
Langit hari ini begitu cerah dan enak untuk dipandang, namun bukannya langit yang zhao pandang saat ini, dia lebih memilih untuk memandangi wajah permaisurinya walaupun tertutup cadar.
" Yang mulia, bolehkah aku bertanya?"
" Hmm, silahkan"
ya, panggilan mereka sudah berubah menjadi aku-kamu sejak beberapa hari belakangan ini, mereka juga lebih sering menghabiskan waktu bersama sejak kejadian racun itu.
" Bagaimana perasaan mu ketika melihat Ling?"
Dahi zhao berkerut, " perasaan?"
Xiao Shi mengangguk, " Ling tidak memakai cadar, banyak orang memujinya cantik, apakah tidak menarik perhatianmu?"
" Kau ingin aku jujur?" tanyanya. Xiao Shi pun mengangguk. Dia sedikit menggeser tubuhnya untuk mendengar lebih jelas apa yang dikatakan oleh Zhao.
" Baiklah, sejak awal aku melihat Ling aku merasa dia mirip seseorang, hanya saja tingkahnya berbeda jauh"
" Mirip siapa?" Xiao shi semakin mendekatkan tubuhnya pada zhao karna rasa penasarannya. Zhao yang menyadari itu semakin melancarkan aksinya dengan mengecilkan suaranya dari sebelumnya.
" Kau, sebenarnya aku sudah tau itu dirimu"
" Bagaimana bisa? Kamu tidak pernah melihat wajahku"
Zhao terkekeh, " dengarkan dulu penjelasanku"
" Baiklah" Xiao Shi semakin mendekatkan tubuhnya, tak ada jarak diantara mereka sekarang. Xiao Shi benar-benar menaruh kupingnya dekat dengan mulut zhao.
Zhao memang mengharapkan situasi ini, tapi kenapa rasanya aneh sekali. Zhao bahkan sampai menelan ludahnya sendiri, rasanya dia ingin sekali menjilat dan melahap kuping dihadapannya itu.
Merangkul pinggang kecil yang terasa pas di badannya, mencium leher putih jenjang yang sangat menggodanya, lalu membuat tanda merah di sana.
Bibir merah yang lembut seakan menunggunya untuk dicicipi, zhao menyentuh bibir itu dengan tatapan yang sudah sangat berkabut. Melihat tatapan zhao, Xiao Shi tau apa yang diinginkan oleh kaisar nya.
Xiao Shi menutup matanya, menunggu benda lembut dan kenyal milik kaisar menempel pada bibirnya.
Zhao menyentuh tengkuk Xiao Shi selembut mungkin membuat tubuhnya terasa seperti tersengat sesuatu. Hasrat Zhao semakin naik, tanpa menunggu waktu dia segera mendekati wajah Xiao shi dan mencium lembut bibir merah yang sangat didambakan nya dari tadi.
Disela ciumannya, zhao merasa mendengar suara seseorang memanggil nya.
'yang mulia'
Suara itu, kenapa suaranya terdengar seperti sangat tidak asing.
'yang mulia!'
Tunggu! Itu suara Permaisuri nya.
Zhao langsung membuka matanya dan dia tidak melihat Xiao shi sedekat tadi. Dia hanya melihat Xiao shi yang sudah duduk berjarak sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya.
" Kau melamun yang mulia? apa ada banyak sekali masalah yang sedang terjadi di istana?" Tanya Xiao shi polos.
" Apa? Ah tidak. Tidak ada masalah apa apa"
Sial! Yang tadi terjadi hanyalah bayangan nya? Oh dewa bagaimana bisa dia membayangkan hal seperti itu saat sedang bersama Xiao Shi. Apakah selama melamun dia terlihat aneh? Atau mungkin....
" Yang mulia! Kau melamun lagi"
Zhao tersentak dan segera melihat ke arah Xiao Shi.
" Aku tidak melamun, permaisuri"
"Begitukah?"
Zhao mengangguk.
" Lalu Yang mulia, bagaimana selanjutnya?"
" Ah iya, selanjutnya. Apa selanjutnya?" Zhao terlihat sangat bodoh sekarang. dia lupa apa yang sedang mereka bicarakan tadi.
Xiao Shi merasa sangat kesal sekarang dan langsung berdiri pergi meninggalkan zhao. " Kau menyebalkan "
Zhao yang tersadar langsung menepuk jidatnya dan berlari mengejar Xiao shi. " Permaisuri, tunggu"
***
" Anda tidak bisa melakukan ini, selir agung!" ucapnya lirih.
Mao tersenyum sarkas sambil membelit belitkan tali cambuk di tangannya.
Apa yang dikatakan selir agung memang benar. Seluruh pelayan nya sudah terkapar dengan banyak lebam dan luka. Sekarang hanya tinggal dirinya seorang yang ada disini, sepertinya memang tidak ada harapan untuknya. Apa yang dilakukannya tempo hari berakhir sia-sia.
" Kenapa kau diam ? Kau mulai menyadarinya bahwa kau tidak memiliki kekuatan? Kau mulai takut padaku?"
Yi mengangkat kepalanya dan menatap mao tajam dengan sisa kekuatannya yang dimiliki. " Aku. Tidak pernah. Takut. Kepadamu.... Cih" selir yi meludah tepat mengenai pakaian Mao.
Melihat baju kesayangan nya terkena ludah, mao semakin meradang. Dia bangkit dari duduknya dan mencambukan tali cambuknya pada lantai. " Kau sangat berani Yi!"
