Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
Episode 66


Hari perayaan akan berlangsung besok, Zao sudah menyiapkan pakaian spesial untuk hari perayaan itu. Baju yang di design dan dirancang khusus ini dia buat secara berpasangan, dengan siapa lagi kalau bukan Xiao Shi?


" Ayo, aku akan memberikan pakaian ini secara langsung. Menurutmu apakah dia akan menyukainya? Design nya tidak terlihat kolot kan?" Zao terus menerus membuka tutup kotak berisi pakaian yang akan diberikan nya itu, dia ragu apakah xiao shi akan menyukainya atau tidak.


" Itu adalah pakaian yang bagus yang mulia, hamba yakin permaisuri akan menyukai pemberian anda" jawab Kasim Han mencoba menenangkan.


Merasa yakin dengan ucapan kasim han, zao dan iring-iringan nya pun langsung bergegas menuju istana permaisuri. Bergitu sampai, zao melihat permaisurinya sedang berada diatas jembatan sambil melihat langit di halaman kediaman nya. Zao memberi isyarat agar para pelayan yang mulai menyadari kehadirannya tidak bersuara, dia pun langsung menghampirinya sepelan mungkin agar tidak mengganggu sang gadis pujaan nya.


Begitu sampai disamping xiao shi, ternyata gadis itu masih tidak menyadari kehadiran nya. Zao menatap wajah nya takjub, wajah bercadar itu tampak sangat memukau saat diterangi oleh sinar rembulan, mata indah yang membuatnya jatuh cinta pun semakin nampak berkilau.


" Malam ini sangat indah bukan?" tanya zao menyadarkan xiao shi.


" Hm,,, langit malam ini memang sangat indah" jawab xiao shi tak sadar.


" Tidak, bukan langitnya"


" Lalu?"


" Kau"


Merasa percakapan nya sedikit aneh, xiao shi menolehkan kepalanya dan terkejut saat melihat sang kaisar sudah ada dihadapan nya. diapun segera membungkuk memberikan hormat.


" Yang Mulia, maafkan kelancangan hamba karna tidak menyadari kehadiran anda"


" Sudah, tidak apa-apa, bangunlah permaisuri"


Xiao shi pun mengangguk dan kembali ke posisinya semula.


" Apa yang membuat anda kemari malam-malam begini, yang mulia?"


" Apakah aku tidak boleh mengunjungimu?"


" Tentu saja boleh yang mulia, tapi hamba pikir mungkin anda memiliki alasan lain"


" Itu benar,,, bawa itu kemari" ucapnya pada dayang yang membawa kotak pakaian.


Pelayan itu segera menghampiri zao dan memberikan kotaknya.


" Besok ada perayaan, atauu ya bisa dibilang pesta rutinan yang selalu diadakan 1 tahun sekali" ucap zao sambil menyodorkan kotaknya pada xiao shi.


" Apa ini yang mulia?" tanya xiao shi sambil menerima kotaknya.


" Ekhemm,, itu pakaian yang aku buat khusus untuk kita besok"


Xiao shi menaikan satu alisnya, pakaian? Jika didunianya dahulu ini mungkin disebut couple.


Xiao shi membuka kotaknya dan terpukau ketika melihat isinya, itu adalah gaun yang indah. Gaun berwarna putih yang dipadukan dengan biru. Sederhana tapi ini indah, zao seperti benar-benar tau apa yang disukai oleh xiao shi.


" Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak menyukainya? Jika tidak suka maka—"


" Hamba menyukainya yang mulia, sangat menyukainya, terimakasih"


Zao tersenyum penuh bangga, pilihannya ternyata tidak salah " Senang kau menyukainya, disana juga sudah disiapkan cadar dengan warna yang senada, jadi kau tidak perlu khawatir"


" Hamba mengucapkan banyak-banyak terimakasih yang mulia, maaf telah merepotkan anda"


" Tidak masalah, jangan khawatir. Aku tidak merasa direpotkan"


Xiao shi hanya membalas perkataan nya dengan tersenyum.


" Permaisuri, kenapa kau menggunakan kata 'hamba' lagi? Bukankah kita telah sepakat?"


" Sepakat?" beo xiao shi.


Lalu ingatan xiao shi berputar pada saat dimana dia mengobrol dengan zao setelah acara makan malam itu.


" Apakah itu kesepakatan sungguhan, yang mulia?"


" Apa maksudmu?"


" Hamba pikir itu hanya formalitas saja. Mengingat kesepakatan sebelumnya jika hubungan kita hanya dimuka umum demi menjaga tahta, hamba pikir saat itu hanyalah formalitas karna kita berbicara di umum dan banyak pelayan disana"


Zao merasa dirinya sangat terpental hebat sekarang. Formalitas? Apa-apaan ini?


" Formalitas? Kesepakatan itu masih kau akui? Lalu bagaimana dengan makan malam yang kau siapkan saat itu?"


