Suami Satu Malam

Suami Satu Malam
I Can't Live Without You


Suami Satu Malam 116


Oleh Sept


Rate 18 +


BRUAKKK


Jean tersentak. Pandangan Jean langsung tertuju pada pintu yang didobrak paksa dari luar. Ditatapnya sorot mata yang tidak biasa tersebut. Jean yakin, pria itu sangat marah. Mata yang biasanya menatapnya penuh cinta, kini seperti lava yang meletup-letup siap membakar apa saja yang ditatapnya.


Seketika Jean hanya bisa menelan ludah. Tangannya reflect menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


[Mati aku!]


[Astaga ... Lihat sorot matanya yang tajam. Dia sepertinya sangat murka kali ini]


[Apa aku lari dulu? Aku yakin ... dia sangat marah melihatku dengan kondisi seperti ini. Apalagi kalau melihat baju terbukaku seperti sekarang. Aku rasa, aku sudah tidak bisa kabur lagi!]


Pikiran Jean berkecamuk, tapi ia tidak menyesal. Karena buktinya mereka sudah membekukan target.


Tap tap tap


Richard muncul dari balik tubuh Rayyan, pria itu bergegas mengikat kedua tangan si target yang sudah dilumpuhkan oleh Jean sebelumnya.


Rayyan semakin murka, melihat kedatangan Richard. Ia marah, karena pria itu membuat istrinya dalam bahaya.


"Brengsekkk!!!"


BUGH


Richard meringis menahan sakit, bisa saja ia membalas pukulan pria tersebut. Namun, ditatapnya wajah Jean yang seolah-olah tidak boleh melukai suaminya.


"RAIII!"


Jean bergegas turun sambil membalutkan sprai pada tubuhnya. Ia menarik lengan Rayyan agar tidak memukul Richard lagi.


"Aku yang salah! Aku yang memintanya untuk membantuku! Jangan main pukul, Ray!"


Rayyan melotot, ia semakin geram karena mendengar pembelaan dari istrinya itu. Dengan kasar, ia tarik tangan Jean keluar dari ruangan itu. Tidak peduli pada target yang sebelumnya ia cari.


Sementara itu, Richard hanya bisa tersenyum getir melihat Jean ditarik di depannya. Mau bagaimana lagi? Tidak terima? Rich jelas kalah, karena pria itu adalah suaminya.


Jean dan Rayyan terus berjalan di lorong yang gelap. Keduanya terus berjalan hingga Rayyan tersadar, bahwa istrinya itu tidak mengenakan alas kaki.


"Sialllll!"


Rayyan berhenti, pria itu kemudian langsung berjongkok di depan Jeandana.


"Naikk!" titah Rayyan dingin.


Jean hanya menelan ludah, baru kali ini ia merasa suaminya itu sangat marah dan begitu dingin.


"Naik lah!" suara Rayyan menelan.


Barulah Jean mau naik, wanita yang sedang hamil muda dan belum kentara kehamilannya itu pun perlahan naik punggung suaminya.


Setelah Jean sudah berada di atas punggung Rayyan, pria itu lalu berdiri dan berjalan. Suasana begitu hening, keduanya membisu tanpa kata. Baik Jean maupun Rayyan sama-sama diam seribu bahasa.


Keluar dari lorong, Rayyan melepas rompi hitam miliknya. Ia pakaian pada tubuh Jeandana yang memakai baju dengan belahan rendah tersebut. Masih dengan tatapan sedingin es.


Jean tahu, suaminya sedang emosi. Makanya ia diam saja. Sebab kalau Rayyan marah, singa pun akan takut padanya.


Begitu mereka keluar, Rayyan langsung menghentikan sebuah taksi. Mereka berdua langsung masuk dan duduk di jok belakang.


Sepanjang jalan, Rayyan tidak mau bicara. Dia mendiamkan Jean cukup lama. Hingga taksi itu berhenti di depan hotel. Ya, hotel tempat Rayyan dan juga Jean menginap. Hanya saja pria tersebut tidak tahu, Jean juga check in di sana.


Masih sambil menarik tangan Jeandana, Rayyan membawa masuk Jean ke dalam lift.


[Kami seperti dua orang bisuuu, sejak tadi tidak ada yang keluar dari mulut kami berdua. Ray ... aku hanya tidak ingin melihatmu terluka. Bukan berarti kamu lemah, bukan ... hanya saja, aku rasa aku bisa membantu sedikit]


Jean menyandarkan tubuhnya pada dinding lift. Sambil sibuk dengan pikirannya, sibuk bagaimana cara mencairkan bongkahan es kutub yang lagi beku-bekunya tersebut.


Klik


Pintu lift terbuka, seorang pria bule masuk dan langsung berdiri di sebelah Jean. Mata bule tersebut menatap liar pada Jeandana.


Spontan, Rayyan menarik lengan Jean. Membuat Jean merapat pada tubuhnya. Tapi, masih dengan wajah galak.


Bule tersebut hanya tersenyum tipis.


