Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
Episode 42 - Pendukung


Hari ini, Ibu Suri memanggil Xiao Shi ke kediaman nya. Mereka menghabiskan waktu di halaman belakang sambil sesekali meminum teh kesukaan Ibu Suri, itu adalah teh yang terbuat dari Bunga Olwanda putih. Bunga itu hanya tumbuh dan mekar selama satu bulan setiap tahun nya.


" Apa kau menikmati waktumu selama disini putriku?" tanya Ibu Suri.


" Tentu saja Ibu" jawab Xiao Shi.


" Tapi aku jarang sekali melihatmu keluar, kau selalu mengurung dirimu, katakan padaku apa yang membuatmu tidak nyaman disini?"


" Aku sangat nyaman disini ibu, hanya saja banyak hal yang harus ku urus dan ku pelajari saat masuk kesini, itu alasanku selalu berdiam diri"


Ibu Suri mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum " Kau anak yang baik, gadis yang baik, dan seorang permaisuri yang baik. Aku harap kau bisa segera menjadi istri yang baik pula"


Xiao Shi tau kemana arah pembicaraan ini, jujur saja dia tidak ingin membahasnya, mungkin tidak terlalu merespon soal ini bukanlah hal yang buruk.


" Apakah kau belum mencintai putraku?" tanyanya lagi pada Xiao Shi.


Xiao Shi tidak tahu harus menjawab apa. Ya dewa bantulah aku, batinnya.


" Ibu" seru seseorang dari arah belakang nya.


DEG!! Suara itu? Bukankah itu suara kaisar?


Dengan rasa penasaran yang tinggi Xiao Shi menoleh ke arah suara itu berasal, dan benar saja, kaisar itu berdiri disana sambil menatap ke arahnya.


'oh dewa, apakah ini bantuan? Atau malapetaka baru untukku?'


Kaisar berjalan menghampiri mereka, lalu duduk di sisi Xiao Shi.


" Ada apa kau kesini putraku? Apakah kau ingin bertemu istrimu?" goda Ibu Suri, tentu saja hal itu membuat wajah Zhao memerah, Xiao Shi yang melihat itu menjadi semakin tidak karuan.


" Tidak Ibu, aku kesini untuk bertemu denganmu" jelas Kaisar Zhao.


Xiao Shi berpikir mungkin ini adalah hal serius, dan dia tidak harus ada disana. " Kalau begitu, saya pamit Yang Mulia"


" Tidak perlu Permaisuri, hal yang akan aku bahas dengan ibunda juga tentangmu" ucap Zhao sambil melihat datar ke arah Xiao Shi.


" Urusan apa itu?" tanya Ibu Suri.


" Hari ini aku mendengar bahwa seekor kelinci telah kabur dari rumahnya, bagaimana pendapatmu Ibu?" ucap Zhao sambil sesekali melihat ke arah Xiao Shi.


Seolah mengerti maksud dari putrnya itu, Ibu Suri hanya tersenyum. Sepertinya putranya sedang cemburu. " Kurasa dia tidak kabur anakku"


" Kenapa seperti itu?"


" Karna kelinci itu telah meminta izin kepadaku sebelumnya, dan aku mengizinkan nya"


Xiao Shi yang mulai mengerti arah pembicaraan ini mulai duduk dengan gelisah.


'sepertinya yang pria ini bahas adalah aku'


" Tapi kelinci itu harusnya izin kepadaku ibu"


" Kau tidak bisa ditemui sejak kemarin putraku, sedangkan urusan kelinci itu sangat penting, jadi aku mengizinkannya"


Zhao mengernyit, " kemarin? Dia meminta izinmu kemarin?"


" Benar"


" Sungguh kelinci yang sangat nakal, seharusnya dia menungguku bukan nya mencarimu" gumamnya.


Melihat itu Xiao Shi sungguh geram, dirinya dibuat seolah terpojokan disini.


" Anda tidak bisa saya temui Yang Mulia, 2 hari saya menunggu anda namun anda terlalu sibuk, jadi saya meminta izin pada Ibu" jelas Xiao Shi.


" Aku tidak membicarakanmu permaisuri, kenapa kau mengatakan itu? Apakah kau merasa kau adalah kelinci nakal itu?" ketus Zhao.


" Tentu saja Yang Mulia, bukankah kabar aku keluar istana sangat menggemparkan hari ini?" jawabnya tak kalah ketus.


Ibu Suri yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu bangkit dari duduknya. " Sepertinya kalian harus menyelesaikan ini berdua"


" Ibu, kau tidak seharusnya pergi, kau bisa tetap disini, aku dan Yang Mulia yang akan membicarakan nya ditempat lain" ucap Xiao Shi karna merasa tidak enak.


" Tidak perlu putriku, selesaikanlah urusanmu dengan suamimu disini, jangan sungkan" ucapnya lalu pergi meninggalkan kedua pasangan yang saling diam itu.


