
Suami Satu Malam 82
Oleh Sept
Rate 18 +
Skip
[Sungguh aku tidak pernah takut dengan seorang pria, tidak pernah. Bahkan, jika pria itu membawa senjataa yang mungkin bisa merampas nyawaku, aku tidak takut. Tapi, apa ini? Rayyan! Kamu keterlaluan sekali. Mana bisa aku tidak berkutik di hadapkan pria yang bahkan tidak membawa apapun?]
Jean tidak henti-hentinya mengumpat. Rayan memang tidak membawa senjataa, tapi pria itu memiliki sesuatu yang memiliki sesuatu yang mengandung amunisi. Entah mengapa, Jean sangat takut dengan benda elastis tersebut.
Bukan karena akan membuatnya mati, tapi Jean takut sesuatu itu malah akan memberikan kehidupan baru. Ya, Jean takut dengan senjataa alamiah Rayyan yang bisa melesatkan banyak bibit kecebong tersebut.
"Kenapa wajahnya jadi pucat begitu? Aku rasa dia sangat pemberani selama ini. Penjahat pun ia hadapai dengan percaya diri. Apa kau takut dengan ini, Jean?" batin Rayyan, matanya tak lepas dari wajah sang istri. Istri yang kini ketakutan dibuatnya.
Rayyan semakin mendekat, hingga Jean sudah benar-benar di bawah kuasanya. Ya, Jean sudah mati kutu dalam kungkungan mantan duda kesepian tersebut.
Sementara itu, wajah Jean makin pucat pasi. Padahal hanya di bawah kungkungan seorang Rayyan, tapi rasanya sudah sangat memacu adrenaline. Seperti Matador yang mau disruduk banteng. Ngeri-ngeri sedap!
Glek ...
Jean menelan ludahnya sendiri secara perlahan, sumpah sejak tadi wanita itu sudah menahan napas cukup lama dan hal itu tak luput dari mata elang Rayyan. Pria yang sedang on fire itu, bisa melihat pergerakan yang perlahan namun mengundang banyak gejolak.
Pelan tapi pasti, Rayyan menurunkan wajahnya, hingga menyisahkan sedikit jarak antara keduanya. Jane bahkan bisa merasakan hembusan napas hangat Rayyan.
"Mati kau Jane!" pekik Jane dalam hati. Sepertinya ini adalah akhir menuju detik-detik melepaskan mahkotanya.
Cup ...
Rayyan kembali mengecup bibir munggil yang kini sudah tebal dan pasti terasa kebas akibat ulahnya beberapa waktu lalu. Diusapnya bibir Jane dengan satu jari, perlahan jari itu merayap dan terarah. Turun ke bawah, membuat si pemilik tubuh keder dan ingin glenjotan karena aksi Rayyan yang benar-benar sudah professional.
"Aku haus!" ucap Jane yang membuat konsentari Rayyan buyar.
Pria itu berjingkat sedikit, kemudian membiarkan Jean duduk dan minum. Hanya sebentar, karena detik berikutnya Rayyan sudah menguasai mangsanya lagi.
"Kamu nggak haus? Apa kita sarapan dulu? Kamu nggak lapar?"
Jeandana gadis pintar dan jago bela diri kini mencari cela, banyak pertanyaan yang ia cecar pada Rayyan untuk mengalihkan perhatian.
Rayyan kemudian mengangguk, "Sejak semalam aku memang lapar, lapar sekali!"
"Eh!" pekik Jean kaget bukan main.
Tangan Jean meremas kain seprai saat suaminya mulai bermain dengan dua bola dunianya. Dasar duda mesumm, lama tidak melihat sesuatu yang seperti itu, dengan semangat ia melahap secara bergantian..
Jean pasrah, cengkramannya perlahan melemas. Tangan yang semula meremass kain sprai ganti jadi memeluk tubuh atletis Rayyan. Sesapan pria tersebut yang penuh gairahh, membuat Jeandana pun ikut larut dalam permainan suaminya itu. Dan suara-suara khas pergulatan pun mulai memenuhi presidential suite tersebut.
Rayyan tersenyum penuh kemenangan, menatap tubuh Jean yang mengeliat seperti cacing kepanasan di bawah kuasanya. Baru tahap pemanasan, tapi Jean sudah berhasil ia lumpuhkan. Ray berhak merasa bangga, meski belum gol, setidaknya ia tidak mengalani penolakan dari Jean seperti yang ia bayangan.
"Tunggu!" Jean merapatkan kedua lututnya. Mungkin Jean takut saat segelnya akan segera dibuka.
"Ya?" bisik Rayyan, sembari memberikan gigitan kecil di daun telinga Jean. Yang jelas, Jean semakin tidak berdaya. Rayyan menekan Jean pada semua titik sensitive wanita tersebut. Hingga Jean luluh dan menyerah sebelum perang.
"Pakai pengaman!" suara Jeandana serak. Pipinya juga terasa panas. Malu campur ingin menyatu jadi satu.
"Hah? Apa?" Dahi Rayyan mengkerut.
"Kamu pasti punya, kan?" tanya Jean penuh harap. Ia takut langsung hamil, apalagi sejarah Rayyan yang suka sekali kawin cerai. Jean tidak mau ambil resiko menjadi janda dengan anak. Ia bisa berdiri di kakinya sendiri, tapi tidak akan sanggup bila harus hidup bersama anak tanpa suami.
Idih, Jean. Pikirannya sudah ke mana-mana. Mungkin karena ia paham sejarah kehidupan Rayyan Dirgantara, jadi sedikit ada rasa traumatic di dalam hati Jean.
