Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
Episode 47 - Kemenangan (?)


Beberapa waktu mereka bertahan dengan posisi seperti itu, Xiao Shi yang memang tidak peduli, dan Zhao yang sebenarnya mengumpulkan keberanian untuk menanyakan sesuatu pada Xiao Shi.


Akhirnya Zhao berbalik, menatap Xiao Shi tanpa ekspresi apapun, memajukan langkahnya menghapus jarak antara mereka. Xiao Shi yang tadinya tidak peduli kini justru merasa gugup. Mata mereka saling menatap penuh arti.


" Tidakkah kau tau jika aku mencintaimu Permaisuri?" ucap Zhao


Zhao menggelengkan kepalanya, mamudarkan bayangan yang tadi ada dalam kepalnya, kenapa dia bisa membayangkan hal itu? Dramatis sekali pikirnya.


Kali ini dia benar-benar berbalik, menghadap dan menatap Xiao Shi.


" Apa perlu memanggil Mentri Yun sepagi ini hanya untuk menegur kesalahan selir agung?" tanya nya mencoba mengintimidasi Xiao Shi.


" Apa maksud kedatanganmu kesini hanya untuk membela selir kesayangmu Yang Mulia?" bukannya menjawab Xiao Shi justru balik bertanya.


Zhao mengernyit " Selir kesayangan? Haha."


Zhao semakin memajukan langkahnya mendekati Xiao Shi, kini wajah mereka saling berhadapan sangat dekat. Zhao sedikit menundukan kepalanya untuk menatap Xiao Shi yang tingginya sebatas dadanya saja, dan Xiao Shi yang perlu menengadahkan kepalanya untuk menatap Zhao. Sebenarnya dalam ukuran tinggi wanita pada umumnya Xiao Shi terbilang tinggi, proporsi tubuhnya sangatlah ideal. Tapi walaupun tinggi tetap saja dia masih kalah tinggi dengan Zhao. Pria menyebalkan dan angkuh itu sangatlah tinggi.


" Jangan mencoba mengalihkan topik permaisuri, apa kau cemburu?" bisiknya di ucapan terakhir.


Xiao Shi tersenyum meremehkan. " Cemburu? Kenapa saya harus cemburu Yang Mulia? Sejak awal pernikahan kita terjadi hanya karna pemaksaan yang anda lakukan, pernikahan ini tidak didasari cinta Yang Mulia, jika tidak didasari cinta bagaimana mungkin saya bisa memiliki perasaan cemburu?" ucap Xiao Shi sambil menatap Zhao penuh keyakinan.


Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya, dan entah kenapa kata-kata itu juga terasa sangat menyakitkan bagi Zhao. Dia memundurkan badannya, kembali mengambil jarak antara dirinya dan Xiao Shi. Kenapa ada rasa sesak yang dia rasakan? Apakah dia sakit? Tidak mungkin. Zhao merasa dia tadi baik-baik saja, lalu kenapa tiba-tiba sesak.


Apa ini? Ada apa dengan nya? Dia mencoba mengontrol dirinya agar terlihat baik-baik saja. Lalu kembali menatap Xiao Shi.


" Kembali ke awal, jadi apa sebenarnya yang kau bahas dengan Mentri Yun?" dia mencoba mengalihkan perhatian nya dari rasa sakit yang dia rasakan, tapi tidak berhasil, dadanya terasa makin sesak.


" Bukankah aku sudah mengatakan nya Yang Mulia? Aku memanggilnya hanya untuk menegur Mentri Yun" ucap Xiao Shi malas.


" Yasudah, aku tidak ingin memperpanjangnya, ada hal yang harus ku urus" ucap Zhao dan langsung pergi meninggalkan Xiao Shi.


Sepeninggal Zhao, Yun dan Feng Yue segera masuk kedalam dan menghadap Xiao Shi. Dilihatnya Xiao Shi sedang melepas cadarnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


" Ada apa Shi er? Apa Kaisar memarahimu?" tanya Yuan.


" Tidak"


" Lalu kenapa dia pergi dengan wajah yang aneh?"


" Aneh?"


