Permaisuri Kaisar

Permaisuri Kaisar
episode 110


Seorang pria dan wanita duduk diatas benteng yang sangat menjulang tinggi. Ini adalah benteng perbatasan wilayah kekaisaran Yushi, benteng yang sangat tinggi dan kokoh. Banyak sekali prajurit dari kekaisaran yang berjaga, berpatroli, dan berkeliling kesana kemari untuk berada di garis terdepan jika terjadi penyerangan.


Sedangkan kedua orang itu duduk diatas pincak tertinggi benteng dengan santainya, dan tidak ada yang mengetahui bahkan menyadari kehadiran mereka.


" Aku turut berduka mendengarnya" ujar Zi Hu pada Teng She.


Ya, mereka adalah orang yang berada di atas benteng. Teng She menceritakan mengenai keluarganya yang bantal habis bahkan sebelum dirinya lahir.


" Jadi, itu adalah alasan kau bersama dengan keluarga kelinci?" Tanya Zi Hu.


" Em, bahkan ibu kelinciku tidak tau bagaimana telurku bisa sampai ditempat mereka setelah terjadinya pembantaian itu." Jelas Teng She sambil menatap langit.


Zi Hu hanya mengangguk anggukkan kepalanya. " Lalu, apa hubungannya dengan kau tidak menyukai permaisuri? Dia bukan orang yang membantai keluarga mu. "


Teng She menghela nafasnya dan bangun dari posisi tidurnya. " Entahlah, aku tidak tau"


" Jika kulihat, saat kau diberi tugas sepertinya kau selalu menurut dan tidak terlihat menolak atau bahkan terpaksa "


" Kau tau bukan, bahwa hewan kontrak seperti kita tidak bisa menolak perintah tuan nya. Dan juga aku masih tidak terima dijadikan hewan kontrak oleh seorang manusia, terlebih dia perempuan" dengusnya.


" Tapi, Permaisuri sangat hebat bukan? Gengsimu itu terlalu tinggi, apa salahnya jika tuanmu seorang wanita?"


" Ck, kau tidak mengerti Zi Hu? Naga legendaris tidak pernah dimiliki oleh seorang manusia. Kami adalah peliharaan para dewa dan juga penjaga pedang, bagaimana bisa sekarang aku menjadi hewan kontrak di dunia manusia"


Walaupun Teng She sudah tau kehidupan masa lalu Xiao Shi, walaupun dia tau bahwa Xiao Shi adalah tuannya dilangit. Tapi entah kenapa, rasa gengsi nya masih sangat tinggi. Dia masih tidak tau alasan dirinya diturunkan kebumi, dan dia juga tidak tau keluarga naga legendaris mana yang dibantai secara habis-habisan dibumi. Karna pada dasarnya jika dilangit, naga legendaris tidak memiliki keluarga. Mereka hidup, dan lahir sebatang kara. Mereka akan memiliki keluarga saat sudah besar, itupun hanya seorang teman yang biasanya dianggap seperti saudara atau orang tua. Tidak ada keluarga sungguhan.


"Hah,,,baiklah. Bolehkah aku bertanya?"


" Apakah sejak tadi kau tidak bertanya Zi Hu?"


" Ya ya ya, Apakah menurutmu permaisuri akan berkorban untukmu?" Tanya Zi Hu berhati-hati.


Hening sejenak antara mereka berdua, setelahnya Teng She justru tertawa terbahak-bahak. "Hahahahha dia? Mengorbankan dirinya untukku? Hahahahahaha kau sepertinya salah memakan sesuatu sampai kau bisa berpikir seperti itu "


" Kenapa? Kenapa kau menganggap seperti itu?"


" Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sinis Teng She.


" Temanku kehilangan nyawanya kemarin, tuan nya tidak melakukan apapun untuk temanku. Apakah ini takdir kita? Kita akan selalu melindungi tuan kita namun belum tentu dilakukan sebaliknya" ujar Zi Hu dengan raut wajah yang sangat sedih.


" Aku turut bersedih"


" Terimakasih Teng She"


" Sekarang, jika aku bertanya padamu akankah kaisar mengorbankan nyawa nya untukmu?"


Zi Hu diam sejenak. " Dia tidak akan mengorbankan nyawa nya, tapi dia akan mengobati ku ketika aku terluka dan tidak akan membiarkanku mati begitu saja. Aku tau, tuan akan mengusahakan caranya yang terbaik untuk membuatku pulih"


" Kenapa kau tidak berpikir dia akan mengorbankan nyawa nya?"