Mao mengangkat tangannya tinggi dan siap mencambuk Yi dengan kuat, namun rencananya terhenti ketika pintu terbuka secara paksa.
BRAAAKKKKK!
Seseorang masuk dengan berani kedalam ruangan dan menatap Mao tanpa rasa takut.
" Kau! Kau adalah pelayan Permaisuri, Yuan. Untuk apa kau kesini? apa untuk membelanya? sepertinya kalian memiliki hubungan yang sangat dekat. Seorang selir rendahan dan pelayan pribadi permaisuri, bukankah kalian bisa dibilang sederajat?" Ejek Mao.
Namun Yuan tidak mendengarkan nya dan memilih acuh. Dia segera mendekati Selir Yi dan membantunya untuk berdiri, dibelakangnya juga ada Yanran yang baru sampai dan terkejut melihat keadaan sekacau ini.
" Bantu aku membangunkan selir Yi" pinta Yuan.
Yanran pun mengangguk dan segera menghampirinya. Selir Yi benar-benar sudah tidak bertenaga, tangannya bahkan tidak bisa menggenggam apapun. Darah dan luka bekas cambukan sangat banyak ditubuhnya, yuan merasa ngilu melihatnya.
Mao terpatung begitu saja saat melihat Yuan dan yanran hanya datang untuk membantu selir Yi, mereka bahkan tidak mempedulikan dirinya.
" Ayo kita pergi" ucap Yuan sambil mencoba memapah selir Yi.
" Siapa yang mengizinkan kalian pergi?" Gertak Mao.
" Maaf Yang Mulia, tapi saya tidak memerlukan izin anda" jawab Yuan tanpa rasa takut.
" LANCANG!!!" Mao mengepalkan tangannya dan hendak mencambuk Yuan. Namun cambuk itu tidak sampai pada tubuh Yuan, cambuk itu tertahan karna ujung talinya dipegang oleh seseorang.
" KAU!! LEPASKAN!" Bukannya melepaskan, Yuan justru semakin mengeratkan genggaman nya.
" Maaf selir agung. Tapi anda tidak berhak menghukum atau memerintah saya"
" Atas dasar apa? Apa hanya karna kau adalah pelayan pribadi permaisuri?! Walaupun kau adalah pelayan nya, derajatmu denganku tidaklah sama. Derajat mu jauh dibawahku. Aku adalah seorang selir agung! Dan kau hanya seorang pelayan rendahan!!" Ucap Mao berapi-api.
Yuan tersenyum meremehkan, dia merasa kasihan pada wanita didepannya ini.
" Kenapa kau tertawa seperti itu?" Tanya Mao tak terima dengan respon Yuan.
" Maaf, tapi bukan hanya anda. Bahkan kaisar sendiri tidak bisa menghukum atau bahkan memerintahkan apapun pada saya"
Yuan menghela nafasnya. " Sepertinya selir agung tidak mendengar perjanjian pernikahan antara permaisuri dan kaisar. Disana sudah disetujui bahwa yang berhak menghukum dan memerintahkan saya hanyalah permaisuri, jadi bukankah sudah jelas bahwa anda tidak bisa memperlakukan saya semena-mena." Jelasnya.
Yuan memberikan selir Yi pada yanran untuk sementara. Sedangkan dirinya menghampiri Mao masih dengan menggenggam tali cambuk ditangan nya. Yuan mendekatkan wajahnya pada kuping Mao.
" Perlu diketahui, bahwa seperti nya yang memiliki derajat lebih tinggi disini adalah diriku. Kau bahkan tidak bisa menyentuhku sama sekali. Jadi, jangan terlalu membanggakan diri sendiri atau kau akan mendorong dirimu sendiri menuju jurang. Yang mulia " Yuan melepaskan tali yg digenggam nya tepat di wajah Mao sambil tersenyum.
Lalu Yuan memundurkan kembali langkah nya dan memberi penghormatan nya pada Mao. " Maaf atas kelancangan hamba selir agung. Tapi kejadian ini sepertinya tidak bisa disembunyikan lagi. Permaisuri sudah mengetahui nya sejak awal, dan kali ini tidak bisa ditoleransi. "
Yuan menggerakan tangannya memberi isyarat agar beberapa pelayan yang ikut bersamanya masuk kedalam. Mereka membawa sebuah nampan dengan gulungan yang ada diatasnya.
" Permaisuri akan mengadakan pertemuan dengan seluruh selir kaisar beberapa hari kedepan. Dan sampai saat itu tiba, selir agung mao tidak boleh meninggalkan kediamannya. Tidak boleh ada yang masuk ataupun mencoba berhubungan dengannya. Semua makanan, dan segala kebutuhannya akan dikirim dari istana permaisuri. Jika ada yang mencoba menerobos, atau melanggar perintah ini maka dia akan dipenggal. Dan kepalanya akan digantung di gerbang masuk istana sebagai peringatan bagi semua orang. Ini adalah titah permaisuri. Titah dan perintah nya berlaku bagi seluruh istana dalam" ucapnya tegas.
Pelayan yang tadi membawa gulungan langsung memajukan langkahnya dan menyimpan nya di meja. Lalu semua orang keluar meninggalkan Mao yang terpatung ditempatnya dengan tangan yang terkepal.
Saat yuan hendak menutup pintunya, dia dan Mao sempat bertukar pandang satu sama lain.
" Akan kupastikan kalian semua mati ditanganku" gumam Mao yang dapat terdengar oleh Yuan.
Yuan tersenyum sambil menatap Mao. " Kita akan lihat nanti"
|
|
|
|
|
bersambung.....