Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
LUNAS


Suami Satu Malam 112


Oleh Sept


Rate 18 +


Pagi-pagi muka Rayyan sudah seperti cucian di laundry yang menumpuk. Kusut, nampak suram dan muram. Jean benar-benar menghukum Rayyan semalam. Istrinya itu dengan sengaja menggantung nasib Rayyan dengan sadis. Meninggalkan permainan saat lagi seru-serunya.


Dengan dalil tiba-tiba perutnya terasa sakit dan langsung ke kamar mandi sambil pura-pura mual. Alhasil, Rayyan mengekerut. Sinyal langsung melemah, menyusut dan kembali ke wujud semula, seperti terong kukus.


Hingga pagi menjelang, Rayyan terlihat uring-uringan. Contohnya saat sarapan sebelum ke kantor.


"Kok udahan?" tanya Jean basa-basi saat melihat suaminya beranjak. Padahal nasi goreng spesial buatannya sendiri baru dimakan sedikit. Bahkan Azzam juga masih lahap menikmati sarapan mereka pagi ini.


"Ada meeting pagi ini, nanti telat!" tutur Rayyan datar.


"Oh ya, Azzam. Nanti berangkat sama sopir ya. Papi buru-buru!" Rayyan mendekati Azzam, mengusap kepala putra semata wayangnya itu.


Azzam hanya mengangguk, kemudian melanjutkan makannya.


"Jean ... aku berangkat dulu!"


Rayyan hanya menatap sekilas, kemudian meninggalkan Jean dah Azzam serta Pak Perwira yang sejak tadi memperhatikan sikap aneh Rayyan.


Pria yang biasanya bucin pada Jean, pagi ini terlihat dingin. Bahkan biasanya sebelum berangkat pasti mengusap perut Jean. Tapi sekarang Rayyan berangkat begitu saja. Malah hanya pamit pada Azzam.


Sepertinya pria itu masih dendam atas apa yang terjadi semalam.


[Astaga ... dendam sekali dia!]


Jean tersenyum tipis menatap bayang-bayang Rayyan yang perlahan pergi menjauh.


"Itu suamimu kenapa, Jean? Papa perhatikan dari tadi wajahnya tak sedap dipandang!" celetuk Pak Perwira.


Jeandana kemudian tersenyum, sambil minum jus tomat.


"Pasti capek, Pak. Banyak kerjaan numpuk!" Jean mencoba berbohong. Padahal ia tahu betul sebab suaminya terlihat dingin dan uring-uringan tersebut.


"Oh ... Papa kira kalian bertengkar."


"Nggak, Pa. Kami baik-baik aja kok."


"Baguslah kalau begitu."


Jean menatap papanya dengan senyum merekah. Sekolah memang rumah tangga mereka sedang baik-baik saja.


***


Dirgantara Group


"Apa ini yang bisa kamu lakukan? Kerja yang bener!"


Baru membaca satu laporan, Rayyan sudah ngomel-ngomel pada manager Tim yang mau memperlihatkan proposal dan beberapa file pada bosnya tersebut.


[Pak Rayyan memang selama ini terkesan dingin. Tapi sudah lama ia tidak sekasar ini. Apa ada masalah keluarga? Hingga dilampiaskan di kantor? Padahal ... proposal ini sudah beliau tanda tangani.]


Wanita dengan rambut sebahu itu kemudian ijin pergi. Ia akan meminta anak buahnya untuk segera membereskan kesalahan.


Tapi, Rayyan tidak peduli. Barulah saat ponselnya dapat pesan singkat. Ia bergegas melihat. Seolah dapat ide. Begitu manager Tim itu mau keluar, Rayyan langsung mencegahnya.


"Waittt ... duduk! Kamu duduk di sini!"


Manager bernama Inka itu pun terheran-heran. Mengapa tiba-tiba Pak Rayyan meminta ia tetap tinggal. Bukankah Pak Rayyan paling tidak suka ada wanita dekat-dekat dengan dirinya.


Rayyan pun mendekat, kemudian berbisik. Nona Inka hampir saja terjungkal karena kaget Rayyan langsung mendekatkan wajahnya. Hampir saja ia mikir yang macan-macam.


"Aku naikan bonus tahunan kamu 10 kali lipat. Tapi bantu aku sekarang."


"Ba ... Bantu apa, Pak?"


Rayyan kembali berbisik. Dan Nona Inka langsung paham.


"Kalau berhasil, aku kasih ticket ke Maldives."


Mata Nona Inka langsung berbinar-binar.


"Siap, Pak!"


Beberapa saat kemudian


Nona Inka masih di ruang kerja Rayyan. Wanita berusia 27 tahun itu duduk santai di sofa sambil pura-pura memeriksa berkas.


KLEK


"Sayang ....!"


Jean datang sambil membawa kotak makan. Ia yakin, tadi Rayyan cuma makan sedikit karena kesal.


Kini ia datang, siap jadi wanita penghiburr untuk suaminya tersebut. Tapi, niat hatinya langsung berubah tak kalah melihat Nona Inka duduk di ruangan itu, sambil kakinya sedikit dibentuk agar duduk nampak seksiee. Ditambah belahan rok yang Jean kira terlalu tinggi.


