
Begitu datang ke ruangan nya Zhao hanya duduk dengan santai seperti tak ada beban yang ia pikul. Sedangkan Kasim Han dan Huang Li sudah sangat gelisah.
" Yang Mulia, kenapa anda mengizinkan permaisuri" ucap Kasim Han.
" Kenapa? Dia tidak akan bisa mengajukan surat itu. Syarat dari pengajuan suratnya adalah dengan memiliki surat yang aku sebar sebelumnya. Sedangkan permaisuri tidak mendapatkan itu" jelas Zhao.
Jika hanya itu alasan kaisarnya mengizinkan. Maka dia berada dalam masalah yang sangat besar.
" Yang Mulia, akan tetapi Permaisuri memilikinya" ucap Huang Li yang mampu memporak-porandakan perasaan Zhao sekarang.
" Bagaimana bisa?" Tanya Zhao tidak percaya.
" Selir yang tidak ingin dikembalikan ke kerajaan nya melaporkan surat yang diberikan pada Permaisuri, dan surat-surat itu berada di kediaman permaisuri sekarang "
"APAAA?!" zhao bangkit dan mencoba untuk mengerti keadaan yang dihadapi. Tanpa basa-basi Zhao langsung mengibaskan tangannya dan diapun hilang dari tempatnya.
" Sepertinya Yang Mulia langsung menuju kediaman permaisuri " tebak Huang Li.
" Kau benar, ayo kita kesana juga" ajak Kasim Han.
Mereka pun melakukan hal yang sama dengan Zhao. Menggunakan sihir untuk bisa sampai di tempat tujuannya.
Zhao berada di dalam kamar Xiao Shi yang dilihatnya sedang menulis surat persetujuan terkait pengembalian nya ke Wang. Dengan sigap Zhao mengambil kuas yang dipakai Xiao Shi dan mematahkannya.
Walaupun Xiao Shi sempat terkejut dengan kedatangan Zhao namun dia berusaha menetralkan keadaan nya. Tak ambil pusing Xiao Shi justru mengambil kuas lain lagi dan mencoba menulis.
Zhao yang melihat itu langsung mengambil dan merobek kertas yang sudah Xiao Shi tulis dengan tangan nya. " Apa yang kau lakukan, permaisuri?"
" Aku? Mengikuti perkataan mu tentu saja " Xiao shi hendak mengambil tumpukan kertas kosong lainnya tapi Zhao terlanjur membakar semua kertas yang ada. Zhao juga membakar gulungan surat yang Xiao Shi dapatkan.
" Yang Mulia kau—"
" Apa kau sudah gila?! Kau seorang permaisuri bagaimana bisa kau meminta untuk dikembalikan?!" Zhao tersulut emosi, dia bahkan sampai membentak Xiao Shi untuk pertama kalinya.
Xiao Shi memundurkan langkahnya, dia dibentak? Hanya karna hal ini?
Zhao yang menyadari ucapan nya langsung menarik lengan Xiao Shi dan memeluknya erat. Walaupun Xiao shi meronta minta dilepaskan.
" Maafkan aku" ucap Zhao lirih.
Xiao Shi berhenti memukuli dada bidang Zhao, entah kenapa hatinya terasa menciut saat mendengar suara zhao seperti itu.
" Kau egois yang mulia" ucap Xiao Shi pelan.
" Ya, kau benar. Aku akan egois jika itu semua tentangmu"
Zhao melerai pelukannya, menatap mata Xiao Shi yang sudah menghangat seperti biasanya. Wajah yang kini tanpa cadarnya itu terlihat sangat menawan.
" Maaf jika kau membenciku, tapi semua keputusan sudah aku diskusikan dengan ibu. Dia menyetujuinya juga" jelas zhao untuk mengikis kesalah pahaman yang ada di antara mereka.
" Apa sebenarnya tujuanmu, Yang Mulia?" Tanya Xiao Shi.
Zhao tersenyum, dia mengelus pipi lembut Xiao Shi. " Kau. Alasannya adalah kau, permaisuri. Bagiku hanya memilikimu sudah lebih dari cukup"
Nafas Zhao mulai memberat, matanya juga mulai terlihat sayu seakan penuh dengan gairah. Elusan lembut dipipi Xiao Shi itu kini sudah berpindah ke bibirnya. " Aku merindukanmu"
Xiao Shi mengerti apa yang Zhao rindukan. Ia menutup matanya dan tak lama setelahnya bibir Zhao sudah melekat pada bibirnya. Zhao mengecup bibir nya berkali kali, lalu ia ******* nya pelan, lama kelamaan ciuman yang pelan itu berubah menjadi sedikit kasar. Xiao shi mulai terbuai dengan ciuman zhao yang perlahan lahan menjadi kasar itu. Dia mengalungkan tangannya pada leher Zhao, dan zhao semakin menekan tengkuk Xiao Shi dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya melingkar posesif di pinggang nya.
'Oh Dewa, aku tidak bisa menahan nya lebih jauh lagi.' batin Zhao.
