkali-kali, sampai membuat Elvira merasa geli.
"Mas! Udah dong ... sudah pagi ini!"
Radika hanya tersenyum jahil, kemudian memutar tubuh Elvira hingga menghadap padanya.
Dikecupnyaa perut Elvira yang masih rata tersebut.
"Nanti malam Papa tengok ya!"
Mendengar celotehan sang suami, Elvira hanya bisa geleng kepala.
"Maaa ... Maaa!"
Terdengar suara Zia yang nyaring, buru-buru Elvira mendorong tubuh Radika.
"Iya, Sayang ... Mama datang!" sahut Elvira tak kalah keras.
"Udah, Mas. Aku turun dulu!"
Radika pun melepaskan Elvira.
***
Beberapa jam kemudian
Setelah makan, Radika pamit mau pergi keluar sebentar. Tanpa curiga, Elvira mengiyakan saja. Disusul oleh Rayyan yang juga mau pergi ke kantor.
La-Sorra Coffee House
Ting
Jean melirik ponselnya, ia kira pesan dari Radika. Tapi malah dari Rayyan.
[Bisa ketemu? Ada yang ingin aku bicarakan!]
Dengan manyun, Jeandana mengetik pesan balasan.
[Maaf, lagi sibuk]
Ting
Rayyan tersenyum getir membaca pesan balasan dari calon istrinya itu.
[Oke! Aku jemput di rumah, aku tunggu sekarang di sana]
Ting
Mata Jeandana melotot, Rayyan benar-benar pria pemaksa. Kesal, ia menggengam ponselnya dengan gemas. Jean kemudian membalas pesan Rayyan, tidak mau pria itu datang ke rumahnya.
[Tidak usah! Satu jam lagi, di La-Sorra Coffee House]
Ting
[OK]
Jean kemudian menghela napas panjang. Sembari matanya melirik kanan kiri, kenapa Radika belum datang?
Selang beberapa saat, yang ditunggu datang juga.
"Sudah lama?" tanya Radika.
Jean mengangguk sopan. Seperti murid bertemu dengan gurunya.
"Macet tadi. Aku dengar kalian akan menikah, apa itu benar?" Radika langsung masuk pada inti pembicaraan.
Lagi-lagi Jean hanya mengangguk.
"Bagus! Kalian memang harus membuka hati. Dan aku harap, kalian tidak main-main dengan pernikahan."
"Baik, Tuan."
Jean terus menundukkan wajah, ia menyembunyikan wajahnya yang kini mengambarkan kesedihan.
"Panggil saja Mas Dika. Bukankah sebentar lagi kamu akan menikah dengan Rayyan? Dan lagi ... masalah pekerjaan, kamu sudah aku bebaskan sekarang. Aku juga merasa Richard saja sudah cukup."
"Baik, Tuan!" Jean mengigit bibirnya.
"Maaf, Mas!" tambah Jeandana. Lidahnya keluh memanggil pria yang ia kagumi selama ini secara diam-diam meminta merubah panggilan yang sudah terbiasa di lidahnya.
"Jean!"
"Iya, Mas."
"Semoga kamu bahagia, terima kasih atas waktumu selama ini. Dan maaf, aku tidak bisa membalas dengan apapun. Aku doakan kamu bahagia dengan Rayyan," ucap Radika dengan tulus. Ia tahu, Jean masih menyimpan rasa padanya. Sebab wanita itu sejak tadi tidak berani menatap matanya.
"Terima kasih atas doanya!" ucap Jean serak.
Radika paham, mungkin ini sangat sulit bagi Jean. Tapi, ia tidak mungkin melarang Rayyan dan Jean menikah. Apalagi kedua orang tuanya sudah bertemu. Mau ini adalah permainan atau pelampiasan, semua di luar batas Radika.
Jean dan Rayyan berhak melakukan apa yang mereka mau. Ia tidak bisa melarang ini dan itu. Meski curiga, tapi ia yakin. Mungkin Jean jodoh Rayyan selama ini. Apalagi Jean adalah sosok wanita baik-baik, 11 12 dengan Elvira. Siapa tahu, hal itu bisa melepas kutukan Rayyan yang selalu gagal dalam pernikahan. Who knows?
"Oke! Aku rasa tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan. Aku hanya berharap, yang terbaik untukmu!"
Jean mengangguk dengan tubuh bergetar, sepertinya ia tidak bisa menyembunyikan tangisnya lagi.
Radika jadi tidak enak, meninggalkan wanita menangis begitu saja. Ia pun berdiri dan menepuk punggung Jeandana.
"Kamu wanita kuat! Ayolah ... semoga Rayyan bisa menghangatkan hatimu."
Sepertinya Radika tahu, Jeandana tidak serius dengan adiknya. Ia tebak dari kesedihan wanita itu. Mau menikah kok malah terlihat dilema, galau dan menangis. Seperti dipaksa menikah saja.
Tidak jauh dari sana, terlihat seseorang mengepalkan tangan. Bersambung.
Kira-kira siapa yang menciduk keduanya?
Yang tembakan bener, langsung Sept DM ... Xixixxii ....
Ada hadiah, bukan kerupuk kok. Hahaha ...
Fb Sept September
Ig Sept_September2020
Terima kasih
Sambil nunggu up, baca juga novel Sept yang lain ... xie xie