Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
Episode 100


KRAAAAKKKKKKKK!


Terdengar suara seperti kayu yang patah, darimana asalnya?


" Yi Hua?!"


Semua orang terkejut saat melihat tubuh Yi Hua sudah melayang di udara dengan rambut yang sudah sepenuhnya berwarna perak, bahkan sebuah pedang sudah berada dalam genggamannya.


" Pedang moksha" gumam Dewi Xing yang dapat terdengar oleh semua orang.


detik selanjutnya tiba-tiba saja Yi Hua berteriak sangat kencang seperti kesakitan, pedang yang berada pada genggamannya kini sudah berada didepannya seperti ingin menusuk nya.


Semua orang berusaha menghentikan pedang yang semakin mendekati dada Yi Hua, tapi nihil. Jangankan menghentikan nya, mendekati pedang itu saja sihir mereka tidak bisa mencapainya.


Pedang itu sudah mulai menusuk dan masuk tepat di dada Yi Hua. Teriakannya semakin kencang dan semakin kencang.


Anehnya, walaupun terlihat seperti menusuk Yi Hua, tapi pedang itu tidak menembus ke belakang tubuhnya.


" Ayah! Yi Hua menyerap pedangnya!" Teriak Wu


Semua orang disana menyaksikannya, sampai akhirnya pedang itu benar-benar hilang masuk kedalam tubuh Yi Hua. Setelahnya tubuh Yi Hua pun ambruk.


Kabar mengenai hilangnya pedang moksha karna telah menemukan pemiliknya pun menggemparkan seluruh alam. Mereka semua menerka-nerka siapa pemilik dari pedangnya.


Semua yang hadir pada saat Yi Hua menyerap pedang tersebut memilih diam. Mereka tau bahwa akan sangat berbahaya jika kabarnya tersebar. Yi Hua belum bisa apa-apa dan itu akan sangat membahayakan.


Setelah kejadian itu, Yi Hua yang biasanya menghabiskan waktu dengan bermain kini melakukan latihan sepanjang waktu. Dia terus berlatih dan berlatih, semakin hari dia selalu mendapatkan luka baru ditubuhnya akibat latihannya. Walaupun sudah dimarahi ayah dan kakanya, Yi Hua tidak menyerah.


Jiwanya terasa sangat berbeda semenjak dia menerima pedang itu ditubuhnya.


Waktu demi waktu berlalu begitu cepat, bertahun-tahun Yi Hua melakukan latihan, dan bertahun-tahun tidak ada yang mengetahui siapa pemilik pedang moksha tersebut.


Hari ini, seorang utusan dari langit mendatangi Raja Yi atas perintah kaisar langit.


" Ada perintah apa?"


" Raja Yi, sesuai perintah yang diberikan oleh kaisar langit belasan tahun yang lalu. Hari ini, kau diminta untuk menyerahkan putrimu agar dia bisa menjalankan tugasnya"


Raja Yi diam, tak berkutik. Tubuhnya terasa membeku. Apakah ini saatnya? Dia harus berjauhan dan bersiap dengan segala kemungkinan akan kehilangan putri kesayangan nya?


" Aku..."


" Aku siap" potong Yi Hua. Sedaat setelah mendengar kabar bahwa utusan kaisar langit mendatangi ayahnya dia segera kesini.


" Putri!"


" Ayah, ini sudah waktunya. Kau maupun aku tidak bisa mengelak apapun lagi" jelas Yi Hua.


Mendengar itu Raja Yi semakin tidak bisa berkutik. Mau tidak mau akhirnya dia pasrah menerima kenyataan dan takdir yang sudah digariskan bagi putrinya.


Akhirnya, Yi Hua pergi ke alam langit dengan utusan dari Kaisar.


Ini memang bukan pertama kalinya bagi dia mengunjungi alam langit, ibunya adalah seorang dewi, dan dibanding kakanya hanya dialah yang mampu mengunjungi alam langit yang diisi oleh para dewa ini.