" Ehm, aneh, seperti,,,,, seperti ah entahlah, intinya wajahnya terlihat aneh" ucap Yuan kebingungan.


" Aishhh lupaka itu Yuan, ada hal yang lebih penting. Bagaimana dengan Mentri Yun Shi'er? Sejauh ini semuanya sesuai prediksimu dan rencana kita berjalan lancar" tanya Feng Yue penasaran.


Xiao Shi bangun dari tiduran nya dan duduk di sisi ranjang. Dia tersenyum.


" Dia setuju melakukan semua nya" ucapan Xiao Shi ini berhasil membuat Yuan dan Feng Yue melotot.


" Aaaaaaaaaaaaa bagaimana bisa?" teriak Yuan kegirangan.


" Shhhh pelankan suaramu" tegur Xiao Shi.


" Maaf" Yuan menutup mulutnya sambil terus tersenyum dan melompat-lompat kegirangan.


" Bagaimana bisa dia setuju? Apa kau becanda Shi'er?" tanya Feng Yue tidak percaya.


" Apa kau meragukanku Feng Yue?"


" Tidak, bukan seperti itu. Tapi aku tidak menyangka dia akan setuju. Syarat yang kita bahas untuk perjanjian dengan dekrit ini menurutku cukup berat untuk orang serakah seperti dirinya" jelasnya.


Xiao Shi bangkit dan berjalan mengelilingi mereka berdua.


" Kau benar, tapi aku bahkan menambahkan beberapa syarat lain selain menghentikan pungutan liar di masyarakat dan pajak tak berguna yang dia lakukan hanya untuk kekayaan nya sendiri." Ucap Xiao Shi.


" Apalagi yang kau minta?"


" Aku meminta....


# FLASHBACK


" Bebaskan para budak yang kau tahan diam-diam dirumahmu. Lepaskan semua desa-desa yang kau hak atas dirimu sendiri, desa itu milih kaisar. Dan serahkan semua orang orang kepercayaanmu yang selalu kau minta untuk memata-mataiku atau bahkan yang sudah kau siapkan dalam rencana penyeranganmu untuk membunuhku. Serahkan semuanya kepadaku Mentri" ucap Xiao Shi. hal itu membuat Mentri Yun semakin geram dan mengepalkan tangan nya.


" Ah ya satu lagi, ajukan lah Tuan Hao untuk menjadi kepala pengadilan pada Yang Mulia, karna dia yang akan membantumu menyelamatkan dekrit itu" lanjutnya.


" Kau Gila Permaisuri!!!!" Mentri Yun dipenuhi amarah, dia tidak habis pikir dengan wanita didepan nya ini.


" Kurasa kau melupakan sopan santunmu Mentri, tapi ya karna perasaanku sedang baik jadi biarkan saja." Ucap Xiao Shi santai.


" Aku tidak akan memberikan nya! Kau sungguh gila, hanya untuk sebuah gulungan kau meminta setengah yang kumiliki selama ini. Tidak kah kau tau bahwa untuk mendapatkan nya aku perlu bersusah payah dan mengorbankan banyak hal!!!"


" Ya, seperti yang kau katakan Mentri, itu hanya setengahnya. Namun sebuah gulungan yang kau katakan itu bukanlah gulungan biasa, kau bisa kehilangan kepalamu karna sebuah gulungan yang kau remehkan itu. Keputusan ada ditanganmu Mentri, melepaskan setengah yang kau miliki atau kehilangan nyawamu dan bahkan kehilangan semuanya" ucap Xiao Shi.


#FLASHBACKOFF


Yuan dan FengYue melongo. Gila. Ini sungguh gila pikirnya. Xiao Shi ini sungguh-sungguh diluar bayangan mereka. Bagaimana bisa dia mendapatkan semuanya semudah itu. Sekarang mereka bertiga sangat gembira, bahkan terlalu gembira. Teng She yang biasanya malas ikut campur pun kini ikut bergabung dengan mereka, dia merasa gembira karna semuanya berjalan lancar, rasa lelah dan kesalnya karna waktu istirahatnya selalu diganggu oleh perintah-perintah Xiao Shi kini terbayarkan. Dia merasa bangga pada Xiao Shi, dan dia merasa menjadi seseorang yang berguna sekarang.