Padahal, tadi sebelum Jean datang. Nona Inka sengaja menaikkan roknya tersebut. Dia punya misi rahasia bersama Rayyan. Lumayan kalau berhasil, Maldives ada dalam genggaman.


"Ehem ... ehem!"


Jean berdehem.


"Mana Rayyan?" tanya Jean ketus.


"Bu Jeandana ... Ada ... Pak Rayyan sedang ke kamar kecil."


Jean langsung menyusul suaminya.


Tok tok tok


"Buka Raiiii!"


KLEK


Mata Jean langsung melotot melihat penampilan suaminya yang jauh dari kata rapi.


[Apa yang kamu lakukan di kantor?]


Tidak bisa bersuara karena saking kagetnya, Jean langsung mendorong tubuh suaminya.


"Kenapa dia di kantor kamu?" akhirnya kata itu lolos saat dilihatnya Rayyan yang wajahnya nampak biasa dan menjengkelkan.


"Bicara apa kamu ini, Jean?"


"Dan ... kenapa pakaianmu berantakan?" Jean menarik kemeja suaminya. Ia tidak terima kalau sampai ada orang ketiga, empat atau lima.


"Pak Rayyan, saya keluar dulu. Nanti kita bicara lagi. Dan terima kasih tiketnya," sela Nona Inka dengan sengaja sesuai arahan Rayyan.


Makin panas hati Jeandana. Ia pun langsung melotot pada Rayyan. Meminta penjelasan tentang ticket apa lagi.


Sedangkan Rayyan. Pria itu mengangguk pada Nona Inka


"Permisi Bu Jedanya!" Nona Inka tersenyum sangat manis. Membuat Jean semakin kesal, akan tetapi bibirnya membalas senyum Nona Inka.


Sesaat setekah Nona Inka pergi, Jean langsung minta penjelasan.


"Kenapa bajumu kusut? Kenapa dasinya berantakan ... kenapa dia ke sini? Kenapa bukan Kris yang biasanya menangani urusan ini itu? Kamu sengaja Kan? Kalau aku gak datang ... kalian pasti akan ...!"


Jean menggeleng pelan, ia mundur dan pikirannya dipenuhi dengan energy negative yang super buruk. Dipenuhi sifat suudzon pada suaminya sendiri.


"Akan apa?"


"Kamu gila, Ray!" Jean semakin mundur.


"Lihat ... lihat ... cemburumu itu. Ish ... itu berlebihan, Jean. Lihat setiap sudut si ruangan ini ... banyak CCTV."


"Kamu bisa melakukan di kamar kecil!" tebak Jean dengan bibir bergetar.


"Cih ... jangan mulai, Jean."


"Kamu selingkuh? Kamu selingkuh gara-gara nggak aku kasih semalam?" tanya Jean dengan tatapan nanar.


[Lihatlah matanya ... dia mau menangis ... astaga! Istriku yang dulu bagai baja, kini hatinya selembut salju. Kalau begini ... bagaimana bisa aku lama-lama menjahilimu?]


"Kamu saja nggak habis-habis, untuk apa aku selingkuh?"


Rayyan mendekat, tapi Jean tetap mundur. Wanita itu menggeleng tidak percaya.


"Inka dua minggu lagi menikah, aku beri dia tickets ke Maldives untuk honeymoon. Anggap saja hadiah pernikahan."


Jean menelan ludahnya.


[Apa dia tidak bohong padaku?]


"Lalu kenapa bajumu kusut?"


"Ini? Tadi Kris ke sini sebentar bersama putrinya. Aku gendong sebentar. Dan dia tarik-tarik dasiku."


"Benarkah? Bukan karena kalian melakukan sesuatu?" Jean masih menuduh Rayyan main-main sama Nona Inka. Secara Inka masih muda, fresh cantik dan ramah.


"Ayo ... duduk sini. Kalau tidak percaya .. Kita lihat video CCTV -nya."


Rayyan pikir Jean akan langsung percaya, tak tahunya Jean malah benar-benar ingin melihat rekana video di ruang kerja suaminya.


[Astaga, Jean! Cemburumu!]


Akhirnya Rayyan mengambil laptop, ia letakkan di atas meja. Ia mau nonton bareng video sama istrinya yang pencemburu tersebut.


[Rasakan kamu, Jean!]


Saat Rayyan mencari file video, dengan iseng ia membuka file sampah. Ia restore dan langsung memutarnya.


"RAIII!" pekik Jean saat melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.


Jean langsung memalingkan wajah, dan Rayyan langsung melipat laptop miliknya.


"Di depan kantor ada hotel. Ke sana yuk! Kamu punya hutang padaku semalam!" bisik Rayyan.


Jean langsung menelan ludah.


"Aku mau ke sekolah Azzam!" Jean buru-buru berdiri dan mencari alasan.


"Jangan alasan! Mau jalan sendiri atau aku gendong biar para karyawan tahu?"


[Aduhhhh]


***


Ashton International HOTEL


Presidential suit


Akhirnya Rayyan berhasil membawa Jean ke hotel dengan banyak ancaman.


Baru saja masuk dan menutup pintu, Rayyan langsung mendesak Jean sampai ke bibir ranjang. Tangannya dengan cepat melongarkan dasi, melepas jas dan juga kancing kemejanya.


"Hari ini harus LUNAS!" ucap Rayyan dengan wajah serius dan menuntut.


Hammmpp ....


Bersambung.