Tapi, tempat yang saat ini dia kunjungi sangatlah berbeda. Ini adalah aula yang ada di alam langit. Sangat mewah, megah, dan sangat indah. Tapi sepertinya sekarang sedang ada perkumpulan, karna banyak sekali para dewa yang hadir disini, termasuk ibunya.


Hal yang tidak dimengerti oleh nya adalah mengapa dia diarahkan keatas altar, sedangkan para dewa lainnya berada ditempat duduk di pinggir altarnya.


" Tunggulah disini" ucap utusan itu lalu menghilang begitu saja tanpa membiarkan Yi Hua bertanya.


Lalu, munculah sebuah cahaya dari arah utara. Semua dewa dan dewi yang ada disana langsung menunduk begitu cahaya itu muncul.


" Kau, Yi Hua. Putri dari Penguasa Neraka, Raja Yi dan Dewi Keabadian, Dewi Xing Xu. Aku memanggilmu kesini untuk memberimu sebuah keputusan dan takdir yang kau miliki" suara itu menggema memenuhi langit.


Yi Hua memberi penghormatan nya terlebih dahulu. Lalu dia meletakan tangan kanan nya yang terkepal di dada sebelah kiri. " Hamba, Yi Hua. Putri dari Raja Yi dan Dewi Xing Xu bersedia menerima keputusan dan takdir yang akan diberikan"


" Kelahiranmu adalah atas izin dan kehendakku. Sejak dahulu kau dilahirkan, tujuan hidupmu adalah untuk memenuhi takdirmu."


Semua orang terdiam. Tak ada satupun yang bersuara.


" Yi Hua, mulai saat ini dan seterusnya kau akan memenuhi takdirmu sebagai seorang yang akan membela seluruh alam, kau harus menegakkan keadilan diseluruh alam dan membasmi semua kejahatan yang ada. Dengan ini, aku mengangkat mu sebagai Dewi Peperangan"


DUAAAARRRRRRRRR


Petir bergemuruh dengan sangat kencang, bahkan dewa petir sendiri tidak bisa mengendalikan petir yang datang ini.


Petir itu menyambar ke samping Yi Hua, tapi dia tidak terkejut sama sekali. Wajahnya datar tanpa ekspresi Maupun emosi. Dia seperti tidak mempermasalahkan petir yang mengamuk disekitarnya.


Akhirnya, petir itu menyambar Yi Hua dan membuat sebuah pantulan yang sangat menyilaukan mata.


Semua orang menutup wajah mereka dengan lengan, sedangkan dewi long langsung menjerit begitu melihat petir itu menyambar putrinya hidup-hidup.


Cahaya dari petir itu perlahan lahan menghilang, nampak sesuatu yang berbeda dari Yi Hua. Rambut yang tadinya terurai kini sudah terkuncir dengan sangat rapih. Pakaian yang biasa ia kenakan kini sudah berubah dengan baju perang yang berwarna hitam legam. Semua orang terpesona dibuatnya, Yi Hua yang tadinya terlihat lemah lembut, dan manja. Kini justru terlihat sangat tegas dan berwibawa.


" Mohon ampun Yang Mulia, tapi hamba tidak bisa menerima keputusan ini" seorang dewa tiba-tiba saja bersuara dan bersujud tepat didepan cahaya yang menunjuk Yi Hua tadi.


" Kau tidak menerima keputusan ku?"


" Tidak seperti itu yang mulia, hanya saja selama ini peperangan di pimpin oleh pria, bukan wanita. Wanita hanya—"


" Kau meragukanku, jendral" Yi Hua bersuara.


Ya, selama ini peperangan melawan para iblis jahat, atau berperang dengan para dewa yang sudah diluar kendali selalu dipimpin oleh jendral Lou. Bahkan semua orang termasuk dirinya sendiri sudah menganggap bahwa jendral Lou akan diangkat menjadi dewa perang karna keahliannya.


" Maafkan aku putri, aku hanya khawatir kau akan terluka atau bahkan terkejut di medan perang nanti"


" Jendral, itu artinya kau sama saja dengan meragukan keputusan ku" ucap suara dari dalam cahaya


" Tidak seperti itu Yang Mulia " Jendral Lou langsung bersujud.