Pintu lift kembali terbuka, kali ini ada dua orang yang masuk. Pria dan wanita yang masih sangat belia. Mata pria itu, malah melirik Jean dengan pandangan ingin. Kesal, Rayyan langsung menarik lengan Jean keluar.


Padahal masih ada dua lantai lagi. Karena begitu possessive, Rayyan pun memilih pindah lift.


[Pria-pria brengsekkk]


Rayyan terus saja memaki dalam hati.


Tit tit tit tit ...


Berkali-kali Rayyan menekan tombol lift dengan jengkel karena pintunya tak kunjung terbuka.


[Dia kelihatan marah sekali. Sepertinya aku harus siap-siap]


Entah mengapa, Jean langsung merinding.


Klik


Pintu pun terbuka. Keduanya langsung masuk. Kali ini hanya ada mereka berdua dalam lift. Bahkan saat lift berhenti sesaat, Rayyan langsung menekan tombol lagi. Tidak mau ada yang masuk dan bergabung dengan mereka.


Saat sudah sampai di lantai yang dituju, Rayyan kembali menarik lengan Jean. Mereka berdua langsung masuk ke kamar hotel Rayyan.


KLEK ...


Rayyan mengunci kamar hotelnya.


"Kau tahu apa saja salahmu, Jean?"


Jean menelan ludahnya. Ia bingung harus jawab dari yang mana.


"Apa yang kau kenakan itu, Jean? Sudah berapa pria yang menatapmu dengan tatapan menjijikann? Hem?"


Jean hanya menundukkan wajah, ia masih berdiri tegap. Meski kakinya nyeri sejak tadi karena terus berjalan tanpa alas kaki.


"Aku tidak menyangka kamu senekat ini, Jean!"


"Apa perlu aku menaruh rantai pada kakimu, agar kau menurut, dan tetap tinggal di rumah?" sambung Rayyan kesal. Matanya kemudian tertuju pada kaki Jean yang sejak tadi saling mengusap antara kaki kanan dan kiri.


"Ishhhh!" Rayyan mendesis. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Rayyan terlihat begitu frustasi. Ia bopong langsung Jean ke kamar mandi.


Ia dudukkan Jean di atas meja wastafel, mengusap kaki Jean dengan handuk basah.


"Harusnya ini tidak terjadi. Bagaimana bisa kau bermain-main dengan nyawamu ... bagaimana bisa? Lalu apa yang harus aku lakukan bila sesuatu terjadi padamu, Jean? Aku harus apa? Pikirkan aku, Jean! Bagaimana sampai sesuatu terjadi padamu? Bagaimana denganku?"


Kata-kata Rayyan ia ucapkan dengan hati yang bergetar menahan emosi di jiwanya.


Jean mengulurkan tangan, mengusap rambut Rayyan yang berjongkok mengusap kakinya.


"Aku juga tidak bisa apa-apa kalau kamu terluka, Rai ... bagaimana mungkin aku diam saja saat kamu dalam bahaya, bagaimana bisa?"


Rayyan mendongak, menatap wajah Jean dari bawah. Pria itu kemudian bangkit, sembari terus menatap Jean secara intense.


"Tetap saja ... kamu tidak boleh bermain-main dengan bahaya. Jika sesuatu juga terjadi padamu ... aku tidak yakin akan bisa hidup ..."


Mata Jean sudah berkaca-kaca, pria yang semula menatapnya penuh amarah. Kini nampak sendu. Ada gurat kesedihan, bagaimana bila nanti Tuhan memisahkan mereka?


Rayyan mengusap pipi Jean yang sudah basah. Kemudian mendekatkan wajahnya.


"I can't live without you!" bisik Rayyan.


Keduanya saling menatap lama, begitu dekat hingga hembusan napas mereka saling terasa.


Entah tanpa sengaja, pandangan Rayyan turun ke bawah. Ia tersenyum getir. Dilihatnya belahan yang tiba-tiba membuat wajahnya menghangat. Bersambung.


***


Subuh tadi, sebuah chat masuk. Mengambarkan dokter Anisa sudah mulai meresponse. Beliau menitihkan air mata ketika suaminya berbisik memintanya untuk bangun.


Terima kasih doa tulus kalian, semoga Allah balas kebaikan kalian. Semoga kondisi dokter Anisa binti Handoko, lekas membaik dan segera membuka mata. Pulih seperti sedia kala. Aamiin. Mohon doanya teman-teman. Doa kalian sangat berarti. Terima kasih ... terima kasih banyak.



Suami istri tersebut adalah salah satu pembaca novel sejak Rahim bayaran published di noveltoon hingga sekarang. Bagiku, mereka adalah the real Ainun dan Habibie.


Kami hanya teman on-line, tapi komunikasi tetap terjaga sejak tahun lalu hingga sekarang. Kita memang jauh, tapi tidak lupa saling mendoakan dalam kebaikan.


Mohon doanya untuk kesembuhan dokter anisa binti Handoko. Semoga beliau lekas sadar dari komanya. Aamiin ... Aamiin yaarobbal alamin.