" KITA BERHASIILLLLLL........KITA MENANGGGGG!!"


Itulah yang Teng She dan Yuan teriakan, mereka berdua bahkan berlarian mengelilingi kamar Xiao Shi. sedangkan Xiao Shi dan Feng Yue hanya tertawa menyaksikan tingkah bodoh mereka. Setelah hari-hari berat kemarin, hari yang panjang dan melelahkan akhirnya mereka berhasil. Tentu saja mereka semua senang. Saking senangnya mereka berempat bahkan saling berpelukan, tidak ada Permaisuri dan pelayan saat ini, hanya ada beberapa teman yang telah berhasil meraih suatu hal bersama-sama. Mereka berpelukan sambil tertawa dan melompat-lompat seperti anak kecil.


Dibalik tawa dan kebahagiaan mereka, istana justru sedang ricuh dengan kabar yang beredar. Kabar itu mengenai telah ditemukan nya dekrit yang hilang. Tentu saja itu dilakukan oleh Hao Cheng. Setelah keputusan Mentri Yun tadi, Xiao Shi langsung menyuruh orang suruhan nya untuk memberitahu Hao melakukan langkah terakhirnya. Dan disinilah dia, berdiri ditengah-tengah aula dihadapan semua orang dan Kaisar.


" Jadi, bagaimana kau menemukan dekrit itu Hao?" tanya Zhao sambil melihat ke arah dekrit yang berada digenggaman ya. Dibuka dan dibacanya dekrit itu, benar, tidak ada yang berubah dari isinya atau apapun. Tidak ada sihir apapun dalam dekritnya, darahnya masih ada disana, Zhao selalu meneteskan darahnya dalam setiap surat penting sebagai ciri khas dan meminimalisir penipuan, setiap raja di seluruh daratan ini juga melakukan nya. Dan bisa dipastikan bahwa kertas dalam genggaman nya ini adalah dekrit asli yang dia berikan pada Mentri Yun saat itu.


" Izin Yang Mulia, hamba menemukan nya pada tas yang tergantung di pelana kuda milik Mentri Yun" jawab Tuan Hao lugas.


" Pelana kuda?" tanya Zhao ragu.


" Benar Yang Mulia, sepertinya Mentri Yun menaruhnya disana dan lupa, karna saat hamba menemukan nya dekrit ini memang tertumpuk oleh barang barang perlindungan diri milik Mentri"


Zhao mengernyit. " Bagaimana tanggapanmu soal ini Mentri?"


" Apa yang dikatakan Hao memang benar Yang Mulia, sepertinya karna sudah semakin tua hamba jadi gampang pelupa" jawab Mentri Yun pasrah, kenapa gadis bodoh itu memilih pelana kuda sebagai tempatnya? Apa yang akan dipikirkan Kaisar nantinya jika ditemukan dalam tempat yang tidak terhormat seperti itu.


" Kau menyimpan nya dalam pelana kuda? Bukankah itu artinya kau tidak memiliki tatakrama Mentri? Dekrit penting dan terhormat kau simpan dalam tas dipelana kudamu?"


" Ma-maafkan hamba Yang Mulia,,, itu terjadi karena,,, karenaa" Mentri Yun terbata-bata entah alasan apa yang harus dia berikan. Gadis itu sangat merepotkan.


" Karena agar Dekrit itu sampai dengan aman dan tidak dicurigai" sela Tuan Hao yang tentu saja menarik perhatian semua orang.


" Maafkan hamba Yang Mulia, tapi mendiang kaisar juga pernah melakukan nya. Hal itu dilakukan agar jika ada orang yang menghadangmu dijalan mereka tidak bisa merebut dekrit nya, karna pelana kuda jarang sekali digeledah. Sepertinya Mentri berkaca pada mendiang kaisar Yang Mulia" jelas Tuan Hao.


" Benarkah seperti itu maksudmu Mentri?" tanya Zhao


" Benar Yang Mulia" ucap Yun menganggukan kepalanya.


