Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
Episode 76


" Fu tong milikku yang mulia"


" Milikmu? Apa yang kau maksud, permaisuri?!"


' kaisar sepertinya akan mengamuk sekarang' batin kasim han.


Zhao mengepalkan tangannya dan siap mengamuk jika saja Xiao shi tidak langsung menjelaskannya.


" Dia ketahuan oleh ku saat sedang menjalankan tugas darimu. Bukankah seharusnya dia menjadi orang ku?"


" Jadi maksud mu, kau menginginkan Fu tong menjadi bagian dari orangmu?"


" Iya"


" Kenapa?"


Ya, benar. Xiao shi juga tidak tahu kenapa. Dia tidak memiliki alasan kenapa membutuhkan Fu tong, tapi sesuatu dalam dirinya menginginkan itu.


" Bukankah hanya ada dua pilihan saat seseorang telah diketahui oleh musuh? Dibunuh atau mengabdikan dirinya. Jika anda tidak mengizinkan dia menjadi orang-orang ku, maka pilihan nya satu, yaitu membunuhnya"


" Tapi kau bukan musuhku"


" Jika bukan, kenapa anda meminta fu tong mengamati saya diam-diam?"


Apa yang dikatakan permaisuri nya benar. Seharusnya dulu ia menggunakan yanran untuk jadi mata matanya. Tapi itu juga sikap mencurigai seseorang. .


Tidak ada pilihan lain, zhao memutuskan untuk mengizinkannya saja daripada harus melihat Fu tong dibunuh.


" Baiklah, dia milikmu"


" Terimakasih, yang mulia. Setelah ini anda tidak bisa memerintah kan apapun padanya untuk menghianatiku. Karna dia sudah memiliki tanda orangku ditangan nya."


" Semudah itu?"


" Sebenarnya, dia sudah lama menjadi orangku. Dia bahkan memiliki tingkatan yang sama dengan ketiga pelayan ku ini."


Kasim Han dan huang Li terkejut mendengar nya. Bahkan mereka semua sampai menjatuhkan rahang nya. Bagaimana bisa? Dulu mereka bertiga berada di tingkat yang sama. Namun sekarang? Fu tong bahkan setara dengan kaisar.


Tiba-tiba saja orang yang sedang dibicarakan muncul dihadapan mereka semua. " Fu tong menghadap yang mulia" ucapnya.


" Aku yakin kau sudah mendengar nya" ujar zhao sedikit ambigu.


Fu tong hanya diam menundukkan kepalanya.


" Mulai sekarang, abdikan dirimu pada istriku, jaga dia lebih dari kau menjagaku selama ini. Ini perintah terakhirku." xiao shi merasa ini adalah perkataan tertulus yang pernah ia dengar dari mulut suaminya.


" Baik, Yang Mulia"


...🧊 🧊 🧊...


Lama tak terdengar kabar mengenai selir agung Yun. Apakah dia sudah tobat? Atau sedang memperbaiki diri agar bisa bersanding dengan kaisar? Tentu saja tidak.


Saat ini harem kaisar sedang dalam keadaan yang sangat tidak baik. Semua selir terluka, baik batin maupun fisik. Banyak sekali lebam dan luka dalam tubuh mereka, bahkan tidak jarang luka itu mengeluarkan nanah ataupun darah.


Itu semua adalah ulah sang selir agung.


Dia akan selalu menyiksa setiap selir yang melakukan kesalahan. Bahkan, jika kesalahan yang diperbuat adalah karna dayang dari seorang selir, maka selir itu yang akan dihukum.


Mereka akan ditampar, dipukul, dicambuk, bahkan disiksa dengan sihir yang dimiliki oleh Mao.


Hal ini sudah terjadi selama 4 hari.


Selama 4 hari ini Mao membuat para selir seolah adalah budaknya. Seperti sekarang, dia sedang menjambak rambut dari selir min, dia adalah putri dari kerajaan terkecil diselurih wilayah kekuasaan zhao.


" Bukankah sudah kubilang untuk jangan melawanku!" Jambakan pada rambut selir min semakin kuat. Ia meronta-ronta minta dilepaskan namun mao malah semakin menarik kepalanya kebelakang.