"Jean?" Rayyan menatap nanar. Mengapa Jean mengira ia punya alat pengaman. Memangnya ia suka jajan? Rayyan benar-benar sudah pensiun dini dari jagat teh celup sari harum. Ia sudah bukan lagi ambassador yang suka celap-celup tersebut. Rayyan adalah duda insyaf.
"Apa kamu takut hamil?" tanya Rayyan.
"Apa kamu tidak mau mengandung benih dariku?" tambah Rayyan dengan wajah yang dibuat dramatis. Padahal tadi sudah on fire, karena alat pengaman, senjataa Rayyan langsung loyo, kehabisan amunisi.
Jean mendesis kesal. Namun, ia kaget saat ada sesuatu yang mengantung menyentuh pahanyaa. Wajahnya kembali panik, saat bisa merasakan benda apa itu.
"Aku hanya ingin menjamin anak-anakku nanti harus memiliki keluarga lengkap!" ucap Jean kemudian, ia ingin meluruskan maksud hatinya.
"Lalu untuk apa alat pengaman, apa kamu meragukanku?" Rayyan kembali tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Jean pun memalingkan wajah, "Aku takut, Ray!"
Rayyan memejamkan mata, berusaha menebak maksud istrinya itu.
"Apa kamu takut kita akan berpisah nantinya?" tebak Rayyan.
Jean masih membuang muka, ia malah mengigit bibirnya. Seolah membenarkan dugaan Rayyan.
"Aku masih ingin hidup, Jean. Jika itu terjadi pasti papamu akan menembakk kepalaku!"
Jean yang semula dilema, tiba-tiba tidak bisa menahan senyum di wajahnya.
[Dia punya sisi manis juga]
Rayyan tiba-tiba gemas dengan Jean yang ingin alat pengaman. Dengan jahil, ia kembali mencecapi bagian-bagian tertentu Jean. Yang membuat keduanya kembali terbakar karena sempat mendingin gara-gara Jean takut hamil lalu diceraikan.
"Jangan khawatir, aku pastikan akan ada banyak anak di antara kita. Hingga kita lupa untuk meributkan hal kecil karena terlalu sibuk dengan anak-anak," ucap Rayyan lirih. Sembari tangannya sudah merambat ke bawah. Memeriksa medan, apakah roketnya sudah siap untuk meluncur.
Terasa lembab, basah dan sepertinya landasan siap untuk difungsikan.
[Dia sudah siap rupanya?]
Rayyan menatap mata Jeandana lekat-lekat, kemudian mengecupp bibirnya singkat. Mengusap pipinya lembut, lalu membuat manuver yang membuat Jean langsung memekik.
[Ray! Apa yang kamu lakukan?]
Mata Jean seolah bertanya-tanya ketika menatap suaminya, apa yang Rayyan masukkan? Mengapa terasa sakit sekaligus perih bukan main.
Hampppp ....
Jean memejamkan kedua matanya, ia meringis menahan rasa sakit yang tiba-tiba menghujam bagian intinya. Apalagi Rayyan mencabut dan langsung masuk lagi.
Jean rasanya ingin baku hantam dengan suaminya. Hampir saja kaki Jean menendangnya karena sakit yang bukan main. Sedangkan mantan duda kesepian itu, ia sedang menikmati sensasi peluncuran roketnya.
Wajahnya terlihat sedang menahan sesuatu, dan setelah berkali-kali celup, akhirnya sari-sari kehidupan itu mengalir dalam rahim seorang wanita. Wanita yang akan ia jadikan ibu dari anak-anaknya kelak.
"Jean ...!" panggil Rayyan yang sudah lemas di sisi Jeandana.
Jean terkulai tidak berdaya, tubuhnya terasa perih. Marah pada Rayyan, karena sakitnya luar biasa. Ia sampai tidak mau menjawab panggilan suaminya itu.
"Jean ...!" panggil Rayyan sekali lagi, ia kemudian menatap ke samping.
"Kenapa diam saja?" tanya Rayyan sekali lagi.
"Ini lebih sakit dari pada luka tembakkk, Ray!" jawab Jean dengan jengkel.
Rayyan kemudian langsung menarik tubuh Jeandana. Memeluknya erat.
"Itu karena baru pertama!" bisik Rayyan kemudian medekap tubuh Jean.
Jean tidak banyak membantah, ia masih lemas. Mungkin sama-sama kelelahan, mereka malah ketiduran sampai siang menjelang.
Pukul 11 siang
Jean mengerjap, ia meraba ponsel di atas nakas.
"Jam berapa ini?" gumamnya.
"Astaga, sudah siang?" Jean beringsut sambil memeluk selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Aduh!" Ia kembali meringis, mau turun dari ranjang. Tapi gerak sedikit kenapa sangat perih.
[Rayyy!!! Apa yang kau masukkan tadi?]
Jean mendesis dan memasang muka kesal.
KLEK
Rayyan muncul dari kamar mandi, pria itu berjalan santai menuju ranjang dengan rambut basahnya.
"Mau mandi?" tanya Rayyan yang kala itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggang.
"Hem!" Jean masih manyun. Ia mencoba melangkah, tapi wajahnya terlihat menahan rasa sakit.
[Apa aku tadi terlalu bersemangat ya? Kenapa wajahnya menahan kesakitan begitu?]
Rayyan kemudian membopong tubuh istrinya ke kamar mandi.
"Eh! Turunkan aku!" pekik Jean.
"Iya ... "
Jean baru diturunkan saat mereka sudah sampai kamar mandi. Tanpa sengaja, selimut yang menutupi tubuh Jean malah melorot.
Buru-buru Jean langsung meraih kain tebal tersebut. Namun, sayang seribu sayang. Gambaran singkat barusan, kembali memancing sesuatu yang ada di balik handuk.
CUP
SKIP ... Skip ... Skip
Bersambung
Yang punya Suami, silahkan bermanuver malam ini. Heheheh