Xiao shi menunduk. " Itu juga bagian dari kesepakatan nya, yang mulia. Apa yang akan orang katakan jika anda sudah menyiapkan semuanya namun hamba tidak datang dan tidak melakukan apapun setelahnya, karna itulah hamba—"


Tak ingin mendengarkan sampai akhir zao langsung berbalik dan pergi begitu saja dengan keadaan yang sangat marah, emosi, kecewa, dan patah hati. Dia sangka xiao shi melakukannya karna sudah mulai memiliki perasaan untuknya, ternyata dia salah besar. Itu semua hanyalah formalitas belaka dan juga bagian dari kesepakatan yang bahkan tak pernah dirinya setujui.


Begitu zao pergi, feng yue, yanran dan yuan segera menghampiri xiao shi dan menatapnya tanpa ekspresi.


" Apa salahku?" tanya xiao shi polos.


Yuan menepuk jidatnya, " Kenapa kau mengatakan itu shi'er?! Oh dewa, dimana letak otak yang kau taruh untuk permaisuri dalam urusan asnara ini?"


" Seharusnya kau tidak mengatakan itu shi'er" timpal feng yue.


" Kaisar terlihat sangat kecewa dan patah hati" bela Yanran.


Xiao shi menghela nafsnya pasrah. " Aku tahu, tapi entahlah. Itu kata yang keluar dari mulutku begitu saja, aku merasa belum yakin untuk membuka hatiku padanya"


Yanran, feng yue dan yuan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, mereka tidak bisa ikut campur terlalu jauh mengenai perasaan tuan nya.


~*~


" Hua'er, apa yang sedang kau lakukan?"


Merasa namanya dipanggil, wanita itu menolah dan langsung menghampiri pria yang memanggilnya tadi.


" Kau disini? Kemarilah" wanita itu menarik lengan sang pria agar mengikutinya.


Didepan sana, dua orang pria sedang saling mengejar satu sama lain, mereka bahkan saling menyerang menggunakan sihir satu sama lain. Tanpa berniat membantu, wanita itu justru malah menertawakan nya.


Sang pria hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mencubit hidung sang wanita. " Nakal, kali ini apalagi yang kau perbuat pada mereka, hm?"


" hehe,, maafkan aku" ucapnya sambil menggaruk pipinya.


" Hua'er, boleh aku menanyakan sesuatu?" pria itu menumpukan kedua lengan nya pada sisi jembatan dan melihat ke arah dua orang tadi.


" Tentu saja, kau boleh menanyakan apapun padaku"


" Apa kau mencintaiku?"


Wanita itu mengerutkan alisnya dan meraih wajah prianya agar menatap ke arahnya.


" Lihat aku, apa dimataku kau melihat pria lain?"


Sang pria pun menggelengkan kepalanya.


" Itu benar, hanya ada kau disana. Dan akan selalu begitu, meskipun kedepan nya ada makhluk yang mungkin lebih tampan darimu aku tidak akan berpaling, hanya kau yang ada dalam hatiku dan akan selalu begitu"


" Jadi, kau jatuh cinta hanya karna ketampananku?


" Ya, bisa dibilang begitu" kekehnya


" Ck, menyebalkan"


" Hahaha, tentu saja tidak. Aku mencintaimu karna kau dan apa adanya dirimu, walaupun kau mirip bebek ataupun babi dan seperti patkai nantinya, aku akan tetap mencintaimu, percayalah"


Pria itu menyentil dahi wanitanya, " Aku tidak akan sejelek itu"


" Hahahahahahahhaha"


Pria itu meraih tengkuk sang wanita, dan menyatukan kedua kening mereka. Nafas yang berhembus terasa hangat ketike menerpa wajah mereka.


" Aku mencintaimu Hua'er"


" Aku juga mencintaimu, Zhu Xian Yin "


Di hari yang indah di atas jembatan itu, mereka saling menyalurkan perasaan nya. Sebuah kecupan di bibir berubah menjadi ciuman lembut, lama kelaman ciuman itu berubah menjadi ******* dan jarak mereka yang semakin intim. Zhu xian semakin menekan tengkuk hua'er nya guna memperdalam aksinya, dan sang gadis hanya pasrah mengimbangi ******* kekasihnya sambil mengalungkan kedua tangan nya ke leher zhu xian.


~*~


" Permaisuri,,, permaisuri,,bangunlah" suara Yuan mengacaukan semuanya.


Xiao shi membuka matanya dan menyadari bahwa dirinya sekarang berada dikamar nya, bukan diatas jembatan.


TUNGGU?! JEMBATAN?!


" Permaisuri,,, apa anda melamun?" yuan melambai-lambaikan tangan nya tepat didepan wajah xiao shi.


Xiao shi segera tersadar, " Tidak, apa aku kesiangan lagi?" tanyanya sambil melihat kearah jendela.


" Tidak permaisuri, tapi rombongan kerajaan sudah mulai berdatangan."


" Ah seperti itu, baiklah, siapkan pemandianku"


" Baik" lalu Yuan keluar dan menyiapkan pemandian untuk xiao shi.


Setelah kepergian yuan, xiao shi melanjutkan lamunan nya. dia menyentuh bibirnya sendiri, kenapa bibirnya terasa basah? Ciuman itu terasa sangat nyata. Bagaimana mungkin? Siapa dan apa maksud dari mimpinya? Kenapa dia tidak bisa mengingat wajah pria itu dengan jelas?


" Zhu Xian Yin,,, siapa kau sebenarnya?" gumam Xiao Shi


|


|


|


|


|


bersambung.....