" Yi Hua, jika aku memerintahkanmu untuk melawan jendral Lou, apakah kau bersedia?"


Yi Hua melangkahkan kakinya dan memberi penghormatan nya pada kaisar langit. " Hamba bersedia"


Semua orang terkejut, bagaimana bisa seorang gadis melawan jendral Lou yang sudah sangat terkenal dengan keahliannya.


Lou dan yi hua sudah saling berhadapan sekarang. Lou dengan pedang kebanggaan nya sedangkan Yi hua hanya berdiri dengan kedua tangan yang berada dibelakang tubuhnya, tanpa memegang pedang ataupun senjata lainnya.


" Dimana pedangmu putri"


" Aku tidak memerlukan pedangku, Jendral "


" Aku tidak menyerang orang tanpa senjata"


" Aku sendiri adalah senjata ku. Jadi seranglah tanpa ragu"


Tanpa basa-basi lagi, jendral Lou langsung menyerang Yi Hua. Namun dengan santainya Yi hua justru malah menghindar, dan terus menghindar dari serangan yang diberikan sang jendral.


" Apa kau hanya bisa menghindar putri?"


" Kau ingin aku melawanmu, jendral?"


" Hah, kau terlihat sangat meremehkanku"


" Memang "


Sial. Ucapan Yi hua benar-benar membuat darah jendral Lou mendidih. Dia semakin memberikan serangannya dengan gencar pada Yi Hua. Dan dengan gesit Yi Hua terus menghindar, dan menghindar.


Pada beberapa serangan terakhir, Yi Hua barulah melakukan perlawanan, dia menghindar, dan menendang tangan sang jendral yang memegang pedang. Sekali tendangan saja mampu membuat jendral Lou kehilangan pedang nya.


Tubuh jendral Lou bahkan terjatuh ke lantai, dan pedang kebanggaan miliknya berada ditangan Yi Hua.


" Cukup bertarung nya, jendral" Yi Hua memberikan pedangnya kepada sang pemilik dengan hormat.


Namun, karna merasa dirinya dicurangi. Jendral lou bangkit dan mengambil pedangnya dengan paksa.


" Yang mulia, aku ingin pertarungan secara nyata. Sejak tadi, hal yang dilakukan oleh dewi perang pilihanmu hanyalah taktik dan siasat!" Ucapnya tak terima.


" Pertarungannya sudah selesai, jendral. Dia akan menjadi dewi perang sesuai takdirnya " cahaya dari kaisar langit menghilang bgtu saja. Ini artinya keputusannya sudah mutlak dan tidak bisa diperdebatkan lagi.


Mendengar itu jendral Lou tak terima, harga dirinya terasa dihancurkan oleh seorang gadis kecil yang menurutnya tidak tahu apa apa. " Kau, hanya seorang wanita yang bahkan tidak tau apa-apa. Seharusnya kau diam bersama ayahmu di neraka dan mengurus para iblis. Kau bertarung denganku hanya penuh dengan taktik dan penipuan. Keturunan iblis, memang akan selalu menjadi iblis"


Yi hua yang tadinya tidak mengambil hati dengan pemberontakan jendral Lou, kini merasa hatinya sangat sakit. Pasalnya Jendral Lou ini membawa bawa keluarganya. Seakan semuanya nampak buruk.


Tangan nya mulai mengepal, matanya ia terpejam menahan amarah. " Kau ingin peperangan yang nyata bukan, Jendral? Maka kau akan mendapatkan nya" ucapnya dengan suara dan nafasnya yang memberat.


Semua orang merasa suasana disana sangat menegangkan. Jendral Lou yang tadi hendak pergi, langkahnya menjadi terhenti saat mendengar ucapan Yi Hua. Dia tersenyum senang, namun saat dia berbalik dia terkejut dengan apa yang ada dihadapannya.


Rambut yi hua sudah memutih, tanda bunga di keningnya sudah muncul. Dan saat Yi hua membuka mata, warna dari matanya sudah berubah. Penampilannya sudah tidak seperti sebelumnya.