Zhao semakin menggunakan kesempatannya untuk bermain dengan bibir Xiao Shi. hal yang sangat dirindukannya selama ini. Zhao juga mendapatkan apa tang diinginkannya, yaitu menggoda Xiao Shi dengan bermain di telinganya.
Cahaya berwarna putih menyilaui pandangan keduanya, sampai sesaat setelah cahaya itu hilang mereka melihat gadis yang bernama Yi Hua itu sedang bersujud berkali-kali.
" Ini adalah tuduhan yang mulia. Hal ini tidak benar. Aku mohon beri aky kesempatan lagi untuk membuktikannya" serunya dengan suara yang lirih dan terasa menyayat hati.
Xiao shi memegangi dadanya, dia merasakan kecewa, sakit hati, emosi, dendam dan menahan air mata yang semuanya bercampur Menjadi satu.
" Kau sudah kuberi kesempatan putriku, tapi kau gagal membawanya kesini" suara itu menggema di seluruh tempat, namun tidak ada wujud apapun yang berbicara.
" Itu adalah kelalaian ku yang mulia, aku—"
" Semua sudah terbukti jelas Yang Mulia bahwa kaum iblis bersalah dan mereka mencoba untuk mengambil alih alam langit!" Ucap seorang pria yang sepertinya pernah Xiao Shi lihat.
Ya, itu adalah pria yang dirinya penggal saat mengalami siksaan di penglihatan sebelumnya.
Tiba-tiba saja seorang pria juga ikut bersujud disamping Yi Hua, dia adalah pangeran langit. " Yang Mulia aku mohon padamu agar memberikannya kesempatan satu kali lagi"
" Jangan kau gunakan keuntunganmy sebagai anak kaisar untuk membela makhluk rendahan ini pangeran!" Ucap pria tua itu lagi.
Mendengar dirinya disebut makhluk rendahan, ini membuat Yi Hua meradang. Dia mengepalkan tangannya, kesabarannya sudah habis kali ini. Para dewa bedeb@h ini tidak bisa dibiarkan.
Rambut yi hua mulai berubah menjadi perak secara perlahan, semua orang yang menyadari hal itu langsung menyingkir dan menjauh untuk menyelamatkan diri. Sedangkan sang pangeran langit yang hendak memeluk dan menenangkan Yi Hua terlanjur ditarik dan dibawa pergi oleh para penjaga.
" Lepaskan! AKU HARUS MENENANGKAN NYA JIKA TIDAK INGIN SEMUANYA KACAU! LEPAS—" Beluk selesai dia berteriak. Salah satu penjaga sudah membuatnya pingsan.
Rambut Yi Hua sudah sepenuh nya perak. Bahkan bajunya juga sudah berubah menjadi warna hitam. Tidak lupa dengan pedang di tangan yang berkilau berwarna biru.
Tanpa basa-basi Yi Hua langsung mengibaskan pedangnya ke arah angin, namun semua bangunan disekitarnya langsung hancur.
Zhao terlalu terpesona dengan apa yang dilihatnya, hingga tanpa ia sadari Xiao Shi yang berada dipinggir nya juga memiliki rambut yang mulai berubah menjadi perak.
Zhao yang terkejut langsung berusaha mengingat apa yang harus dia lakukan jika hal seperti ini terjadi. Sontak saja Zhao langsung memeluk Xiao Shi dengan erat sambil mengelus-elus rambut nya lembut ketika ia sudah mengingat apa yang harus dilakukannya. " Hei, aku disini. Tenanglah. Kamu memiliki ku walaupun seluruh dunia menentangmu. Jangan takut, aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri"
Perlahan tubuh keras dengan rambut yg mulau berubah perak itu kini kembali menjadi lemas. Tidak tidak, ini terlalu lemas. Walaupun rambutnya sudah kembali menghitam tapi tubuh Xiao shi seperti tidak bernyawa.
Lalu siluet Putih kembali menyilaukan matanya dan Zhao pun bangun tepat dikamar Xiao Shi. Tempat dimana mereka berada tadi.
Zhao melihat rambut Xiao Shi yang masih tersisa keperakan di atas dahinya. Zhao tersenyum dan mengecup kening Xiao Shi dengan penuh kasih sayang.
" Sekarang aku mengerti siapa aku, dan siapa dirimu" Zhao langsung menggendong tubuh rapuh itu ke atas kasur dan membaringkannya. Zhao juga ikut berbaring disamping Xiao Shi dan memeluk tubuhnya.
" Aku mencintaimu Xiao Shi. Baik itu dulu atau pun sekarang, semuanya tidak pernah berubah ataupun berkurang"
Setelahnya zhao menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Xiao Shi, mencari kenyamanan disana.
Satu hal yang Zhao tidak ketahui adalah sebenarnya Xiao Shi sudah bangun sejak Zhao mengecup keningnya, namun Xiao Shi memilih berpura-pura untuk tidur.
' aku juga tetap mencintaimu baik itu dulu ataupun sekarang ' batin Xiao shi.
|
|
|
|
|
bersambung.....