Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
Kesempatan


Suami Satu Malam 93


Oleh Sept


Rate 18 +


Dirgantara Group


"Tuan tidak pulang?" Kris memberanikan diri bertanya. Sudah pukul lima sore, biasanya bosnya itu sudah siap-siap untuk pulang. Tapi, seminggu ini Rayyan beda dari biasanya. Suka pulang lebih lambat dari pada sebelumnya.


"Kamu pulang saja duluan, pasti anak istrimu juga menunggu. Masih ada berkas yang harus saya periksa," seru Rayyan dengan nada datar. Matanya fokus pada banyak berkas di meja. Sepertinya Rayyan tidak semangat pulang ke rumah.


Pria yang wajahnya nampak kusam akhir-akhir ini karena tidak dapat jatah makan malam istimewanya, ia kemudian melambaikan tangan ke atas, seolah meminta sekretarisnya itu pergi meninggalkan ruang kerjanya. Kris pun berbalik, sambil berpikir.


[Apa Tuan Rayyan sedang ada masalah pribadi dengan istrinya? Kenapa wajahnya kusut begitu?]


[Aku pikir mereka sedang hangat-hangatnya, bukankah Nona Jeandana sedang hamil anak pertama mereka? Harusnya sekarang malah pingin cepet-cepet pulang ke rumah]


[Sudahlah ... mengapa aku malah memikirkan rumah tangga orang?]


Krisna pun berlalu, meninggalkan Rayyan yang masih diliputi gunda gulana karena Jeandana sama sekali tidak mau dekat-dekat dengannya.


***


Kediaman Rayyan dan Jeandana


Sudah pukul delapan, Rayyan belum pulang. Jean yang sejak tadi rebahan, sedikit khawatir. Ia pun menelpon suaminya tersebut.


"Lagi di mana?"


"Lagi makan!" jawab Rayyan ketus.


Rayyan sedang di sebuah Cafe, menikmati secangkir kopi. Beberapa hari ini ia jengkel dengan Jean. Masa ia disuruh tidur di kamar tamu. Apalagi sudah beberapa malam ia tidak dapat jatah. Bawaanya uring-uringan terus.


"Sama siapa?"


Bibir Rayyan langsung mengulas senyum. Kapan lagi mengerjai balik Jeandana.


"Sama temen!" jawab Rayyan sambil berbohong. Padahal ia hanya minum kopi seorang diri.


"Cewek?"


[Kamu pikir kamu aja yang bisa bikin aku kesel ... hemm]


Rayyan pun dapat ide gila untuk mengisengi Jeandana. Kapan lagi balas dendam sama Jean dan calon anak mereka yang sama sekali tidak mau didekati. Rayyan kan bukan virus berbahaya yang harus dihindari. Dia adalah suami Jendana, ayah dari janin yang dikandung oleh Jean. Seketika, ia tersenyum jahat.


"IYA."


"Siapa?"


"Aiko."


"Aiko siapa? Teman yang mana? Aku tahu temen kamu siapa saja!" Jean mulai kepancing.


"Jean ... aku matikan telponnya dulu. Nggak enak, makan aku tinggal telpon."


"RAIII!"


Tut Tut Tut


Rayyan terkekeh, pria itu kemudian memutuskan untuk pulang. Saat di jalan, ia memutuskan sebentar ke mini market. Pria tersebut sengaja membeli parfum perempuan. Setelah membayar, ia semprot berkali-kali pada leher, lengan dan juga sebagai tubuhnya.


[Masih mau cuekin aku?]


Rayyan meninggalkan mini market dengan senyum licik. Tidak sabar menunggu reaksi Jeandana.


***


Ting Tung


KLEK


Aroma asing langsung menyeruak, bukannya mual, Jean langsung menarik lengan Rayyan.


"Tadi makan sama siapa?"


"Kan udah aku bilang."


"Kamu gitu ya? Gitu bilang cinta sama aku ... busittttt!"


"Jean ... aku juga mau makan ada temennya. Lah ... Kita makan saja sendiri-sendiri. Tidur juga sendiri-sendiri ... ini seperti tidak ada bendanya aku menduda sama sudah menikah."


Setttt


Jean melepas lengan Rayyan kasar, "Ini bukan mau aku, Ray!!! Aku bener-bener mual lihat wajahmu!"


"Sudahlah, Jean. Aku baru tiba ... ijinkan aku mandi dulu."


Rayyan berlalu meninggalkan Jeandana yang masih termanggu. Ada sebesit senyum tersembunyi di bibir Rayyan yang tidak ia nampakkan di depan Jeandana, istrinya.


"RAIII ....!"


Tap tap tap


Jean akhirnya mengejar suaminya sampai masuk kamar tamu.


[Rupanya jurus tarik ulurku akan berhasil]


Rayyan tersenyum licik ketika mendengar derap langkah Jeandana yang mengikuti dari belakang.


Dukkkk


Rayyan menahan senyum saat Jeandana melempar sesuatu dan mengenai punggungnya. Pria itu pun berbalik.


"Jean ... aku capek jangan ngajak ri ...!"


Rayyan seketika tidak meneruskan ucapannya. Mana dia tahu kalau aksinya membuat dua bola mata itu menjadi berkaca-kaca.


[Astaga ... kenapa wanita tangguh ini jadi sangat cenggeng sekali?]


Rayyan langsung merengkuh pinggang Jeandana.


"Aku bercanda ... Mana mungkin aku makan dengan wanita lain ... astaga. Jean ... sudah, jangan menangis. Sumpah ... aku tadi cuma ngopi karena suntuk. Aku stress berat karena kamu gak mau dekat-dekat denganku. Sedangkan aku sudah kangen banget ...!" Rayyan mengusap punggung Jean. Ia mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya.


Tubuh Jean melemas, kali ini ia diam saja saat Rayyan memeluknya. Sambil tangannya memukul punggung Rayyan.


"Aku sedang hamil, kenapa kamu jahat sekali?"


"Maaf ... beneran. Aku cuma bercanda."


Rayyan kemudian melepas pelukannya. Ditangkupnya wajah Jeandana. Kemudian menatap matanya dalam-dalam.


"Sekarang nggak mual, kan?" tanya Rayyan kembali.


Jean membuang muka, tapi Rayyan langsung saja mengecupp pipinya. Ia absen wajah Jean satu persatu. Baru beberapa hari tidak menjamah Jean, Rayyan sudah tidak tahan saja.


Sekedar testing, ia menempelkan bibirnya.


[Jangan mual ya sayang! Papi kangen!]


Rayyan terus memohon dalam hati, berharap Jean lupa mualnya malam ini. Senyumnya merekah tak kala Jean membuka mulut perlahan dan menyambutnya.


Tidak mau buang-buang waktu, Rayyan langsung saja tancap gas. Padahal belom mandi, pria itu buru-buru melongarkan dasi, sebelum Jean diserang rasa mual kembali.


"Katanya mau mandi?" tanya Jean saat Rayyan sudah melepas bibirnya.


"Habis ini saja, tanggung!" ucap Rayyan sambil sibuk melepas celana. Bersambung.