" Majulah, Lou" suaranya sangat berat dan terasa sangat menusuk.


Entah kenapa, nyali jendral Lou yang tadi membara kini terasa menghilang begtu saja. Tapi dia harus tetap maju.


Jendral Lou maju dengan pedang yang langsung dihunuskan ke arah Yi hua, tapi jangankan mendekatinya, saat dirinya mulai melangkah maju saja tubuhnya sudah terpental ke belakang dan menabrak dinding hanya dengan satu kibasan tangan dari Yi Hua.


Tak menyerah, Jendral Lou terus maju, dan terjadi hal yang sama. Dirinya terus terbanting, terbentur kesana dan kemari tanpa bisa mendekati Yi Hua. " Apa ini yang diajarkan oleh ayahmu? Hanya trik sihir tanpa bisa bermain pedang?" Ucap Lou.


Lagi-lagi kesalahannya adalah menyebutkan keluarga Yi Hua, ayahnya. Yi Hua semakin marah dibuatnya. Dia merentangkan satu tangannya kebawah, lalu sedetik kemudian sebuah pedang sudah berada ditangannya.


Semua orang terkejut dengan apa yang dilihat. Pedang moksha, jadi, dia adalah pemilik dari pedang moksha? Jendral Lou yang tadinya penuh dengan amarah dan ambisi langsung luluh dan bersimpuh. Dia bahkan langsung melepaskan pedang kebanggaan nya ke tanah.


" Bangun jendral, bukankah kau ingin berduel pedang dengaku?"


" Maafkan aku dewi. Aku akui kekalahan ku, dan aku menerimamu sebagai pemimpinku" Jendral Lou tau sia-sia saja jika dia ingin melawan nya. Sekali moksha digerakkan, yang diinginkannya hanyalah sebuah nyawa. Dan itu tidak bisa dikendalikan.


Yi Hua terkejut, emosinya kini kembali stabil melihat pengakuan dari jendral Lou. Pedang moksha pun sudah hilang dari genggaman nya, rambutnya kembali menjadi hitam, tanda bunga dikeningnya sudah menghilang dan warna pada matanya sudah kembali normal.


Yi hua menghampiri jendral Lou dan menyentuh bahunya. " Bangunlah, jangan seperti ini"


Jendral Lou menurut, dan segera bangun. Dia juga sudah memasukan pedangnya kembali ketempat nya. Amarah yang tadi muncul kini berubah menjadi rasa bangga, bangga karna dirinya akan melayani orang terkuat diantara para dewa.


...🧊 🧊 🧊...


Cermin yang mereka semua lihat kini sudah kembali gelap. Hanya ada pantulan dari diri mereka sendiri. Namun, perlahan cermin itu membuka kacanya. Daripada sebuah cermin, itu terlihat seperti sebuah pintu.


" Kemarilah" suara seseorang dari dalam cermin.


Semua orang seakan terhipnotis dan mengikuti asal suara dari cermin itu dan masuk kedalamnya. Begitu mereka masuk, mereka sudah kembali ke tempat mereka sebelumnya. Di kekaisaran Yunshi, tepatnya di kediaman Permaisuri.


" Ternyata kita semua sudah kembali" ucap Fu Tong.


" Iya, tapi tunggu sebentar. Aku merasa jiwaku masih tertinggal disana. Aku merasa sangat bingung sekarang" keluh Yuan.


" Sadarlah, kau ingin minum?" Tawar Feng Yue.


Semua orang hanya terdiam, ya, mereka semua merasa sangat kebingungan dengan apa yang dilihatnya didalam cermin.


Xiao Shi juga mencoba menenangkan dirinya dan menoleh ke samping. Namun yang dilihatnya ternyata seorang gadis yang tergeletak dilantai.


" Gadis itu terlihat sangat familiar, dia..."


Sedetik kemudia, Xiao Shi barulah sadar dan mengingat nya.


" ZI HU!"


|


|


|


|


|


bersambung.....