" Aku pernah diposisi itu Teng She, saat itu kami sedang sama sama melawan musuh, kaisar masih sempat membantuku dari kejauhan walaupun pada akhirnya aku terluka parah, tapi tuan berusaha semaksimal mungkin memulihkan ku. Karna itu aku berani mengatakan nya padamu"


Teng She hanya mengangguk anggukkan kepalanya.


" Lalu, bagaimana denganmu? Kau belum memberikan jawaban mu padaku" Tanya Zi Hu


" Aku? Apa yang kau harapkan dari tuanku? Ya, dia mungkin memang hebat tapi rasanya dia tidak akan mungkin mengorbankan nyawanya untukku. Melindungiku? Juga sepertinya tidak. Atau bahkan berusaha memulihkan ku? Sepertinya tidak. Aku bahkan tidak mengharapkan apa-apa darinya. " Teng She tersenyum miris.


" Sebenarnya apa masalahmu dengan permaisuri?"


" Tidak ada"


" Kenapa? Sepertinya kau sangat mengenalnya, kenapa bukan kau saja yang menjadi hewan kontrak nya"


Zi Hu menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir mengapa siluman bodoh didepannya ini sangat angkuh.


" Ya sudahlah, terserah kau saja. Aku akan kembali untuk beristirahatlah. Bagaimana denganmu?"


" Hm pergilah, aku ingin berkeliling dulu"


Setelahnya Zi Hu langsung menghilang dan meninggalkan Teng She sendirian. Cukup lama dirinya berdiam diri disana, mencoba merenungi apa yang dikatakan oleh teman barunya, Zi Hu. Tapi tetap saja, jawaban yang ia miliki atas pertanyaan Zi Hu adalah tidak. Xiao Shi tidak akan mungkin melakukan hal itu untuk nya.


Teng She akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan kepasar daripada berdiam diri diatas benteng sendirian.


Seperti biasanya, Teng She memutuskan untuk mengunjungi beberapa kedai dan membeli sesuatu yang dia sukai. Terkadang dia hanya bertegur sapa dan mengobrol dengan beberapa pedagang. Dipasar, tidak ada yang mengenalnya sebagai Teng She ataupun Yu Feng. Tapi dia selalu dijuluki 'Si Pria Berambut Merah'.


Entah dirinya terlalu senang karna sedang berada di pasar, atau bahkan otaknya sedang kosong. Teng She tidak menyadari sama sekali bahwa sejak ia berkeliaran di pasar, sudah ada orang yang selalu mengikutinya.


Seorang pria mencoba mendekatkan dirinya. " Tuan, bolehkah aku bertanya?"


Teng She menghentikan langkah nya dan menoleh kearah pria itu. " Aku? Tentu"


" Istriku sedang hamil, sejak beberapa hari lalu dia ingin bertemu denganmu dan menyentuh rambutmu yang berwarna merah. Jika kau tidak keberatan, bolehkah kau ikut denganku untuk menemui istriku dirumah?" Tanya pria itu berhati-hati, takut menyinggung perasaan orang di hadapannya.


Teng She sedikit berpikir, " berapa usia kandungan istrimu?"


" Dia menuju bulan terakhir kehamilannya, tuan"


" Begitu, apakah rumahmu jauh dari sini?"


" Tidak, tidak tuan. Rumahku dekat, hanya saja rumahku sangat sederhana, dan—"


" Tidak apa-apa, hal terpenting adalah kau tetap memiliki rumah. Baiklah, tunjukan padaku rumahmu. Tidak baik membuat seorang wanita hamil menunggu begitu lama"


Akhirnya Teng She mengikuti pria itu dan mulai memasuki pemukiman warga. Mereka berjalan cukup lama, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah gubuk kecil diujung desa. Suasananya sangat kumuh, Teng She bahkan berpikir lingkungan ini sangat tidak baik untuk wanita hamil dan bayi baru lahir nantinya.


" Istriku,,, istrikuuu,, aku membawa yang kau inginkan" pria itu langsung berteriak mencari istrinya di dalam rumah.


" Tuan masuklah" ajak pria itu.


Tanpa ragu Teng She langsung memasuki rumahnya. Tapi aneh, begitu ia memasuki rumah gubuk itu tidak ada siapapun disana. Tidak ada istri yang sedang hamil, tidakbada perabotan rumah, bahkan pria yang tadi mengajak nya pun tidak ada. Ada apa ini?.


BUGH


Pintu yang tadi ia lewati saat masuk tiba-tiba tertutup dengan sangat keras. Dan seorang pria berdiri disana. " Sudah lama aku menunggu saat ini datang"


" Siapa kau?"


|


|


|


|


|


bersambung.....