
Mao mempercantik dirinya, memoleskan make up yang sangat tebal. Makan malam kali ini dirinya merasa harus terlihat paling cantik diantara semuanya.
Sudah tiga hari, Xiao Shi dan Zao masih tidak bertegur sapa satu sama lain. Ini kesempatan tepat untuk dia masuk ke pangkuan Kaisar.
" Kau akan menjadi milikku Yang Mulia, hanya milikku" Mao merasa yakin bahwa kali ini dia tidak akan mengalami hambatan apapun.
Dengan percaya diri, dan tubuh yang berlenggak lenggok dia berjalan menuju tempat duduknya.
Zao dan Xiao Shi memang masih duduk berdampingan, tidak ada yang janggal jika dilihat selewat. Akan tetapi jika dilihat secara dekat maka akan terlihat bahwa ada dinding tinggi dan tebal antara mereka berdua.
" Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?" Mao mencoba menarik perhatian semua orang pada dirinya, termasuk Zao.
"Hmm, aku baik" Zao menjawabnya dengan acuh, dia bahkan tak melihat ke arah Mao sama sekali.
Jawaban singkat itu tak membuat Mao menyerah, dia tetap mencoba mencari perhatian Zao.
" Ayahku kembali dari Kerajaan tetangga, dan dia membawa beberapa teh herbal yang akan membuat tubuh anda lebih sehat Yang Mulia. Saya sudah menyiapkannya untuk anda"
Dua orang dayang menghampiri kursi Zao, menaruh gelas dan membiarkan Mao menuangkan teh nya.
" Ini Yang Mulia"
" Terimakasih" Zao meminum teh pemberian Mao tanpa ekspresi.
Sedangkan Mao tersenyum sendiri karena merasa bahwa Zao akan mulai menerimanya.
" Hm, teh nya enak. Berikan pada ibu juga"
Mao meminta dayang nya mengambil kan gelas lagi untuk Ibu Suri, dan Mao juga menuangkan nya. Untuk mendapatkan Kaisar, bukankah harus ada dukungan dari Ibu Suri juga?
" Berikan juga permaisuri, Selir Agung" Ibu Suri mencoba menarik perhatian Xiao Shi yang sedari tadi hanya asik memakan makanannya.
" Ah, tidak perlu ibu. Teh itu diberikan Selir Agung untuk Yang Mulia dan juga Ibu. Minumlah, aku tidak apa" Xiao Shi memang tidak ingin meminum teh nya. Tercium dari aromanya, teh ini sangat tidak enak bagi dirinya. Daripada dia memuntahkan teh nya lebih baik tidak meminum nya sama sekali.
Mao tersenyum puas, karna dia tidak perlu menuangkan teh nya untuk Xiao Shi. Tapi Zao? dia melihat Xiao Shi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Ibu Suri mencoba meminum teh yang dibuat oleh Mao, dia mulai mengecap rasanya dan menurut nya ini tidak terlalu buruk daripada sikap orang yang menuangkan nya.
" Katakan pada ayahmu bahwa teh nya enak" ucap Ibu Suri.
" Baik, terimakasih Yang Mulia Ibu Suri. Suatu kehormatan bagi kami"
Zao masih tidak mengalihkan pandangannya dari Xiao Shi. Ada sebuah ide yang terlintas dalam kepalanya, entah ini baik atau tidak, dia akan melakukannya untuk mengetahui sesuatu.
" Selir Agung, aku ingin teh nya lagi" pintanya.
" Baik Yang Mulia" karna Mao sudah duduk dalam kursinya, dia meminta bantuan dayangnya untuk menuangkan teh nya lagi.
Namun saat dayangnya akan mendekati Zao dan menuangkannya, Zao mengangkat tangannya agar dayang itu mundur.
" Aku ingin kau yang menuangkan nya, Mao"
Mao. Setelah sekian lama, akhirnya Mao mendengar panggilan itu dari Kaisar lagi. Wajahnya memerah, dia merasa sangat senang sekarang.
Mao bahkan mendapat tatapan iri dari para selir lain nya. Bahkan mereka mulai berpikir apa yang harus mereka bawa di makan malam besok agar bisa mendekati Kaisar.