Beberapa saat, keadaan masih tetap hening, tak ada yang mencoba berbicara. Zhao yang terus menatap Xiao Shi menunggu sesuatu diucapkan dari mulut yang tertutup cadar itu, dan Xiao Shi yang terus menatap kosong ke arah kolam didepan nya.


Pada akhirnya, Zhao menghela nafasnya kasar, tidak ada yang akan terjadi jika dia tidak memulainya terlebih dahulu.


Xiao Shi menoleh, " Apa yang harus aku jelaskan Yang Mulia?"


" Urusan apa yang membuatmu harus menemui Tuan Hao"


" Aku menemui Yanran Yang Mulia, dia adalah dayangku, dia sedang kurang sehat jadi aku menjenguknya"


Zhao tersenyum, " Kau pandai berbohong ternyata"


Xiao Shi tidak terkejut dengan ucapan Zhao padanya, dia tahu Zhao mengetahui tujuan nya bertemu dengan Tuan Hao.


" Bukankah seharusnya anda tidak perlu menanyakan nya jika anda sudah mengetahuinya Yang Mulia?"


" Aku ingin mendengar penjelasanmu"


" Aku sudah melakukan nya"


Seolah kalah telak, Zhao tak lagi ingin mendebat Xiao Shi. Dia tau gadisnya itu memang sangat misterius dan KERAS KEPALA. Daripada pembahasan ini membuat hubungan dirinya dan Xiao Shi semakin renggang, lebih baik dia pergi dan mengurusnya sendiri.


" Baiklah, jaga dirimu permaisuri, jika kau perlu bantuan kau bisa mencariku dan katakan pada Kasim Han. Aku akan membuat pengecualian denganmu mulai hari ini, kau bisa menemuiku kapanpun" ucapnya dengan nada yang sangat lembut, berbeda dengan tadi yang ketus dan sangat dingin.


" Terimakasih Yang Mulia"


Zhao bangkit dan segera pergi meninggalkan halaman belakang kediaman Ibu Suri. " Kasim Han, panggil Tuan Hao, katakan aku ingin menemuinya."


" Baik Yang Mulia"


~


Suasana terasa sangat tegang didalam ruangan Kekaisaran, Tuan Hao yang tadi mendapat kabar bahwa kaisar ingin menemuinya membuatnya bertanya-tanya, apa yang terjadi? Mungkinkah kaisar ingin membahas mengenai kunjungan permaisuri tadi pagi?


" Pagi tadi, bukankah Permaisuri mendatangi kediamanmu? " Tanya Zhao mengintimidasi.


Tuan Hao hanya bisa menundukan kepalanya, " Benar Yang Mulia"


" Kau mulai terjun dan masuk ke dunia politik Hao? Kau memilih sekutu yang sangat bagus"


Pertanyaan dan nada bicara yang sangat amat menyindir itu membuat Tuan Hao sangat tegang. Dia memutuskan untuk bersujud dan memohon ampunan dari kaisarnya itu.


" Mohon ampun Yang Mulia, tapi hamba hanya—"


" Dukung dia Hao. Dia memerlukan pendukung sepertimu"


Tuan Hao terkejut, pikirnya Kaisar akan memarahinya, tapi ternyata tidak.


" Yang Mulia"


" Dia tidak tau bagaimana liciknya orang-orang di pemerintahan ini, jika dia mendapatkan pendukung yang kotor, aku takut itu akan menodainya. Pemerintahan ini sangat licik dan penuh intrik, aku tidak tau dia akan sanggup atau tidak"


Tuan Hao hanya menelan ludahnya, sepertinya Kaisarnya ini memang tidak mengetahui apapun soal Permaisuri. Dia bahkan takut Permaisuri terkena intrik para pejabat, tapi kenyataan nya, permaisuri adalah seorang yang handal dalam urusan politik. Apakah dia harus memberitahu kaisar atau tidak?


' Hal ini hanya ada diantara kita Tuan Hao, jangan sampai orang lain mengetahuinya'


Suara permaisuri tiba-tiba terdengar dalam telinganya, tuan hao menggelengkan kepalanya, baiklah sepertinya dia tidak usah memberitahunya.


" Baik Yang Mulia, hamba akan mendukungnya dengan sepenuh hati, juga jiwa dan raga saya"


" Baiklah, terimakasih Hao"


" Tentu saja Yang Mulia"


Sepanjang perjalanan setelah menemui Kaisar, Tuan Hao sangat kebingungan bagaimana bisa Kaisar menyangka Permaisuri polos soal politik. Menurutnya bahkan Permaisuri lebih tinggi pengetahuan soal politiknya daripada Kaisar. Sungguh ini membuatnya kebingungan, bagaimana jika jadinya nanti Kaisar mengetahui yang sebenarnya?


|


|


|


|


|


bersambung....