Seperti seorang pshycopat, mao memandangi wajah yang telah dipahat nya dengan sangat indah. " Jika sampai keadaanmu diketahui oleh orang lain, maka keesokan harinya kau akan mendengar kabar mengenai kematian ayahmu"


Mao melepaskan jambakan nya sambil mendorong kepala min ke arah lantai hinggal terbentur sangat kuat, lalu Mao pergi begitu saja meninggalkan selir min yang pingsan dengan dengan keadaan mengenaskan.


Para pelayan yang berada disekitarnya segera memindahkan selir min ke kasur dan membersihkan luka-lukanya. Mereka juga tidak bisa memanggil tabib karna ancaman selir agung.


Sebenarnya mereka bisa saja memberontak, tapi selir agung adalah orang berpengaruh di kerajaan, dia juga memiliki dukungan kuat, yaitu ayahnya. Siapa yang berani menyinggungnya? Sejak dulu tak ada yang berani melakukannya.


Mao berjalan dengan sangat angkuh melewati para selir yang berada diluar dan menjadi ketakutan saat mereka melihat Mao. Namun sayang, keangkuhan nya sepertinya akan tenggelam karna Xiao shi dan iringannya sedang berjalan ke arahnya.


" Salam, Permaisuri" sapa selir agung.


Xiao Shi enggan untuk menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya saja.


" Lama tidak melihat anda, permaisuri" ujar Mao berusaha untuk basa-basi.


" Ya, kau benar. Banyak sekali hal yang aku urus untuk membantu Yang Mulia"


" Ah, jika begitu bukankah harem kaisar jadi sedikit terbengkalai? Untunglah ada aku yang mengurusnya" sombong Mao. Seluruh selir yang mendengar itu sangat ingin sekali mencabik-cabik dirinya daripada memujinya.


Xiao Shi mengernyit, " Benarkah? Bagus jika kau memang benar mengurusnya dan bukan mengacau. Sebagai selir agung seharusnya kau memberi contoh yang baik untuk yang lainnya."


Mao sedikit tersentak dengan perkataan xiao shi, namun dia berusaha mengatur mimik wajahnya dengan tersenyum. " Tentu saja permaisuri"


Xiao shi melanjutkan langkahnya, namun kembali terhenti saat dirinya sejajar dengan Mao. " Jika kau membuat kekacauan, akan ku pastikan kau menanggung akibatnya, selir."


Tanpa basa basi dan mendengarkan jawaban Mao, xiao shi langsung pergi begitu saja meninggalkan Mao yang kesal dan mengepalkan tangannya.


" Berani sekali ****** itu mengancam ku! Tidakah dia tau aku siapa? Tidakkah dia tahu siapa ayahku? Bahkan jika aku nekad, aku bisa saja memenangkan kursi Permaisuri dan gelarnya" gerutunya pelan.


" Yang mulia selir, bersabar lah. Mungkin dia seperti itu untuk menutupi kekurangannya yang tidak bisa menggunakan sihir dan buruk rupa" bujuk seorang pelayan nya.


"Kau benar dia bukan sainganku. Dia tidak pantas bersaing denganku. Kita akan lihat nanti, siapa yang akan menang, jalan sialan seperti dia akan berakhir dengan bersujud dikakiku"


Selir yang mendengar percakapan mereka kini menyadari bahwa sebenarnya selir agung itu tidak bisa melakukan apa-apa. Dia melakukan kekerasan, penyiksaan, bukan karna tingkatan sihirnya tinggi, tapi karna memang itu yang dia tahu. Sekarang para selir yang tadi mengintip itu sudah tahu bahwa masih ada seseorang diatas Mao. Tadinya mereka pikir Mao adalah satu-satunya yang teratas dan tidak boleh dibantah, tapi ternyata mereka salah. Ternyata diatas Mao masih ada Permaisuri, dilihat dari percakapan tadi sepertinya Permaisuri tidaklah lemah dan hanya diam saja, dan seperti nya permaisuri ini tidak sesuai dengan apa yang dirumorkan selama ini.


'apakah aku harus mengadukan yang terjadi pada permaisuri?' batin salah seorang selir.


|


|


|


|


|


bersambung.....