Zhao menggulung kembali dekrit itu dan memberikan nya pada Kasim Han. Lalu bangkit dari singgasananya dan turun menghampiri Tuan Hao dan menepuk pundaknya.


" Kau sudah mengerjakan tugas dengan sangat baik Hao, dan tidak pernah mengecewakanku, kau layak mendapat hadiah. Katakan apa yang kau inginkan? aku akan mengabulkan nya" tawar Zhao.


Tuan Hao hanya tersenyum, " Terimakasih atas kemurahan anda Yang Mulia, tapi hamba tidak meminta apapun. Ini sudah menjadi tugas hamba dalam melayani kekaisaran"


" Kau selalu sangat baik, tapi ayolah, pinta apa saja untuk kali ini"


" Maaf karna hamba menyela Yang Mulia, tapi hamba memiliki saran untuk hadiah yang layak diterima Hao Cheng" ucap Mentri Yun.


" Benarkah? Apa itu?"


Semua orang memfokuskan perhatian nya pada Mentri Yun, bukankah ini aneh jika Mentri Yun mengatakan itu?


" Karena kelihaian dan ketelitian nya dalam menyelidiki sesuatu, hamba rasa Hao Cheng pantas menjadi Kepala Pengadilan Kekaisaran. Dia memiliki kemampuan yang sudah tidak diragukan lagi, kesetian nya pada kekaisaran juga tidak perlu dipertanyakan lagi" saran dari Mentri Yun ini membuat semua orang terkejut, termasuk Kaisar dan Tuan Hao.


Kepala Pengadilan saat ini, Tuan Jhong bahkan sangat terkejut, bagaimana bisa Yun itu menyarankan hal itu saat dia masih ada dalam posisinya.


" Lalu bagaimana dengan Kepala Jhong saat ini? Dia masih ada dalam posisinya bukan?" tanya Kaisar yang sontak saja membuat Jhong mengangguk-anggukan kepalanya penuh emosi.


" Maafkan hamba Yang Mulia, tapi hamba rasa Kepala Jhong sudah tidak pantas berada dalam posisinya, melihat dia bahkan memimpin penggeledahan ini berapa kali namun teteap tidak menemukan apapun, hamba rasa kemampuan nya sudah sangat berkurang."


" Kau yakin Mentri? Bukankah Kepala Jhong adalah temanmu?" sindir Zhao.


Mentri Yun tersenyum " Tidak ada pertemanan dalam keprofesionalan Yang Mulia"


" Yun! Bagaimana bisa kau—" luapan emosi Jhong ini terhenti kala Zhao menatapnya sinis.


" Baiklah, aku setuju. Dengan ini aku menyatakan bahwa hal-hal di Pengadilan selanjutnya akan dipimpin oleh Hao Cheng. Kasim Han buatkan aku surat keputusan nya" titahnya.


" Baik Yang Mulia" ucap Kasim Han


Sedangkan Hao merasa beku ditempatnya berdiri, dia tidak percaya dengan keputusan yang diberikan Kaisar.


" Pimpin dan urus pengadilan dengan baik Hao. Aku percaya padamu" ucap Zhao lagi-lagi sambil menepuk pundak Hao.


Karna tepukan itu Hao tersadar dari kebekuan nya. " Terimakasih Yang Mulia, terimakasih atas kemurahan anda, hamba akan menjalankan nya dengan baik"


" Baguslah" lalu Zhao pergi meninggalkan aula, dan seluruh aula berdengung dengan seruan atas kemurahan hatinya pada Tuan Hao.


Sedangkan dalam perjalanan nya kembali ke kediaman nya, Zhao tersenyum licik.


" Jadi, inikah tujuanmu bertemu Mentri Yun tadi pagi Permaisuri? Ku rasa aku sudah salah karna meragukan pengetahuanmu mengenai politik istana. Apa yang kau tawarkan sehingga Mentri Yun bisa mengatakan hal seperti tadi? Apa yang aku tidak ketahui soal mu Permaisuri? Sepertinya kau menyimpan banyak sekali misteri dalam dirimu. Siapa kau sebenarnya?"


|


|


|


|


|


bersambung......