Tidak ada. Tak ada ekspresi ataupun respon apapun dari Xiao Shi. Sial! Apa lagi yang harus dirinya lakukan untuk menarik perhatian permaisurinya itu.
Cling!
Sepertinya sebuah lampu sudah muncul dalam kepalanya. Dia mendapatkan sebuah ide yang menurutnya bisa menarik perhatian Xiao Shi. Tapi ini sepertinya bukan ide yang begitu bagus, tapi sudahlah. Zao akan melakukannya.
" Mao"
" Ya. Yang Mulia?"
" Temani aku malam ini" ucap Zao.
Seluruh tubuh Mao bergetar mendengar nya. Tidak disangka sangka dia akan mendapatkan Kaisar secepat ini. Oh Dewa, seperti nya memang ini sudah saatnya.
" Tentu saja Yang Mulia. Sudah kewajiban hamba untuk melayani anda"
Semua orang terkejut, bahkan Ibu Suri. Dia hendak berbicara guna menghentikan Zao yang akan bermalam dengan Mao. Tapi Xiao Shi mendahului nya.
" Maaf Yang Mulia, Ibu Suri. Makan malam ku sudah selesai, aku ingin segera kembali ke kamarku" Xiao Shi memberikan penghormatan terakhirnya sebelum dia pergi.
" Apa kau baik-baik saha permaisuri?" Tanya Zao, dia merasa sangat senang melihat respon Xiao Shi yang seperti ini.
" Saya baik Yang Mulia. Terimakasih atas perhatian anda, saya permisi"
Setelah kepergian Xiao Shi, ibu Suri juga tidak ingin membicarakan apapun. Dia juga ikut meninggalkan ruangan.
Mao tidak bisa menahan kebahagiaan nya. Sedari tadi, dia bahkan terus menerus tersenyum bahagia. Jujur saja dia tidak menyangka akan mendapatkan Kaisar malam ini juga. Sungguh, sepertinya Dewa sangat berbaik hati padanya malam ini.
Mao bahkan mulai membayangkan bagaimana kekarnya tubuh Kaisar. Ototnya, kulitnya, dan bagaimana ganasnya Kaisar diatas ranjang membuat wajahnya semakin bersemu.
Tentu saja hal itu tidak luput dari pandangan selir lain nya. Ada yang merasa iri, dan ada yang meremehkan.
' Aku yakin Kaisar tidak akan memakainya lama, dia hanya menjadi pelarian saja'
' Mao itu terlalu percaya diri'
' Aku yakin dia akan menggunakan cara licik saat bersama Kaisar nanti '
' Dia benar-benar licik'
Kira-kira seperti itulah gumaman gumaman dari para selir lain nya yang tentu saja bisa didengar oleh Mao. Tapi dia tidak peduli. Yang terpenting baginya sekarang adalah Kaisar, dan dia sudah mendapatkan Kaisar sekarang. Rencananya menggeser posisi Xiao Shi sepertinya akan segera tercapai juga, dan keinginannya duduk di singgasana bersama Kaisar dan memakai pakaian Permaisuri juga akan terwujud.
Sementara Zao? Dia tersenyum sangat senang juga sedari tadi, bukan karna akan bersama Mao. Tapi dia senang karna rencananya berhasil tadi, bukan kah itu bagus?
'Dia cemburu ternyata' pikir Zao.
Sungguh hatinya sangat senang, kepergian Xiao Shi tadi dianggap sebagai bentuk kecemburuannya. Bagaimana tidak? Xiao Shi pergi sesaat setelah Zao meminta Mao menemaninya malam ini.
Sungguh perasaan yang luar biasa. Hatinya berbunga-bunga, sepertinya Xiao Shi sudah mulai memiliki perasaan padanya. Sungguh itu adalah kabar baik yang diterima saat ini.
Melihat Kaisar yang terlihat sangat bahagia juga membuat selir lain bingung. Apa yang terjadi pada Kaisar sebenarnya. Apakah Yang Mulia sebenarnya memang menginginkan Mao selama ini?
Zao dan Mao terbuai dalam pemikirannya sendiri. Walaupun sama sama dalam keadaan dan perasaan yang bahagia, akan tetapi kebahagiaan mereka berbanding sangat jauh.
' Kau akan tersingkir Xiao Shi ' tekad Mao dalam hatinya.
|
|
|
|
|
bersambung.....